Pesan Aldin tidak bertambah. Setelah angka sepuluh hari, tidak ada pertanyaan apakah Caca bahagia atau ucapan selamat yang bisa dibalas dengan senyum. Wanita itu menunggu sampai kendaraan berhenti di halaman rumahnya, kemudian menyimpan ponsel saat ayahnya selesai menelepon.
"Besok Ibu ingin melihat pilihan perhiasanmu," kata Frans.
"Sudah ada."
"Kalau masih kurang, bilang. Jangan baru ingat pada hari acara."
Caca mengangguk. Ia naik ke kamar, melepas sepatu, dan duduk di tepi ranjang dengan kaki masih menggantung. Di lemari ada pakaian yang pernah dipilih untuk bertemu Jo. Di meja, buku dengan nama Sephia terselip di bawah katalog acara.
Dua kehidupan yang dahulu terasa dapat disimpan berdampingan kini sama-sama meminta tempat paling depan.
Ia membuka buku itu. Ada beberapa catatan pendek, kebanyakan hal sepele yang ditulis pada hari-hari ketika berbicara dengan Aldin terasa lebih mudah daripada memanggil Jo yang sedang sibuk. Caca membaca satu halaman, lalu menutupnya begitu menyadari sedang mencari alasan untuk mengirim pesan lagi.
Jo menelepon menjelang malam. Mereka menyepakati tempat makan untuk besok, dan lelaki itu menanyakan apakah pukul tujuh terlalu larut.
"Tidak."
"Aku jemput setengah tujuh."
"Baik."
"Kamu tadi bilang ingin mengatakan sesuatu."
Caca meremas ujung selimut. "Besok saja. Aku lelah."
Suara Jo melunak. "Istirahat dulu, kalau begitu."
Dia tidak memaksa. Caca memejamkan mata setelah panggilan selesai, lalu membuka kembali percakapan yang satunya.
Kau benar-benar tidak ingin bertanya apa pun?
Aldin membalas beberapa menit kemudian.
Apa yang bisa kutanyakan setelah kamu memilih?
Wanita itu mengetik ingin memastikan dia baik. Aldin tidak menjawab langsung. Ketika akhirnya panggilan masuk, Caca berdiri dan menutup pintu kamar.
"Aku belum baik," kata lelaki itu setelah salam singkat. "Tapi aku akan mengurusnya."
"Kau terdengar marah."
"Aku berusaha tidak menghubungimu. Sekarang kau bertanya kenapa aku diam."
Caca berhenti di depan meja. Untuk pertama kalinya, ia mendengar sisi perbuatannya yang selama ini selalu terlihat lebih ringan dari dalam kepala sendiri.
"Aku cuma ingin bicara."
"Kita sudah bicara."
Hening membuat suara kendaraan di luar kamar terdengar jelas. Caca menyentuh sampul buku, menggesernya dari bawah katalog.
"Kalau aku bilang aku takut?"
"Takut apa?"
"Memilih hidup yang nanti tidak bisa kujalani."
Aldin menarik napas di ujung sana. "Katakan kepada Jo."
"Aku tahu."
"Kalau kau tahu, kenapa meneleponku?"
Pertanyaan itu membuat Caca duduk. Dia tidak menangis, tetapi suaranya berubah lebih kecil.
"Karena yang ingin kudengar bukan cuma bahwa aku harus bicara pada dia."
Aldin diam cukup lama. Caca memandang pintu, memastikan tidak ada bayangan lewat di bawahnya.
"Kau ingin aku mengatakan tunggu?" tanyanya akhirnya.
Caca tidak menjawab.
"Aku masih ingin bersamamu," lanjut Aldin. "Tapi aku tidak bisa memutuskan pernikahan orang dari kamar kos. Aku sudah merusak terlalu banyak dengan berpura-pura menjadi orang lain."
"Kau tidak berpura-pura saat bersamaku."
"Aku berpura-pura pada Jo. Pada Kirana. Pada adikku sendiri."
Caca menunduk. Nama Kirana tidak lagi dapat disingkirkan sebagai hubungan yang sudah bermasalah sebelum dirinya datang. Perempuan itu pulang setelah menerima luka yang mereka buat, bukan setelah mereka selesai memilih.
"Kalau aku meminta kau menemui aku?"
"Untuk mengatakan hal yang sama?"
"Untuk menentukan apa yang sebenarnya kita inginkan."
Aldin tidak segera menyetujui. Untuk beberapa detik Caca mengira panggilan akan ditutup. Namun lelaki itu akhirnya menyebut waktu, lusa sore, sesudah bekerja. Tidak ada lokasi kafe lama. Mereka memilih tempat lain yang dapat didatangi masing-masing tanpa alasan mengambil barang.
"Jangan bilang kita mengurus sesuatu yang bukan urusan kita," kata Aldin.
Caca menyatakan setuju. Ia belum mengatakan bahwa kepada Jo pun tidak akan ada penjelasan mengenai pertemuan tersebut.
Setelah panggilan selesai, dia meletakkan buku Sephia di laci. Jemarinya tinggal di gagang beberapa saat sebelum menutupnya.
Makan malam bersama Jo berlangsung keesokan harinya. Caca mengenakan pakaian yang dipilih sendiri, datang tanpa katalog, dan berusaha memulai dengan percakapan ringan. Jo mengeluhkan Ammar yang menyebut setiap dasi pilihan Iccha mirip milik penyiar berita. Caca tertawa. Untuk beberapa waktu, mereka benar-benar hanya dua orang yang sedang makan.
Jo tidak melihat ponsel. Caca juga membiarkannya di dalam tas.
"Aku ingin mengajakmu pergi sebentar setelah acara," kata Jo ketika piring mereka sudah hampir kosong. "Belum memesan. Kau ingin ke mana?"
Caca mengangkat wajah.
"Tidak usah jauh. Aku bisa mengatur pekerjaan beberapa hari."
"Kau sedang banyak urusan."
"Akan selalu ada urusan."
Kalimat itu tidak terdengar seperti janji kosong yang dilempar agar Caca berhenti mengeluh. Jo mengatakannya setelah memikirkan siapa yang bisa menangani pekerjaan ketika dia pergi. Ia menyebut pilihan tanpa mendesak tujuan tertentu.
Caca mengaduk minuman yang sudah tidak perlu diaduk.
"Aku belum tahu."
"Tidak apa-apa. Kita bisa putuskan nanti."
Jo melihat tangannya, lalu kembali ke wajahnya.
"Sekarang, apa yang ingin kau katakan kemarin?"
Wanita itu menggenggam sendok lebih erat. Di meja seberang, pasangan lain tertawa karena sesuatu pada layar ponsel. Seorang pelayan lewat membawa piring bersih. Dunia tetap bergerak, tidak memberi alasan untuk menunggu lebih lama.
"Aku khawatir setelah menikah kau kembali terlalu sibuk."
Jo mendengarkan. Tidak ada bantahan langsung. Mereka membicarakan waktu yang dahulu terlalu sering dihabiskan masing-masing, percakapan yang berakhir dengan nanti, dan janji makan yang dibatalkan.
Pembicaraan itu penting. Masalahnya, Caca memakainya untuk menutupi hal lain yang lebih mendesak.
"Aku tidak bisa menjamin selalu pulang tepat," kata Jo. "Tapi aku bisa memberi tahu, dan tidak menganggap kau seharusnya memahami tanpa penjelasan."
Caca mengangguk.
"Kalau itu masih membuatmu ragu, jangan simpan sendiri."
"Aku akan bilang."
Janji berikutnya keluar sebelum janji pertama sempat dipenuhi. Jo mengulurkan tangan di atas meja. Caca menyentuhnya dan tersenyum, merasa bahagia sekaligus ingin menarik diri.
Sementara itu, contoh buku sudah tiba di rumah Jack. Erika menerima kantong dari pengantar dan membuka bungkusnya di meja makan. Iccha menyentuh sampul, lalu langsung menarik tangannya karena baru saja makan sesuatu yang berminyak.
"Bagus. Tapi gue nggak mau meninggalkan sidik jari pertama."
"Yang pertama punya aku," kata Erika bangga.
Kiki lewat, melirik buku, lalu berhenti.
"Ini cerita Jo?"
"Bagian awal."
"Masih ada gue?"
"Di kenangan keluarga, ada."
"Gue minta lihat bagian gue."
Erika menahan buku di meja. "Nanti minta izin Mas Jo. Ini belum untuk dibagikan."
Kiki mendecakkan lidah, tetapi tidak merampas. Ia mengambil roti dari piring dan pergi. Iccha memandang Erika dengan senyum kecil.
"Lo berani sekarang."
"Buku ini baru selesai dijilid. Kalau langsung disobek, aku bisa pingsan."
Mereka memeriksa hasil cetak bersama. Tidak ada halaman terbalik. Dua tanda yang tadinya tampak samar kini terbaca jelas. Erika menulis daftar pemeriksaan di kertas lain, lalu menyimpan contoh itu sampai Jo pulang.
Lelaki itu datang hampir pukul sepuluh. Saat Erika menyerahkan buku, ia sudah mengganti jas dengan baju lebih santai. Tangannya menyentuh sampul cukup lama sebelum membuka.
"Ini lebih bagus daripada yang kubayangkan."
"Karena ndak jadi pakai grafik."
Jo tertawa. Ia membaca beberapa halaman sambil berdiri, lalu duduk di ujung sofa. Erika tidak menunggu pujian berikutnya. Ia menjelaskan bahwa masih ada satu bagian yang perlu dikonfirmasi sebelum diperbanyak.
"Jangan diperbanyak," kata Jo. "Untuk sekarang cukup ini."
"Baik."
"Aku ingin menulis di halaman kosongnya dulu."
Erika menyerahkan pulpen. Jo mengambil kertas percobaannya dari map, membaca kalimat yang kemarin ditulis, lalu menyalin dengan hati-hati. Erika memalingkan wajah agar tidak membaca pesan pribadi yang bukan miliknya.
Beberapa menit kemudian buku ditutup.
"Besok kuberikan."
Erika memasukkan buku itu ke kantong. Tidak ada bunga besar atau pita berlebihan, hanya tali sederhana yang mudah dilepas.
Lusa sore, Caca keluar dari rumah dengan alasan ingin sendiri sebentar. Tidak sepenuhnya bohong, menurutnya, karena ia memang membutuhkan ruang dari orang tua. Namun di tempat yang dituju, Aldin sudah menunggu.
Tidak ada senyum lebar ketika mereka bertemu. Caca duduk berhadapan, meletakkan kantong buku dari Jo di samping kursinya. Buku itu diberikan pagi tadi, setelah ia mengatakan harus keluar sore hari. Jo tidak mengikutinya.
Aldin melihat kantong tersebut.
"Hadiah?"
Caca mengangguk. Dia belum membaca seluruhnya.
"Aku tidak akan memintamu menyembunyikannya," ujar Aldin.
Wanita itu memegang tali kantong. "Aku tidak tahu apakah aku sanggup meneruskan."
"Kalau begitu, batalkan."
"Ayahku sudah mengumumkan semuanya. Tamu mulai datang. Setiap kali aku ingin bicara, orang lain sudah membahas apa yang akan dilakukan."
"Jo bukan orang lain itu."
"Aku tahu."
Aldin menatapnya. "Dia akan mendengarkan kalau kau bicara."
Caca menggeleng sedikit. "Aku takut melihat dia ketika aku mengatakannya."
"Dan kau tidak takut melihatnya sesudah?"
Wanita itu memandang meja. Untuk beberapa saat, keduanya diam. Aldin hendak mengambil air ketika Caca tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.
"Kalau aku pergi, kau akan ikut?"
Tangannya berhenti.
"Pergi ke mana?"
"Ke tempat yang tidak langsung ditemukan Ayah. Aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya tanpa dia datang dan menyuruhku kembali."
"Pergi sebelum acara?"
Caca melepaskan tangan lelaki itu.
"Belum tahu."
Aldin melihat wajahnya. Ada pilihan yang seharusnya langsung ditolak karena pertanyaan itu sendiri sudah membuka jalan buruk. Namun dia tidak menjauh. Setelah kehilangan Kirana dan tempat di samping Jo, keinginan memiliki Caca masih berdiri di antara penyesalan yang sudah diucapkan.
"Aku bisa mengantar kalau kau benar-benar memutuskan," katanya.
"Bukan cuma mengantar."
Kalimat Caca membuat Aldin menunduk. Dia tahu perbedaan kedua permintaan itu.
Caca membiarkan tangannya jatuh ke pangkuan. Aldin memandang bekas cincin pada jarinya, lalu berpaling ke jalan di luar. Tempat itu tidak terlalu ramai, tetapi pelayan tetap lewat sesekali. Mereka menunggu sampai meja di samping kembali kosong.
"Kalau kita pergi," kata Aldin, "Jo akan tahu aku bersamamu."
"Aku tahu."
"Erika juga."
Nama itu membuat Caca mengangkat wajah. Dia pernah menawarkan uang agar Erika menulis permintaan maaf. Kini buku hasil pekerjaan perempuan tersebut berada di sampingnya, membawa kata-kata yang ditulis Jo sendiri.
"Jangan melibatkan dia."
"Aku tidak akan melibatkan. Tapi dia adikku. Jo tinggal serumah dengannya. Dia akan ditanya."
Caca meremas tali kantong.
"Apa dia tahu kau masih menghubungiku?"
"Tidak."
"Jangan katakan."
Aldin menatapnya lagi. Kalimat itu membuat permintaan pergi terdengar persis seperti pertemuan-pertemuan yang dahulu mereka sembunyikan dengan nama Sephia.
"Caca, aku bisa kehilangan pekerjaan."
"Kau bilang ingin bersamaku."
"Aku mengatakan itu. Tapi aku bukan orang yang tinggal berpindah rumah dan semua selesai."
Wanita itu menarik napas, kemudian meminta maaf karena kalimatnya tadi terdengar seperti ujian. Aldin mengusap wajah. Di pikirannya ada sewa kamar, kabar yang harus disampaikan kepada Ibu, dan pintu rumah Jack yang mungkin tidak lagi terbuka bahkan untuk mengantar dokumen.
Semuanya tidak menghapus keinginannya. Itu yang paling membuatnya malu.
Dia tidak dapat mengatakan seluruh keputusan ini dibuat oleh Caca. Dia bisa bangkit, mengakhiri pembicaraan, dan tidak membuka jadwal perjalanan setelah pulang. Tidak ada orang yang memegang tangannya di kursi tersebut.
"Kalau kau ingin berhenti sebelum menikah," katanya, "aku bisa menemanimu bicara. Tidak perlu langsung pergi."
Caca menggeleng cepat. "Tidak dengan kau di sana. Ayah pasti..."
Kalimatnya terputus. Dia membayangkan Jo mendengarkan dari kursi yang sama seperti saat memberi kesempatan. Ketakutan akan kemarahan ayahnya lebih mudah disebut daripada ketakutan kehilangan pilihan yang aman.
"Kalau aku mengatakan semuanya sekarang, tidak ada yang tersisa," bisiknya.
"Aku masih ada."
"Kalau kau juga pergi?"
Aldin memandang wajahnya. Pertanyaan tersebut membawa dirinya kembali pada pintu kedai beberapa hari lalu, ketika dia meminta Caca tidak datang hanya karena takut sendirian. Kini wanita itu duduk di hadapannya dengan ketakutan yang sama, dan dia justru ingin menjadi jawabannya.
"Aku tidak bisa menjanjikan hidup kita akan mudah," katanya.
"Aku tidak meminta mudah."
"Jangan baru menyadari bedanya setelah ikut."
Caca mengangguk. Dia mengatakan punya uang sendiri untuk perjalanan dan tidak ingin Aldin menanggung semuanya. Mereka tidak menyebutnya sebagai pengganti apa yang akan ditinggalkan. Uang hanya membuat rencana yang semula berada di antara kalimat takut dan mungkin menjadi sesuatu yang dapat dilakukan.
Aldin meraih ponsel dari meja. Kali ini Caca tidak menghentikan. Dia menggeser kantong hadiah lebih dekat ke kursinya, seolah barang itu harus diberi tempat sebelum rencana lain dibuka.
Sebelum pulang, mereka membicarakan beberapa pilihan perjalanan. Tidak ada tujuan yang disebut sebagai liburan. Caca meminta waktu keberangkatan paling akhir pada tanggal acara, setelah sebagian besar orang tidak lagi sibuk memperhatikan pintu.
Aldin menatapnya ketika tanggal itu disebut.
"Itu malam pernikahanmu."
Caca tidak menjawab.
Di rumah Jack, Erika sedang menyimpan salinan naskah yang telah dicetak. Ia menamai berkas dengan nomor revisi, memastikan tidak ada bagian tertimpa, lalu menutup laptop. Jo lewat membawa daftar yang kali ini lebih pendek, mencari Ammar untuk membicarakan urutan acara.
Di kendaraan lain, Aldin membuka pilihan perjalanan sekali lagi. Layar menampilkan tempat duduk kosong. Dia memilih satu, berhenti, kemudian menambahkan tempat duduk di sebelahnya.
Pesan yang dikirim kepada Caca hanya berisi dua kata.
Dua orang?
Caca membuka kantong di pangkuannya. Di halaman kosong, tulisan Jo menyambut lebih dulu daripada cerita Erika. Dia membaca baris pertama, menutup buku, dan kembali ke layar.
Iya.