Perlahan aku mulai menuruni anak tangga dari kamarku. Rambut panjang yang diikat setengah, kaos abu-abu polos lengan tiga per empat melekat di tubuhku, rok berwarna biru dongker menutupi lutut, dan bedak tipis serta liptint pink menghiasi wajahku. Aku rasa ini sudah cukup baik.
Bibirku mengembang membentuk seulas senyuman saat melihat pria bernama Afka duduk di sofa lantai bawah rumahku. Tapi sedang apa Afka di rumahku? Tentu saja Pria yang saat ini sudah kuakui sebagai calon suamiku sedang menungguku bersiap karena kami akan pergi bersama ke suatu tempat. Aku menghela nafas saat melihat Mama yang begitu sibuk menawari Afka berbagai macam makanan.
Mama, sejak aku mengatakan kalau aku bersedia menikah Mama menjadi sangat bersemangat melebihi anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Begitu juga dengan Papa yang akhir-akhir ini banyak tersenyum. Bisa kulihat Papa terus mengajak Afka mengobrol di sana. Berbeda dengan Refa yang di hari minggu ini Ia sudah menghilang entah kemana, padahal sekarang masih jam sembilan pagi.
Ohiya, aku lupa. Sebelumnya aku bilang kalau aku memilki seorang Kakak perempuan yang sudah menikah, namanya Mersha. Ia tinggal di luar kota yang jaraknya cukup jauh, biasanya berkunjung ke rumah dua atau tiga minggu sekali. Kak Mersha juga sudah memiliki putra kembar yang masih berumur 3 tahun. Sebenarnya sejak tahu kalau aku akan menikah ia ingin sekali datang, tapi suaminya sedang ada proyek. Jadi rencananya hari selasa ia akan datang.
Tanggal pernikahan kami sudah ditetapkan, dan jatuh pada hari kamis ini. Rencananya di hari itu aku akan izin tidak sekolah dengan alasan ada urusan keluarga. Berhubung aku yang masih sekolah dan Afka yang juga belum menyelesaikan kuliahnya, kami hanya akan melakukan akad nikah tanpa mengundang siapapun atau tanpa melaksanakan resepsi. Yah, pernikahan ini hanya untuk memastikan bahwa kami benar-benar sudah menikah. Jadi tidak perlu melakukan banyak persiapan, aku sudah membeli baju yang akan dipakai saat akad kemarin bersama Mama. Akad nikahnya juga akan dilaksanakan di rumahku, dan hanya dihadiri oleh keluarga dekat saja.
Afka berdiri saat menyadari kedatanganku, aku masih melangkahkan kaki berjalan ke arahnya."Kamu udah siap?" Aku mengangguk.
"Oh, Kalian mau berangkat sekarang?"
"Iyaa Tan, kita mau berangkat." Jawab Afka yang saat ini sedang tersenyum, tentu saja mencoba bersikap ramah kepada calon mertuanya.
"Ya ampun.. Gantengnya mantu Mama.. Jadi ga sabar dipanggil Mama." Kulihat Afka tampak terkejut saat Mama mencubit kedua pipinya gemas membuatku sedikit terkekeh.
"Uda ah, Ma. Kita mau berangkat nih." Akhirnya Mama melepaskan tangannya dari pipi Afka.
"Kalo gitu Afka sama Zayyin pergi ya Ma, Pa." Lagi-lagi Aku terkekeh melihat reaksi Papa dan Mama yang terpaku saat Afka memanggil mereka dengan sebutan 'Ma' 'Pa'. Sebahagia itu ya Papa dan Mama kalau anak perempuannya mau menikah.
"Iya, kalian hati-hati ya. Ini kamu bawa buahnya." Mama tersenyum lebar.
"Afka, jagain Zayyin ya. Kamu juga jangan ngerepotin Afka." Aku dan Afka pergi setelah mencium kedua tangan orang tuaku dengan membawa separsel buah-buahan. Kami pergi menaiki motor besar milik Afka, untuk yang pertama kalinya. Hal yang sama sekali tak pernah kubayangkan, tapi kini aku benar-benar duduk di bangku belakang motor seorang Afkara Zafran.
Selama perjalanan kami hanya diam, larut dalam pikiran masing-masing. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Afka, yang jelas aku terus memikirkan betapa beruntungnya aku akan menikah dengan lelaki itu. Hingga selang 20 menit Afka memarkirkan motornya di parkiran rumah sakit, kami pergi ke rumah sakit untuk menemui Kakek Afka. Rencananya setelah menjenguk kami akan membeli cincin pernikahan yang akan kami kenakan nanti.
Aku dan Afka berjalan berdampingan di koridor rumah sakit setelah keluar dari lift dengan tanganku yang masih memegang parsel dari Mama tadi. Hingga kami berhenti di depan kamar dengan nomor 202 VIP lantai enam.
"Ini kamarnya?" Tanyaku pelan, lalu Afka menatapku dan menganggukkan kepala sekali.
"Ayo, masuk." Untuk yang kedua kalinya Afka menggenggam tanganku, menuntunku untuk memasuki kamar tersebut. Kulihat Om Joli dan Tante Fira sudah di sana bersama seorang lelaki tua yang terbaring di tempat tidur dengan selang infus, Kakeknya Afka.
"Oh, Zayyin. Kamu udah dateng?" Aku menyalami kedua orang tua Afka, memberikan parsel buah yang kubawa.
"Afka, Mamah sama Papah ke bawah dulu ya? Gapapa kan kalo Tante tinggal sebentar, Zayyin?" Seperti sebelumnya, Tante Fira tersenyum ramah membuatku melakukan hal yang sama.
"Iya, ga papa kok Tan." Kemudian Papah dan Mamah Afka keluar menyisakan aku, Afka, serta Grepa di ruangan besar ini.
Aku tersenyum kemudian menghampiri Kakek Afka yang juga tersenyum melihatku, lalu mencium tangannya diikuti Afka yang juga melakukan hal sama. Perlahan aku mendudukkan diriku di kursi samping tempat tidur karena isyarat Kakek Afka.
"Akhirnya.. Kakek bisa lihat kamu juga, nak." Mendengar suaranya yang sangat lemah, sangat jelas bahwa Grepa berusaha keras untuk bisa bicara denganku dan itu membuatku tidak enak hati.
"Kenapa Grepa bicara begitu? Setelah ini Grepa bakal ketemu Zayyin setiap hari kok." Aku tersenyum, tapi senyumku berganti dengan wajah menyesal saat menyadari ekspresi Grepa yang tampak tak menyangka karena aku memanggilnya dengan sebutan Grepa. "Maaf.. Ga boleh ya? Kalo Zayyin panggil Kakek Grepa?" Kulihat Grepa menggeleng pelan dan kembali tersenyum.
"Grepa seneng, tentu kamu boleh panggil Grepa.." Lagi-lagi aku tersenyum pada Grepa.
"Gimana keadaan Grepa?" Afka yang berdiri di sampingku sejak tadi bertanya sambil menatap Grepa.
"Udah baikan.. Berkat calon istri kamu." Calon istri? Kenapa aku jadi malu ya? Disebut seperti itu di depan Afka begini? "Zayyin?"
"I-iya Grepa?"
"Apa kamu mau?" Aku masih menatap Grepa menunggu kalimat yang akan ia katakan. "Untuk selalu berada di sisi Cucu Grepa dalam keadaan susah atau senang?"
"Sudahlah, Grepa. Jangan terlalu banyak bica-"
"Zayyin janji Grepa, jangan khawatir. " Belum sempat Afka menyelesaikan kalimatnya, Aku sudah memotongnya. “Yang penting sekarang Grepa cepat sembuh ya, Zayyin janji bakal temuin Grepa tiap hari. Sampe entar Grepa bosen ketemu Zayyin terus.” Lanjutku yang membuat Grepa terkekeh dengan tatapan sendunya.
Sedikit samar, tapi kudengar Afka menghela nafas. Tangan Grepa yang lemah terangkat untuk membelai rambutku, Kemudian tanganku digenggam. "Apa kamu mau jagain Afka buat Grepa?"
Aku mengangguk sambil tersenyum lembut. Sekarang tangan Grepa yang satunya meraih tangan Afka untuk disatukan dengan tanganku. "Grepa mau minta satu hal lagi, nak.. Apa boleh?"
"Ga perlu minta izin, Grepa. Tentu saja, Grepa boleh minta apa aja sama Zayyin." Grepa semakin mengeratkan genggaman tanganku dengan Afka dan menatapku sayu.
"Grepa.." Afka berusaha menghentikan lagi, tapi sepertinya Grepa tak menggubrisnya dan tetap melanjutkan kata-katanya.
"Apa kamu mau tinggal bersama Afka di rumahnya bersama Grepa juga?"
"Udahlah, jangan dengarkan Grepa. Ini udah cukup, jangan bicara lagi Grepa.. lebih baik Grepa istirahat."
***