Tempat pertama lebih sempit daripada yang dibayangkan Erika. Dia berdiri di dekat jendela, mencoba memperkirakan apakah meja kecil dapat diletakkan tanpa membuat pintu lemari sulit dibuka. Iccha menunggu di ambang pintu, memandang gantungan yang dipasang terlalu rendah.
"Kalau tas lo di sini, kursinya pindah ke mana?" bisiknya.
Erika menahan tawa. "Ke luar, mungkin."
Mereka datang setelah memastikan waktu kunjungan. Pengelola menjelaskan perlengkapan yang disediakan, kemudian memberi kesempatan melihat tanpa terus berdiri di sisi mereka. Erika memeriksa cahaya yang masuk, mencoba duduk, dan mendengarkan bunyi dari jalan.
Kamar tersebut bersih. Namun, ketika duduk menghadap meja, lututnya hampir menyentuh lemari. Dia membayangkan beberapa bulan bekerja sambil memiringkan tubuh setiap kali ingin mengambil buku, lalu menutup catatan.
"Ndak cocok," ujarnya setelah keluar.
"Bukan karena lo membandingkan dengan rumah Daddy?"
Erika menggeleng. "Aku bisa tinggal di tempat kecil. Tapi aku perlu benar-benar bisa duduk untuk kerja."
Iccha mengangguk. Mereka berterima kasih, tidak menjanjikan akan membayar sore itu, dan keluar menuju tempat kedua. Di perjalanan, Erika merasa sedikit malu karena kesempatan pertama berakhir begitu cepat. Temannya justru meminta berhenti sebentar untuk membeli minum.
"Melihat lalu tidak memilih bukan buang waktu," kata Iccha. "Sekarang lo tahu ukuran yang tidak cukup."
Gadis itu membuka tutup botol. "Aku cuma takut terlalu banyak syarat."
"Lo mencari kamar, bukan melamar jadi orang yang paling mudah menerima apa saja."
Erika tertawa. Iccha juga tertawa, lalu menanyakan apakah alamat berikutnya masih jauh. Mereka memeriksa rute dan meneruskan perjalanan sebelum panas siang bertambah.
Tempat kedua berada di jalan yang lebih tenang. Tangga menuju lantai atas cukup terang, dengan pegangan yang dapat dijangkau tanpa membungkuk. Erika memperhatikan pintu utama, tempat menerima kiriman, dan ruang bersama sebelum diajak melihat kamar kosong.
Jendelanya menghadap halaman belakang. Tidak luas, tetapi meja dapat berdiri pada sisi yang tidak menghalangi lemari. Dia membuka catatan, menanyakan biaya yang termasuk dan yang dibayar terpisah. Iccha sesekali mengingatkan pertanyaan yang belum disebut, sementara Erika mencatat sendiri jawabannya.
"Boleh aku duduk sebentar?" tanyanya.
Setelah memperoleh izin, dia menarik kursi dan duduk. Ada suara orang mencuci sesuatu di bawah, lalu berhenti. Cahaya jatuh pada permukaan meja tanpa membuatnya menyipit. Erika membayangkan laptop baru, gelas air, dan satu buku terbuka di sana.
Untuk pertama kalinya, rencana pindah memiliki bentuk yang bukan sekadar daftar.
Dia tetap tidak langsung membayar. Ada ketentuan tertulis yang ingin dibaca, waktu pindah yang harus dicocokkan, dan pekerjaan proyek yang perlu dibereskan. Pengelola memberi informasi tanpa memaksa keputusan saat itu juga.
Ketika turun, Iccha berjalan lebih lambat. Erika berhenti pada anak tangga terakhir, memandangnya.
"Kamu kenapa?"
"Kalau yang ini cocok, berarti lo betulan akan pindah."
Gadis itu terdiam. Selama memilih, dia terlalu sibuk memeriksa kebutuhan sampai lupa bahwa kamar yang cocok juga berarti kamar yang ditinggalkan.
"Belum besok," jawabnya pelan.
"Gue tahu. Gue cuma sedang membiasakan."
Erika mengulurkan tangan, meraih lengan temannya. Mereka berjalan berdampingan sampai keluar. Di depan pagar, Iccha menyentuh tangannya sebentar, lalu menunjuk tempat makan sederhana di seberang.
"Kita belum makan. Jangan mengambil keputusan akhir sambil kelaparan."
Sebelum menyeberang, Erika berhenti untuk melihat jalan dari arah berbeda. Pada kunjungan pertama tadi, mereka datang dengan tujuan yang jelas dan petunjuk di tangan. Dia ingin tahu apakah nanti, ketika pulang membawa belanjaan atau sedang lelah, pintu masuk tetap mudah ditemukan.
Iccha mengikuti tanpa mengeluh. Mereka berjalan sampai sudut, melihat tempat yang dapat dipakai menunggu kendaraan, lalu kembali setelah mengenali penanda yang cukup jelas.
"Yang ini lebih mudah kuingat daripada warna pagarnya," kata Erika.
"Warna bisa diganti. Warung di sudut juga bisa pindah. Lo tetap perlu menyimpan alamat."
Gadis itu tertawa. "Aku tahu. Aku cuma sedang mencoba membayangkan pulang."
Iccha memandangnya sebentar, kemudian ikut melihat ke arah kamar di lantai atas. Dari luar, jendela itu tampak biasa saja. Erika menunjuk, menjelaskan bahwa meja tadi berada tepat di bawah sisinya.
"Kalau lo menulis di sana, gue mungkin sudah sibuk memeriksa jadwal Mas Ammar," kata Iccha.
"Nanti kita bisa saling mengingatkan makan."
"Jangan sampai yang mengingatkan juga lupa."
Mereka tertawa, lalu berjalan kembali ke tempat menyeberang. Erika menyadari dia telah membicarakan kamar dengan kata nanti, bukan kalau terus-menerus. Belum ada keputusan akhir, tetapi ada kemungkinan yang mulai terasa dapat dijalani.
Mereka menyeberang setelah jalan aman. Erika memesan sendiri, kemudian memotret catatan biaya untuk dikirim kepada Ibu. Dia menambahkan bahwa tempatnya sudah dilihat, tetapi belum disepakati.
Bu Mei menelepon ketika mereka selesai makan. Iccha memberi isyarat akan memeriksa pesan kerja sebentar, membiarkan Erika berbicara tanpa perlu bergeser jauh.
"Kamarnya memang lebih kecil, Bu. Tapi ada tempat kerja. Lingkungannya juga sudah kulihat."
"Kamu merasa bisa pulang ke sana setelah hari yang melelahkan?"
Erika memandang seberang jalan. Pertanyaan tersebut membuatnya melihat kamar dengan cara berbeda. Bukan hanya apakah tempat itu cukup untuk menulis, tetapi apakah dia dapat berhenti menulis di sana.
"Sepertinya bisa. Aku mau membaca ketentuannya lagi."
"Ya sudah. Jangan takut meminta penjelasan kalau belum paham."
Mereka membicarakan waktu, kebutuhan yang belum tersedia, dan barang yang dapat dibawa dari rumah tanpa membuat Ibu harus membeli pengganti. Erika menolak ketika Ibu menawarkan mengirim terlalu banyak. Dia lebih ingin melihat dahulu mana yang benar-benar diperlukan.
Selesai menelepon, gadis itu menemukan pesan Jo. Lelaki tersebut tidak menanyakan alamat, hanya mengingatkan bahwa salah satu jawaban untuk proyek sudah dikirim sesuai jadwal.
Erika membuka berkas, membaca seperlunya, lalu membalas bahwa dia akan memeriksa lengkap setelah pulang. Setelah berpikir sebentar, dia menambahkan kabar mengenai dua tempat yang telah dilihat.
Jawaban Jo datang saat mereka hendak berangkat.
"Ada yang cocok?"
"Yang kedua mungkin. Masih kubaca ketentuannya."
"Semoga sesuai. Kabari kalau sudah memilih."
Erika menatap pesan itu sedikit lebih lama. Dia telah bersiap menghadapi penawaran tempat lain, mobil untuk datang lagi, atau pertanyaan mengapa harus pergi ketika rumah Jack cukup nyaman. Tiga kalimat pendek tersebut justru memberinya ruang untuk tetap merasa senang atas hasil kunjungan.
Di kantor, Jo meletakkan ponsel sebelum menghadap layar kerja. Ammar baru selesai membicarakan urusan perusahaan dan belum keluar ketika melihat perubahan wajah adiknya.
"Ada kabar?"
"Erika menemukan kamar yang mungkin cocok."
Ammar menarik kursi kembali. "Kamu terdengar seperti orang menerima jadwal rapat buruk."
"Aku bilang semoga sesuai."
"Gue menanyakan wajah lo, bukan pesan yang lo kirim."
Jo mengusap tengkuk, tidak dapat menahan senyum karena tertangkap. Dia memang berharap pencarian membutuhkan waktu lebih lama. Harapan itu membuat dirinya malu, sebab berarti sebagian kenyamanannya bergantung pada Erika belum menemukan sesuatu yang dibutuhkan.
"Aku akan kehilangan alasan untuk bertemu setiap pagi," akunya.
Ammar memandangnya, lalu mengambil gelas yang tadi ditinggalkan di meja.
"Kalau ingin bertemu, nanti ajak. Jawabannya mungkin iya, mungkin dia sibuk. Lo sudah tahu cara menghubungi orang yang tidak serumah."
"Dengan kamu mudah. Kalau menolak, aku bisa mengganggu lagi."
"Makanya jangan menyamakan semua orang dengan kakak yang terlalu sabar."
Jo tertawa. Ammar bangkit, meninggalkan adiknya dengan jadwal kerja dan rasa kehilangan yang belum benar-benar terjadi. Lelaki tersebut tidak perlu menyelesaikannya sore itu juga.
Erika pulang menjelang sore. Lina berada di ruang keluarga, membaca pesan mengenai komunitas penulis. Dia menunjukkan satu pertanyaan dari peserta acara yang ingin mengadakan pertemuan kecil untuk saling membaca karya.
"Mereka minta beberapa orang membawa tulisan. Tidak harus yang sudah terbit," kata Lina.
Gadis itu duduk, menanyakan waktu dan bentuknya. Ada pembaca Anggrek yang ingin mendengar bagaimana adegan diperbaiki, tetapi Erika tidak ingin datang dengan janji memberi pelajaran yang lebih besar daripada pengalamannya.
"Kita bawa contoh pendek saja," usulnya. "Yang boleh dibaca orang. Jangan catatan klien."
Lina setuju. Dia mengatakan Arya juga bertanya apakah acara terbuka bagi orang yang hanya ingin mendengarkan. Erika mengangguk, mengingat pembicaraan singkat saat pertemuan pertama.
"Kalau memang terbuka, tentu boleh."
Mereka menyusun jawaban, lalu menentukan halaman yang akan dibawa. Lina ingin menunjukkan bagaimana suara yang tidak langsung dijelaskan dapat membuat pembaca menunggu. Erika memilih percakapan yang baru diperbaiki, tanpa memberi nama tokoh yang sama dengan orang di rumah.
Jo pulang ketika keduanya masih membaca. Dia memberi salam, berhenti pada sisi sofa setelah Lina menyebut acara berikutnya. Perempuan berhijab tersebut menjelaskan siapa saja yang mungkin hadir, termasuk Arya.
Ada rasa tidak nyaman yang datang terlalu cepat. Jo melihat Erika tertawa pada satu kalimat yang ditunjukkan Lina, lalu menyadari dirinya belum sempat mendengar kalimat tersebut. Arya mungkin akan mendengarnya di acara, bersama orang lain yang mengenal Anggrek dengan cara berbeda.
"Kapan?" tanyanya.
Lina memberi waktu. Jo mengangguk, hampir menawarkan tempat yang lebih mudah dijangkaunya, tetapi menahan diri. Ini bukan kegiatan perusahaan yang dapat dipindahkan berdasarkan ruang kosong di jadwal CEO.
Erika mengangkat wajah. "Mas mau datang?"
Pertanyaan itu membuat Jo terdiam sesaat. Dia ingin menjawab terlalu cepat, lalu merasa konyol karena menyadarinya.
"Kalau boleh. Aku perlu memeriksa jadwal dulu."
"Boleh. Lina yang mengatur dengan mereka."
Lina tersenyum, mengatakan akan memberi kabar ketika waktu pasti diterima. Jo berterima kasih dan meneruskan langkah. Di dekat tangga, dia berhenti karena Erika memanggil.
Gadis itu berdiri membawa catatan kamar. Dia tidak meminta lelaki tersebut menentukan pilihan, hanya ingin menjelaskan waktu yang mungkin digunakan untuk pindah apabila semuanya sesuai.
Jo mendengarkan. Mereka mencocokkan dengan pertemuan proyek, lalu menyepakati bahwa pemeriksaan berkas dapat dilakukan sebelum hari tersebut. Pekerjaan yang tersisa tidak perlu ditambah karena alamat Erika berubah.
"Aku belum memberi jawaban ke tempatnya," kata gadis itu. "Besok setelah ketentuannya jelas."
"Baik."
"Mas kok kelihatan sedang menahan sesuatu?"
Jo memandangnya. Pertanyaan tersebut tidak terdengar seperti tuduhan. Erika hanya memperhatikan, dengan kebiasaan yang dulu membantu menangkap bagian wawancara yang belum diucapkan.
"Aku sedang berusaha tidak menjawab kabar baikmu dengan keluhan karena tidak akan bertemu setiap pagi."
Gadis itu terdiam, lalu tersenyum kecil. "Mas boleh bilang akan kangen. Tadi sudah bilang juga."
"Aku akan kangen."
Mengatakannya lagi ternyata terasa berbeda. Jo tidak menyertai kalimat tersebut dengan permintaan, dan Erika tidak perlu membalas dengan rencana menunda.
"Aku juga," jawabnya. "Tapi aku masih ingin mencoba tempat sendiri."
"Iya. Aku tahu."
Mereka tersenyum, kemudian berpisah ketika Bi Ani memanggil dari ruang makan. Erika naik untuk meletakkan catatan, sementara Jo membantu membawa sesuatu yang diminta.
Malam itu, gadis tersebut membaca ketentuan kamar bersama Iccha. Ada satu biaya yang penjelasannya belum jelas. Dia menulis pertanyaan, mengirim pada waktu yang masih pantas, dan menunggu jawaban tanpa membayangkan bahwa meminta penjelasan akan membuat pengelola membencinya.
Setelah pesan terkirim, Erika mengambil buku catatan yang dibawa saat kunjungan. Dia menyalin informasi penting pada halaman yang sama, bukan membiarkan biaya tersimpan di satu pesan dan jadwal di pesan lain. Iccha duduk di sebelah, sesekali menunjuk baris yang belum jelas.
"Biaya ini dibayar kapan?"
"Yang awal saat mulai. Yang berikutnya ada tanggalnya. Aku sudah meminta ditulis."
"Bagus. Jangan sampai lo ingat semua tanggal bab baru, tetapi lupa urusan kamar."
Erika memiringkan buku, membaca sekali lagi. Ada beberapa kebutuhan yang dapat dibeli setelah tinggal, bukan harus lengkap sebelum masuk. Dia mencoret keinginan yang hanya muncul karena melihat kamar orang lain tampak bagus di foto.
Iccha mengambil satu pena yang hampir menggelinding ke lantai, lalu menunjuk catatan mengenai tempat menyimpan buku.
"Yang ini jangan dicoret. Lo memang punya banyak."
"Aku bisa menumpuk dulu."
"Lalu buku terbawah selalu jadi yang perlu dibaca. Gue sudah melihat kebiasaan itu."
Gadis itu tertawa, mengembalikan catatan tersebut tanpa langsung menjanjikan membeli apa pun. Mereka selesai ketika daftar sudah cukup untuk hari pertama. Erika menutup buku dan meletakkan di dalam tas, merasa pilihan lebih mudah dipikirkan setelah hal yang pasti dipisahkan dari hal yang masih dapat menunggu.
Iccha mengganti sarung bantal, lalu menunjukkan sudut meja yang akan kosong.
"Kalau lo pergi, gue bisa menaruh barang di sana."
Erika menoleh, merasa sedih sesaat.
"Tapi mungkin gue akan membiarkan dulu," sambung Iccha. "Sudah terbiasa ada kertas lo."
Gadis itu mendekat, membantu memasukkan ujung bantal yang sulit dirapikan. Mereka mengerjakannya dengan dua tangan, tertawa ketika hasil pertama justru terbalik. Rencana pindah tidak membuat kebiasaan kecil malam itu berhenti berarti.
Di kamar Jo, undangan acara belum mempunyai jawaban. Dia melihat jadwal, menemukan pekerjaan yang dapat diselesaikan lebih awal, lalu memberi tahu Lina bahwa dirinya ingin hadir apabila waktunya tetap.
Setelah pesan terkirim, dia menyadari tujuan datang harus dijaga. Erika telah mengundangnya sebagai orang yang boleh mendengar. Dia tidak ingin muncul hanya untuk memastikan siapa yang duduk di dekat perempuan tersebut.
Jo mematikan layar, membiarkan nama Arya berhenti menjadi alasan. Kalau ingin mengenal Erika, dia harus bersedia melihat dunia yang telah dimiliki gadis itu sebelum dirinya datang.