Erika bangun sebelum alarm. Beberapa detik pertama dia masih mengira ada pekerjaan biasa yang terlupa, lalu melihat kotak di dekat lemari dan mengingat alasan kamar terasa berbeda.
Hari pindah telah tiba.
Iccha juga belum tidur nyenyak. Perempuan itu membalik tubuh ketika Erika duduk, mengusap mata, lalu memandang meja yang hampir kosong.
"Lo sudah bangun?"
"Iya. Aku takut terlambat."
"Kamar baru lo tidak akan pergi duluan."
Gadis itu tertawa pelan. Mereka bangkit, menyelesaikan keperluan pagi, dan memeriksa kembali barang yang akan dibawa. Ada satu buku milik Iccha yang hampir masuk kotak Erika. Ada sisir yang justru tertinggal di dekat cermin. Keduanya memperbaiki tanpa menjadikan kesalahan kecil sebagai bukti bahwa perpindahan pasti berantakan.
Erika turun setelah kamar cukup rapi. Bi Ani telah menyiapkan sarapan, serta satu wadah makanan yang ditunjuk sebelum gadis itu sempat duduk.
"Untuk nanti kalau belum sempat mencari makan."
"Bi, aku masih tinggal di Jakarta."
"Iya. Orang tinggal di Jakarta juga perlu makan."
Jo yang baru masuk tertawa mendengar jawaban tersebut. Erika menerima dengan malu, berterima kasih, lalu duduk. Jack menanyakan waktu berangkat, Ammar memeriksa apakah kendaraan yang telah diatur cukup untuk jumlah barang, dan Lina mengatakan akan membantu membawa kotak sampai depan.
Mereka tidak membuat sarapan menjadi acara perpisahan panjang. Kiki bahkan mengeluh karena kotak buku terlihat masih terlalu berat, meskipun dirinya yang menyarankan pembagian sebelumnya.
"Ada buku yang beranak malam tadi?"
"Aku menambahkan dua," jawab Erika.
"Pantas."
Gadis itu tertawa. Jo memandangnya, senang dapat melihat wajah tersebut lebih ringan sebelum rumah benar-benar kehilangan kebiasaan baru yang selama ini sering muncul di meja makan.
Setelah sarapan, Erika menelepon Ibu. Bu Mei menjawab dari rumah, suaranya disertai bunyi benda yang diletakkan di meja.
"Sudah mau berangkat?"
"Sebentar lagi."
Mereka membicarakan barang, waktu penerimaan kunci, dan pesan sederhana agar Erika tidak mengerjakan semuanya sekaligus sampai malam. Setelah itu gadis tersebut menanyakan permintaan Aldin.
Bu Mei terdiam sebentar. Erika mendengar tarikan napas sebelum ibunya menjawab.
"Ibu masih memikirkan. Bertemu bukan berarti Ibu langsung bisa mengatakan senang."
"Aku tahu, Bu. Mas Aldin sudah bilang dia akan menerima kalau Ibu belum siap."
"Ibu ingin mendengar langsung dari mereka. Tapi Ibu juga perlu tahu bisa menyuruh percakapan berhenti kalau terlalu berat."
Erika mengangguk, meskipun Ibu tidak melihat. Dia mengatakan bahwa keputusan itu tetap milik Bu Mei, dan dirinya tidak akan memberi kabar kepada Aldin sebagai jawaban sebelum Ibu memilih sendiri.
"Kamu tidak perlu menunda pindah untuk memikirkan semuanya bersama Ibu," ujar perempuan tersebut kemudian. "Hari ini ada urusanmu."
Gadis itu tersenyum dengan mata yang mulai panas. Dia pernah terlalu mudah menganggap semua masalah keluarga harus dibawa sambil tetap bekerja dengan wajah tenang. Mendengar Ibu menyebut hari itu sebagai urusannya memberi kelegaan yang tidak perlu dijelaskan panjang.
Sebelum menutup, Erika mengaku Jo telah mengatakan perasaan secara langsung. Bukan untuk meminta izin menikah, bukan pengumuman bahwa hubungan sudah mempunyai bentuk pasti. Dia hanya tidak ingin Ibu mendengar lebih dahulu dari orang lain.
"Aku masih sedang mengenal dia dengan cara yang berbeda," katanya. "Aku senang, Bu. Tapi aku juga ingat yang pernah terjadi."
Bu Mei mendengarkan, tidak segera menanyakan apakah Jo telah memberi sesuatu yang mahal. Dia ingin tahu bagaimana lelaki itu bersikap setelah putrinya belum memberikan jawaban.
Erika menceritakan beberapa hal kecil: pekerjaan tetap berjalan, rencana pindah tidak ditahan, dan percakapan mengenai Arya tidak berubah menjadi tuduhan.
"Kalau nanti kamu merasa siap mengenalkan dengan maksud yang jelas, Ibu mau bertemu," jawab Bu Mei. "Sekarang jangan mengambil keputusan hanya karena merasa seseorang sudah menunggu."
"Iya, Bu."
Mereka menutup setelah Erika berjanji mengirim kabar ketika tiba. Gadis itu mengusap mata, menarik napas, lalu turun membawa tas terakhir.
Jo menunggu di dekat kotak yang telah disusun. Dia sebelumnya menawarkan bantuan, dan Erika menerima untuk mengangkat barang serta menemani perjalanan karena waktunya sesuai. Kendaraan telah diatur berdasarkan kebutuhan, tanpa rombongan yang membuat perpindahan sederhana terasa seperti acara perusahaan.
Ammar membantu sampai barang masuk. Iccha ikut untuk melihat kamar sekali lagi dan membantu kebutuhan awal. Lina menyerahkan buku yang tadi sempat ditinggal, sementara Kiki memeriksa apakah dasar kotak benar-benar dipegang ketika diangkat.
Jack berdiri di depan pintu. Erika mendekat, mengucapkan terima kasih sekali lagi, lalu menerima pelukan singkat yang membuatnya harus menahan tangis.
"Kabari kalau sudah tiba," kata lelaki itu.
"Iya, Daddy."
"Dan jangan merasa harus membawa naskah kalau suatu hari datang makan."
Gadis itu tertawa di sela napas yang belum rapi. Dia berpamitan kepada Bi Ani dan yang lain, kemudian masuk setelah memastikan tidak ada benda yang tertinggal di tangga.
Sepanjang perjalanan, Iccha membicarakan kebutuhan sederhana agar Erika tidak terus melihat ke belakang. Ada tempat membeli air, wadah yang perlu dibersihkan, dan kemungkinan meja masih harus digeser. Jo sesekali ikut menjawab, tetapi tidak mencoba menentukan seluruh susunan kamar sebelum melihatnya.
Ketika tiba, Erika melakukan pemeriksaan bersama pengelola. Dia melihat kembali hal yang telah dicatat, memastikan kunci berfungsi, dan menyimpan bukti yang diperlukan pada tempat yang mudah ditemukan. Jo serta Iccha menunggu dengan barang sampai dia mengatakan boleh masuk.
Kamar terasa lebih kosong daripada saat kunjungan. Tidak ada buku di meja, tidak ada tas di dekat lemari. Namun, ketika jendela dibuka, cahaya yang sama jatuh pada tempat yang sebelumnya membuat Erika ingin duduk.
"Kita taruh kotak buku di mana?" tanya Jo.
Gadis itu menunjuk sisi dekat dinding. Lelaki tersebut membawa sesuai arahan, lalu meminta bantuan Iccha menggeser tas yang menghalangi. Mereka bekerja beberapa menit sebelum berhenti karena Erika belum menentukan letak semua barang.
"Yang penting tempat tidur dan meja dulu," kata gadis itu. "Kalau semua dibuka sekarang, nanti aku malah ndak tahu yang dicari ada di mana."
Iccha menyetujui. Dia membantu memasang seprai, sementara Jo membawa kotak kosong ke sisi pintu agar tidak menghalangi langkah. Ketika hendak merapikan kabel lampu, lelaki itu berhenti dan bertanya.
"Kamu mau di sisi ini?"
Erika mencoba duduk, mengangkat tangan seolah sedang menulis, lalu meminta dipindahkan sedikit. Jo melakukannya. Satu pertanyaan sederhana menghindarkan mereka dari pekerjaan yang harus diulang setelah tuan rumah sebenarnya merasa sungkan membantah.
Mereka berhenti untuk makan dari wadah Bi Ani. Tidak ada meja makan besar, jadi ketiganya duduk dengan tempat yang tersedia. Iccha mengangkat sendok, mengeluh karena dirinya tadi hampir mengatakan tidak lapar.
"Untung Bi Ani tidak percaya orang yang bilang akan mencari nanti," ujarnya.
Erika tertawa. Jo membantu membagikan, lalu memastikan wadah yang dapat digunakan lagi tidak tercampur dengan sampah. Suasana kamar menjadi lebih hangat setelah makan, seolah benda yang belum punya tempat tidak lagi harus dibereskan sebelum perempuan tersebut boleh merasa sudah tiba.
Selesai makan, Erika mencoba menyusun beberapa buku pada rak. Susunannya tidak langsung rapi. Ada buku yang terlalu tinggi, satu yang mudah jatuh karena sampul tipis, dan catatan yang sebaiknya tidak terpapar cahaya dari jendela.
Jo mengambil buku yang hampir meluncur, kemudian menunggu arahan. Gadis itu memindahkan dua judul, menyisakan ruang di tengah untuk yang sedang dibaca.
"Kenapa yang itu tidak diurutkan bersama yang lain?" tanyanya.
"Kalau semuanya terlalu rapi, aku kadang malah lupa yang belum selesai. Yang sedang dibaca harus kelihatan."
Lelaki itu mengangguk, menyerahkan buku tanpa mengubah susunan menurut seleranya. Iccha melihat dari sisi tempat tidur dan tertawa kecil.
"Sekarang lo tahu mengapa meja kami selalu terlihat ada yang tertinggal."
"Bukan tertinggal," bantah Erika. "Belum selesai."
"Baik. Perbedaannya akan gue ingat."
Mereka tertawa. Erika menaruh satu buku catatan pada tempat paling mudah dijangkau, lalu mundur untuk melihat hasilnya. Tidak sempurna seperti ruangan pada gambar, tetapi dia tahu mana yang akan diambil besok pagi. Jo menggeser kursi sedikit agar jalannya tetap lapang, kemudian berhenti ketika gadis tersebut mengatakan posisinya sudah cukup.
Iccha mendapat pesan mengenai urusan yang harus diselesaikan, lalu memeriksa waktu. Dia sebelumnya memang hanya mempunyai kesempatan sampai siang. Erika mengantarnya ke bawah, memeluk sebentar di dekat pintu.
"Jangan bekerja sampai lupa pulang, ya," kata gadis itu.
"Lo juga jangan menulis sampai lupa kamar ini bukan cuma meja."
Mereka tersenyum. Iccha mengatakan akan mengabari setelah selesai, dan Erika menerima tanpa meminta temannya tinggal lebih lama agar hari pertama terasa aman.
Jo masih berada di atas ketika dia kembali. Lelaki tersebut sedang mengumpulkan potongan tali yang terlepas dari kotak. Dia bangkit, membuang pada tempat yang ditunjuk, lalu memandang rak yang baru terisi separuh.
"Mas masih punya waktu?" tanya Erika.
"Sedikit. Kalau kamu sudah cukup, aku bisa pulang."
"Aku ingin bicara sebentar."
Jo meletakkan tasnya kembali. Erika duduk pada kursi meja, lalu menunjuk tempat yang dapat digunakan lelaki tersebut tanpa harus berdiri di dekat pintu. Jendela terbuka, dan suara percakapan dari halaman bawah masuk samar.
Gadis itu memandang laptop baru di atas meja. Kini barang tersebut berada di tempat yang dipilihnya, dengan berkas pekerjaan yang tetap dapat dibuka. Rumah Jack tidak hilang dari hidupnya, tetapi jarak membuat beberapa hal lebih mudah dilihat.
"Aku tadi mengira pindah akan membuatku ingin membatalkan semuanya," ujarnya.
"Semuanya?"
"Kamar. Pekerjaan yang ingin kucari sendiri. Mungkin juga mencoba dekat sama Mas. Karena sekaligus rasanya terlalu banyak."
Jo mendengarkan tanpa menyiapkan kalimat bahwa dia dapat mengatur agar semuanya mudah. Erika menatapnya, mencari keberanian yang tidak datang bersama kata-kata rapi.
"Ternyata aku tetap ingin di sini," lanjutnya. "Dan aku tetap ingin bertemu Mas setelah Mas pulang."
Lelaki itu menarik napas pelan. Harapan yang selama beberapa hari ditahan bergerak lagi, kali ini diberi tempat oleh sesuatu yang benar-benar diucapkan.
"Aku juga ingin bertemu kamu."
"Aku tahu. Mas sudah bilang."
Mereka tersenyum, lalu Erika menunduk sebentar karena wajahnya terasa hangat. Dia tidak ingin menyampaikan jawaban seperti mengoreksi naskah orang lain, dengan terlalu banyak kalimat agar tidak ada celah yang dianggap salah.
"Aku menyukai Mas," katanya akhirnya. "Aku belum tahu semua bentuknya nanti. Tapi aku tidak ingin terus mengatakan belum seolah tidak ada apa-apa."
Jo diam. Untuk beberapa detik, lelaki yang biasa mempunyai jawaban pada rapat itu justru terlihat seperti lupa bagaimana menggunakan suara.
Erika mengangkat wajah. "Mas kok diam?"
"Aku takut menjawab terlalu banyak."
Gadis itu tertawa, lega karena ketegangan dapat pecah tanpa membuat kalimatnya terasa kurang sungguh-sungguh.
"Jawab yang perlu saja."
Jo menatapnya. "Aku senang. Dan aku ingin mencoba mengenal kamu, kalau itu juga yang kamu mau."
"Iya. Pelan-pelan. Bukan langsung semua jadwal bersama."
"Baik."
"Kalau aku sibuk menulis, aku akan bilang. Kalau Mas sibuk, bilang juga. Jangan membuat aku menebak lalu mengira pasti salahku."
Lelaki itu mengangguk. "Aku akan bicara."
Erika mengembuskan napas. Ada banyak hal yang belum perlu diselesaikan di kamar baru tersebut. Keluarga mereka, rasa sakit yang masih kadang muncul, dan kebiasaan yang belum diketahui satu sama lain akan mempunyai waktu sendiri.
Hari itu cukup dimulai dengan jawaban yang tidak dibuat karena kasihan.
Jo bangkit ketika waktu yang dimilikinya hampir habis. Erika ikut berdiri, mengantar sampai pintu. Sebelum membuka, lelaki tersebut memandang tangan gadis itu yang berada di dekat gagang.
"Boleh?" tanyanya, mengulurkan tangan sedikit.
Erika menatap, kemudian meletakkan tangannya pada telapak Jo. Genggaman tersebut hangat, tidak ditarik agar dirinya harus mendekat. Dia membiarkan beberapa detik berlalu, tersenyum malu ketika Jo ikut tersenyum seperti belum percaya.
"Mas nanti lupa pulang kalau terus begini."
"Aku sedang berusaha mengingat jalan."
Gadis itu tertawa. Mereka melepaskan tangan sebelum pintu dibuka, lalu turun bersama. Jo berpamitan setelah memastikan tasnya tidak tertinggal, tanpa menambahkan alasan kembali sore itu juga.
Erika melihat kendaraan menjauh, kemudian naik ke kamar. Untuk pertama kalinya hari itu, dia benar-benar sendiri.
Sunyi datang dengan bentuk yang berbeda dari ketakutan tadi pagi. Ada kotak yang belum dibuka, wadah makanan yang harus dicuci, dan Ibu yang menunggu kabar. Gadis itu memotret meja dekat jendela, mengirim bahwa dirinya sudah tiba, lalu menambahkan satu pesan singkat mengenai percakapan dengan Jo.
Bu Mei menjawab agar dia makan dan beristirahat sebelum membereskan sisanya. Erika tersenyum, mencuci wadah, lalu duduk dengan laptop terbuka.
Tidak banyak kata yang ditulis siang itu. Dia hanya menyelesaikan adegan tokoh perempuan di depan pintu: ketukan akhirnya terdengar, dan tokoh tersebut tetap berdiri ketika suara dari dalam menjawab.
Ponsel berbunyi beberapa saat kemudian. Jo mengatakan telah tiba dan berterima kasih karena Erika mau bicara sebelum dirinya pulang.
Gadis itu membalas, kemudian berpikir sebentar dan mengirim satu kalimat lagi.
"Besok kalau ada waktu, kita cari makan. Bukan untuk membahas berkas."
Di ruang kerjanya, Jo membaca pesan tersebut dua kali. Untuk sekali itu, dia tidak perlu mencari arti tersembunyi pada ucapan terima kasih. Erika telah mengajaknya datang ke bagian hidup yang baru, dan pintu tersebut dibuka dari dalam.