Aku duduk di sebelah Steve yang sedang menyetir. Memandangi kompas yang sudah lama sekali nggak bergerak. Dulu waktu awal aku memecahkan botol berisi puluhan jin, kompas sering sekali bergerak menunjukkan keberadaan hantu-hantu yang harus kutangkap.
Tetapi semakin lama dan semakin banyak hantu yang sudah kukembalikan ke tempatnya, jarum kompas pun semakin jarang bergerak.
Sebagai murid Ki Mengkis aku harus segera menyelesaikan tugas karena kalau hantu itu terlalu lama berkeliaran, bisa saja ia medapatkan pengikut yang malah bikin semuanya menjadi runyam.
Ngomong-ngomong soal hantu genit yang bisa berubah wujud jadi manusia ternyata adalah siluman rubah. Dia memiliki energi yang sangat kuat yang bisa memadatkan wujudnya menjadi manusia.
Kemarin hanya kebetulan saja aku ada di hotel itu saat kejadian, makanya hantu itu bisa kuringkus juga.
Pekerjaanku sebagai Chasing Ghost nggak berjalan baik. Sejauh ini hanya baru mendapatkan seorang pasien yang kerasukan hantu dan diguna-guna oleh duda bangke. Setelah itu, aku sudah nggak tahu lagi harus bagaimana.
“Kita harus memburu hantu!” ujarku tiba-tiba membuat Steve segera menoleh sesaat padaku.
“Kita kan mau liburan, Hon. Masa masih bahas kerjaan sih,” protesnya.
“Perasaan dulu kamu deh yang serius soal kerjaan, Steve?” Aku agak menelengkan kepala sambil mengingat masa lalu yang ternyata sangat seru.
“Kamu kan belum kenal aku, Hon. Aku serius waktu Peter yang menguasai, kalau sudah jadi aku ya aku yang sekarang mencintaimu, Honey Bunny Sweety!”
Rasanya jadi mual kalau Steve sudah menyebutku honey bunny sweety. Lebay banget dah. Dia malah tertawa terbahak-bahak waktu tahu aku pura-pura mau muntah.
HP-ku tiba-tiba berbunyi nyaring. Lagu Bang Jono dari Zaskia Gothic membuatku segera merogoh tas. Nama Ki Mengkis menghiasi layar membuatku segera mengangkat teleponnya.
Aku : Halo, Ki. Ada apa?
Ki Mengkis : Bunga, ada kerjaan mendadak. Kalian harus cepat kesana. Nanti aku kirimkan petanya.
Aku : Ada apa sih, Ki?
Ki Mengkis : Sudah, pokoknya kesana dulu baru aku jelasin masalahnya.
Aku : Sekarang sambil jalan kan bisa, Ki.
Steve : Kita libur, Ki. Jangan suruh kerja rodi dong. Kapan Bunga hamil anakku kalau diganggu terus.
Ki Mengkis : Bunga masih lama hamilnya. Santai saja. Kalau sudah waktunya, kalian bisa libur tiga tahun.
Aku : Lama amat 3 tahun.
Ki Mengkis : Memang segitu jatah cuti melahirkan di POLIKHUSTRAL. Setahun sebagai kehamilan, dua tahun masa menyusui.
Steve : Kalau begitu buatkan saja ritual biar Bunga cepat hamil. Aku nggak sabar pingin gendong Bunga junior.
Aku : Jangan dengerin, Ki. Steve emang edan.
Ki Mengkis : Nggak kaget.
Aku : OK, aku dan Steve langsung kesana. Kasih saja petanya ya.
Nggak lama kemudian Ki Mengkis sudah mengirimkan peta yang menunjukkan tempat yang harus kami kunjungi.
Steve jadi kesal karena Ki Mengkis malah memberi kami tugas padahal seharusnya kami libur seminggu. Kalau aku sih selama hal itu bisa menolong orang, semua nggak jadi masalah.
Steve mau nggak mau mengikuti rute yang ditunjukkan sama Ki Mengkis. Membuat kami semakin menjauhi kota dan jalan utama. Melewati jalanan yang nggak enak dan naik turun dengan tikungan yang tajam.
Pemandangan rumah-rumah dan pertokoan pun kini berubah menjadi sawah lalu semakin lama malah menjadi hutan pinus dan hutan jati. Suasana yang ramai pun kini berubah menjadi mendung dan berkabut yang lumayan tebal.
Sudah tiga kilometer lebih perjalanan tapi nggak ada pemandangan lain selain hutan pinus dan hutan jati secara bergantian. Aku bahkan mulai ragu apakah kami memilih jalan yang benar. Hanya saja menurut peta memang ini jalan yang tepat.
Beruntung mobil kami SUV yang memang diperuntukkan medan-medan berat dan terjal seperti ini, andai mobil lain mungkin bakal mundur atau malah mogok.
Semakin lama hari semakin gelap. Setelah melewati sebuah desa dengan rumah-rumah sederhana, pemandangan kembali hanya hutan pohon jati dan jurang.
Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, akhirnya kami tiba di sebuah pemukiman kecil yang hanya berisi beberapa rumah sederhana.
Kabut turun semakin tebal. Pohon-pohon yang rimbun perlahan mulai nggak kelihatan. Rumah-rumah yang tadi terlihat catnya pun semakin lama juga semakin nggak kelihatan. Jarak pandang hanya sekitar satu meter saja.
Steve mengemudi dengan hati-hati dan pelan. Takut kalau ada anak-anak muncul kan takut menabrak mereka.
Suasana desa sangat sepi seperti nggak berpenghuni, bikin aku dan Steve heran dengan situasi yang seperti ini.
Sesepi-sepinya sebuah desa, biasanya masih ada satu dua orang yang duduk-duduk di teras. Apalagi jam masih menunjuk angka empat sore, seharusnya ada anak-anak yang mengaji atau sekedar bermain bersama teman-temannya.
Tapi ini benar-benar sunyi dan senyap.
Dimana orang-orang?
Jarum kompas yang ada di pangkuanku berputar-putar lalu menunjuk ke depanku. Masalahnya kabut sudah terlalu tebal jadi kami nggak bisa melihatnya.
Hantu seperti apa kali ini?
Tiba-tiba seseorang datang sambil berlari mendekat. Seorang wanita berambut panjang keriting melihat kami dengan muka panik. Steve langsung mengerem mendadak hingga badanku mendal. Untung badan ditahan sabuk pengaman makanya nggak sampai jatuh ke depan.
Perempuan itu memukuli kap mobil smabil menangis tersedu-sedu. Suara riuh warga juga terdengar sangat keras. Tapi anehnya, nggak ada siapapun selain perempuan itu.
Aku hendak keluar untuk menolong perempuan tadi, tapi Steve menahan tanganku tanpa mengalihkan pandangan dari perempuan yang sedang bersitatap dengannya.
Wajah panik dan ketakutan itu tiba-tiba berubah menyeringai menakutkan. Tanpa diduga, perempuan yang memakai daster batik itu naik ke kap dan mukanya dipukul-pukulkan ke kaca mobil.
Suara pukulannya sangat keras dan lama-lama kepalanya berdarah.
“Steve, kita harus menolongnya!” ujarku karena merasa kasihan padanya. Bisa saja dia ODGJ yang keluar dari rumah sakit jiwa kan.
“Jangan, Hon. Terlalu bahaya!” ujar Steve yang membuatku heran kenapa Steve malah menyuruhku diam.
“Tapi dia bisa terluka parah kalau begitu terus,” ujarku sambil memandang perempuan yang terus-terusan memukulkan wajahnya ke jendela kaca depan.
Empat orang laki-laki tiba-tiba datang. Dua diantaranya memegangi tangan perempuan itu lalu menariknya mundur. Sementara dua orang lagi menggedor pintu kanan dan kiri. Steve membuka kedua jendela untuk mengetahui kedatangan mereka.
“Cepat turun, sebelum semuanya terlambat!” ujar pria yang ada di samping Steve.
Dengan begitu nggak sopan, pria itu menarik tangan Steve dan pria yang ada di sebelahku, menarik lenganku juga. Mau nggak mau aku melepaskan sabuk pengaman dan segera melompat turun dari mobil.
“Maafkan saya, tapi sebaiknya kita berpegangan tangan karena kabut bisa menyesatkan kita!” ujar pria itu sambil menggandeng lenganku.
Meski aku nggak nyaman dipegang pria asing, tapi karena Steve menurutinya jadi aku pun mengikuti saja.
Aku menoleh ke belakang dan aku masih bisa melihat perempuan itu masih memukul-mukulkan wajahnya ke jendela hingga jendela menjadi merah karena darah.