"Hehehe, seperti biasa Paman Wil tau bahwa aku yang datang." Aku mengambil uang kertas biru itu dari tangannya.
Paman Wil menyungging senyum tipis khasnya."Tentu saja aku tahu, hanya kau satu-satunya pemulung yang mengeret bawaannya ke sini." Paman Wil berhenti sebentar mengelap keringat di pelipisnya dan memperbaiki posisi duduk.
Aku hanya nyengir kuda, sambil menatap kesibukan bangunan berlantai tanah gentingnya sudah dimakan karat bau sampah yang bertumpuk-tumpuk di pojokan bangunan menggunung bahkan tinggal sampah hitungan jari untuk benar-benar menyentuh genting dan keringat menggantung di udara, suara obrolan dan teriakan bersahutan tanpa jeda juga, aku membantu sebentar memilah sampah buat nambah uang.
"Oii Fira! Setelah ku bongkar sampah kau ternyata kau dapat 100 ribu lah, ini uang tambahan nya." Mataku berbinar-binar karena Paman Wil berkata seperti itu dan bahkan sudah menyodorkan uang biru itu lagi.
"Beneran Paman Wil?" Dia mengangguk singkat.
"Tambahannya mana?"
Paman Wil loading sebentar sebelum tawa meledak membuat beberapa anak buahnya menoleh.
"Ini tambahnya 5.000 ribu,uhuk-uhuk!" Paman Wil menepuk dadanya karena tersedak air liur sendiri. Aku hanya geleng-geleng.
Paman Wil juga berharga untuk ku... Karena kalau tanpa beliau yang menawarkan pekerjaan di momen aku tertangkap basah mencuri dompetnya saat berbelanja sayur titipan istrinya saat usiaku 7 tahun.
Tentu sampai sekarang aku akan mencuri sampai sekarang.
"Kalau kau butuh uang kerja! Jangan nyopet bocah." kata Paman Wil dulu dengan wajah kusut dan membenarkan topi koboinya yang turun.
"Kerja apa?" tanyaku bingung.
"Mulung, nanti hasilnya kau berikan kepadaku, dan aku membelinya kau pun dapat uang. Bagaimana? lebih baik bukan." Aku mengangguk-anggukkan kepala.
Paman Wil tersenyum kecil lalu menunjuk bangunan seperti toko bangunan tapi plang atas toko nya bertuliskan "Toko Barang Bekas" yang sudah tua. "Itu toko ku ingat ya."
Aku menatap dengan senyuman mengembang, lalu menghadap ke Paman Wil dengan hormat."Siap pak!" Paman Wil tertawa kecil.
"Okee, Fira pulang Paman Wil. Sampai jumpa besok!" Aku melambaikan tangan lalu ngebut menuju rumahku.
Pria berkaus k****g dengan celana pendek bersandar ke tiang besi itu menatap punggungku yang segera menghilang di belokan dengan senyuman tipis, mengusap rambutnya yang sudah di 'jajahi' uban sebelum akhirnya masuk kembali kedalam toko bekasnya lagi. Tanpa kata.
(POV Ied)
Aku terbangun saat g**g sudah mulai penuh suara dari jalan raya yang beralu- lalang, aku duduk meregangkan badan yang kaku, sambil melirik jam yang sudah tak pantas di sebut jam. Jam 08.15 rupanya.
Mataku melebar, ini rekor tidur terlamaku sejak aku kerja tidur aku hanya paling lama 1 jam.
Tunggu dulu... Dimana gadis kecil aneh itu? Aku melihat sekitar dan hanya ada angin yang melintas, aku membuang nafas kasar sampai mata ku menangkap kertas yang ada di samping ku yang tulisannya kayak cacing ke panasan.
"Aku lagi pergi nyari sarapan buat kita, dan uang."
Dasar, memang gadis aneh. Masih sempet-sempetnya mikirin makan buat orang asing. Aku beranjak keluar rumah setelah mengikat rambut panjangku dengan karet di pergelangan tanganku dan merapihkan sedikit kemeja putihku lalu menghirup udara untuk mengembalikan mood-ku.
"Tuan! rupanya kamu sudah bangun." Aku melirik ke arah suara itu. "Pas sekali, ayo makan ini aku bawa sarapan kita!" Gadis aneh itu muncul di ujung g**g dengan senyuman lebar kekanakan-kanakan wajahnya kotor begitu baju coklat penuh tambalnya semakin coklat karena kotor dan mengangkat plastik putih tinggi-tinggi, lalu menghampiriku.
"Tidak usah, aku beli sendiri." jawabku dingin seperti biasanya.
"Makan bareng aja Tuan, mumpung makanan ku banyak." Mata gadis itu menatapku lurus-lurus.
"Tidak."
"Ayolah... Memangnya Tuan punya uang?" Pertanyaannya mengenai uluh hatiku.
"Bukan urusan mu." Gadis itu tiba-tiba sudah memegang dompet kulit coklat ku dan mengintip isi uang ku, yang langsung ku rampas dari tangan nya.
"TUH! UANG TUAN AJA UDAH TINGGAL 10 RIBU, TUAN MAU MAKAN APA DI KOTA, AIR PUTIH?!" semprotnya menunjuk-nunjuk dompet ku dengan tatapan anjing galak.
"Di bilang bukan urusan mu! Seterah aku mau makan apa, kamu juga nggak punya hak apa-apa jadi jangan ikut campur urusan hidup orang." Nadaku naik satu tangga dan aku langsung menciut melihat wajah gadis itu yang menegang dan tubuhnya sedikit bergetar.
Sialan aku kelewatan.
"Benar...Tuan benar aku bukan siapa-siapa nya Tuan jadi aku nggak berhak ngatur-ngatur Tuan. Maaf membuat Tuan tidak nyaman kalau mau pergi silahkan Tuan hati-hati di jalan." Gadis itu mundur beberapa langkah lalu masuk ke dalam rumahnya.
Sesak langsung menyergap ke ulu hatiku tanpa permisi pikiran ku jadi kacau, aku benci perasaan ini. Baru dua langkah aku pergi rasanya sudah amat mengganjal perut sekali aku menjambak rambut ku.
Aku jadi berbelok arah ke rumah gadis itu dan membuka pintu nya "Aku minta maaf. Apakah aku masih boleh sarapan bersama?" Gadis itu terpental saat melihat ku nyolong buka pintu tanpa kabar, tapi sedetik kemudian mengangguk kecil. "Tentu!"
Aku menghembus nafas lega, lalu masuk, "Terimakasih."