Hujan turun semakin gila tanpa jeda, di luar sekarang hanya terlihat hitam dan putih sangking lebatnya.
"Aduh... Kaki kamu geser dikit Tuan, aku kesempitan." Aku menggeliat tak nyaman di pojok ruangan.
Ruangan rasanya pengap, hujan ternyata tidak bisa mendinginkan kami.
"Nggak bisa. Udah mentok juga." jawab Tuan itu datar, rumah ku sangat ngepas banget untuknya, karena kakinya menyentuh pintu dengan dirinya bersandar di papan yang sama denganku yang penuh sejarah itu.
Aku bersungut-sungut. Sampai akhirnya aku meraih plastik roti panggang itu lagi, menatap pria dan roti itu bergantian dan akhirnya aku membelahnya menjadi dua.
Satu potong langsung ku makan tandas dan satunya aku memberikan untuknya.
"Tidak. untukmu aja." Tuan itu menjawab setelah menatap roti itu beberapa detik.
"Nggak, Tuan harus makan juga." Aku menyodorkan kembali roti itu ke tangan dingin besarnya.
"Kubilang tidak perlu."
"Makanlah Tuan, muka Tuan aja udah lebih pucat dari mayat." Mata Tuan itu melirik tajam. "Apalagi mata merah kosong bet daripada sumur."
Tuan itu membuang muka, kedua tangan nya diletakkan ke belakang kepalanya Tasnya menjadi bantalnya."Letakan saja disitu, nanti ku makan." Aku mengangguk pelan.
Mataku tertuju ke jam dinding yang angkanya sudah memudar dan bingkai nya bentuknya menjadi abstrak- awalnya kotak, sekarang jadi tak menentu- sekarang jarumnya menunjuk jam 21.00.
Aku langsung menjatuhkan diri ke kasur ku -yang sudah ku tarik ke tempat ku- menarik selimut yang penuh tembelan itu. Aku merapikan sedikit rambut ku sebelum membuai bunga tidur.
Aku menatap hujan sebentar dari sela-sela tembok yang masuk ke rumah sejumput.
"Selamat malam,Tuan." Mataku berat dan akhirnya jatuh terlelap.
(POV Ied)
Mendengar kata perpisahan tidur itu hanya menatap sekilasnya lagi. Wajahnya tenang dan damai untuk kehidupan yang keras ini.
Penuh dengan pertunjukan yang menyembunyikan pisau dan predator. Topeng sudah menjadi hal lumrah dan air mata mudah jatuh.
Kenapa gadis kecil ini sangat bodoh dan naif? Membiarkan seorang pria asing untuk menumpang di rumah nya yang bisa hancur kapan saja, yang bisa melakukan seribu satu kejahatan padanya.
Padahal hidupnya lebih menyedihkan daripada aku yang sekarang di pecat karena fitnah menggelapkan dana toko.
Sebelum berakhir di bawah lampu jalan tadi dengan harapan hidup yang sudah menguap tanpa bekas, gaji ku yang belum lunas di tarik oleh toko, diusir dari kontrakan karena nunggak dua tahun, dan di putusin pacar yang sudah ku temani 5 tahun dengan langit dan bumi ku berikan untuknya. Dan semua itu hilang dengan kejapan mata.
Rumah ku? Sudah lama hancur karena kecelakaan yang menewaskan keduanya, jadi apa yang harus ku lakukan?
Aku menatap roti panggang yang tadi dia kasih, pinggiran yang pasti bekas orang suhunya sudah meredup lama, bunyi perut ku bersahutan meminta makan yang dari pagi belum aku berikan apa-apa, hanya segelas kopi. s****n.
Akhirnya aku memasukan roti panggang itu kedalam mulutku walaupun ragu menggelitik otak ku.
"Gini amat hidup gue..."
Aku menatap langit-langit rumah yang tak jelas bahan maupun strukturnya, sesekali menetes air hujan dari sela-selanya.
Sudahlah, aku beristirahat rasanya memuakan menggigat kejadian itu yang selalu mengikis iblis dalam hati ku. Aku merapatkan jas hitam yang sudah lengket oleh keringat dan air untuk memberikan setitik kehangatan waktu lelap.
(POV Fira)
Aku terbangun saat cahaya mentari belum adapun masuk diantara celah atap ku. Langit masih tidur hanya lagu jangkrik dan kodok yang membuat malam tidak sepi, hujan sudah terhenti menyisakan butiran air yang menetes pelan dari atap.
Setelah duduk dan mengucek mata, aku terperanjat, mataku melebar dan langsung menutup mulut dari teriak yang hampir keluar karena lupa kemarin habis memungut seorang pria ke rumah ku. Pria itu masih tertidur pulas dengkuran halus keluar tapi wajahnya tegangan.
"Selamat pagi, Tuan." bisikku sendiri.
Lalu merangkak pelan menuju pintu yang hampir terhalang 100 persen oleh kakinya. Agenda ku sama seperti biasanya mencari makanan untuk sarapan sambil mengumpulkan sampah untuk aku mendapatkan uang.
"Aku harus meninggalkan pesan kepada Tuan ini, kalo nggak dia bingung nyari aku kelayapan entah kemana." langkahku terhenti mengingatnya dan mengangguk kecil ke diri sendiri lagi.
Dan mengambil kertas bekas yang masih 'layak' tulis dan pensil yang tinggal seujung jari telunjukku.
"Aku lagi pergi nyari sarapan buat kita, dan uang."
Aku menatap tulisan yang kayak ceker ayam itu berulang-kali, memastikan tulisannya bisa dibaca- karena aku belajar sendiri dengan bermodalkan buku anak-anak sudah tua dan kusam yang aku temukan di tempat sampah- bahkan saat nulis pun aku masih 'menyontek' dari buku-buku yang aku kumpulkan di lemari kecil tua pojok depan kasurku sekarang.
"Segini, cukup lah." Surat itu aku letakkan di dekat tasnya yang masih melekat di kepalanya. Lalu keluar dengan menutup pintu dengan pelan-pelan.
Dan aku mulai perjalanan dengan sebuah perbedaan besar. Bahwa di rumah ku sekarang ada seseorang, yang tidak ku kenal bahkan nama pun dia enggan memberikannya.