Jo terbangun setelah malam yang lebih panjang dari biasanya. Untuk beberapa detik dia mencari alasan sebelum mengingat bahwa Ammar telah meminta beberapa pemeriksaan tidak dilakukan lagi setelah semuanya benar.
Pernikahan tinggal satu hari.
Lelaki itu duduk, melihat ponsel yang belum dipenuhi pertanyaan. Ada pesan Erika dari pagi, mengatakan dirinya sudah sarapan bersama Ibu dan akan menyelesaikan barang yang perlu dibawa. Jo membalas, lalu bangkit agar hari tidak dimulai dengan terus menatap layar.
Rumah Jack telah bergerak sejak pagi. Bi Ani memeriksa kebutuhan keluarga, Lina mengumpulkan yang dititipkan, dan Kiki menanyakan mengapa sebuah kantong berada pada tempat yang salah. Tidak ada yang meneriakkan bahwa semua harus sempurna. Kekeliruan kecil diperbaiki, daftar yang benar digunakan, dan tugas tidak dipindahkan kepada orang yang kebetulan paling dekat.
Ammar menemui Jo setelah sarapan. Mereka memeriksa pakaian, barang penting, dan urusan yang memang belum dapat ditutup. Kakaknya menolak ketika adik hendak membuka ulang bagian yang telah diperiksa kemarin.
"Kalau lo terus mengulang, nanti yang belum benar-benar perlu malah tidak sempat," ujarnya.
Jo mengangguk, menahan tangan. Mereka selesai lebih cepat daripada yang diperkirakan karena tidak membuat pemeriksaan menjadi cara menyembunyikan gugup.
Daddy duduk bersama setelah rumah sedikit lebih tenang. Lelaki tersebut menanyakan apakah ada yang masih ingin dibicarakan sebelum besok. Jo mengatakan semuanya cukup jelas, lalu mengaku masih takut tubuhnya mengingat malam yang lalu pada waktu yang salah.
Jack mendengar, memberi ruang tanpa langsung menasihati.
"Kamu tidak harus menghilangkan setiap ingatan sebelum bisa datang besok," ujarnya kemudian. "Kamu perlu tahu sedang berada di hari yang berbeda, bersama orang yang telah berbicara denganmu."
Jo menatap kedua tangan. Dia mengingat Erika yang menanyakan rumah, pekerjaan, dan Ibu sebelum memberi jawaban. Ada keputusan yang dapat dikenali, bukan sekadar jadwal yang telah disusun.
"Aku tahu dia ingin," katanya.
"Pegang yang kamu tahu. Kalau ada yang belum jelas, tanyakan yang sekarang. Jangan meminta hari ini menjawab semua yang dahulu tidak kamu dengar."
Lelaki tersebut mengangguk. Percakapan berakhir ketika Bi Ani datang meminta bantuan yang sederhana. Jo bangkit, membawa sesuai arahan, merasa pekerjaan kecil justru membuat tubuh tidak terus berada pada pikiran yang berputar.
Di tempat menginap Bu Mei, Erika membuka tas untuk terakhir kalinya. Sebagian barang telah dibawa ke rumah baru dengan waktu yang diatur. Yang masih diperlukan untuk kerja tetap aman, tidak tercampur dengan pakaian acara atau kotak yang belum harus dibuka.
Ibu memeriksa kebutuhan putri, lalu menemukan satu buku catatan yang masih kosong pada bagian akhir.
"Yang ini dibawa juga?"
"Iya. Aku mungkin ingin menulis sedikit."
Bu Mei tersenyum, meletakkan pada sisi yang mudah dijangkau. Dia tidak mengatakan besok Erika harus berhenti menjadi penulis agar dapat menjadi pengantin yang tidak memikirkan apa pun selain suami.
Lina dan Iccha datang setelah urusan mereka selesai. Kiki menyusul membawa satu barang yang hampir tertinggal, menyerahkan dengan wajah yang membuat gadis tersebut langsung tahu akan ada komentar.
"Kalau lo mencarinya besok, jangan bilang barang itu hilang sendiri."
Erika tertawa, berterima kasih. Mereka membantu memeriksa seperlunya, lalu berhenti untuk makan sebelum sore dipenuhi percakapan tentang hal yang sudah benar.
Iccha mengatakan Ammar telah memegang jadwal yang sama, tidak ada salinan berbeda yang diam-diam beredar. Lina menanyakan apakah Erika ingin ditemani lebih lama atau mempunyai waktu sendiri bersama Ibu.
Gadis itu berpikir, memilih beberapa saat bersama semua sebelum malam. Dia ingin mendengar suara yang akrab, bukan terus melihat barang sambil menunggu hari berubah.
Percakapan bergerak pada hal biasa. Kiki menceritakan satu komentar mengenai buku Lina yang membuat adiknya kesal. Iccha mengeluh Ammar terus mengira pertanyaan mengenai waktu dapat dijawab dengan kata nanti. Bu Mei tertawa, sesekali menanyakan sesuatu tanpa membuat dirinya terasa tamu dalam dunia putri.
Erika melihat mereka dengan rasa hangat yang tidak harus dibayar melalui ucapan panjang. Banyak orang membantu karena ingin, dan dia dapat menerima tanpa menganggap semua pilihan kini milik orang tersebut.
Aldin tiba pada sore hari sesuai kabar. Dia menemui Ibu lebih dahulu setelah memastikan waktu tidak mengganggu. Erika sudah mengetahui, memilih menerima pada tempat yang cukup tenang sebelum malam benar-benar dimulai.
Kakaknya berdiri ketika melihat gadis itu datang. Ada senyum yang sedikit kaku, tetapi tidak ada usaha membuat mereka kembali seperti masa sebelum rahasia terbuka.
"Ka."
"Mas. Perjalanan baik?"
Aldin mengangguk, menanyakan apakah ada yang perlu dibawa atau diambil. Erika mengatakan semuanya cukup, berterima kasih karena kakaknya telah memberi kabar jelas.
Bu Mei duduk bersama. Mereka membicarakan tempat istirahat, waktu acara, dan bagian yang akan diikuti keluarga. Aldin mendengar bentuk yang disepakati, tidak mencari peran tambahan pada jeda.
Ketika Ibu masuk sebentar untuk mengambil sesuatu, lelaki itu memandang adik.
"Aku tahu Ayah tidak bisa ada," katanya pelan. "Aku tidak mau menjanjikan menggantikan. Kalau ada yang kamu ingin minta, katakan."
Erika menelan. Kalimat tersebut membuat rindu naik, tetapi tidak disertai rasa terpojok untuk menerima kakak sebagai jawaban atas semua yang hilang.
"Aku ingin kamu hadir dan menjaga Ibu kalau beliau perlu berhenti sebentar," ujarnya. "Bukan mengatur hari."
"Aku akan lakukan."
Gadis tersebut mengangguk. Dia mengatakan masih ada hal di antara mereka yang tidak sepenuhnya ringan, tetapi hari besok tidak perlu digunakan untuk membahas semuanya lagi.
Aldin menerima. Dia mengucapkan selamat sekali lagi, tidak menyebut Caca sebagai alasan harus didoakan bersama. Setelah Ibu kembali, percakapan diteruskan sebentar, lalu lelaki tersebut berpamitan agar putri dapat beristirahat.
Sebelum Aldin berangkat, Bu Mei meminta putranya menunggu sebentar. Perempuan itu memeriksa satu hal mengenai waktu besok, lalu mengatakan dirinya tidak ingin ada pesan berbeda yang diteruskan kepada keluarga karena orang merasa hari pernikahan harus menyelesaikan semua yang belum nyaman.
Aldin mengangguk. "Aku akan mengikuti yang sudah dibicarakan."
Erika mendengar, merasa lega karena Ibu tidak lagi selalu berada pada posisi menjelaskan kepada satu anak atas nama yang lain. Kakaknya menerima batas tersebut langsung, termasuk yang tidak membuat dirinya memperoleh tempat seperti dulu.
Lelaki itu kemudian menanyakan apakah buku Ayah sudah sampai ke rumah baru. Gadis tersebut mengiyakan, menceritakan rak yang telah dipilih bersama Jo. Aldin tersenyum, mengatakan Ayah mungkin akan menanyakan apakah rak cukup kuat sebelum menilai susunan.
Erika tertawa pelan. Bu Mei ikut tersenyum, lalu kenangan bergerak pada satu rak lama di Semarang yang pernah diperbaiki terlalu lama karena ayah mereka terus merasa satu sisi belum lurus.
Percakapan itu tidak mengembalikan semua yang hilang di antara kakak dan adik. Namun, selama beberapa menit, mereka dapat mengingat orang yang sama tanpa memaksa kenangan menjadi alasan memaafkan seluruh tindakan lain.
Ketika benar-benar berpamitan, Aldin menunduk kepada Ibu, lalu memandang Erika. Dia tidak memeluk sebelum tahu gadis itu ingin, hanya berdiri dengan kedua tangan yang sedikit canggung.
Erika mendekat, memberi pelukan singkat. Bukan jawaban bahwa hubungan mereka telah sepenuhnya pulih. Hari itu dia memang ingin menyapa kakaknya dengan cara yang dikenal.
Aldin membalas, melepaskan tanpa menahan terlalu lama. Matanya terlihat basah ketika mengucapkan selamat sekali lagi, lalu berjalan keluar sesuai waktu yang dijanjikan.
Setelah pintu ditutup, gadis tersebut mengambil napas panjang. Bu Mei menanyakan apakah ingin minum. Erika mengangguk, duduk, dan menunggu tanpa segera membuka daftar.
Hari itu mempunyai banyak hal yang tidak dapat dimasukkan pada kotak selesai. Ada rindu, canggung, dan kasih sayang yang masih mencari bentuk setelah luka. Namun, semuanya tidak harus menjadi pekerjaan baru sebelum besok. Sebagian cukup diterima sebagai yang memang ada, dengan ruang untuk dilanjutkan pada hari lain.
Malam datang dengan lebih banyak sunyi. Teman-teman telah pulang, pakaian tersimpan, dan barang kecil diletakkan pada tempat yang telah diketahui orang yang akan membantu.
Erika duduk dekat Ibu, membuka foto Ayah yang dibawa. Bu Mei memandang, menyentuh ujungnya dengan tangan yang perlahan berhenti bergerak.
"Aku senang, Bu," ujar gadis itu. "Tapi aku juga sedih sekali Ayah tidak ada."
Perempuan tersebut mengangguk, mendekatkan bahu. "Ibu juga."
Mereka membiarkan air mata keluar tanpa mengatakan besok seharusnya hanya bahagia. Kehilangan tetap mempunyai tempat, termasuk pada hari yang tidak ingin dibuat muram.
Setelah cukup tenang, Bu Mei menceritakan satu kebiasaan Ayah sebelum menghadapi hal penting. Dia akan mencari sesuatu untuk dibenahi, kadang benda yang sebenarnya tidak rusak, sampai istrinya meminta duduk dan minum dahulu.
Erika tertawa dengan suara yang masih bergetar. Dia mengingat beberapa kejadian, termasuk pintu yang pernah diperiksa terlalu lama ketika dirinya hendak pergi.
"Ayah mungkin akan sibuk memeriksa kunci besok," ujarnya.
"Atau menanyakan pena yang akan dipakai."
Keduanya tertawa pelan. Rindu tidak berkurang, tetapi kini hadir bersama kenangan yang dapat membuat wajah sedikit lebih ringan.
Jo menelepon pada waktu yang telah dibicarakan. Erika menjawab setelah Ibu memberi ruang, duduk dengan buku catatan yang belum dibuka.
"Sudah makan?" tanya lelaki itu.
"Sudah. Mas?"
"Sudah. Aku menjawab sebelum kamu mengancam dengan suara Bi Ani."
Gadis tersebut tertawa. Mereka bertukar kabar singkat, memastikan tidak ada yang menunggu pertanyaan lain untuk urusan besok. Aldin telah datang, jadwal keluarga jelas, dan Erika ingin tidur setelah berbicara.
Jo mengaku masih gugup. Gadis tersebut mengatakan dirinya juga, tetapi tidak sedang mempertanyakan jawaban yang sudah diberi.
"Aku ingin besok datang," ujarnya. "Aku ingin menikah dengan Mas."
Lelaki itu diam beberapa detik, kemudian menjawab dengan suara yang lebih tenang.
"Aku juga, Ka."
Tidak ada janji baru yang dibuat hanya untuk mengusir takut. Mereka sudah membicarakan yang penting, menerima bahwa pagi mungkin tetap membuat tangan bergetar. Panggilan ditutup dengan ucapan selamat malam sebelum keduanya terlalu lelah.
Bu Mei kembali duduk setelah panggilan selesai. Dia tidak bertanya apakah Jo sudah merasa sepenuhnya tenang, hanya menanyakan apakah putri ingin minum sebelum tidur.
Erika menggeleng, mengatakan sudah cukup. Perempuan tersebut merapikan sisi tempat tidur, lalu berhenti ketika gadis itu meraih tangannya.
"Terima kasih sudah di sini, Bu."
Bu Mei tersenyum dengan mata yang kembali basah. "Ibu memang ingin di sini."
Mereka berpelukan sebentar, kemudian melepaskan agar dapat bersiap tidur. Ada banyak ucapan yang mungkin diberikan besok, tetapi kalimat malam itu tidak memerlukan tamu untuk menjadi penting. Erika menyimpannya bersama suara Ibu yang sejak kecil selalu terasa seperti tempat pulang.
Erika membuka buku catatan setelah itu. Dia menulis singkat tentang hari, menyimpan foto Ayah pada tempat yang aman, lalu meletakkan pena. Tidak ada naskah jawaban yang harus dihafal untuk besok.
Di rumah Jack, Jo mematikan lampu setelah barang yang benar-benar diperlukan siap. Ammar memberi kabar akan menemuinya pagi, Daddy telah beristirahat, dan rumah perlahan tenang.
Lelaki itu berbaring, menarik napas, lalu membiarkan malam selesai. Pikiran tentang pintu yang dahulu dibuka Caca sempat datang, tetapi kali ini dia tidak mengejarnya sampai seluruh ruangan berubah menjadi masa lalu.
Ada suara Erika di telepon yang masih jelas. Aku ingin menikah dengan Mas.
Pagi tiba dengan bunyi yang bergerak lebih cepat. Iccha datang sesuai waktu, Lina membawa yang diminta, dan Kiki memastikan satu kantong benar sebelum diserahkan. Bu Mei sudah bangun, menyapa putri yang duduk dengan wajah masih setengah mengantuk.
"Hari ini," ujar Erika pelan.
"Iya. Sarapan dahulu."
Gadis itu tertawa, mengikuti. Dia makan secukupnya, minum, lalu menerima bantuan bersiap tanpa harus mengendalikan setiap tangan yang bergerak.
Pakaian yang telah dipilih kini dikenakan untuk hari sebenarnya. Rambut ditata, wajah dirapikan, dan cincin pertunangan tetap berada pada tempat yang disepakati sampai bagian berikutnya. Erika mencoba berdiri, mengambil napas panjang, lalu menatap pantulan di cermin.
Dia mengenali dirinya.
Bu Mei berdiri di belakang, kedua mata basah sebelum sempat menyusun kalimat. Iccha menyerahkan tisu, Lina tersenyum, dan Kiki mengatakan gadis tersebut harus bernapas agar foto pertama tidak terlihat seperti sedang menahan udara.
Erika tertawa, lalu memeluk Ibu dengan hati-hati. Perempuan itu memegang kedua tangannya, menatap wajah yang telah tumbuh menjadi seseorang dengan pilihan sendiri.
"Ibu di sini," katanya.
Gadis tersebut mengangguk. Ayah tetap dirindukan, tetapi dia tidak sendirian ketika melangkah.
Di ruang lain, Jo berdiri setelah Ammar membantu bagian terakhir pakaian. Daddy memandang, merapikan sedikit yang sebenarnya hampir benar, lalu menepuk bahu anak.
"Sudah siap?"
Jo menarik napas. Kali ini jawaban tidak datang karena seluruh jadwal dianggap sempurna.
"Siap, Dad."
Dia mengikuti langkah menuju tempat acara. Orang-orang yang dekat berada pada tempat yang telah disepakati, suara percakapan terdengar, dan cahaya pagi membuat ruangan berbeda dari ingatan yang sempat membuatnya takut.
Erika tiba bersama Ibu. Gadis itu melihat Jo sebelum melihat seluruh tamu. Lelaki tersebut berdiri, mata langsung menemukan wajahnya, lalu senyum yang tidak ditahan perlahan muncul.
Dia berjalan mendekat dengan langkah yang cukup tenang. Jo mengulurkan tangan, dan Erika meletakkan tangannya pada telapak yang sudah dikenali.
Untuk beberapa detik, keduanya saling memandang tanpa mencari kalimat tambahan. Pagi itu benar-benar telah datang. Di antara keluarga yang menunggu, Jo menggenggam lembut tangan seorang penulis yang memilih berjalan sampai di sisinya.