Erika membawa buku kecil pada pertemuan yang telah disepakati. Jo melihatnya ketika mereka duduk, lalu tersenyum karena gadis tersebut tampak sedikit malu setelah menyadari daftar sudah terbuka di meja.
"Aku menulis supaya ndak lupa," ujarnya.
"Aku juga membawa beberapa catatan."
Lelaki itu menunjukkan ponsel, membuat Erika tertawa. Kegugupan yang semula mengisi bahunya berkurang. Mereka tidak harus menjadi dua orang yang langsung tahu semua karena sudah saling menyukai.
Tempat itu cukup tenang untuk berbicara, dengan waktu yang memang disisihkan. Jo telah menyelesaikan urusan penting lebih dahulu. Erika tidak menjanjikan penyerahan pekerjaan pada malam yang sama, sehingga kepalanya dapat berada pada percakapan tanpa terus menghitung halaman.
Mereka memesan minum, menunggu sampai tidak ada yang berdiri di sisi meja, lalu Jo memulai.
"Aku ingin menikah denganmu, Ka."
Gadis tersebut mengangkat wajah. Meskipun telah membayangkan arah pembicaraan, mendengar kalimat langsung tetap membuat napasnya berhenti sebentar.
"Aku tidak membawa cincin hari ini," lanjut lelaki itu. "Aku ingin tahu apakah itu juga masa depan yang kamu inginkan, dan apa yang perlu kita bicarakan sebelum membuat keputusan."
Erika memandang kedua tangan yang kini berada dekat buku. Dia tidak ingin menjawab hanya karena takut kalimat berikutnya terdengar kurang romantis.
"Aku ingin," katanya pelan. "Aku ingin menikah dengan Mas kalau kita memang bisa membangun hidup yang juga memberi tempat untuk pekerjaanku dan Ibu. Aku tidak ingin menyebut iya lalu baru berani menanyakan sesudah semuanya ditentukan."
Jo mengangguk, wajahnya berubah hangat. Dia menahan keinginan menggenggam terlalu cepat karena gadis tersebut masih tampak sedang mengatur keberanian.
"Tanyakan sekarang."
Erika membuka halaman. Pertanyaan pertama mengenai pekerjaan. Dia ingin tetap menulis dengan nama Anggrek, menerima proyek yang dipilih, dan tidak dianggap kurang memperhatikan rumah hanya karena satu hari membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan naskah.
Jo mengatakan dirinya menginginkan itu. Namun, ketika gadis tersebut bertanya bagaimana waktu kerja akan dijaga, lelaki itu berhenti sebelum menjawab bahwa dia akan menyediakan ruang paling bagus.
"Ruang saja tidak cukup," ujar Erika. "Kalau orang terus masuk karena mengira aku cuma di rumah, aku tetap tidak bisa bekerja."
Jo menatap. Dia mengingat bagaimana dulu keberadaan Erika di rumah membuatnya terlalu mudah memanggil tanpa menanyakan waktu.
"Kita perlu mengetahui jadwal masing-masing," jawabnya. "Kalau kamu sedang bekerja, aku tidak akan menganggap pintu yang dekat berarti kamu bisa langsung menerima apa pun."
Gadis itu mengangguk. Mereka membicarakan waktu yang dapat digunakan bersama, kapan pekerjaan tidak perlu dibawa ke meja makan, dan bagaimana memberi kabar jika keadaan memang berubah. Tidak semuanya mempunyai jawaban pasti, tetapi keduanya dapat mengatakan kebiasaan yang ingin dijaga.
Ketika sampai pada rumah, Jo mengaku semula membayangkan tinggal di rumah Daddy. Ada tempat, keluarga yang dikenal, dan kedekatan yang selama ini terasa wajar.
Erika berpikir cukup lama. "Aku senang di sana. Tapi aku ingin kita punya tempat yang benar-benar dapat kita atur bersama. Tidak harus jauh dari Daddy."
Lelaki itu diam. Ada bagian dirinya yang langsung merasa meninggalkan rumah berarti membuat keluarga lebih sepi. Setelah berkunjung ke tempat Mama, pikiran itu terasa lebih kuat daripada biasa.
"Aku khawatir Daddy akan merasa ditinggalkan," katanya.
"Kita bisa tetap datang. Dan Mas masih bisa bertemu sesering yang perlu. Tapi kalau tinggal di sana membuatku terus merasa harus mengikuti semua kebiasaan yang sudah ada, aku takut ndak pernah mengatakan yang sebenarnya kuinginkan."
Jo melihat halaman, bukan karena ingin menghindari wajah gadis tersebut, tetapi karena perlu mendengar tanpa segera menawarkan cara agar pilihan awalnya tetap berlaku.
"Aku belum bicara soal itu dengan Daddy," ujarnya.
"Bicara dulu. Jangan mengira jawaban beliau sebelum bertanya."
Lelaki itu tersenyum kecil. Kalimat tersebut tepat mengenai kebiasaan yang masih sering dilakukannya. Mereka tidak memutuskan alamat hari itu, tetapi menyetujui mencari tempat setelah keinginan keduanya cukup jelas, bukan membeli lalu meminta yang lain menyesuaikan.
Erika membuka satu halaman yang semula hampir tidak ingin diperlihatkan. Di sana tertulis beberapa kebiasaan kecil: waktu tidur, tempat menyimpan buku, dan siapa yang akan melakukan hal rumah tangga ketika dua orang sama-sama sedang sibuk.
Jo membaca, tersenyum pada catatan mengenai gelas yang tidak boleh terus tinggal dekat laptop.
"Itu untukku atau kamu?"
"Dua-duanya. Aku punya bukti untuk diriku sendiri."
Lelaki itu tertawa. Mereka membicarakan bagaimana rumah tidak dapat dijalankan hanya dengan mengira orang lain pasti tahu apa yang perlu dikerjakan. Erika mengatakan dirinya tidak ingin setiap pekerjaan kecil otomatis dianggap milik perempuan karena yang satu lebih sering berada di rumah.
Jo mengangguk, tetapi mengaku ada hal yang belum terbiasa dilakukannya sendiri. Gadis tersebut tidak mengejek. Dia ingin mengetahui yang nyata, termasuk kebiasaan mendapat bantuan sejak lama.
"Kita bisa belajar dan tetap menerima bantuan yang memang diperlukan," ujarnya. "Aku tidak sedang mencari cara membuat semuanya sulit. Aku hanya ingin bukan aku seorang yang selalu harus tahu."
Lelaki tersebut mendengar. Dia menyebut beberapa tugas yang bisa mulai diatur bersama, lalu berhenti ketika menyadari dirinya hampir membuat daftar seperti membagi pekerjaan kantor.
Erika melihat wajahnya, tertawa pelan. "Tidak perlu memberi jabatan untuk mencuci gelas."
"Aku sedang memikirkan pembagian."
"Aku tahu. Tapi rumah juga punya hari ketika pembagiannya berubah."
Mereka tertawa, kemudian melanjutkan dengan lebih sederhana. Kalau salah satu sakit atau terlalu lelah, yang lain perlu tahu, bukan menunggu sampai pekerjaan tertinggal lalu bertanya dengan kesal mengapa belum dilakukan.
Pertanyaan mengenai istirahat juga mendapat tempat. Erika suka memiliki waktu membaca tanpa harus berbicara. Jo kadang perlu diam setelah rapat, tetapi selama ini diamnya dapat terlihat seperti sedang marah. Mereka membicarakan cara memberi tahu tanpa meminta pasangan menebak dari wajah.
Gadis itu menuliskan beberapa kata, lalu menutup halaman tersebut. Jo tidak mengambilnya untuk memastikan semua telah disetujui. Hal-hal tadi akan tetap perlu dicoba dalam kehidupan nyata, tetapi kini keduanya tahu ada kebiasaan yang belum tentu sama meskipun sedang saling mencintai.
Saat minuman diisi kembali, Erika menyandarkan punggung, merasa lebih tenang. Jo juga tampak tidak lagi berusaha memberi jawaban paling sempurna. Mereka dapat mengakui ada yang belum dikuasai, lalu membicarakan bagaimana mempelajari tanpa menjadikan satu orang guru bagi seluruh hidup yang lain.
Pembicaraan mengenai uang datang sesudahnya. Erika ingin dapat membedakan kebutuhan bersama, pekerjaan, dan uang yang masih ingin diberikan kepada Ibu. Dia tidak menganggap pendapatannya harus sama besar agar berhak ikut menentukan, tetapi juga tidak ingin semua hasil kerjanya dianggap tidak berguna karena Jo dapat menyediakan lebih banyak.
Jo mendengarkan. Dia mengatakan kehidupan bersama tidak dapat dihitung hanya dari siapa membawa angka terbesar. Namun, gadis tersebut menanyakan bagaimana keputusan besar akan dibuat agar ucapan itu tidak berhenti sebagai kalimat baik.
Mereka membicarakan kebutuhan yang harus disepakati, pembelian yang sebaiknya tidak datang sebagai kejutan, dan ruang bagi masing-masing mengatur hal pribadi. Jo mengakui dirinya terbiasa menyelesaikan beberapa urusan dengan memberi sesuatu. Erika mengatakan kadang bantuan tersebut berguna, tetapi kadang justru membuat pertanyaan yang sebenarnya tidak pernah dibicarakan.
"Kalau Mas ingin memberiku hadiah, aku bisa senang," ujarnya. "Aku tidak ingin semua hadiah menjadi kesalahan. Tapi jangan membeli rumah sebagai cara menjawab aku ingin punya rumah bersama."
Lelaki tersebut tertawa pelan. "Baik. Yang sebesar itu kita pilih bersama."
Suasana menjadi lebih ringan. Mereka minum, berhenti sebentar untuk memesan makanan kecil, lalu kembali pada pertanyaan berikutnya setelah kepala tidak terlalu penuh.
Erika ingin tetap dapat pulang menemui Ibu. Jo menyetujui, tetapi tidak menjanjikan akan ikut setiap perjalanan jika pekerjaan sedang membutuhkan dirinya. Gadis itu mengatakan tidak menuntut selalu bersama. Dia hanya tidak ingin pulang dianggap meninggalkan kewajiban kepada suami.
"Aku ingin Ibu bisa datang juga," lanjutnya. "Dengan waktu yang kita bicarakan, bukan merasa seperti tamu yang harus meminta maaf karena anaknya sudah menikah."
Jo mengangguk. Dia membayangkan Bu Mei membaca di ruang yang juga menyediakan tempat bagi buku-buku Erika, kemudian menyadari harapan itu terasa sangat biasa sekaligus membuat dada hangat.
Jo juga menanyakan apakah Erika membayangkan mempunyai anak kelak. Gadis itu mengangguk, tetapi mengatakan ingin membicarakan waktu ketika keduanya benar-benar siap, bukan karena keluarga menunggu kabar segera sesudah menikah.
Lelaki tersebut menerima. Dia sendiri ingin, namun belum pernah memikirkan bagaimana pekerjaan dan kehidupan sehari-hari akan berubah selain gambaran yang terasa menyenangkan.
"Yang itu perlu kita pelajari lagi," ujarnya.
Erika tersenyum. Dia menuliskan satu kata pada halaman berikutnya, tidak sebagai janji yang harus cepat dipenuhi, melainkan hal yang akan dibicarakan bersama ketika waktunya datang. Percakapan hari itu masih berisi kehidupan mereka berdua yang akan mulai dibangun lebih dahulu.
Pertanyaan mengenai Aldin tidak dapat dihindari. Gadis tersebut menutup buku sebentar sebelum mengucapkan nama kakaknya.
"Aku tidak akan meminta Mas kembali menjadi sahabatnya," ujarnya. "Tapi dia tetap kakakku. Aku ingin kita tahu bagaimana kalau ada acara keluarga."
Jo menarik napas. Tidak ada jawaban yang membuat semua pihak langsung nyaman. Dia masih belum ingin duduk lama bersama Aldin dan Caca, terutama pada acara yang mengharuskannya terlihat akrab.
"Aku bisa mengatakan kalau belum sanggup," jawabnya. "Dan aku tidak ingin kamu berhenti bertemu keluargamu agar aku tidak perlu menghadapi rasa itu."
Erika mengangguk. Mereka membicarakan kemungkinan datang pada waktu berbeda, pertemuan yang memang tidak perlu dihadiri semua orang, dan pentingnya tidak meminta Ibu menjadi pengatur perdamaian.
"Kalau suatu hari kita menikah, soal siapa hadir perlu dibicarakan lagi," ujar gadis itu.
"Iya. Bukan diputuskan oleh orang yang merasa semua akan selesai kalau ada foto bersama."
Erika tersenyum kecil, merasa pertanyaan yang paling ditakutkan tidak berubah menjadi pertengkaran. Mereka belum menentukan semua, tetapi dapat menyebut keadaan nyata tanpa berpura-pura dua keluarga tidak menyimpan luka.
Jo kemudian bertanya mengenai hal yang ingin Erika ketahui dari dirinya. Gadis tersebut menyebut bagaimana pekerjaan perusahaan dapat membuatnya mengambil keputusan cepat, dan apakah kebiasaan itu akan terus dibawa pulang.
Lelaki itu berpikir, mengakui kadang masih. Erika pernah melihatnya menyarankan melepas pekerjaan baru hanya karena waktu mereka tidak cukup. Mengingat kejadian itu membuat dirinya tidak dapat menjawab seolah sudah berhasil berubah selamanya.
"Aku perlu belajar berhenti sebelum memberi keputusan untuk hal yang bukan hanya milikku," katanya.
"Dan aku perlu mengatakan kalau ndak setuju sebelum diam terlalu lama," jawab gadis tersebut. "Aku juga bisa membuat orang lain menebak karena mengira kalau bilang semuanya akan rusak."
Mereka saling memandang, lalu tertawa pelan karena daftar di meja tidak terlihat seperti percakapan yang biasa dibayangkan orang saat membicarakan menikah. Namun, Erika merasa lebih dekat justru karena dapat melihat kegugupan Jo tanpa harus dianggap merusak suasana.
Setelah makanan habis, mereka berjalan sebentar. Jo tidak mengambil buku kecil untuk memeriksa apakah semua pertanyaan sudah selesai. Gadis itu menyimpannya sendiri, lalu meraih tangan lelaki tersebut saat jalan cukup lapang.
"Aku tetap ingin," ujarnya.
Jo menoleh. "Menikah?"
Erika mengangguk, wajahnya hangat. "Setelah semua pertanyaan tadi, aku tetap ingin membangun itu bersama Mas."
Lelaki tersebut berhenti sejenak, memandang gadis yang dahulu datang membawa daftar wawancara untuk kisah orang lain. Kini daftar itu berisi keinginan mereka sendiri, dan dia tidak perlu menuliskan jawaban agar terasa lebih pantas.
"Aku juga," katanya. "Aku ingin bicara kepada Ibumu setelah kita cocokkan waktu. Dan aku perlu bicara kepada Daddy."
"Baik. Aku akan memberi kabar kepada Ibu. Jangan membuat beliau mendapat kunjungan mendadak dengan maksud yang belum diketahui."
Jo mengangguk, menggenggam lebih erat sebentar. Mereka meneruskan jalan, tidak menyebut tanggal yang belum dipilih, dan tidak berusaha membuat seluruh rencana selesai sebelum sore berakhir.
Malam itu, setelah mengantar Erika, lelaki tersebut menemui Daddy. Jack mendengar keinginan menikah, lalu menanyakan apakah gadis itu sudah mempunyai kesempatan menyatakan hal yang penting baginya.
Jo mengatakan mereka baru membicarakan banyak hal, termasuk tempat tinggal. Dia mengaku khawatir jika mencari rumah sendiri membuat Daddy merasa sepi.
Lelaki yang lebih tua memandang cukup lama, kemudian tersenyum.
"Daddy bisa merindukan tanpa berarti kalian tidak boleh membangun rumah sendiri."
Jo menunduk, merasa kelegaan datang bersama malu karena telah hampir menggunakan perasaan yang belum pernah ditanyakan sebagai alasan mempertahankan pilihan awal.
"Daddy ingin datang sebagai orang yang diundang," lanjut Jack. "Bukan alasan kalian terus menunda menentukan tempat."
Percakapan berlanjut pada rencana menemui Bu Mei dan hal yang perlu dipersiapkan dengan tenang. Di kamar barunya, Erika juga sedang berbicara kepada Ibu, mengatakan dirinya serta Jo telah mulai membicarakan menikah dengan lebih sungguh-sungguh.
Bu Mei mendengar, menanyakan apakah putrinya merasa cukup bebas mengatakan tidak setuju. Gadis itu mengiyakan, menceritakan pilihan rumah yang masih akan dicari bersama.
Setelah panggilan selesai, Erika menatap buku kecil di meja. Tidak semua baris telah mendapat jawaban. Namun, beberapa yang dahulu terasa mustahil ditanyakan kini memiliki tempat dalam percakapan.
Dia menutup buku, tersenyum, dan untuk pertama kalinya membiarkan dirinya membayangkan pulang ke rumah yang dibangun bersama Jo tanpa merasa harus meninggalkan nama Anggrek di depan pintu.