CEO 404: Cinta Tidak Ditemukan
Episode 6: Hujan dan Jaket
---
Maya bangun pukul lima pagi. Bukan karena alarm. Tapi karena dia tidak bisa tidur sejak jam tiga. Pikiran tentang Arka, tentang nasi uduk yang harus dia beli, tentang pesan aku tunggu yang masih dia baca berulang kali.
Di luar, hujan turun deras. Air menetes dari atap seng, jatuh ke ember plastik di sudut kamar. Maya duduk. Matanya sembab. Tapi senyumnya sudah muncul sejak membuka mata.
Hari ini dia akan membawakan nasi uduk untuk Arka.
Dia mandi air dingin. Pakai lotion yang hampir habis. Rapikan rambut lebih lama dari biasanya. Dia pilih kemeja biru muda yang dia setrika sampai licin. Rok hitam. Sepatu yang masih menjepit jempol kaki. Dan kalung bulan pemberian ibu.
Dia lihat cermin. Rambutnya rapi. Bajunya rapi.
Ini bukan untuk dia. Ini untuk profesionalisme.
Dia tertawa sendiri.
Pukul enam, Maya keluar kos. Hujan masih deras. Payungnya bolong di satu sisi. Tasnya dia gendong di depan, dilindungi dari air. Laptop seken di dalamnya tidak boleh basah.
Di warung nasi uduk, ibu penjual tersenyum.
“Mbak Maya, baru jam segini sudah kelihatan?”
“Nasi uduk dua bungkus, Bu. Tempe gorengnya banyakin. Sambalnya pisah. Es teh dua gelas.”
“Untuk siapa? Teman?”
Maya tersenyum. “Iya, Bu. Teman.”
Dia bayar dengan uang yang sudah disisihkan semalam. Uang dari sisa belanja tiga hari lalu. Dia tidak makan malam kemarin untuk menyisihkan ini. Tapi tidak masalah.
Perjalanan ke kantor berat. Hujan tidak reda. Angin bertiup. Payung bolongnya hampir terbalik dua kali. Tasnya dia peluk erat.
Dia sampai di gedung Devatech pukul 07.30. Basah. Dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Kemeja biru mudanya basah di bahu dan punggung. Rambutnya bergelombang karena air.
Tapi nasi uduknya aman.
Dia masuk lift. Naik ke lantai dua puluh. Di pantry, Arka sudah ada. Pria itu berdiri di depan mesin kopi, kemeja putih rapi, rambut rapi. Tidak setetes air pun membasahinya.
Tapi ketika dia menoleh dan melihat Maya, matanya membesar.
“Kamu basah.”
Maya tersenyum. “Nasi uduknya aman, Pak.”
Arka meletakkan cangkirnya. Dia berjalan mendekat. Matanya tidak melihat nasi uduk. Matanya melihat Maya. Dari rambut basah sampai sepatu berlumpur.
“Kamu jalan kaki?”
“Naik angkot, Pak. Tapi dari pemberhentian ke sini lumayan jauh.”
“Tidak naik ojek?”
“Mahal, Pak.”
Arka diam. Wajahnya tidak berubah. Tapi rahangnya mengeras.
“Masuk ke ruanganku,” katanya. Suaranya rendah.
---
Di ruang CEO, Arka mengambil handuk dari lemarinya. Dia melemparkannya ke pangkuan Maya.
“Keringkan rambutmu.”
Maya menurut. Handuk itu lembut. Wangi. Wangi Arka. Wajahnya langsung panas.
Arka mengambil handuk itu setelah Maya selesai. Lalu dia membuka lemari lagi. Mengeluarkan jaket blazer abu-abu yang biasa dia pakai.
Dia berdiri di depan Maya. Membuka jaket itu lebar. Dan tanpa bertanya, menyampirkannya di pundak Maya.
Maya membeku.
Jaket itu hangat. Masih ada sisa panas tubuh Arka di dalamnya. Wangi sabun dan kopi menyelimuti Maya. Terlalu besar. Tapi hangat. Hangat sekali.
“Pak Arka, ini jaket Bapak.”
“Aku tahu.”
“Nanti Bapak kedinginan.”
“Aku tidak basah.”
Maya tidak bisa berkata-kata. Dia hanya membungkus tubuhnya dengan jaket itu. Ujungnya mencapai pahanya. Lengannya panjang sampai menutupi setengah telapak tangannya.
Tapi dia hangat.
Arka duduk di seberang meja. Dia membuka bungkusan nasi uduk. Satu untuk Maya, satu untuk dirinya.
“Makan.”
Maya mengambil sendok. Nasi uduknya pulen. Tempe gorengnya renyah. Tapi yang membuatnya hangat bukan makanannya. Jaket itu. Wangi Arka.
Mereka makan dalam diam. Tapi diam ini intim. Seperti mereka berdua tahu ada sesuatu yang tumbuh, dan tidak perlu kata-kata untuk mengakuinya.
Arka menghabiskan nasinya lebih dulu.
“Kamu datang jam berapa?”
“Setengah delapan, Pak.”
“Aku sudah di sini sejak setengah tujuh.”
Maya mengangkat wajah. “Setengah tujuh, Pak?”
“Aku ingin memastikan aku tidak telat kalau-kalau kamu datang lebih awal.”
Maya tidak tahu harus berkata apa. Arka datang lebih awal. Arka menunggunya.
“Kamu tahu,” kata Arka pelan, “aku sudah bertahun-tahun tidak ada yang membawakanku sarapan.”
Maya diam.
“Tiba-tiba ada asisten baru yang basah kuyup di hari kerjanya yang ketiga, membawa nasi uduk dari warung pinggir jalan, dengan es teh yang esnya sudah mencair karena terlalu lama di perjalanan.”
Maya menunduk. “Es tehnya sudah tidak dingin, Pak. Maaf.”
“Aku tidak bicara tentang es teh.”
Maya mendongak.
Arka menatap matanya. “Aku bicara tentang kamu. Kamu yang berjalan di hujan. Kamu yang menggigil tapi tetap tersenyum bilang baik-baik saja. Itu adalah hal paling bodoh yang pernah aku lihat.”
Maya tersenyum canggung.
“Tapi juga,” Arka melanjutkan, suaranya turun, “itu adalah hal paling tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata.”
Dia bangkit. Berjalan mengelilingi meja. Berdiri di samping kursi Maya. Menunduk. Wajahnya hanya sejengkal dari Maya.
“Kamu tahu kenapa aku marah?”
Maya menggeleng.
“Karena aku tidak suka melihatmu kedinginan. Karena aku tidak suka melihatmu berjalan di hujan sendirian. Karena aku tidak suka kamu menggigil dan berkata kamu baik-baik saja.”
Arka berhenti. Matanya menatap Maya. Hangat.
“Dan aku sangat tidak suka,” suaranya hampir berbisik, “bahwa aku tidak bisa melakukan apa-apa selain meminjamkan jaket.”
Maya tidak bisa bernapas.
“Pak Arka, jaket ini sudah sangat hangat.”
Arka tidak menjawab. Jarinya menyentuh pundak Maya. Di atas jaket.
“Kamu masih menggigil.”
“Itu karena Bapak memegang pundak saya.”
Arka berhenti. Tangannya masih di sana.
“Apa kamu keberatan?”
Maya menunduk. Wajahnya merah. “Tidak, Pak.”
Arka tidak menarik tangannya. Dia berdiri di samping Maya, satu tangan di pundaknya, menatap ke luar jendela. Langit masih kelabu.
Maya duduk di kursinya, terbungkus jaket abu-abu, dengan tangan Arka di pundaknya. Tidak ada yang bicara. Mereka hanya berada di sana. Bersama.
Hujan mulai reda. Sinar matahari mulai menembus awan.
Arka melepas tangannya. Dia berjalan ke jendela.
“Hujan sudah berhenti.”
Maya mengangguk. Dia belum berniat melepas jaket itu.
“Boleh saya pakai sebentar lagi, Pak?”
Arka menoleh. Lembut. “Pakai saja. Bawa pulang kalau perlu.”
“Nanti Bapak kedinginan.”
Arka tersenyum. Senyum kecil yang mulai sering dia tunjukkan. Senyum yang hanya untuk Maya.
“Aku punya orang yang membawakanku nasi uduk setiap pagi. Itu cukup untuk menghangatkanku.”
Maya tersenyum. Senyum lebar yang tidak bisa dia sembunyikan. Di balik jaket abu-abu yang terlalu besar, dengan rambut masih setengah basah, dia merasa ini adalah pagi terhangat dalam hidupnya.
Bersambung ke Episode 7