"Bolehkah, aku? Aku, menyukainya?"
"Tidak!"
"Tidak, Lucid!"
"Tidak!" napas yang terengah-engah. Keringat yang bercucuran. Ekspresi muka yang linglung dan pukul 3 pagi, Lucid terbangun dari mimpi yang entah, apa itu termasuk dalam mimpi buruk atau tidak.
Drrrrrrrrttt....
Ponsel di bawah bantal di sampingnya bergetar. Tertera nomer telepon yang sudah tersimpan dengan sebuah nama. "Apa?" Lucid tetap ketus. "Kau terbangun lagi di jam 3 pagi?" Keenan menghubungiku lagi untuk yang kesekian kalinya dan aku mulai bingung. Mengapa selalu terbangun pada pukul 3 pagi? Biasanya, aku akan memejamkan mata kembali dan berdoa agar tidak mimpi buruk setelahnya. Tapi hanya sebentar. Lalu, Keenan akan meneleponku. Bukan karena, Keenan. Dia akan meneleponku setelah aku benar-benar sudah bangun. Itu juga membuatku heran, mengapa dia selalu meneleponku? "Hei, kau tidak lelah? Atau kau juga selalu bangun? Ah, tidak mungkin! Waktu itu kau tertidur pulas. Jangan-jangan kau memang tukang tidur sebenarnya?" tanpa sadar, Lucid lebih banyak berbicara dari pada biasanya. Walau masih terdengar cuek dan ketus tapi tak membuat Keenan menjadi ciut.
"Sudah kubilang, aku hanya tidak ingin membiarkanmu kesepian."
"Wah, haruskah aku tersentuh mendengarnya?"
"Hahaha. Hei, tertawalah kalau kau ingin tapi kalau kau memang benar-benar baik-baik saja. Hmm, apa kau pernah merasa lelah? Lelah karena berpura-pura.
"Aku tidak tertawa bersamamu," ucapannya seperti, Keenan sedang membaca apa yang ada padaku.
"Baiklah, manusia berdarah dingin yang berhati hangat. Hahaha, itu tidak sepadan. Bagaimana bisa berdarah dingin tapi berhati hangat? Bahkan, kau terkenal akan image itu."
"Ah, kau terlalu banyak bicara. Aku tutup, bye!"
Tok....tok....tok....
"Aku di depan pintumu."
Ada-ada saja kelakuannya. Kemarin, Keenan juga malakukannya. "Apa?" Lucid baru saja membuka pintunya tapi tidak ada kehadiran Keenan. "Ah, sial! Dia ingin bermain-main."
Lucid menutup pintunya dan terdengar suara ketukan lagi. "Aku tidak akan terkecoh,"
"Lucid, buka pintunya ini aku, Keenan! Lucid, aku mohon buka pintunya! Lucid!"
"Ah, merepotkan," Lucid membalikkan badan dan tak peduli.
Suara ketukan pintu itu masih terdengar, terdengar brutal. Seperti melampiaskan pada pintu yang tak bersalah. "Merepotkan," menghela napas dan membuka pintu itu. "Apa? Kau sengaja, kan?" Lucid dengan mukanya yang kesal. Keenan terlihat panik dengan jari yang berada di mulutnya, ia menyuruhku untuk diam. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Keenan benar-benar lancang. Siapa juga yang mengizinkannya untuk masuk. Bukan hanya itu, Keenan keterlaluan. Untuk apa, ia membekam mulutku dengan telapak tangannya yang besar? Keenan juga menutup pintu dengan hati-hati dan menguncinya kembali. Aku mencoba melawannya tapi, Keenan terus berbisik di telingaku dan berkata, dia akan menjelaskan padaku nanti. Nanti? Untuk apa menunggu nanti? Aku dan laki-laki bernama Keenan ini, berada di kamarku dengan pintu yang terkunci. Tanpa penerangan bahkan, Keenan mematikan semua lampu tanpa kecuali. Ya, semuanya gelap. Lenganku terasa sedang bergesekan dengan lengannya. Mulutku masih dibekam dan itu tidak membuatku senang. Ya, itu membuatku tidak nyaman. Itu akan sama saja, dia sedang....ah, sudahlah! Aku tidak ingin mengatakannya.
Napasnya yang terengah-engah seperti menembus dan membuatku menghela napas dengan sesuatu yang mengganjal. Aku tidak bisa menangkap situasi yang sedang terjadi. Bukan hanya tidak ada penerangan. Semua daya yang ada di seluruh ruangan, dimatikan. Sudah mulai terasa panas, keringat pun mulai bercucuran. Ini benar-benar konyol bahkan, pemadaman listrik sedang tidak terjadi. Kepalaku seperti sedang berkeliling. Ada rasa mual dan perutku serasa mendorong sesuatu sampai ke kerongkongan. Tidak tahan lagi. "Aw!" aku menggigit tangannya. "Ssssttt!" Keenan membekamku lagi. "Sebentar lagi," ia berbisik lirih di telingaku. Apa aku akan pingsan, setelah ini? Ah, itu berlebihan. Aku tidak mungkin pingsan di dekatnya, itu terlihat konyol. Ada rasa tidak nyaman yang seolah menyangkut di dalam kerongkongan. Pasti tahu bagaimana rasanya, itu sangat tidak membuatmu nyaman dan seperti ada di ujung tanduk.
Ada air yang menetes dari kedua mataku, tiba-tiba. Apa dia akan menyadari itu? Hah, aku menangis? Benarkah, saat ini air yang menetes itu adalah tagisanku? Apa itu begitu menyakitkan sampai aku mengeluarkan air mata? Wah! "Kupikir kita sudah aman," doaku seperti dikabulkan. Barulah Keenan melepasku. Berjalan membuka pintu dan semua kembali normal dengan kembalinya penerangan.
"Lucid, kenapa kau tidak keluar? Kita sudah aman. Wah, benar dugaanku. Kau benar-benar tidak tahu apa-apa. Syukurlah, aku datang padamu. Kalau tidak, apa yang akan dilakukan Kale padaku? Hei, apa kau teman dekat? Kale maksudnya. Hei, Lucid!"