Erika membuka foto itu lagi ketika ponsel bergetar. Ibu mengirim pertanyaan apakah acara sudah selesai dan meminta ia tidak lupa mengabari kalau pulang terlalu malam.
Dia menatap pesan sampai Iccha keluar dari kamar mandi.
"Lo mau menelepon?"
Erika mengangguk. "Ibu belum tahu."
Iccha mengambil tas kecil dan menunjuk pintu. "Gue ke bawah sebentar. Mau cari air. Lo bicara dulu."
"Ndak perlu keluar."
"Gue memang haus."
Setelah pintu ditutup, Erika duduk di tepi ranjang. Buku bersampul krem berada dekat laptop. Dia memalingkan wajah sebelum menekan nama Ibu.
Bu Mei mengangkat cepat. Suaranya sedikit mengantuk, tetapi langsung bertanya apakah Erika sudah tiba di rumah.
"Sudah, Bu."
"Syukurlah. Tadi Ibu mau tidur, takut kamu masih di jalan."
Erika memegang ujung selimut. "Ada yang perlu kuceritakan."
Suara Ibu berubah. "Apa? Kamu sakit?"
"Ndak. Aku baik."
Bu Mei memindahkan ponsel ke sisi telinga yang lain. Dia bercerita sebentar bahwa foto Erika tadi disimpan, lalu diperlihatkan kepada tetangga yang datang mengantar sesuatu. Tetangga itu mengira Erika sudah lama bekerja sebagai penulis buku cetak.
"Ibu bilang belum lama," ujarnya. "Tapi memang itu yang dia ingin sejak dulu."
Erika menatap sampul di meja. Ada perbedaan yang begitu jauh antara foto yang membuat Ibu bangga dan benda yang kini harus dibawa pulang karena pemiliknya tidak sanggup melihat lagi.
"Bu," katanya pelan.
Ibu langsung berhenti bercerita. Dia mendengar sesuatu pada suara putrinya yang tidak dapat ditutup dengan jawaban aku baik.
"Cerita saja. Ibu mendengar."
Erika mengusap mata sebelum airnya turun. Dia tidak perlu memulai dengan menenangkan Ibu sampai kabar yang sebenarnya kehilangan tempat. Mereka akan sama-sama terkejut, dan dia tidak bisa mencegahnya dengan kalimat yang terlalu panjang.
Dia menegakkan punggung, memandang lantai, lalu mulai dari kejadian yang benar-benar diketahuinya.
Dia menarik napas, menyebut nama Caca dan Aldin, kemudian mengatakan keduanya pergi setelah acara malam. Kalimat itu keluar lebih lambat daripada yang telah dicoba di kepala.
Di ujung sana, Bu Mei tidak langsung bersuara.
"Pergi bersama?"
"Iya, Bu. Mas sendiri yang bilang waktu kutelepon. Caca juga bicara dengan Jo."
"Bukannya tadi pagi sudah menikah?"
"Sudah."
Erika memejamkan mata. Dia tidak dapat memberikan penjelasan yang membuat urutan tersebut lebih masuk akal. Ibu menarik napas panjang, lalu meminta agar cerita diteruskan.
Erika menjelaskan surat, panggilan yang terputus, dan kabar bahwa mereka telah berangkat. Dia tidak mengulang seluruh kalimat Jo kepadanya. Bukan karena ingin menutupinya selamanya, melainkan karena Ibu perlu memahami satu kejadian sebelum menerima akibat yang lain.
"Mas belum menelepon Ibu?" tanyanya.
"Belum. Tadi cuma bilang tidak datang."
"Aku sudah meminta dia menghubungi Ibu."
Bu Mei terdiam lagi. Di belakang suaranya terdengar sesuatu diletakkan di meja. Mungkin gelas, mungkin ponsel yang tadi sempat dipindahkan. Erika tidak tahu dan tidak ingin menambahkan bayangan yang akan membuatnya lebih takut.
"Kamu tahu sebelumnya?" tanya Ibu.
Pertanyaan itu membuat dadanya mengeras, meskipun nada Ibu tidak menuduh.
"Ndak, Bu. Aku sungguh ndak tahu."
"Ibu bertanya karena ingin tahu apa yang terjadi. Bukan karena mengira kamu ikut."
Air mata turun sebelum Erika sempat menjawab. Dia menekan bibir, berusaha agar suara berikutnya tidak pecah.
"Aku ketemu Mas beberapa hari lalu. Kami makan, membicarakan rumah. Dia ndak bilang ada rencana pergi."
"Kalau dia menyembunyikan, itu keputusan dia. Kamu tidak harus mengerti semua yang ada di kepala kakakmu."
Erika menunduk sampai dagunya menyentuh dada. Kalimat yang malam ini tidak diterima Jo datang dari Ibu tanpa perlu dia membela diri panjang-panjang.
Bu Mei menanyakan bagaimana keluarga Jack menerima kabar. Erika menjelaskan bahwa mereka juga baru tahu dan sedang mengurus tamu. Dia mengatakan Daddy, Ammar, dan Iccha ada bersamanya.
"Jo marah?"
"Iya."
"Kepadamu juga?"
Erika menatap buku. Dia tidak ingin berbohong hanya agar Ibu dapat tidur.
"Dia menanyakan apakah aku tahu. Aku sudah menjelaskan. Tapi dia masih sangat marah."
Bu Mei diam beberapa saat, lalu meminta Erika tidak menjanjikan sesuatu yang seharusnya dilakukan Aldin.
"Ibu akan menelepon kakakmu sendiri. Kamu istirahat. Kalau kamu ingin pulang, bilang. Jangan menunggu sampai merasa tidak boleh."
"Aku belum ingin mengambil keputusan malam ini."
"Boleh. Ibu juga tidak menyuruh kamu berangkat sekarang."
Mereka mengakhiri panggilan setelah Erika berjanji makan sedikit kalau masih lapar. Setelah layar padam, dia menangis dengan suara kecil, bukan karena harus memberi jawaban lagi, melainkan karena akhirnya tidak sedang diminta memberi jawaban.
Iccha kembali beberapa menit kemudian dengan dua gelas air. Dia melihat wajah Erika dan meletakkan gelas tanpa bertanya.
"Ibu sudah tahu," ujar Erika.
Iccha mengangguk. "Lo sudah melakukan bagian lo."
Gadis itu minum dua teguk. Air tidak mengubah kabar, tetapi membuat tenggorokannya tidak terlalu sakit ketika menarik napas. Iccha duduk di kursi, menunggu sampai Erika sendiri kembali bicara.
Erika memegang gelas sampai airnya tidak lagi terasa dingin. Di kursi sebelah, Iccha membuka kantong kecil berisi makanan yang tadi sempat dibungkus, lalu menawarkan satu bagian.
"Aku ndak lapar."
"Makan dua suap. Setelah itu kalau masih tidak mau, berhenti."
Erika mengambil sendok. Dia makan pelan, baru menyadari sejak sore hampir tidak memasukkan apa-apa selain minum. Iccha tidak menghitung suap yang lewat dua. Dia hanya duduk, menyimpan bungkus kosong, dan membiarkan keheningan tidak menjadi sesuatu yang harus diisi.
Ketika makanan habis sedikit, Erika menaruh sendok.
"Tadi aku ingin bilang aku juga kehilangan Mas Aldin yang kupikir kukenal," ujarnya. "Tapi rasanya ndak pantas karena Jo kehilangan lebih banyak."
Iccha memandangnya. "Lo tidak perlu berlomba."
"Aku tahu. Tapi setiap kali mau marah, aku ingat dia kakakku. Setiap kali mau membela, aku ingat apa yang dia lakukan."
"Dua-duanya bisa tetap ada."
Erika menarik napas. Pernyataan sederhana itu tidak menyelesaikan apa yang harus dilakukan kalau besok Aldin kembali menelepon. Namun setidaknya dia tidak harus memilih salah satu perasaan untuk diizinkan duduk di kamar sendiri.
Iccha mengambil ponselnya ketika Ammar mengirim kabar. Dia membaca singkat, menjawab bahwa Erika sudah menelepon Ibu dan makan sedikit. Tidak ada foto wajah menangis atau rincian percakapan yang dibagikan.
"Mas Ammar tanya?" ujar Erika.
"Iya. Gue bilang lo sudah makan."
Gadis itu mengangguk. "Terima kasih."
Iccha meletakkan ponsel. "Besok kalau lo ingin tidak bicara dengan siapa pun sampai siang, boleh. Tidak semua bunyi ponsel harus langsung dijawab."
Erika menatap layar miliknya sendiri. Percakapan Aldin belum dibuka lagi. Dia tidak mematikan ponsel, karena Ibu mungkin masih memerlukan kabar. Tetapi dia menaruhnya di meja, cukup jauh agar tangan tidak terus meraih setiap kali ada bayangan getaran.
Sebelum berbaring, dia memastikan buku sudah berada di dalam kantong. Tidak ada halaman yang dibuang. Untuk malam ini, cerita itu boleh berhenti tanpa harus diberi akhir yang bisa menenangkan siapa pun.
Di lantai bawah, Jo belum naik. Dia duduk di ruang kerja Daddy dengan ponsel pada meja. Ammar berada di sofa, beberapa kali hampir tertidur dan langsung menegakkan tubuh ketika bunyi notifikasi terdengar.
Kabar dari Aldin akhirnya datang setelah tengah malam. Mereka sudah sampai di Bandung. Caca aman. Dia akan menelepon kalau Jo bersedia mendengar.
Jo mengangkat ponsel dan menelepon lebih dulu.
Aldin menjawab. Tidak ada kata sahabat atau alasan tersasar. Dia mengatakan Caca berada bersamanya dan tidak dipaksa pergi.
"Aku tahu dia tidak dipaksa," jawab Jo. "Aku mendengarnya sendiri. Yang ingin kutahu, sejak kapan kamu menyiapkan ini?"
Lelaki itu diam terlalu lama.
"Jawab."
"Beberapa hari sebelum acara."
Jo menutup mata. "Setelah kalian mengatakan mau menjaga jarak."
"Iya."
"Setelah aku meminta kalian berhenti berbohong."
"Iya."
Jo tertawa sekali, lalu berhenti. Ammar menegakkan badan.
"Aku tidak ingin mendengar maaf dari kamu malam ini," kata Jo. "Aku ingin tahu apakah ada orang lain yang kalian pakai untuk membantu."
Aldin segera menjawab. "Tidak. Erika tidak tahu. Ibu juga tidak."
Nama itu membuat Jo menatap pintu ruang kerja.
"Jangan menyebut adikmu kalau aku belum bertanya."
"Karena aku tahu dia ada di rumahmu. Jangan membuat dia menanggung yang kulakukan."
Jo mengencangkan rahang. Bahkan kalimat yang seharusnya membantu Erika terdengar seperti Aldin masih mempunyai hak meminta sesuatu setelah meninggalkan semua urusan kepadanya.
"Urusan pekerjaanmu kita bicarakan setelah ada orang yang bisa mencatat. Besok jangan masuk dan berpura-pura ini hanya keterlambatan."
"Aku mengerti."
"Caca harus bicara langsung. Bukan kamu yang menjelaskan apa yang dia rasakan."
"Aku sampaikan."
Jo mengakhiri panggilan. Ponsel diletakkan di meja, cukup keras untuk membuat Ammar bangkit, tetapi tidak dilempar.
"Al bilang Erika tidak tahu," ujar Ammar.
"Aku mendengar."
"Berarti besok jangan perlakukan dia seperti tahu."
Jo memandang kakaknya. "Aku tidak punya tenaga untuk membicarakan itu sekarang."
"Aku tidak meminta kamu membicarakan panjang. Aku meminta kamu tidak mengulang."
Jo berdiri dan berjalan ke pintu. Kali ini Ammar tidak mengikutinya sampai kamar. Daddy yang baru keluar dari dapur bertemu keduanya di lorong, menanyakan apakah kabar sudah diterima.
"Mereka di Bandung," jawab Jo.
Jack mengangguk pelan. "Besok kita urus yang perlu diurus."
Jo tidak menjawab, tetapi akhirnya naik.
Di Semarang, Bu Mei akhirnya menerima panggilan Aldin. Erika tidak mendengarnya, dan tidak akan diminta Ibu mencatat seluruh kata kakaknya pagi nanti.
Aldin mengucapkan salam, menanyakan apakah Ibu masih bangun, lalu berhenti ketika perempuan itu mengatakan sudah mengetahui kejadian malam ini.
"Erika cerita?"
"Iya. Ibu menunggu kamu juga bicara sendiri."
Lelaki itu menyebut Caca aman. Bu Mei mendengarkan, kemudian bertanya apakah dia mengerti bahwa kabar aman tidak sama dengan kabar semua baik.
"Aku mengerti, Bu."
"Kalau mengerti, jangan meminta adikmu membuat orang lain tenang untukmu."
Aldin memandang pintu tempat dia baru saja menaruh tas. Suara Ibu tidak tinggi. Itu justru membuatnya sulit mencari kalimat yang bisa mengubah percakapan menjadi teguran singkat sebelum dimaafkan.
"Aku akan mengurus sendiri."
Bu Mei menarik napas. "Kamu sudah mengatakan begitu kepada beberapa orang. Kali ini kerjakan."
Mereka bicara beberapa menit lagi. Ibu tidak mengusirnya dari keluarga, tidak pula meminta dia datang bersama Caca untuk disambut seolah perjalanan tersebut dapat dimulai dari halaman yang bersih.
Sebelum panggilan berakhir, Bu Mei mengatakan ingin melihat anaknya jika dia benar-benar bersedia menjawab. Bukan malam itu, bukan dengan adiknya dijadikan perantara.
Aldin mengiyakan. Setelah ponsel diletakkan, dia tetap duduk lama, mendengar suara Caca membuka keran dari ruangan lain.
Pagi datang dengan rumah yang bergerak lebih pelan. Bi Ani tidak menyiapkan meja untuk jumlah orang baru. Barang-barang Caca yang sebelumnya direncanakan menyusul belum datang. Kamar Jo tetap berisi benda-benda yang dikenalnya sendiri, dan kekosongan yang kini tampak berbeda.
Erika turun setelah tidur hanya beberapa jam. Dia membantu memindahkan gelas, lalu duduk bersama Iccha. Jo muncul ketika keduanya belum selesai makan.
"Pesan Aldin sudah kubaca," katanya kepada Erika.
"Aku juga menerima kabar dari Ibu. Mas sudah menelepon dia."
Jo menarik kursi di ujung meja. "Untuk pekerjaanmu, kita tunda semuanya. Aku tidak ingin ada bagian baru dibuat berdasarkan hari kemarin."
Erika mengangguk. "Aku bisa menunggu pembicaraan yang lebih jelas. Tapi aku perlu tahu apa yang dikerjakan selama jeda."
"Tidak ada."
"Untuk berapa lama?"
Jo menatapnya. "Aku baru ditinggalkan semalam, Ka. Kamu sudah bertanya jadwal kerja."
Erika meletakkan sendok. Kalimat tersebut membuat dirinya kembali terasa tidak pantas, hanya karena menanyakan hal yang sebelumnya selalu diminta dijalankan dengan sungguh-sungguh.
"Aku bertanya supaya ndak mengganggu Mas dengan wawancara atau mengerjakan sesuatu yang Mas ndak mau. Ndak harus dijawab sekarang. Kita bisa tentukan kapan membicarakannya."
Iccha menatap Jo. Lelaki itu mengambil gelas, tetapi tidak minum.
"Besok sore," katanya akhirnya.
"Baik."
Percakapan berhenti. Tidak ada permintaan maaf atas cara Jo bertanya. Erika juga tidak memaksa pagi itu menjadi tempat seluruh masalah diselesaikan.
Iccha menunggu sampai Jo keluar dari ruang makan sebelum mengambil piring. Erika membantu, membawa miliknya sendiri ke dapur. Bi Ani menyuruh keduanya tidak perlu, tetapi gadis itu mengatakan hanya ingin bergerak sebentar.
Di dekat wastafel, Iccha memandangnya.
"Pertanyaan lo tadi wajar."
Erika mengangguk, kemudian menunduk pada piring. "Aku sudah mencoba membuatnya terdengar biasa."
"Lo tidak harus menemukan kalimat paling sempurna supaya orang berhenti menyalahkan."
Gadis itu meletakkan piring dan mengeringkan tangan. Tidak ada pekerjaan besar yang selesai, tetapi gerakan kecil itu membuatnya tidak terus memegang sendok sambil menunggu Jo memberi penilaian atas pertanyaannya.
Sebelum naik, dia menanyakan kepada Bi Ani apakah masih ada sesuatu yang perlu dibawa ke kamar. Perempuan itu menyerahkan handuk bersih, tersenyum, dan tidak meminta kabar Aldin.
Erika menerima. Setidaknya untuk satu tangga yang dilewati pagi itu, namanya tidak dipanggil sebagai cara mencari kakaknya.
Setelah sarapan, dia kembali ke kamar dan membuka daftar pekerjaannya. Bagian untuk Jo diberi tanda ditunda. Cerita Anggrek tetap berada di bawahnya, dengan dua paragraf yang belum diperiksa lagi.
Ponselnya menyala. Aldin mengirim permintaan agar dia tidak perlu membalas kabar keluarga kepada semua orang. Dia akan mengurusnya sendiri.
Erika membaca, kemudian menjawab bahwa itu memang yang harus dilakukannya. Setelah pesan terkirim, ia menutup percakapan, membuka naskahnya sendiri, dan mencoba mengetik satu kalimat tanpa lebih dulu memikirkan apa yang akan dikatakan Jo.