Erika duduk di ruang utama setelah menutup laptop. Jo menyerahkan minum, lalu mengambil tempat di samping dengan buku yang belum selesai dibaca.
"Aku belum tahu akhir tokoh yang ini," ujarnya.
Gadis tersebut melihat sampul, kemudian tertawa. "Mas sudah punya bukunya. Baca saja."
"Aku ingin mendengar penulisnya menjawab."
"Penulisnya ingin istirahat."
Jo ikut tertawa, menyimpan pertanyaan. Mereka duduk beberapa saat dengan suara rumah yang telah dikenal, tidak merasa setiap sunyi harus diisi supaya hubungan terlihat baik.
Hari-hari terus berjalan. Jo memimpin perusahaan dengan pekerjaan yang tetap menuntut, tetapi tidak lagi menganggap rumah harus menerima seluruh sisa kemarahan dari kantor. Erika menulis, menerima pekerjaan yang sesuai, dan menolak yang tidak dapat dijalani tanpa merusak janji lain.
Keduanya masih pernah berselisih. Ada keputusan yang diucapkan terlalu cepat, ada kekecewaan yang terlambat disebut. Namun, mereka semakin mengenal kapan perlu berhenti sebentar dan kapan diam justru membuat sesuatu lebih sulit.
Tidak selalu berhasil pada percobaan pertama. Mereka memperbaiki, meminta maaf untuk hal yang nyata, dan kembali pada kebiasaan yang ingin dibangun. Cinta tidak membuat semua pertanyaan hilang, tetapi memberi alasan untuk tidak menyerahkan jawaban kepada orang lain sebelum saling mendengar.
Rumah tumbuh bersama kehidupan di dalam. Rak bertambah beberapa buku. Meja Erika mempunyai bekas pemakaian yang tidak membuatnya kurang disukai. Ada gelas yang masih kadang diletakkan pada sisi salah, lalu dipindah dengan keluhan yang sering berakhir pada tawa.
Jo menjadi lebih terampil menyiapkan sarapan sederhana. Erika berhenti menganggap semua pekerjaan dapat selesai sebelum waktu makan jika dirinya hanya mengetik sedikit lebih cepat. Mereka belajar pada hal kecil yang tidak pernah ditulis di undangan.
Bu Mei datang pada beberapa kesempatan, tetap memiliki rumah serta kegiatan sendiri di Semarang. Putrinya juga pulang, kadang bersama Jo, kadang ketika pekerjaan suami tidak memungkinkan. Perjalanan tidak digunakan sebagai ukuran siapa paling sayang.
Pada suatu kunjungan, mereka menemui tempat peristirahatan Ayah bersama Ibu. Erika membawa kabar tulisan dan rumah, berdiri dengan rasa rindu yang masih dapat membuat suara bergetar.
Jo berada di sisi, tidak mencoba memberi kalimat yang akan menghapus kehilangan. Bu Mei berdoa dengan tenang, lalu mereka berjalan pulang setelah memberi waktu cukup.
Di rumah, perempuan itu menunjukkan beberapa kertas lama yang baru ditemukan. Ada catatan cerita Erika, bekas coretan Ayah, dan satu halaman yang membuat gadis tersebut tertawa karena tidak ingat pernah menulis dengan begitu yakin.
Jo membaca bagian yang diperbolehkan, tersenyum, lalu mengembalikan. Kertas-kertas itu tidak perlu seluruhnya dibawa. Sebagian tetap tinggal di Semarang, memberi sesuatu yang dapat ditemukan ketika pulang lagi.
Keluarga Jack juga melanjutkan hari dengan kabar yang lebih luas. Ammar serta Iccha mempersiapkan pernikahan pada waktu yang dipilih sendiri. Mereka tetap perlu banyak percakapan, termasuk mengenai pekerjaan dan kebiasaan yang selama ini terlalu mudah dianggap sudah diketahui.
Erika membantu bagian tulisan yang diminta, membaca ucapan tanpa membuat seluruh suara menjadi miliknya. Jo berdiri di sisi kakak ketika waktunya datang, memberi ketenangan yang dahulu diterima dari orang yang sama.
Iccha tersenyum pada hari pernikahannya dengan wajah yang tidak lagi sibuk menebak apakah Ammar sungguh-sungguh. Lelaki tersebut mengatakan pilihan langsung, dan perempuan itu memberi jawaban yang telah lama ingin diucapkan tanpa harus menggunakan orang lain sebagai jalan.
Keluarga memberi ucapan, menangis sedikit, lalu tertawa pada kesalahan kecil yang dapat diperbaiki. Tidak ada acara yang perlu menyerupai pernikahan Jo agar terasa berhasil. Ammar dan Iccha mempunyai hari sendiri, kemudian rumah tangga yang akan dipelajari dengan cara sendiri.
Lina terus menulis. Ceritanya menemukan pembaca yang mau bertanya, kadang tidak setuju, dan tetap kembali pada halaman berikutnya. Arya masih memberi tanggapan pada kesempatan yang sesuai, menjaga hubungan sebagai orang dewasa yang dapat menerima pilihan tanpa membuat perhatian menjadi tuntutan.
Kiki membaca sebagian tulisan adik setelah meminta. Dia tidak selalu menyukai, sering memberi komentar yang terlalu langsung, tetapi tidak lagi menggunakan perbedaan sebagai pintu menuju tuduhan lama.
Ada hari ketika mereka marah. Lina dapat mengatakan bahwa dirinya tidak ingin mendengar satu kalimat tertentu, Kiki belajar berhenti sebelum suara menjadi sesuatu yang kemudian harus ditarik kembali. Hubungan tidak berubah menjadi sangat lembut, tetapi lebih aman untuk tinggal di dalam.
Daddy bercerita tentang Maira ketika diminta, termasuk hal yang tidak sempurna. Anak-anak mendengar perempuan yang pernah hidup, bukan hanya nama yang muncul pada kehilangan. Foto pada kamar Kiki dan Lina tetap berada di tempat yang dijaga, dengan cerita baru yang tidak membuat salah satu merasa harus meminta izin untuk mengenang.
Aldin serta Caca menjalani kehidupan yang telah dipilih dengan pekerjaan dan tanggung jawab nyata. Mereka tidak kembali menjadi bagian rumah Jack seperti dulu. Persahabatan lama tidak dipulihkan, dan tidak ada orang yang memaksa Jo menganggap semua akibat telah hilang karena waktu berjalan.
Namun, keluarga Wijaya dapat berbicara dengan lebih jujur. Bu Mei menerima kabar putra langsung, memberi batas ketika perlu, dan tidak lagi menggunakan Erika sebagai jalur agar pembicaraan lebih mudah. Caca juga menghubungi pada waktu yang memang disepakati, menjawab bagi dirinya sendiri.
Frans masih mempunyai pendapat keras pada beberapa hal, tetapi tidak lagi menjadikan nama Erika alasan menutup kesalahan yang dibuat anaknya. Kehidupan keluarga diteruskan tanpa perlu membuat satu cerita baru agar semua orang terlihat tidak pernah salah.
Di rumah Jo, masa lalu disimpan pada tempatnya. Berkas pribadi yang selesai tidak dibuka setiap kali malam terasa sepi. Buku hadiah lama tetap menjadi milik Caca, tanpa perlu direbut atau diubah agar hubungan baru mempunyai ruang.
Erika tidak menulis akhir palsu bagi kisah tersebut. Dia menyelesaikan pekerjaan yang dapat dipertanggungjawabkan, lalu menjalani kehidupannya sendiri bersama lelaki yang memilih mendengar.
Kirana tetap bertukar kabar dengan Erika pada kesempatan yang sesuai. Mereka membicarakan pekerjaan, bacaan, dan cerita yang tidak harus kembali pada hubungan yang telah berakhir. Perempuan itu membangun hari sendiri, tidak menunggu kabar Aldin agar dapat menentukan apakah hidupnya boleh bergerak.
Pada satu percakapan, dia menyebut bagian cerita Anggrek yang menurutnya terasa terlalu cepat. Erika membaca ulang, menemukan alasan yang memang perlu ditambahkan, lalu berterima kasih tanpa menganggap setiap tanggapan harus diterima karena penuturnya pernah disakiti keluarga.
Persahabatan mereka mendapat bentuk yang lebih wajar. Ada ucapan selamat, ada perbedaan pendapat, dan kabar yang tidak selalu panjang. Kirana tidak diminta menjadi ukuran apakah Caca lebih baik atau lebih buruk. Dia tetap seseorang dengan kehidupan yang pantas diketahui di luar kisah orang yang pernah meninggalkan.
Erika menerima itu dengan lega. Tidak semua orang yang dikenal melalui peristiwa menyakitkan harus terus berada pada tempat yang sama ketika tahun berjalan.
Di rumah, gadis tersebut juga mulai mengenali waktu yang paling nyaman menulis. Cahaya pagi cukup bagi beberapa halaman, sementara sore kadang lebih baik untuk membaca ulang. Jo tahu kebiasaan itu bukan jadwal yang tidak boleh berubah, tetapi sesuatu yang perlu dihormati sebelum meminta waktu.
Lelaki tersebut sendiri menyediakan beberapa kesempatan membaca tanpa ponsel terus berada pada tangan. Tidak semua buku selesai cepat. Ada yang diletakkan lama, ada yang kembali dibuka karena satu pertanyaan membuatnya ingin tahu.
Erika tertawa ketika menemukan pembatas suami pada halaman yang sama beberapa hari kemudian. Jo mengaku belum sempat, lalu menanyakan apakah penulisnya akan memberi hukuman.
"Tidak. Buku tidak akan marah karena Mas belum selesai."
"Penulisnya?"
"Penulisnya mungkin menanyakan terus."
Mereka tertawa, lalu gadis tersebut membiarkan buku tetap pada tempat yang dipilih. Perhatian tidak harus selalu datang melalui hal yang sama. Jo membaca ketika sempat, mendengar ketika istrinya ingin berbicara, dan memberi waktu ketika halaman memang belum siap dibagikan.
Pada akhir minggu, mereka sesekali berjalan tanpa tujuan besar. Ada kebutuhan yang dibeli, makanan yang dicoba, dan tempat yang diputuskan tidak cocok setelah dilihat. Pengalaman itu tidak dibuat menjadi bukti bahwa semua pilihan bersama selalu berhasil. Keduanya hanya pulang dengan sesuatu yang lebih diketahui, termasuk cara mengubah keputusan tanpa membuat yang lain merasa kalah.
Ketika tahun pertama pernikahan semakin dekat, mereka baru menyadari banyak hal biasa telah menjadi kenangan. Sarapan yang hampir gagal, buku yang terus berpindah, Ibu yang membawa terlalu banyak makanan, dan malam ketika satu halaman ternyata memang berarti satu jam.
Jo ingin merayakan dengan perjalanan singkat jika pekerjaan memungkinkan. Erika menyetujui, tetapi meminta waktunya tidak dipilih tepat ketika dirinya harus menyerahkan naskah. Lelaki tersebut tertawa, membuka kalender, lalu mereka mencari bersama.
Rencana itu akhirnya dibuat dengan cukup ruang. Namun, pada hari peringatan sendiri, keduanya masih berada di rumah. Erika bangun mendengar bunyi dari dapur, menemukan Jo telah menyiapkan sarapan yang jauh lebih rapi daripada pagi pertama.
"Aku perlu memuji?" tanyanya dengan senyum.
"Kalau memang enak. Jangan karena peringatan menikah."
Gadis tersebut mencoba, mengangguk, lalu tersenyum lebih lebar. Jo duduk di seberang, tampak puas dengan cara yang tidak memerlukan banyak orang menyaksikan.
Mereka makan sambil mengingat beberapa kejadian. Tidak seluruh tahun mudah, tetapi keduanya dapat menyebut hal yang pernah sulit tanpa menganggap kenangan tersebut akan merusak pagi.
Sesudahnya, Erika menunjukkan satu kotak kecil berisi kertas yang sudah dirapikan. Jo menerima, menanyakan sebelum membuka, lalu menemukan catatan pendek mengenai beberapa hari yang ingin disimpan.
Bukan naskah lengkap kisah cinta. Bukan pekerjaan baru yang harus diselesaikan. Gadis tersebut hanya memilih beberapa ingatan yang memang miliknya untuk dibagikan kepada suami.
Ada baris mengenai Jo yang menangkap sendok saat sarapan, hujan yang membuat satu bahu basah, dan wajah gugup ketika cincin dibuka. Ada pula pagi rumah baru, dengan makanan yang terlalu matang tetapi tetap membuat mereka tertawa.
Lelaki tersebut membaca perlahan, berhenti pada kalimat yang membuatnya tersenyum sendiri. Erika menunggu dengan wajah yang ternyata masih dapat gugup meskipun sudah lama menjadi istrinya.
"Aku suka," ujarnya.
Gadis itu mengembuskan napas, lalu tertawa malu. "Aku belum meminta pendapat."
"Aku ingin memberi."
Jo menyimpan kertas dengan hati-hati, menarik istrinya mendekat. Erika menerima pelukan, merasakan tubuh yang sudah dikenal tetapi tetap dapat membuatnya ingin tersenyum tanpa alasan yang perlu dijelaskan.
"Selamat setahun menikah, Ka."
"Selamat setahun, Mas."
Mereka berciuman singkat, lalu tertawa ketika bunyi ponsel memanggil dari meja. Ibu mengirim ucapan, Daddy memberi kabar, dan keluarga lain menyusul dengan lelucon yang tidak perlu segera ditanggapi semuanya.
Siang itu Erika tetap menulis sebentar karena ada adegan yang ingin disimpan selagi jelas. Jo membaca pada ruang lain, lalu menghampiri setelah waktu yang mereka sepakati.
Gadis tersebut menutup pekerjaan sebelum terlambat, membuat suami mengangkat alis dengan senyum.
"Satu halaman sudah selesai?"
"Untuk sekarang."
"Aku tidak perlu menunggu satu jam?"
"Kalau Mas terus bertanya, bisa berubah."
Mereka tertawa. Jo mengulurkan tangan, menerima ketika Erika bangkit, lalu berjalan bersama untuk makan di luar. Rumah dikunci, pekerjaan ditinggal pada tempatnya, dan hari mempunyai waktu yang benar-benar dipilih berdua.
Pada malam ketika kembali, gadis tersebut berhenti di depan rak. Nama Anggrek terlihat pada beberapa sampul, sebagian cerita telah selesai, sebagian masih dalam perjalanan. Dia menyentuh satu buku, mengingat hari ketika datang ke Jakarta dengan pertanyaan wawancara dan harapan untuk bekerja.
Banyak hal telah berubah. Dia pernah kehilangan hubungan yang diyakini, menanggung tuduhan yang tidak benar, dan belajar mengatakan keinginan tanpa menyerahkannya kepada orang lain. Dia juga menemukan keluarga, pembaca, dan rumah yang tidak meminta namanya diperkecil agar dapat tinggal.
Jo berdiri di samping, memandang buku yang disentuh. Lelaki tersebut tidak perlu mengetahui setiap baris untuk dapat mencintai perempuan yang menulisnya. Ada bagian yang dibagikan, ada yang tetap menjadi ruang sendiri, dan keduanya dapat berada bersama tanpa harus saling memiliki seluruh pikiran.
"Mau membaca?" tanya Erika.
"Mau. Tapi aku ingin duduk sama penulisnya."
Gadis tersebut tersenyum, mengambil buku, lalu mengikuti ke ruang utama. Mereka duduk pada tempat yang kini mempunyai banyak kenangan kecil, dengan lampu yang cukup hangat dan malam yang tidak sedang menunggu tamu.
Jo membuka halaman, Erika menyandarkan kepala pada bahunya. Beberapa kalimat membuat lelaki itu tertawa, satu bagian membuatnya bertanya, dan gadis tersebut menjawab ketika memang ingin memberi.
Nama Anggrek tetap berada pada sampul. Nama Erika tetap disebut dengan hangat di rumah. Tidak ada kontrak yang meminta keduanya bertemu lagi, tidak ada cerita orang lain yang harus dituntaskan agar mereka boleh memilih hidup sendiri.
Ketika Jo menoleh, istrinya mengangkat wajah dengan senyum yang sudah sangat dikenal.
"Apa, Mas?"
Lelaki tersebut mencium keningnya, lalu menggenggam tangan yang kini tidak perlu dicari melalui alasan wawancara.
"Aku senang kamu pulang bersamaku."
Erika tersenyum, merapatkan kepala kembali pada bahunya.
"Aku juga."
Di luar, malam berjalan seperti biasa. Di dalam, seorang penulis duduk bersama pembacanya, meneruskan kehidupan yang telah mereka pilih sendiri.