Pemindahan itu dilakukan di pagi yang cerah dan tenang — hari yang dipilihkan keluarga, tanpa tanggal keramat apa pun, karena Mitha bersikeras: 'Orang tuaku tidak butuh tanggal baik. Mereka butuh akhirnya berbaring berdampingan. Itu saja.'
Prosesinya diurus dengan segala kehormatan yang bisa diberikan: makam Raka Wijaya di pinggir kota dibuka dengan izin resmi, dan jenazahnya dipindahkan ke pemakaman keluarga yang disiapkan keluarga Abisatya — satu tanah lapang berpohon rindang di pemakaman yang sama dengan makam Larasati, dengan dua liang yang sudah disiapkan berdampingan sejak awal.
Hadir hari itu bukan hanya keluarga inti. Ada Hendra Kusuma yang terbang dari Bandung meski dokternya melarang ('Saya mengawal Larasati di redaksi, saya akan mengawalnya sampai peristirahatan terakhirnya'). Ada Bu Ratih, yang datang berpakaian sipil dan berdiri di barisan belakang dengan hormat seorang pejuang kepada pejuang lain. Ada Bram, Saraswati, dan Ratna — karena Mitha mengundang mereka sendiri: 'Ayahku dan ayah kalian mati dalam cerita yang sama. Kalian berhak berdiri di hari ini.' Dan ada Sigit Prawirosentono di kursi rodanya, diantar dari panti jompo, dengan satu setelan jas yang disiapkannya khusus seminggu sebelumnya.
Dua peti itu diturunkan berdampingan, di bawah pohon rindang itu, dengan dua nisan baru yang berdiri sejajar:
**LARASATI ARJANTI** — *Ia menulis kebenaran, lalu menghabiskan sisa hidupnya membayar harganya dengan tenang.*
**RAKA WIJAYA** — *Ia menemukan kebenaran, lalu menyerahkan nyawanya agar kebenaran itu terbit.*
Dan di bawah kedua nama itu, dengan huruf yang lebih kecil, satu kalimat yang sama di kedua nisan — kalimat yang dipilih Mitha dari surat mamanya:
*'Beberapa cerita lebih baik tetap menjadi milik orang yang menjalankannya. Tapi cerita ini, biarlah menjadi milik semua orang yang berani membacanya.'*
Mitha berdiri di depan dua nisan itu dengan Arka sembilan bulan... tidak — dengan Arka tiga bulan lebih di gendongan, dan berbicara pelan, hanya untuk mereka berdua:
'Ma, Yah. Kalian sekarang berdampingan. Tiga puluh tiga tahun dipisahkan cerita orang lain — sekarang tidak ada lagi yang bisa memisahkan. Ini Arka, cucu kalian. Arka Wijaya. Dia punya mata Mama, menurut semua orang, dan tidurnya sangat nyenyak, yang menurut Papa mertuaku adalah tanda pemimpin besar.' Ia tersenyum di tengah air matanya. 'Aku akan sering membawanya ke sini. Dia akan tumbuh mendengar cerita kalian — bukan cerita yang menakutkan, tapi cerita tentang dua orang yang memilih kebenaran bahkan ketika harganya adalah segalanya. Supaya kalau suatu hari dia menghadapi pilihannya sendiri, dia tahu harus berdiri di mana.'
Danu berdiri di sampingnya, dan berkata pelan: 'Ibu, Bapak. Danu di sini. Anak kalian sudah kujaga, dan akan terus kujaga — dengan cara yang benar, seperti janji saya di makam Ibu dulu. Sekarang ada satu lagi yang harus kami jaga bersama. Titip doa untuknya dari tempat kalian. Dan terima kasih — untuk Mitha. Untuk semuanya.'
Satu per satu yang hadir maju meletakkan bunga. Bram meletakkan bunganya dengan dua tangan dan membungkuk dalam di kedua nisan — penebusan yang tidak diumumkannya kepada siapa pun, untuk tiga puluh satu tahun mengarahkan dendamnya ke dua nama ini. Hendra meletakkan bunganya sambil berbisik, 'Redaksi bubar, Larasati. Kalian menang.'
Lalu Ratna maju — dan seluruh rombongan menahan napas, karena semua orang mengerti apa arti langkah perempuan tua itu. Ia meletakkan dua tangkai bunga, satu di tiap nisan, dan berdiri di antara dua makam itu seperti orang berdiri di antara dua babak hidupnya. 'Ibu Larasati,' katanya pelan, 'selama tiga puluh satu tahun saya mengajari anak-anak saya untuk tidak membenci Ibu — dan itu adalah hal tersulit yang pernah saya lakukan, karena membenci Ibu jauh lebih mudah daripada mengakui suami saya salah. Tapi saya melakukannya, karena saya tahu Ibu hanya menulis kebenaran. Dan hari ini saya berdiri di sini untuk berterima kasih: kebenaran yang Ibu tulis memang menghancurkan keluarga saya — tapi kebenaran yang sama, tiga puluh satu tahun kemudian, menyelamatkan anak laki-laki saya dari dirinya sendiri.' Ia menyentuh nisan Raka sebentar. 'Dan untuk Bapak Raka — anak-anak kita menepati janji yang tidak sempat kita buat. Mereka berdiri tegak, Pak. Dua-duanya. Ibu dan Bapak boleh beristirahat dengan tenang sekarang.'
Saraswati maju memapah ibunya, dan Mitha memeluk perempuan tua itu di antara dua makam — dua anak perempuan dari dua keluarga, dan satu ibu yang kehilangan suaminya dalam cerita yang sama, berdiri dalam satu pelukan yang tidak membutuhkan kata-kata apa pun.
Upacara itu sengaja digelar tanpa satu pun kamera media — keputusan yang diambil bersama, karena beberapa halaman dalam sebuah cerita memang sebaiknya tetap menjadi milik keluarga. Tapi beritanya bocor juga, seperti semua hal baik di negeri itu: satu foto dari kejauhan, dua nisan sejajar di bawah pohon rindang, beredar di media sosial sore harinya dengan ribuan komentar. Dan komentar yang paling banyak dibagikan orang bukan tentang kasusnya, bukan tentang vonisnya — melainkan satu kalimat sederhana dari akun tak dikenal: *'Tiga puluh tiga tahun dipisahkan, dan akhirnya berdampingan. Ada cerita yang memang harus menunggu lama untuk menemukan akhir yang benar.'*
Dan Gunawan yang terakhir, meletakkan dua tangkai bunga — satu di tiap nisan — dan berdiri di sana lebih lama dari siapa pun, tanpa berkata apa-apa, dengan tangan Dara di bahunya.
'Kita pulang kapan-kapan ke sini lagi, Yah,' kata Dara pelan.
'Setiap tahun,' jawab Gunawan. 'Ini bukan makam, Dara. Ini tempat keluarga kita belajar dari mana keberanian itu berasal.'
Dan saat rombongan itu beranjak, Mitha berbalik sekali lagi di gerbang — menatap dua nisan sejajar di bawah pohon rindang, dengan gelang mamanya di pergelangan tangannya dan putranya di gendongannya — dan untuk pertama kalinya sejak ia kehilangan mamanya empat tahun lalu, dukanya tidak lagi terasa seperti luka.
Ia terasa seperti warisan. Yang sudah lunas. Yang sudah diteruskan.