Ulang tahun ketujuh puluh Gavin jatuh pada akhir musim panas, dan mereka merayakannya di vila Como.
Danau di bawah sana memantulkan langit seperti biasa. Jendela-jendela dibuka lebar sejak pagi, tirai bergerak pelan, dan bau roti panggang bercampur dengan bau rumput yang baru dipotong.
Jeffery sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Foto lelaki itu berdiri di rak samping perapian, diletakkan Regina sendiri, dalam bingkai yang sengaja tidak terlalu besar.
"Papamu tidak akan suka pestanya," kata Regina pagi itu sambil meluruskan bingkai yang sebenarnya sudah lurus. "Dia selalu bilang ulang tahun itu buang-buang waktu."
"Dia datang ke semua ulang tahunku," jawab Gavin.
"Itu karena dia tidak tahu cara mengatakan hal lain."
Gavin diam sebentar, lalu mengangguk. Beberapa hal memang baru bisa dimaafkan setelah orangnya tidak ada untuk dimintai penjelasan.
Regina sendiri kini tinggal dekat sebuah pusat kegiatan lansia yang ia pilih sendiri, dan ia sangat bangga pada kata "sendiri" itu. Setiap kali ada yang menanyakan, ia akan menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun yang menaruhnya di sana, bahwa ia yang menandatangani sendiri surat-suratnya, dan bahwa jadwal melukisnya tiga kali seminggu.
"Mama sudah bisa melukis?" tanya Tiffany.
"Belum. Tapi Mama sudah bisa datang tepat waktu."
Richard dan Emiliana tiba siang hari bersama Larissa, yang sekarang memakai kacamata dan berbicara tentang hukum perdata dengan kecepatan yang membuat semua orang pusing. Tiffany datang bersama Daniel serta Leo, yang tahun ini sudah cukup besar untuk membawa kopernya sendiri dan cukup kecil untuk langsung berlari ke tepi danau begitu kopernya diletakkan.
Aurora datang paling akhir, membawa pasangan hidupnya, seorang penulis bernama Raka.
Raka lelaki yang bicaranya pelan, mendengarkan lebih banyak daripada berbicara, dan sepanjang sore itu dengan sabar mendengarkan Regina menceritakan sejarah setiap perabot di ruang tengah.
"Anak itu kuat mentalnya," komentar Gavin di dapur.
"Kamu diam-diam suka," kata Iris.
"Aku belum memutuskan."
"Kamu memasak tambahan untuk dia."
"Itu karena porsinya kurang."
Sore harinya Iris menemukan suaminya berdiri sendirian di ujung teras, memandangi danau.
"Tujuh puluh," kata Gavin. "Aku tidak pernah membayangkan sampai ke angka ini."
"Kamu menyesal?"
"Aku menghitung." Ia menoleh. "Dua puluh tahun pertama aku sibuk membuktikan sesuatu kepada ayahku. Sepuluh tahun berikutnya aku sibuk mengendalikan orang-orang yang kusayangi. Sisanya baru benar-benar hidup."
"Sisanya paling banyak," kata Iris.
Gavin tersenyum. "Iya. Itu yang membuatku bersyukur."
Makan malam digelar di teras panjang. Dua belas orang, satu meja, dan percakapan yang saling tumpang tindih sampai tidak ada yang bisa menyelesaikan cerita sampai habis. Leo tertawa paling keras. Larissa memperdebatkan sesuatu dengan Daniel. Regina mengoreksi cara Aurora memegang garpu, lalu menarik kembali koreksinya sambil berkata, "Sudahlah, itu bukan urusan Nenek."
Setelah piring-piring diangkat dan kopi dituang, Aurora berdiri.
Ia berdeham dua kali. Tangannya menggenggam tangan Raka di bawah meja, dan semua orang langsung tahu apa yang akan keluar bahkan sebelum ia bersuara.
"Kami akan menikah," katanya.
Meja meledak. Regina menjerit kecil. Tiffany menumpahkan kopinya. Larissa langsung bertanya soal perjanjian pranikah dan dijawab Emiliana dengan tepukan di lengan. Leo bertanya apakah ia boleh membawa anjing ke pesta, dan tidak ada yang sempat menjawabnya.
Dan Gavin, tanpa satu detik pun jeda, langsung berkata, "Baik. Pengamanannya biar Papa yang urus. Tempatnya di mana? Jangan hotel, terlalu banyak pintu. Daftar tamunya berapa orang? Papa mau lihat dulu sebelum disebar. Fotografernya jangan yang sembarangan, nanti bocor ke media—"
Ia berhenti.
Karena semua orang menatapnya.
Iris tidak berkata apa-apa. Tiffany menahan tawa dengan serbet. Larissa menaikkan alis dengan ekspresi yang persis seperti ibunya. Bahkan Leo ikut memandang, meskipun ia tidak paham kenapa.
Gavin memandang berkeliling, menghela napas panjang, lalu mengangkat kedua tangannya.
"Baik. Aku hanya akan membantu jika diminta."
"Terima kasih, Papa," kata Aurora.
"Tapi kalau kalian memilih tempat yang jalan masuknya cuma satu, aku akan menyebutkannya sekali. Satu kali saja. Setelah itu aku diam."
"Boleh satu kali," kata Aurora. "Setelah itu Papa jadi tamu."
"Tamu yang membayar," gumam Gavin.
"Itu memang sudah bagian dari doa setiap orang tua," sahut Richard dari ujung meja, dan meja itu tertawa lagi.
Aurora berjalan memutari meja dan memeluk ayahnya dari belakang, meletakkan dagunya di bahu lelaki itu seperti waktu kecil.
"Itu sebabnya aku berani memberi tahu Papa lebih dahulu," bisiknya.
Gavin tidak menjawab. Ia hanya menepuk lengan putrinya, dan Iris melihat suaminya mengerjap beberapa kali sebelum berpura-pura sibuk dengan cangkirnya.
Belakangan malam itu, ketika yang lain pindah ke ruang tengah, Iris masuk ke kamar dan keluar membawa album lama.
Sampulnya sudah pudar. Sudutnya terkelupas. Di dalamnya ada foto-foto yang tidak semuanya menyenangkan: pernikahan pertama mereka yang penuh senyum kaku, rumah sakit, hari pertama Aurora sekolah, Minah yang tertawa sambil menutupi wajahnya dari kamera.
Iris membuka halaman demi halaman bersama Leo yang duduk di sampingnya dan bertanya tentang setiap orang.
Lalu ia sampai di halaman terakhir, dan berhenti.
Sudah penuh. Tidak ada tempat kosong tersisa, bahkan untuk satu foto kecil pun.
"Kalau begitu, ini kebetulan sekali," kata Aurora.
Ia menyerahkan bungkusan pipih yang sejak tadi disimpannya. Di dalamnya sebuah album baru, sampulnya polos berwarna hijau tua, halamannya kosong semua.
"Untuk cerita setelah anak kalian berhenti menjadi pusat jadwal."
Iris tertawa sampai matanya berair.
"Kamu pikir kamu pernah berhenti jadi pusat jadwal?"
"Mulai tahun ini, Ma. Aku janji."
"Bohong."
"Iya, bohong," kata Aurora, dan mereka tertawa bersama.
Malam itu juga mereka berfoto di teras. Dua belas orang berdesakan, Leo di depan, Regina duduk di tengah dengan punggung tegak, Raka berdiri agak ke pinggir sampai ditarik Aurora ke tengah. Fotonya diambil oleh penjaga vila, sedikit miring, dan ada yang berkedip.
Foto itulah yang dicetak keesokan paginya dan ditempelkan Iris bersama Gavin sebagai halaman pertama album baru. Gavin memegang sudut fotonya, Iris menekan bagian bawahnya, dan keduanya butuh waktu lebih lama daripada yang seharusnya karena berdebat soal lurus atau tidak.
"Agak miring," kata Gavin.
"Biarkan miring. Semua orang di foto ini juga tidak lurus."
Gavin tertawa, dan membiarkannya.
Album itu kemudian ditutup dan diletakkan di rak, bersebelahan dengan yang lama. Yang satu penuh, yang satu baru dimulai.
Mereka tidak tahu berapa banyak halaman yang sempat terisi.
Untuk pertama kalinya, ketidaktahuan tersebut tidak menakutkan.