Suara hektakan kaki seseorang yang tengah menaiki tangga dengan buru-buru. Kelihatannya lebih dari satu orang. Terdengar suara rintik hujan yang mengenai seng, menimbulkan suara berisik. "Wah, ada apa dengan suara-suara itu? Mengganggu tidurku, apa kau ingin buang air besar, hah?" celoteh Keenan yang saat itu terbangun dengan dirinya seorang diri. Teman-temannya meninggalkannya. Keenan terlalu terlelap dan akan sulit untuk dibangunkan. Ia tertidur di gedung UKM fotografi yang baru-baru ini ia ikuti.
"Hujan rupanya, pantas berisik. Sebegitu lamanya, aku tidur?" Keenan tidak menyadari bahwa, hujan tengah turun di luar sana. Ada jendela yang menghubungkan keadaan luar. Itu tempat favoritnya. Bisa melihat banyak orang. Suasananya serta menikmati banyak orang yang berlalu lalang dengan ekspresi yang berbeda-beda. Ia hanya penasaran mengapa manusia suka berbohong dengan apa yang terjadi dikehidupannya? Seperti terlihat cerita tapi nyatanya tidak sama seperti mata dapat melihat kecerian itu.
Keenan duduk, bersandar pada tembok dingin dengan kedua mata yang melihat ke arah luar. Dilihatnya, banyak orang-orang yang berlari karena hujan semakin deras. Ada juga yang berjalan dengan santai dan tidak peduli dengan hujan yang membasahi tubuhnya. Banyak pemandangan juga, pemandangan para pasangan yang saling bersenda gurau sepeti tidak ada beban hidup. Tapi tidak tahu juga karena manusia ahli membohongi dirinya sendiri.
Keenan beranjak untuk keluar setelah mengunci pintu. Ia menuruni tangga, sebentar lagi hujan akan membasahi tubuhnya. Bukan masalah baginya, ia santai berjalan dan tidak terburu-buru. Beberapa orang menyapanya. Ada juga yang ingin meminjaminya payung atau jas hujan. "Hahaha, tidak usah," tolaknya sambil melambaikan tangan dan mengucapkan terima kasih.
Hujan semakin deras, pukul 3 sore. Untungnya, kamera kesayangannya tidak ikut serta bersamanya. Ada telepon masuk saat ia sedang berjalan. Telepon itu dibiarkan begitu saja, walau seseorang yang meneleponnya itu terus-menerus mencoba menghubunginya.
"Sorry," ucap Keenan. Tidak sengaja lengannya bertabrakkan dengan lengan orang lain yang kebetulan berjalan berlawanan dari arahnya. Ia tak mengira akan seramai itu. Keenan mulai mengamati orang-orang yang berada didekatnya. Matanya berkeliling, seperti orang yang bosan menunggu hujan atau seperti orang yang confuse, tidak tahu harus berbuat apa kerena terjebak hujan. Sebenarnya ia tidak ingin berteduh tapi tidak ingin pulang cepat jadi, datanglah ke pustakaan yang ternyata banyak orang yang juga sedang beteduh.
Keenan berada di barisan belakang karena berdesak-desak, ia jadi berada di belakang. Hampir tidak bisa bergerak, terlalu banyak orang. Ponselnya bergetar beruang kali. Keenan hanya melihat layar ponselnya dan menggenggamnya.
"Apa kau bilang? Kau melakukannya lagi?" Keenan menoleh pada sumber suara yang tiba-tiba terdengar jelas menutupi suara gemuruh hujan yang seharusnya lebih berisik dari ucapan seseorang itu. Berjalan mendekat dengan berhati-hati karena harus menerobos banyak orang.
Seseorang itu membelakanginya. Keenan berbicara sendiri di dalam benaknya. Sama sepertinya, orang itu juga basah kuyup. Bahkan, lebih basah darinya. Tatapannya tidak berpaling dan ia merasa bersalah harus mendengar bercakapannya di telepon.
"Apa dia baik-baik saja?" suara Keenan lirih. Suara orang itu terdengar seperti seseorang yang sudah tidak tahan lagi dan kesabarannya sudah berada di ambang batas. Tapi perempuan itu tidak menangis atau hanya menahannya? Pandangan Keenan terhadapnya semakin dalam.
Perempuan itu menggenggam ponselnya di tangan kirinya. Pandangannya lurus ke depan. Sekarang di antara Keenan dan perempuan itu saling berdampingan. Tapi, perempuan itu seperti tidak menyadarinya. Perempuan yang berada di sampingnya itu mengambil banyak permen. Tangan kanannya penuh dengan permen berbentuk bulat yang berwana-warni. Permen sebanyak itu lansung dimakan secara bersamaan.
"Lucid Dream?" fokus Keenan berganti pada sebuah gelang yang perempuan itu pakai. Ia tahu persis, semua orang di kampus ini akan memakai gelang itu pada ospek kampus yang ia pun tidak tahu fungsinya untuk apa sebenarnya. Gelang dengan tulian nama yang bahkan, tidak semua orang akan melihatnya. Bukankah, itu juga berbahaya memakai gelang dengan nama kita di tempat umum? Apalagi, dia perempuan. Tapi namanya tidak biasa, seperti bukan sebuah nama untuk seseorang. 'Lucid Dream'.
Ia memikirkan panggilan dari orang asing yang berada di sampingnya itu. Lucid? Dream? Luc? Keenan melihat ponselnya yang digenggam perempuan itu terus menerima banyak telepon yang dibiarkan begitu saja. Sama sepertinya yang saat ini sedang mengabaikan banyak orang yang menghubunginya. Bahkan, ponselnya bergetar. Tapi, Keenan memutuskan untuk mematikan ponselnya agar perempuan itu tidak menyadari kehadirannya.
Entahlah, dia tidak bisa berpaling. Seperti tidak ingin untuk berpaling. Haruskah aku tidak memanggil orang asing ini dengan sebutan 'Peremuan itu'? Keenan bertaut dengan pikirannya dan berbicara dengan dirinya sendiri.
Lucid. Ah, Dream. Dia, pandangannya kosong. Tangan kanannya berada di saku hoodienya dan mengambil 5 bungkus permen. Tak tanggung-tanggung, sehabis dipisahkan dari bungkusnya. Permen itu masuk ke dalam mulutnya. Padahal, permen itu berukuran cukup besar. Dia memakannya seperti sedang sakau.
Tatapannya tetap kosong. Ponselnya tidak bergetar lagi. Orang asing itu melepas tudung hoodienya. Keenan mematung, benar-benar berpusat pada orang asing itu. Tidak bisa bergerak. Matanya seakan terpana. Mulutnya tidak bisa berkata-Kata. Orang asing itu memiliki bulu mata yang lentik. Matanya bulat dan ia membayangkan jika perempuan itu tersenyum. Tamatlah riwayatnya. Rambutnya yang basah memperlihatkan wajahnya yang bersih seperti tidak ada noda.
Hujan tidak ada tanda-tanda akan reda. Orang asing itu berjalan menerjang hujan. Mungkin itu adalah tindakan yang bodoh. Apa bedanya mengamati seseorang dengan stalker? Apakah aku bisa disebut dengan stalker? Keenan berkecamuk dengan ucapannya didalam benaknya. Karena, Keenan selalu mengikuti kata hatinya dan pikirannya setuju akan itu. Ia tidak akan tinggal diam. Keenan mengikuti orang asing itu dengan hati-hati.
Tapi yang membuatnya tidak asing adalah jalan yang ia lalui adalah jalan yang sama dengan jalan yang sering ia lalui untuk pulang. Keenan mengikutinya dengan hati-hati. Orang asing itu juga berjalan dengan perlahan seperti sedang menikmati meski hujan masih deras.
Semakin mengikutinya semakin jelas jalan yang ia lalui. Tidak salah lagi. Ini adalah jalan menuju tempat tinggalnya. Apakah dia juga tinggal di lingkungan yang sama dengannya?
Keenan beberapa kali menampar dirinya sendiri. Karena, dia pikir dia sudah gila. Mengikuti seseorang yang tidak ia kenal dan itu perempuan. Ia seperti melakukan sebuah kejahatan meski tidak ada niatan itu, sama sekali tidak ada. Tapi, perempuan itu mengganggu pikirannya dan membutnya penasaran. Itu diluar wajahnya yang membuatnya terpana. Hanya sesuatu yang ia tidak tahu, orang asing itu seperti menyedotku bersama atmosfernya dan menyuruhku untuk mengikutinya. "Kau gila, Keenan," Keenan tidak sengaja berteriak yang secara otomatis membuat perempuan yang berada di depannya itu menghentikan langkah kakinya.
Cepat-cepat Keenan bersembunyi di pesimpangan jalan di tembok rumah yang membelakangi orang asing itu. Ia hanya terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri lalu, melanjutkan langkah kakinya.
Keenan kembali mengikutinya dan dugaannya benar. Mereka tinggal di gedung apartemen yang sama. Tidak hanya itu. Mereka tinggal di unit yang sama dan bersebelahan.
Ia berdiri di depan pintu itu. "Kenapa? Kau mengincarnya?" suara seseorang yang ia kenal menyadarkannya dengan seketika seolah-olah ia baru saja kembali dari dunia lain.
"Kau lagi kau lagi, apa? Apa sekarang? Kau mau apa? Hah?" Keenan yang tampak kesal atas kedatangan temannya, Joe. Joe datang padanya hanya untuk menyelesaikan ulahnya. Benar-benar tidak bisa membiarkan hidupnya tenang sehari saja.
"Hei, kau teman satu-satunya bagiku," seperti biasa ucapanya selalu omong kosong belaka.
Keenan tidak peduli, ia membuka pintu rumahnya dan hendak masuk ke dalam. Joe tidak tinggal diam. Ia terus persuasif pada Keenan agar temannya itu membantunya sekali lagi dan seterusnya. "Teman? Kita tidak sedekat itu," Keenan dengan muka yang serius.
"Wah, sejak kapan kau menjadi kejam? Kau tidak pernah seperti itu padaku."
Keenan benar-benar tidak tahan lagi. Biang onar itu, tak bisa tertolongkan. Selalu melakukan kesalahan yang sama.
"Kau mengincarnya, kan? Lucid Dream? Banyak yang mengincarnya. Aku bisa membantumu mendapatkannya," Joe yang masoh berusaha mengambil hati Keenan.
"Dia bukan barang yang perlu bantuan orang lain untuk mendapatkannya," sahut Keenan. Ia terlihat tenang tapi juga khawatir. Khawatir Joe akan melakukan tindakan bodoh yang menyangkut Lucid yang bahkan, tidak kukenal tapi, dia sekarang adalah tetanggaku.
Keenan terjebak, tidak bisa masuk dan melanjutkan tidurnya sebelum meladeni apa mau Joe. Kalau tidak dia akan selalu mengejarku, itu sangat mengganggu. "Hahaha, panjang umur. Kau tidak ingin mengikutinya?" bisik Joe padaku. Aku menyadarinya, Lucid baru saja melewatiku. Hmm, dia terlihat murung. Semakin membuatku penasaran.
"Apa yang kau inginkan? Tapi, kau tidak boleh menyentuhnya! Kalau kau melakukannya, anggap saja tidak akan ada pertolongan lagi yang datang padamu," ancam Keenan. Sebenarnya bukan sebuah ancaman. Hanya peduli pada Joe, ia tidak sanggup meninggalkan temannya yang akan menjadi adik tirinya itu.
Lucid baru saja pindah di apartemen itu, tinggal sendirian. Terlalu sesak baginya untuk tinggal bersama keluarganya. Dulu penuh kehangatan, sekarang? Tidak. Lucid membeli barang-barang yang ia perlukan. Tidak ada apa-apa di apartemennya. Stock bahan makanan pun tidak ada. Ia berjalan mendekati supermarket yang masih di lingkungan yang sama. "Apa ada seseorang yang sedang mengikutiku?" Lucid melihat ke arahnya berjalan. Melihat sekitar, tidak ada siapa pun selain dirinya. Tapi, ia mendengar sebuah langkah kaki selain dirinya. "Sepertinya aku tidak akan melewati jalan ini, terlalu sepi meski ini adalah jalan terdekat. Kau di mana?" Lucid berjalan dengan menelepon temannya dan mereka akan bertemu di supermarket itu. "Tidak, aku tidak apa. Tadinya aku mengira ada yang mengikutiku. Oke, aku akan ke sana secepatnya," ucap Lucid pada temannya dan ia berlari untuk mengusir rasa takutnya. Hal yang ia takutkan adalah diikuti seseorang yang ia tidak kenal dan takut seseorang itu menusuknya dari arah belakang.
Keenan mutuskan untuk berhenti sampai di situ. "Wah, apakah aku sudah melewati batas?"