Persidangan itu digelar tiga bulan kemudian — tiga bulan yang dibutuhkan jaksa untuk menyusun berkas setebal empat ribu halaman — dan menjadi persidangan yang membuat satu negeri berhenti di depan layar televisinya setiap siang.
Sidang dibuka dengan pembacaan dakwaan yang memakan waktu dua jam: korupsi berlapis selama tujuh belas tahun, pencucian uang lintas tiga dekade, dan dua dakwaan yang membuat ruang sidang hening seperti makam — pembunuhan berencana atas nama Raka Wijaya dan Hardjono Wirawan.
Mitha datang di hari pertama, duduk di barisan keluarga korban dengan perut yang sudah tujuh bulan, diapit Danu dan Dara. Di barisan yang sama: Bram dan Saraswati, dengan wajah dua orang yang menunggu hari ini sejak berusia tujuh belas dan sebelas tahun. Dan di kursi roda di sisi ruangan — datang jauh dari panti jompo Jawa Tengah dengan izin khusus dokternya — Sigit Prawirosentono, jaksa tua yang menolak menyaksikan sidang ini lewat televisi. 'Aku menyimpan kebenaran ini tiga puluh satu tahun di balik lemari,' katanya pada petugas yang menawarinya menonton dari ruang lain. 'Aku akan mendengarnya diucapkan di ruang sidang, dengan telingaku sendiri, sampai habis.'
Kesaksian-kesaksian itu berjalan berminggu-minggu, dan masing-masing meninggalkan bekasnya sendiri.
Rustam Effendi bersaksi selama dua hari — bendahara tua itu membacakan pembukuan gelapnya lembar demi lembar, menjawab setiap serangan pengacara pembela dengan ketenangan orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk disembunyikan. Saat ditanya hakim kenapa ia menyimpan bukti yang bisa menyeretnya sendiri, jawabannya menjadi kutipan di semua berita keesokan harinya: 'Karena bendahara yang baik tidak pernah membuang bukti, Yang Mulia. Dan karena saya sudah terlalu lama menjadi orang jahat yang menyimpan bukti — saya ingin mati sebagai orang biasa yang pernah melakukan satu hal benar.'
Tejo Santoso bersaksi dengan suara datar tentang klem rem yang dilonggarkan dan perusahaan katering yang bubar dalam seminggu. Tidak ada air mata, tidak ada dramatisasi — dan justru kedatarannya yang membuat satu ruang sidang merinding. Mitha tidak hadir di hari itu; Danu melarangnya dengan lembut, dan ia menurut — tapi malam itu, di rumah, ia membaca transkripnya sampai habis, halaman demi halaman, sambil menggenggam foto ayahnya yang berdiri di nakas. 'Sekarang aku tahu bagaimana kamu pergi,' bisiknya pada foto itu. 'Dan sekarang seluruh negeri juga tahu. Tidak sia-sia, Yah. Tidak sia-sia.'
Dan di hari kedua belas, saksi yang paling ditunggu satu negeri akhirnya berdiri di depan mikrofon: Gunawan Abisatya.
Ia datang dengan tongkatnya, menolak kursi roda di depan pintu sidang seperti biasa, dan bersaksi selama tiga jam tanpa satu kali pun menyentuh catatan. Tentang keputusannya menerbitkan serial itu. Tentang tawarannya yang ditolak Ibu Ratna. Tentang ketakutannya pada ancaman-ancaman yang datang ke redaksi — dan satu hal yang tidak pernah diketahui publik sebelumnya: bahwa dua minggu sebelum Raka Wijaya tewas, Gunawan sendiri menerima satu telepon peringatan untuk menghentikan serial itu, dan menjawabnya dengan kalimat yang di hari sidang itu diucapkannya ulang dengan suara yang masih keras seperti dulu: 'Kalau kalian ingin menghentikan tulisan itu, kalian harus membunuh saya dulu — karena selama saya hidup, kebenaran itu terbit.'
'Saya tidak tahu bahwa harga dari kalimat itu akan dibayar oleh seorang auditor muda yang bahkan tidak pernah saya temui,' kata Gunawan di akhir kesaksiannya, dan untuk pertama kalinya di depan publik, lelaki tua itu menangis. 'Selama tiga puluh satu tahun saya bertanya-tanya: kalau saya tidak sekeras itu, apakah Raka Wijaya masih hidup? Tapi putri beliau berdiri di ruangan ini minggu lalu dan berkata kebencian berhenti di generasinya. Jadi hari ini saya memilih percaya: yang membunuh Raka Wijaya bukan kalimat saya. Yang membunuhnya adalah orang yang takut kebenaran itu terdengar — dan orang itu sekarang duduk di kursi terdakwa.'
Pengacara pembela tidak mengajukan satu pun pertanyaan balasan.
Dan ada satu hari — hari kesembilan belas persidangan — yang kemudian dikenang sebagai hari paling sunyi dalam sejarah pengadilan itu: hari ketika dua surat dari dua orang mati dibacakan di muka sidang.
Surat Hardjono Wirawan dibacakan oleh jaksa dengan suara yang dua kali harus berhenti. Dan saat kalimat *'Ayah tidak bunuh diri. Ayah tidak akan pernah meninggalkan mereka dengan cara itu'* menggema di ruang sidang, Bram menunduk dalam, Saraswati menggenggam lengan kakaknya, dan di barisan belakang, terdengar isak yang tidak bisa ditahan dari orang-orang yang bahkan tidak mengenal keluarga itu.
Lalu surat Larasati Arjanti — dibacakan atas permintaan khusus Mitha, yang berdiri sendiri di depan mikrofon, dengan perut tujuh bulan dan suara yang tidak gemetar sedetik pun:
*'Kebenaran yang mama tulis menghancurkan seorang ayah — dan runtuhannya menimpa seorang anak yang tidak berdosa... Jangan balas kebencian dengan kebencian, Mitha. Kebencian cuma bisa diputus oleh orang yang berhenti meneruskannya.'*
Mitha menutup surat itu, menatap hakim, lalu menatap ke arah terdakwa untuk pertama dan satu-satunya kalinya sepanjang persidangan, dan berkata:
'Yang Mulia, saya tidak berdiri di sini untuk menuntut kebencian pada siapa pun — termasuk pada terdakwa. Saya berdiri di sini karena dua orang tua saya mati untuk kebenaran, dan kebenaran itu hari ini akhirnya diucapkan di ruangan yang seharusnya. Ibunda saya menulis surat ini untuk saya — tapi hari ini saya mengerti beliau juga menulisnya untuk semua orang di ruangan ini. Kebencian berhenti di sini. Di generasi kami. Biarkan hukum bekerja setelah itu — tapi kebencian, biarkan mati di sini, hari ini.'
Ia kembali ke kursinya. Dan ruang sidang itu — hakim, jaksa, pengacara, pengunjung, bahkan polisi penjaga pintu — berdiri dan bertepuk tangan untuk seorang anak perempuan yang membawa surat ibunya ke pengadilan.
Di lantai 19 kantor Abisatya Besari, tepuk tangan yang sama pecah di depan layar besar yang sengaja dipasang timnya di ruang kerja Unit Konten Komunitas. Rangga dan delapan anggota tim berdiri bertepuk tangan di depan televisi kantor seperti orang-orang yang menang piala dunia — sampai dua di antaranya menangis, dan Rangga harus berdehem tiga kali sebelum bisa berkata: 'Itu pemimpin kita. Itu orang yang mengambil risiko untuk anak gudang. Sekarang kalian tahu dari siapa dia mewarisi keberaniannya.' Anya, yang ikut menonton dari pantry lantai 11, mengirim pesan ke Mitha satu kalimat penuh huruf kapital: 'AKU MENANGIS DI DEPAN SELURUH DIVISI MARKETING DAN AKU TIDAK MALU. MAMAMU PASTI SEDANG BERDIRI BERTEPUK TANGAN JUGA DI SANA.'
Di kursi terdakwa, Darmadi Sutanto menunduk dalam — dan untuk pertama kalinya sepanjang persidangan, lelaki tua itu terlihat menangis.