Jo kembali ke rumah Bu Mei pagi berikutnya sesuai waktu yang disepakati. Kali ini bahunya tidak setegang hari pertama. Erika membuka pintu, tersenyum karena lelaki itu benar-benar datang tanpa membawa sesuatu yang membutuhkan tempat baru di dapur.
Mereka makan bersama, kemudian membantu Ibu sebelum bersiap pulang. Bu Mei mengembalikan sebagian bawaan dalam wadah yang dapat dibawa Erika, mengatakan jangan sampai perjalanan membuatnya melewatkan makan lagi.
Gadis itu memeluk Ibu lebih lama saat berpamitan. Jo menunggu, lalu memberi salam dan mengucapkan terima kasih atas dua hari yang telah diberikan. Perempuan tersebut mengangguk, meminta keduanya mengabari setelah tiba, tanpa langsung menanyakan kapan kunjungan selanjutnya berubah menjadi lamaran.
Dalam perjalanan kembali, Erika membaca pesan pekerjaan yang sudah diperjelas sebelum berangkat. Pengirimnya ingin bantuan memperbaiki cerita pendek: urutan adegan, percakapan, dan bagian yang terlalu banyak menjelaskan. Bukan menulis ulang seluruhnya, bukan menggunakan kisah keluarga Jack sebagai bahan.
Dia telah meminta contoh, jumlah halaman, dan waktu yang benar-benar tersedia. Kini jawaban lengkap berada di layar, membuat kemungkinan itu dapat dinilai sebagai pekerjaan, bukan hanya pujian karena namanya disebut pada acara komunitas.
Jo melihatnya menulis pada buku kecil.
"Yang kemarin?"
Erika mengangguk. "Sekarang lebih jelas. Aku bisa mengambil kalau bagian yang diminta tetap ini."
"Kamu ingin menerima?"
"Iya. Aku suka pekerjaannya. Tapi aku harus mencocokkan dengan tulisan sendiri dan penataan berkas proyek kita."
Lelaki tersebut mendengar. Dia tidak bertanya mengenai besar bayaran untuk menentukan apakah pekerjaan layak dibandingkan dengan yang pernah diberikannya. Erika juga tidak ingin menerima hanya agar dapat mengatakan punya klien lain. Dia membaca contoh sampai selesai, menemukan beberapa hal yang memang dapat dibantu, lalu menulis jawaban untuk dikirim setelah tiba.
Hari-hari sesudahnya mempunyai bentuk yang lebih padat. Gadis tersebut mengerjakan cerita sendiri pada pagi hari, memeriksa tulisan klien pada waktu lain, lalu menyediakan jadwal yang telah disepakati untuk proyek Jo. Semua terlihat mungkin ketika masih berupa daftar.
Saat benar-benar dijalani, beberapa pekerjaan memerlukan lebih banyak waktu. Sebuah percakapan pendek ternyata membutuhkan pembacaan ulang seluruh adegan. Pertanyaan klien baru datang setelah bagian yang dikira selesai. Erika juga masih sedang menyesuaikan kamar, mencari tempat paling nyaman menyimpan barang agar tidak membuang waktu setiap kali perlu sesuatu.
Dia tidak memberi tahu Jo semua gangguan kecil. Sebagian memang urusannya sendiri, dan dia ingin mencoba menyelesaikan sebelum meminta orang lain masuk. Namun, ketika mereka merencanakan makan pada sore tertentu, gadis itu mengira pekerjaan akan selesai lebih cepat daripada kenyataan.
Menjelang waktu, Erika membaca halaman yang belum rapi dan merasakan dada menegang. Dia dapat berhenti, tetapi harus meneruskan malam dengan kepala masih tertinggal pada kalimat. Dia juga dapat menunda pertemuan, tetapi malu karena dirinya yang semula mengusulkan.
Akhirnya dia mengirim pesan sebelum Jo berangkat, mengatakan perlu satu jam tambahan. Lelaki itu menjawab bisa mengubah waktu, meminta kabar jika masih belum selesai.
Erika merasa lega. Lalu satu jam berlalu, dan bagian terakhir tetap menuntut pemeriksaan. Ponsel berbunyi ketika dia baru saja menemukan kesalahan urutan yang cukup penting.
"Aku belum selesai, Mas," ujarnya setelah menerima panggilan. "Aku salah memperkirakan."
Jo menarik napas di ujung lain. Dia telah mengatur sore, menunda satu urusan yang tidak mendesak, dan mulai menunggu dengan rasa kecewa yang tidak ingin diakui.
"Kalau terlalu banyak, tidak usah mengambil semuanya," katanya.
Erika berhenti mengetik. "Maksud Mas yang mana?"
"Pekerjaan baru itu. Kalau membuatmu terlalu lelah, kamu tidak harus meneruskan."
Gadis tersebut menatap halaman yang sudah diperbaiki. Kalimat Jo mengenai sesuatu yang sejak awal masih terasa rapuh: keberanian menerima pekerjaan tanpa ada keluarga besar yang menjamin dirinya selalu punya tempat.
"Aku sudah menerima bagian yang jelas," jawabnya. "Aku bukan sedang memikirkan mau meneruskan atau tidak. Aku sedang belajar memperkirakan waktu."
"Aku hanya tidak ingin kamu capek."
"Tapi Mas langsung memilih pekerjaan yang baru untuk dilepas."
Jo terdiam. Dia memang tidak menyebut proyek miliknya sendiri atau cerita Anggrek yang juga membutuhkan waktu. Pikirannya berjalan pada pekerjaan yang paling mudah dianggap dapat disingkirkan karena dirinya tidak terlibat.
"Aku tidak bermaksud menganggap itu tidak penting," katanya.
"Aku percaya Mas mungkin ndak bermaksud. Tapi aku tetap mendengar begitu."
Erika menutup mata sebentar, merasa suaranya lebih keras daripada yang diinginkan. Dia lelah, lapar, dan kecewa kepada diri sendiri karena telah membuat seseorang menunggu. Keadaan itu tidak membuat semua kalimat Jo otomatis salah, tetapi juga tidak membuat dirinya harus menerima saran yang tidak diminta.
"Aku salah memberi waktu," ujarnya setelah menarik napas. "Aku minta maaf untuk itu. Hari ini sebaiknya kita tidak jadi makan bersama. Aku perlu selesai dan istirahat."
Jo melihat jam di ruang kerjanya. Bagian dirinya ingin mengatakan sudah terlanjur menyediakan waktu, tetapi kalimat tersebut tidak akan membuat Erika lebih mampu duduk tenang di meja restoran.
"Baik. Aku kecewa karena ingin bertemu," jawabnya. "Tapi aku tidak mau membuatmu memilih pekerjaan berdasarkan yang membuatku mendapat waktu paling cepat."
Gadis itu diam beberapa detik. "Kita bicara lagi besok?"
"Iya. Besok."
Panggilan selesai tanpa ucapan panjang yang memaksa keduanya segera merasa baik. Erika meletakkan ponsel, mengambil air, lalu berdiri untuk makan sesuatu sebelum kembali memeriksa. Kesalahan perkiraan tidak perlu ditebus dengan membuat tubuhnya lebih lelah.
Di rumah Jack, Jo turun ke ruang keluarga. Ammar sedang menunggu Iccha selesai mengambil barang, memandang adiknya yang datang tanpa pakaian untuk pergi.
"Batal?"
"Erika belum selesai kerja."
Kakaknya mengangguk. Jo duduk, mengaku dirinya hampir membuat pekerjaan baru gadis itu terdengar seperti gangguan yang dapat dilepas kapan saja.
Ammar tidak langsung menertawakan. Dia mengatakan pernah mengira memberi alat dan kesempatan berarti dapat menentukan bagaimana orang lain menggunakan waktu, sampai Erika menolak terus berada dalam rencana yang tidak benar.
"Lo tahu itu sekarang," ujarnya. "Besok jangan mengulangi dengan kalimat yang lebih halus saja."
Jo mengangguk. Ketika Iccha turun, Ammar bangkit. Keduanya berpamitan, meninggalkan lelaki tersebut dengan malam yang tidak berjalan sesuai keinginan tetapi tetap harus dijalani sendiri.
Erika menyelesaikan pemeriksaan setelah makan dan beristirahat sebentar. Dia mengirim hasil pada waktu yang masih sesuai, mencatat pertanyaan yang dapat dibicarakan kemudian, lalu menutup laptop. Tidak ada pujian langsung dari klien yang membuat seluruh kelelahan terasa lunas.
Gadis itu mencuci gelas, merapikan meja, dan tidur lebih cepat. Untuk pertama kalinya sejak mulai dekat dengan Jo, dia tidak mengakhiri malam dengan percakapan yang hangat. Rasa tidak nyaman masih ada, tetapi bukan berarti hubungan telah berubah menjadi sesuatu yang harus ditinggalkan sebelum dicoba.
Keesokan pagi, Erika membaca tanggapan pekerjaan. Ada bagian yang diterima, satu yang ingin dibicarakan, dan kalimat yang membuatnya sadar hasil semalam benar-benar berguna. Dia mencatat waktu lebih longgar untuk pemeriksaan berikutnya, bukan berjanji dapat bekerja secepat yang paling diharapkan orang.
Sebelum menjawab pesan Jo, Erika membaca kembali perkiraan waktu yang dibuat saat menerima pekerjaan. Dia menemukan kesalahan yang cukup jelas: dirinya menghitung waktu mengetik, tetapi hampir tidak menyediakan waktu untuk memeriksa hasil dan membaca tanggapan.
Gadis itu membuka halaman baru, memindahkan jadwal tanpa menambah janji lain. Satu bagian dapat dikerjakan hari berikutnya. Bagian yang telah dijanjikan tetap perlu diselesaikan pada waktunya, tetapi dia tidak harus menerima tambahan mendadak hanya karena ingin terlihat mudah diajak bekerja.
Dia menulis penjelasan kepada klien mengenai pertanyaan yang baru datang, memberi waktu yang sanggup dipenuhi. Jawaban tidak langsung tiba. Erika menahan diri untuk tidak mengirim kalimat kedua yang menawarkan semua lebih cepat.
Ada rasa takut orang akan memilih orang lain. Rasa tersebut cukup kuat untuk membuat tangannya kembali pada papan ketik, tetapi dia berhenti. Kalau satu-satunya cara mempertahankan pekerjaan adalah terus menjanjikan waktu yang tidak ada, besok dia akan kembali mengerjakan dengan panik.
Lina menelepon pada waktu yang sudah dijanjikan untuk membicarakan halaman. Erika mengatakan punya kesempatan singkat, lalu meminta bagian mana yang paling ingin ditanyakan.
"Lo terdengar capek," ujar temannya.
"Kemarin salah memperkirakan. Hari ini sedang kubenahi."
"Mau kita pindah waktu?"
Gadis itu melihat jadwal. Kali ini dia benar-benar menghitung sebelum menjawab. Mereka memilih satu pertanyaan saja, menyelesaikan, lalu membuat janji lain untuk bagian berikutnya. Lina menerima tanpa kecewa yang harus ditebus dengan penjelasan panjang.
Sesudah panggilan selesai, Erika berdiri dari meja. Cahaya pagi sudah berpindah sedikit. Dia merapikan gelas, menutup satu berkas, dan menyadari bahwa hari masih dapat berjalan baik meskipun tidak semua selesai sekaligus.
Tanggapan klien akhirnya datang. Waktu tambahan untuk pertanyaan baru diterima, dengan catatan mengenai bagian yang perlu didahulukan. Gadis itu menuliskan, merasa lega karena kejelasan lebih berguna daripada terus berusaha menyenangkan melalui janji yang terlalu rapat.
Dia juga memikirkan Jo. Kecewa lelaki tersebut bukan sesuatu yang perlu dihapus agar hubungan terasa aman. Yang ingin diubah adalah cara keduanya membuat rencana, supaya waktu bersama tidak selalu diambil dari tempat yang sebenarnya sedang dibutuhkan untuk hal lain.
Erika mengambil air, meminum sebelum kembali duduk. Saat membaca pesan Jo berikutnya, dia lebih siap bicara daripada malam sebelumnya, dengan kepala yang tidak lagi hanya berisi kalimat yang belum selesai dan rasa bersalah karena seseorang menunggu.
Jo menghubungi setelah menanyakan apakah dirinya dapat bicara. Erika menerima ketika pekerjaan pagi selesai. Mereka tidak bertemu di ruang kerja atau kamar, melainkan tempat yang memungkinkan duduk sebentar sebelum jadwal masing-masing berlanjut.
Lelaki itu datang tanpa membawa hadiah sebagai jalan pendek. Erika juga tidak membuka pembicaraan dengan berpura-pura malam kemarin tidak terjadi.
"Aku seharusnya memberi waktu yang lebih aman," ujarnya. "Aku ingin mengerjakan banyak, lalu mengira kalau sudah kutulis di daftar berarti pasti muat."
Jo mengangguk. "Dan aku seharusnya bertanya apa yang kamu butuhkan sebelum menyarankan pekerjaanmu dilepas."
Gadis itu menatap gelas di depan. Dia tidak ingin percakapan berhenti pada dua permintaan maaf yang terdengar rapi tetapi tidak mengubah rencana berikutnya.
"Kalau aku sedang dekat waktu penyerahan, kita bisa memilih pertemuan singkat atau tidak membuat janji dulu," katanya. "Aku juga tidak mau menaruh Mas di sela yang sebenarnya ndak tersedia."
"Aku bisa mengatakan kalau ingin bertemu lebih lama, tanpa membuatmu harus menyediakan hari itu juga."
Mereka mencocokkan jadwal yang nyata. Ada sore yang dapat dipakai tanpa menggeser pekerjaan, dan ada hari yang lebih baik dibiarkan kosong. Jo bertanya apakah Erika ingin makan saat itu, tetapi gadis tersebut mengatakan hanya punya waktu untuk minum. Lelaki itu menerima dan memesan sesuai kesempatan yang ada.
Percakapan berikutnya tidak lagi seluruhnya mengenai kesalahan. Erika menceritakan satu masalah pada naskah baru: tokoh yang tiba-tiba mengetahui sesuatu padahal belum ada adegan yang memberinya informasi. Jo tertawa karena dapat membayangkan betapa kesalnya pembaca yang menemukan hal itu.
"Mas juga pernah mengatakan aku harus tahu sesuatu hanya karena Aldin tahu," ujar gadis itu, lalu berhenti karena contoh tersebut keluar lebih cepat daripada rencana.
Jo memandangnya. Ada jeda yang membuat udara terasa lebih berat, kemudian lelaki itu mengangguk.
"Iya. Dan kamu waktu itu memang tidak tahu."
Erika menelan, menyadari dirinya tidak ingin menggunakan peristiwa lama sebagai senjata setiap kali membicarakan tulisan. Namun, dia juga belum selalu dapat memisahkan semua ingatan dari hal yang sekarang sedang dipelajari.
"Aku ndak mengatakan supaya Mas minta maaf lagi sekarang. Aku hanya tadi teringat."
"Aku tahu. Kamu boleh teringat tanpa harus menenangkanku sesudahnya."
Gadis tersebut mengembuskan napas. Percakapan berlanjut perlahan, melewati kalimat yang berat tanpa harus dipaksa menjadi lelucon. Setelah beberapa menit, mereka kembali membicarakan pekerjaan dengan nada yang lebih biasa.
Erika memeriksa jam sebelum percakapan berakhir. Masih ada beberapa menit, tetapi dia ingin berangkat dengan tenang, bukan membuat janji berikutnya dimulai dengan napas terburu-buru.
Jo melihat gerakannya, meminta tagihan, lalu menunggu sampai gadis itu menyimpan buku kecil ke tas.
"Aku hampir menawarkan mampir sebentar," katanya.
"Lain kali saja."
"Iya. Aku baru ingat kita tadi bicara soal waktu yang benar-benar ada."
Erika tertawa, merasa lebih ringan karena keduanya dapat mengenali kebiasaan yang hampir muncul tanpa langsung menyebut pertemuan gagal. Mereka berdiri setelah selesai, membawa hari kembali ke urusan masing-masing.
Ketika waktunya pergi, Jo mengantar sampai tempat yang telah disepakati. Dia tidak menuntut genggaman tangan sebagai bukti bahwa keduanya benar-benar sudah baik. Erika justru meraih tangannya sendiri, menahan sebentar sebelum melangkah.
"Aku tetap ingin bertemu lagi," katanya.
Lelaki itu tersenyum. "Aku juga. Dengan waktu yang benar-benar ada."
Gadis tersebut mengangguk, lalu melepaskan. Mereka berpisah menuju pekerjaan masing-masing. Tidak ada perayaan karena berhasil melewati satu percakapan sulit, tetapi Erika merasa hari dapat diteruskan tanpa harus menyembunyikan yang belum nyaman.
Malam itu, setelah tulisan sendiri mendapat satu halaman baru, dia membuka catatan proyek Jo. Sisa pekerjaan sudah semakin jelas, tanggal yang disepakati semakin dekat. Gadis itu membaca nama Anggrek pada halaman pembuka, kemudian menyimpan.
Dia ingin menyelesaikan pekerjaan pertama yang membawanya ke Jakarta dengan baik. Setelah itu, waktu bertemu Jo akan tetap ada jika mereka memilih membuatnya, tanpa perlu terus diselipkan di antara pertanyaan wawancara yang sebenarnya sudah terjawab.