Surat gugatan itu tiba pada Selasa pagi, ketika kopi di meja Iris bahkan belum sempat kehilangan uapnya.
Maya yang membawanya masuk. Wajah perempuan itu tenang seperti biasa, tetapi Iris sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu bahwa tangan yang terlalu rapi memegang map biasanya sedang menahan sesuatu.
"Dari pemasok lama kita," kata Maya. "Mereka menggugat. Katanya formula awal After Storm dicuri dari laboratorium mereka."
Iris menerima map itu. Kertasnya terasa dingin di telapak tangannya.
"Formula yang mana?"
"Yang paling pertama. Yang dulu kamu racik di dapur apartemen sewaan pakai timbangan kue."
Iris hampir tertawa, kalau saja isi map itu tidak membuat perutnya mengeras. Ia membalik halaman demi halaman sampai berhenti di lampiran fotokopi: dokumen tua, berstempel, dengan tanda tangan yang bentuknya ia hafal di luar kepala.
"Dokumen ini sudah pernah dibuktikan palsu," katanya pelan. "Delapan tahun lalu. Kita menang di pengadilan."
"Mereka memakainya lagi," jawab Maya. "Dan mereka memilih waktu yang sangat bagus."
Itu bagian yang paling membuat Iris muak. Dua bulan lagi After Storm dijadwalkan masuk bursa. Di masa seperti itu, sebuah gugatan tidak perlu benar untuk melukai. Ia hanya perlu ada, cukup lama dan cukup ramai, sampai orang mulai bertanya-tanya tanpa berani mengucapkannya.
Sore itu dewan mengadakan rapat darurat. Ruangan berbau kopi dan kertas panas dari mesin cetak yang sejak siang tidak berhenti bekerja. Di layar ujung ruangan, garis harga saham perusahaan-perusahaan sejenis turun seperti pundak yang lelah.
"Kami ingin Anda kembali memimpin penuh, Bu Iris," kata salah seorang anggota dewan. "Pasar mengenal nama Anda. Kalau Anda yang berdiri di depan, semua ini selesai dalam seminggu."
"Dan Maya?"
"Maya bisa kembali ke posisinya setelah badai lewat."
Iris menatap seberang meja. Maya tidak menunduk. Ia juga tidak memohon. Perempuan itu hanya duduk lurus, menunggu keputusan yang akan menentukan apakah tiga tahun kerjanya dianggap ada.
"Tidak," kata Iris.
Ruangan hening.
"Saya akan jadi saksi. Saya akan jadi penasihat. Saya akan duduk berjam-jam bersama tim hukum kalau memang diperlukan, dan saya tidak akan mengeluh." Iris menutup mapnya. "Tapi kursi itu milik Maya. Saya tidak akan mengambilnya kembali hanya karena keadaannya sedang menakutkan."
"Bagaimana kalau kita kalah?"
"Kalau kita kalah karena Maya, itu risiko yang sudah kita setujui saat mengangkatnya. Kalau kita kalah karena saya merebut kemudi di tengah jalan, itu kesalahan yang tidak bisa saya perbaiki."
Rapat bubar tanpa tepuk tangan. Di koridor, Maya menyusulnya.
"Bu Iris, kalau Ibu berubah pikiran, saya tidak akan tersinggung. Saya tahu angkanya."
"Saya juga tahu angkanya." Iris berhenti dan menatapnya. "Dan saya juga tahu siapa yang tiga tahun terakhir tidur di kantor waktu pabrik kedua hampir gagal. Kerjakan. Saya di belakang kamu, bukan di depan."
Maya mengangguk sekali, cepat, lalu berbalik sebelum matanya sempat memerah di depan orang lain.
Malamnya, rumah terasa terlalu sunyi. Iris berdiri di dapur tanpa menyalakan lampu besar, hanya lampu kecil di atas kompor, menatap cangkir yang sudah dingin sejak entah kapan.
Gavin datang tanpa suara dan bersandar di ambang pintu.
"Kamu belum tidur."
"Aku takut semua yang kubangun runtuh," aku Iris.
Gavin tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi, duduk, lalu menggeser cangkir dingin itu menjauh dari tangan istrinya.
"Takut tidak berarti kamu harus merebut seluruh kendali."
Iris menoleh. "Kamu tahu betul kalimat itu, ya."
"Aku menghabiskan setengah hidupku membuktikan kebalikannya." Gavin tersenyum tipis. "Dulu setiap kali aku takut kehilangan sesuatu, aku genggam lebih kuat. Hasilnya kamu hampir pergi, adikku hampir hancur, dan aku nyaris kehilangan anak kita sebelum dia bisa menyebut namaku."
"Ini perusahaan, Gavin. Bukan orang."
"Perusahaan itu isinya orang." Ia mengangkat bahu. "Dan yang paling kamu takutkan bukan kalah di pengadilan. Kamu takut kalau After Storm selamat tanpa kamu berdiri di depan, artinya kamu tidak sepenting yang kamu kira."
Iris membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya lagi.
"Kamu menyebalkan kalau sedang benar," katanya akhirnya.
"Itu sebabnya aku jarang benar. Kasihan kamu."
Iris tertawa kecil. Tawa pertama sejak map itu masuk ke ruangannya pagi tadi.
Titik baliknya datang lima hari kemudian, pukul dua dini hari, lewat telepon dari Larissa.
"Tante," suaranya bergetar antara lelah dan gembira, "nomor serinya."
"Nomor seri apa?"
"Nomor seri dokumen yang mereka pakai. Aku cocokkan ke daftar penerbitan notaris. Nomor itu baru mulai dipakai setahun setelah tanggal yang tertulis di dokumennya." Terdengar bunyi kertas diaduk di seberang sana. "Artinya dokumen itu tidak mungkin dibuat pada tanggal itu. Mereka memundurkan tanggalnya."
Iris duduk tegak di tempat tidur.
"Kamu sudah tidur berapa jam, Larissa?"
"Nanti saja tidurnya, Tante."
Sidang berikutnya tidak berlangsung lama. Tim hukum menyodorkan daftar penerbitan itu di depan majelis, dan wajah kuasa hukum penggugat berubah sebelum kalimatnya selesai. Gugatan dicabut sebelum sempat diputus, dan dari ruangan yang sama lahir penyelidikan baru: siapa yang memalsukan dokumen itu, dan untuk siapa.
Maya yang menghadapi wartawan di luar gedung. Iris berdiri di barisan belakang, di antara staf, dengan lencana tamu tergantung di lehernya.
Ia mendengar Maya menjawab satu per satu tanpa gugup, tanpa menjanjikan yang tidak bisa ditepati, tanpa sekali pun menyebut nama Iris sebagai tameng. Dan pada detik itu Iris menyadari sesuatu yang selama berbulan-bulan ia tolak akui: After Storm benar-benar bisa berjalan tanpa dirinya.
Anehnya, yang datang bukan kehilangan. Yang datang semacam kelegaan yang membuat bahunya turun beberapa sentimeter.
Pada rapat pemegang saham, ketika ketua dewan menyebut krisis itu telah lewat dan ruangan bertepuk tangan, Iris tetap duduk.
"Yang menyelesaikan ini Maya dan tim hukum," katanya ketika mikrofon sampai ke tangannya. "Larissa yang menemukan celahnya jam dua pagi. Saya hanya memberi kesaksian dan menjawab pertanyaan. Tolong berdiri, kalian semua."
Mereka berdiri. Tepuk tangan kedua terdengar lebih panjang daripada yang pertama, dan Iris menikmatinya dengan cara yang sama sekali baru: dari kursinya, dengan tangan di pangkuan.
Malamnya ia membuka laci paling bawah di ruang kerjanya dan mengeluarkan kartu akses lama miliknya. Plastiknya sudah kusam, fotonya masih memperlihatkan perempuan berusia tiga puluhan dengan rahang mengeras.
Iris menimbangnya sebentar di tangan. Dulu benda sekecil ini yang membuatnya merasa punya tempat di dunia; pintu mana pun terbuka kalau ia menempelkannya.
Ia memasukkan kartu itu ke kotak kenangan, di antara kunci apartemen pertama dan selembar foto vila Como, lalu menutup kotaknya pelan-pelan, seperti menutup pintu kamar anak yang sudah tertidur.
"Aku akhirnya bisa melepaskannya," katanya.
Gavin berdiri di belakangnya, memandangi kotak itu dari balik bahu Iris.
Ia tersenyum. "Aku tahu rasanya."
Mereka tidak kehilangan perusahaan. Mereka hanya berhenti meminta perusahaan membuktikan arti diri mereka.