Paragraf pertama dibaca sampai selesai. Erika menandai satu kata yang terlalu sering dipakai, lalu membiarkan laptop tetap terbuka ketika pemandangan di luar berubah. Dia tidak memaksa seluruh perjalanan menghasilkan satu bab baru.
Orang di sebelahnya menanyakan apakah dia sedang bekerja. Erika mengangguk dan menyebut menulis, tanpa menjelaskan nama klien atau alasan pulang.
"Pasti enak bisa kerja dari mana saja," kata penumpang itu.
Erika tersenyum. "Kadang enak. Kadang tempat duduknya ndak setuju."
Mereka tertawa kecil. Percakapan berakhir setelah orang itu kembali membaca pesan keluarga. Erika memindahkan posisi laptop, menyimpan catatan yang selesai, lalu menutupnya ketika makanan dibagikan dari bekalnya sendiri.
Ponsel tidak terus dipegang. Dia memberi kabar pada Ibu saat diperlukan, menjawab Iccha sekali, dan membiarkan pesan lain menunggu sampai waktunya nyaman. Tidak ada panggilan Aldin yang harus dihadapi dari kursi tersebut.
Sementara itu, di kantor, Aldin duduk di seberang meja yang berbeda dari ruang pertemuan kemarin. Dokumen di tangannya berisi pekerjaan yang belum selesai, bukan alasan mengenai Caca.
Jo datang setelah seseorang mempersiapkan berkas serah terima. Ammar tidak ikut; ada pekerjaan lain yang harus ditangani. Pembicaraan tersebut tetap dicatat oleh orang yang berkepentingan di kantor, agar keputusan tidak hanya berada dalam ingatan dua sahabat yang tidak lagi dapat menyebut diri begitu.
Aldin menjelaskan berkas yang sudah dialihkan, kontak yang harus dihubungi, dan tugas yang masih menunggu persetujuan. Jo bertanya pada bagian yang perlu, tidak membahas kafe atau malam pernikahan di depan orang yang sedang mengurus pekerjaan.
Selesai bagian utama, mereka memperoleh waktu sebentar untuk bicara tanpa orang lain. Aldin merapikan map, tetapi belum berdiri.
"Aku akan ke Semarang setelah urusan hari ini selesai," katanya.
Jo memandangnya. "Untuk menemui Ibu?"
"Iya. Erika sudah mengatakan ingin berangkat sendiri. Aku tidak ikut perjalanannya."
Jo mengangguk. Tidak ada rasa puas karena Aldin ditolak, tidak ada hak baru untuk menentukan siapa boleh pulang ke rumah keluarga Wijaya.
"Selesaikan yang kamu mulai," ujarnya.
Aldin menunduk. Dia hendak mengucapkan terima kasih karena Jo tidak mempermalukannya dalam pembicaraan kerja, tetapi berhenti. Kesopanan di kantor bukan hadiah yang dapat digunakan untuk menganggap hubungan pribadi mulai pulih.
"Aku akan datang lagi sesuai jadwal yang tadi ditetapkan," katanya.
"Baik."
Sebelum Aldin benar-benar meninggalkan ruangan, seseorang dari kantor masuk membawa satu berkas yang belum ditandatangani. Dia hampir menyerahkan kepada Aldin karena kebiasaan, lalu berhenti ketika melihat susunan orang di meja.
Jo mengambil berkas tersebut dan menanyakan bagian yang mendesak. Aldin menjelaskan bahwa pekerjaan itu telah masuk sebelum serah terima dan belum sempat dialihkan.
"Catat di daftar," kata Jo. "Jangan sampai orang lain mengira sudah ditangani karena kemarin biasa lewat Al."
Orang itu mengangguk, menunjukkan tenggat yang sebenarnya masih dapat dipenuhi jika diketahui hari itu. Jo membaca, menandai satu bagian, kemudian meminta agar dikirim kepada penanggung jawab yang telah ditentukan.
Pembicaraan berlangsung biasa. Aldin tetap dapat menjelaskan tugas yang pernah dipegang tanpa dianggap berhak mempertahankan seluruh kedekatan. Jo tetap dapat mendengar penjelasan kerja tanpa menjadikannya alasan melanjutkan hubungan pribadi seperti semula.
Selesai urusan itu, mereka kembali sendirian sebentar. Aldin melihat berkas yang telah berpindah tangan.
"Aku akan menambah yang belum masuk daftar."
"Hari ini," jawab Jo.
"Iya."
Tidak ada kata mungkin. Tidak ada janji yang dikirim hanya untuk membuat orang berhenti bertanya. Aldin mengangkat map, mengucapkan salam seperlunya, dan berjalan menuju pintu.
Jo memandang daftar yang kini lebih panjang. Perusahaan tidak berhenti karena satu orang pergi, tetapi kepergian itu tetap menghasilkan pekerjaan tambahan bagi orang yang tidak membuat keputusan tersebut.
Dia menandai bagian yang harus diperiksa siang itu. Setelahnya, ponsel ditaruh jauh dari kertas agar setiap getaran tidak langsung mengalihkan perhatian kepada sesuatu yang belum bisa dikerjakan.
Aldin keluar lebih dulu. Jo melihat kursi kosong beberapa saat sebelum kembali memeriksa berkas. Ada tugas yang dulu cukup disampaikan dengan dua kalimat dan kepercayaan. Kini semuanya harus ditulis, dibaca, dan dipastikan oleh orang lain.
Di Semarang, Bu Mei sudah menunggu ketika Erika tiba. Perempuan itu mengangkat tangan dari dekat tempat yang mereka sepakati, wajahnya tampak lebih kecil di antara orang-orang yang bergerak membawa tas.
Erika mendekat dengan langkah cepat. Ibu menyambut, meraih salah satu tali tas, lalu langsung memeriksa wajah putrinya.
"Kurus?"
"Belum ditimbang sudah diberi hasil."
Bu Mei tertawa. Erika memeluknya sebelum semua barang sempat diturunkan. Pelukan itu tidak menyelesaikan yang terjadi di Jakarta, tetapi membuat lututnya berhenti terasa seperti masih berada di lorong acara.
Mereka membawa tas bersama. Ibu sempat memprotes bekal yang masih ada, lalu tertawa saat mendengar Bi Ani menambahkan lebih banyak daripada yang direncanakan.
"Sampaikan terima kasih. Dia menjaga kamu."
"Iya. Ada salam Daddy juga."
"Nanti di rumah. Di sini Ibu takut salah mendengar."
Erika mengangguk. Mereka pulang melalui jalan yang dikenal. Ada toko yang catnya berubah, ada pagar yang dulu lebih rendah, ada sudut yang membuat Erika otomatis menoleh meski tidak ada orang yang hendak dicari.
Di rumah, tas diletakkan dekat kamar. Bu Mei menyuruhnya membersihkan diri, sementara makanan dihangatkan. Erika membuka pintu kamar yang lama ditinggalkan, melihat meja, lemari, dan benda-benda yang tidak punya hubungan dengan keluarga Jack.
Dia menyentuh tepi meja. Tidak ada nama Jo pada kertas di atasnya. Tidak ada buku yang dikembalikan. Untuk beberapa menit, dia hanya seorang anak yang pulang dan perlu mencari handuk.
Saat mencari pakaian, Erika menemukan buku catatan lama di bagian bawah lemari. Sampulnya sudah melengkung. Di beberapa halaman ada potongan dialog yang dulu dianggap sangat bagus, lalu sekarang membuatnya menutup mata sambil tertawa.
Ibu lewat di depan pintu dan berhenti mendengar suara itu.
"Apa?"
"Tulisan lamaku. Ini tokohnya bisa bicara satu halaman tanpa ditanya."
Bu Mei mendekat. Dia tidak membaca tanpa diminta. Erika memperlihatkan satu kalimat yang tidak mengandung hal pribadi, dan Ibu tertawa karena kata-katanya lebih rumit daripada yang perlu.
"Dulu kamu senang sekali selesai menulis ini," katanya.
"Ibu masih ingat?"
"Kamu membangunkan Ibu untuk bilang. Sulit tidak ingat."
Erika menatap halaman. Saat itu dia belum dibayar siapa pun, belum punya klien yang harus diperhatikan, dan masih yakin selesai menulis satu bagian berarti semuanya sudah bagus.
Bu Mei menunjuk sisi meja. "Ayahmu pernah meminta Ibu menyimpan, katanya nanti jangan dibuang kalau kamu malu membaca lagi."
Gadis itu diam. Dia merapikan tepi buku yang hampir terlipat, menyentuh satu coretan yang dibuat dengan tangan sendiri.
"Dia membaca?"
"Sebagian. Lalu bertanya kepada Ibu siapa yang bicara, karena kamu belum menuliskan namanya."
Erika tertawa sambil mengusap mata. Kenangan tersebut tidak mengubah Ayah menjadi pembaca yang selalu memahami segala sesuatu. Justru membuatnya terasa dekat: pria yang mencoba mengikuti cerita, tersesat sedikit, lalu tetap meminta buku disimpan.
Dia membawa catatan itu ke meja, tidak memasukkannya kembali ke tempat yang susah diraih. Ibu meminta agar jangan dibaca sampai lupa makan, kemudian kembali ke dapur.
Erika mengganti pakaian dan merapikan buku. Tulisan lama tidak perlu ditiru. Namun, dia ingin tetap mengingat anak perempuan yang berani membangunkan Ibu hanya karena sebuah adegan akhirnya selesai.
Setelah mandi, Erika duduk di dapur. Bu Mei mengambil piring, menaruh makanan, lalu hendak berdiri untuk mengambil sesuatu lagi. Gadis itu menahan dengan isyarat.
"Ibu duduk juga."
"Sebentar, sambalnya."
"Sambal ndak akan lari."
Bu Mei memandangnya, kemudian duduk sambil tersenyum. Mereka mulai makan, membicarakan perjalanan dan tanaman sebelum sampai pada salam yang tadi ditunda.
Erika menyampaikan perkataan Jack bahwa keluarga Wijaya tidak dianggap bertanggung jawab atas keputusan Aldin. Ibu meletakkan sendok, diam beberapa saat.
"Dia mengatakan begitu?"
"Iya. Minta kusampaikan persis."
Bu Mei mengusap sudut mata dengan punggung jari. "Ibu tidak tahu harus mengirim kata apa kepadanya."
"Salam dulu juga boleh. Ndak harus panjang."
Ibu mengangguk. Erika mengambil sayur sendiri, membuat perempuan itu memperhatikannya dengan senyum kecil.
"Sekarang lebih banyak makan sayur?"
"Semua orang menghitung sayurku akhir-akhir ini."
"Bagus. Berarti ada yang melihat."
Mereka tertawa. Namun ketika piring mulai kosong, Bu Mei menanyakan apakah Jo benar-benar telah berhenti menuduh.
Erika menjelaskan pembicaraan sore kemarin. Permintaan maaf, jadwal pekerjaan, dan beberapa hari pulang yang sudah disampaikan. Tidak ada kalimat bahwa dirinya kini sepenuhnya tenang berada di rumah itu.
"Dia minta maaf," katanya. "Aku mendengar. Tapi aku masih suka kaget kalau namaku dipanggil setelah mereka membicarakan Mas Aldin."
Bu Mei mengangguk, tidak menyuruhnya langsung melupakan demi kesopanan.
"Kalau nanti kamu kembali, lihat apa yang dia lakukan. Jangan hanya menghitung kalimat yang diucapkan."
"Aku tahu, Bu."
"Dan kalau belum sanggup kembali, bilang sebelum waktunya. Jangan menghilang supaya orang menebak."
Erika menunduk pada gelas. Nasihat itu tidak khusus untuk Jo. Dia sudah melihat apa yang dilakukan kakaknya ketika orang lain dibiarkan menyusun jawaban sendiri.
Ponsel bergetar. Iccha menanyakan apakah sudah sampai. Erika memotret meja yang kini hampir bersih, kemudian mengirim kabar bahwa Ibu juga ikut makan. Balasan perempuan itu penuh tawa karena ternyata piringlah yang dijadikan bukti.
Erika mengirim kabar kepada Jo setelah itu. Sudah sampai, Mas. Salam dari Ibu untuk keluarga di rumah.
Lelaki tersebut membalas ketika dia baru hendak berdiri. Baik. Sampaikan salam kembali. Istirahat dulu.
Tidak ada permintaan berkas, tidak ada pertanyaan apakah Aldin sudah menemui Ibu. Erika membaca dua kali, lalu menyimpan ponsel dan membantu membereskan meja.
Bu Mei meletakkan gelas pada tempat yang biasa, lalu menanyakan apakah Erika ingin berjalan sebentar sebelum malam. Gadis itu memilih membantu di rumah lebih dulu. Ada beberapa barang yang belum dipindahkan sejak pagi, dan mengerjakannya tidak membuat dirinya merasa sedang diperiksa.
Mereka mengangkat bersama. Ibu menegur ketika Erika hendak mengambil terlalu banyak sekaligus, lalu tertawa karena putrinya menjawab bahwa sekarang semua orang mengawasi bagaimana dirinya membawa tas.
"Mungkin memang kamu perlu membawa sedikit-sedikit," kata Bu Mei.
Erika menaruh barang terakhir, mengangguk sambil tersenyum. Dia merasa kalimat tersebut dapat tetap menjadi kalimat tentang barang. Tidak semua yang didengar harus dijadikan nasihat tentang seluruh hidup.
Di dekat jendela, tanaman yang dikirim lewat foto kini terlihat langsung. Bunganya lebih kecil daripada dugaan Erika. Dia mendekat, melihat dari sisi yang berbeda, lalu mengambil satu foto baru untuk disimpan sendiri.
"Ibu puas?" tanyanya.
"Dengan bunga atau anak yang akhirnya pulang?"
"Dua-duanya."
Bu Mei tertawa dan merangkul bahunya sebentar. Erika membiarkan tubuh tetap berada di sana, tidak langsung meraih ponsel ketika bunyi pesan terdengar dari meja.
Setelah itu mereka menghangatkan bekal yang masih bisa dimakan. Ibu menyebut Bi Ani baik sekali, kemudian mengambil bagian untuk dirinya sendiri seperti yang diminta Erika sejak datang. Gadis itu tersenyum melihat, menaruh piring di meja, dan akhirnya berhenti bertanya apakah Ibu sudah makan.
Hari itu tidak berakhir hanya dengan kabar yang harus diberikan kepada Jakarta. Ada makanan yang dibagi, tanaman yang dilihat langsung, dan meja yang dikenal sejak sebelum nama Anggrek mulai dibaca orang.
Di rumah Jack, Jo menerima kabar tersebut menjelang makan malam. Dia menunjukkan kepada Daddy bagian salam, lalu menaruh ponsel ketika Bi Ani menyajikan makanan.
Kiki datang terlambat lima menit, mengeluh karena pengait pada wadahnya macet. Lina menunjukkan bagian yang perlu ditekan. Gadis itu menerima tanpa menganggap bantuan tersebut sebagai kesempatan orang lain mengasihaninya.
Ammar menanyakan apakah Jo sudah makan siang. Lelaki itu mengiyakan, menyebut makanan yang ternyata belum banyak disentuh.
"Kalau begitu, makan sekarang," kata kakaknya.
"Aku sedang mengambil."
"Aku memastikan."
Jo mengangkat alis. Iccha yang duduk dekat Lina menahan senyum, mengenali bagaimana Ammar mulai mengulang kalimat yang dahulu sering ditujukan kepadanya.
Meja terasa lebih sepi tanpa Erika. Bukan karena dia paling banyak bicara, melainkan karena ada satu tempat yang biasanya terisi ketika orang lain datang dan pergi. Jo menyadarinya saat Bi Ani hampir menaruh piring tambahan, kemudian mengangkat lagi.
Dia tidak mengirim pesan untuk mengisi kekosongan tersebut. Di layar yang sudah disimpan, kabar sampai masih menjadi kabar tentang perjalanan Erika, bukan alasan untuk meminta sesuatu darinya.
Di Semarang, Bu Mei menerima telepon Aldin setelah dapur dibereskan. Anak lelakinya mengatakan akan datang besok malam, setelah pekerjaan yang harus dihadapi selesai.
"Sendiri?" tanya Ibu.
"Sendiri."
"Baik. Ibu menunggu. Erika sudah sampai, tapi dia tidak harus duduk menemani kalau belum ingin."
Aldin menerima kalimat itu. Setelah panggilan berakhir, Bu Mei memberi tahu Erika tanpa meminta putrinya menyiapkan jawaban.
Gadis itu mengangguk. Malam pertama di rumah masih bisa menjadi malamnya sendiri. Dia membuka jendela kamar, duduk di meja lama, dan melanjutkan cerita Anggrek sampai satu adegan benar-benar selesai.