Malam itu hujan benar benar turun begitu lebat, Vier hanya bisa menatap langit pekat melalui jendela besar yang berada di kamar megah itu. Ya, ia belum bisa pulang. Bukan karena membatalkan niat, melainkan tiba tiba Ratih tak sadarkan diri saat Zora mencoba pamit ke kamarnya. Mungkin ucapan Vier benar benar telah menyakiti hatinya begitu dalam. Kebenciannya yang luar biasa dan niatnya yang bulat untuk meninggalkan Ratih membuat wanita renta itu hancur.
Ia menangis sedih, berjalan tertatih ke kamarnya dan mengunci dirinya di sana. Memegangi foto Harry dan menangis serak. Apakah wanita seperti dirinya tidak pantas diampuni? Kenapa Vier sama sekali tidak bisa mengerti dan menghargai kasih sayangnya? Sejak pagi ia sudah merapikan rumah, meminta semua pelayan memasak dan menghias kembali kamar