“TUTUP PINTUNYA!” perintah Peter waktu aku dan dia mendorong zombie-zombie agar mundur.
Kali ini aku bisa menggunakan kekuatanku dengan lebih bebas. Bahkan meskipun gelap aku bisa merasakan begitu banyak yang ingin datang mencoba untuk mendapatkan kami semua.
Membuat mereka mundur bukan perkara yang mudah. Aku harus mengeluarkan tenaga dalam dengan kuat untuk menciptakan api yang besar.
Aku nggak akan membiarkan mereka mendekati pintu. Nggak mau ada korban lagi karena ini benar-benar mengerikan.
“Steve, ap akita harus membunuh mereka?” tanyaku karena aku ragu-ragu. Bagaimanapun mereka manusia. Aku akan sangat berdosa kalau seandainya mereka bisa disembuhkan tapi malah terbunuh olehku.
Kalau mereka memang kena katakanlah sihir yang sama seperti yang terjadi pada beberapa orang yang kena guna-guna dukun hingga mereka menjadi tukang kumpulin duit korban hacker di ATM.
Jadi aku hanya menggunakan sedikit ajian dan tenaga dalam, sisanya aku menggunakan banyak sekali tenaga untuk melawan mereka dengan bela diri yang kubisa.
“HONEY, MASUK!” perintah Steve waktu akhirnya kami bisa membuat mereka mundur beberapa langkah.
Tapi kalau aku mundur kasihan Peter. Dia pasti kewalahan kalau memblokade mereka.
“Kita mundur sama-sama. Aku nggak bisa membiarkanmu melawan mereka sendiri!” ucapku sambil terus melemparkan bola api kuning yang hanya membakar pakaian mereka.
Melihat Siti yang kepanasan aku yakin kalau panas mempengaruhi tubuh mereka. Siapa tahu dari serangan itu bisa mengembalikan kesadaran mereka. Meskipun belum tahu, aku hanya berharap kalau mereka bisa hidup normal lagi.
“Honey, kuhitung sampai tig akita mundur!” perintah Peter. Kali ini aku setuju dengan perintahnya.
Peter membuat pagar api membentuk huruf U biar kami bisa masuk rumah dengan cukup waktu.
Aku mundur dengan cepat diikuti Peter yang ada di belakangku. Setelah masuk rumah, saat pintu mulai ditutup aku melihat mereka akhirnya memilih mundur.
Aku dan semua orang yang tadi bertarung dengan zombie akhirnya bisa bernapas lega dan langsung menjatuhkan badan di lantai yang kotor.
“Cak Tarjo, maafkan kami nggak bisa menjagamu,” ujar Pak Parman dengan wajah murung.
“Kalian yang di kamar, bisa keluar sekarang!” ujar Pak Parman dengan suara lemah.
Nggak lama kemudian pintu-pintu kamar terbuka. Orang-orang yang sembunyi di kamar pun keluar. Wajah mereka jauh lebih tampak ketakutan daripada kami yang tadi melawan mereka.
“Cak Tarjo, sudah menjadi zombie,” ujar Pak Parman membuat seorang wanita meneteskan airmata sambil tersungkur. Menutup wajah lalu mulai sesenggukan. Sedetik kemudian seorang cewek yang baru beranjak remaja dan juga cowok yang usianya hampir sama denganku pun ikut menangis di sebelah istri Pak Tarjo.
“Seharusnya kamu membantu ayahmu,” ujar Pak Amir sambil melirik anak muda yang masih menangis tersedu-sedu sambil memeluk ibunya.
Pak Amir terlihat sekali kalau sedang kesal. Aku nggak tahu ada masalah apa yang mendasari hal itu. Tapi aku yakin ada masalah pribadi yang membuat Pak Amir semarah itu, selain urusan serangan zombie.
“Sudahlah. Kalau dia nggak mau membantu kita. Biarkan dia sembunyi bersama perempuan dan anak-anak,” sergah Pak Parman sepertinya biar nggak terjadi perang mulut.
“Untuk sekarang, yang bisa kita lakukan adalah menunggu pagi,” kata Pak Parman.
“Memang kenapa harus menunggu pagi?” tanyaku heran.
“Mereka nggak muncul waktu pagi sampai sore sebelum ashar. Tapi ashar sampai mendekati subuh, mereka akan terus mencari korban,” terang Pak Parman.
Aku memejamkan mata sesaat. Tubuhku melemah setelah bertarung tiada henti entah berapa lama. Sudah lama aku nggak bertarung lama dan melibatkan banyak orang.
Peter duduk di sebelahku. Aku pun langsung meletakkan kepala di pundaknya. Nggak peduli missal jadi tontonan atau malah jadi cemoohan. Saat ini aku butuh istirahat.
“Malam ini kita harus gentian jaga. Rohman, kamu menggantikan ayahmu jaga sekarang sampai nanti tengah malam,” ujar Pak Parman membuat anak tinggi, kurus dan kulitnya hitam manis itu terpaku tapi nggak punya pilihan lain.
Pak Parman membuat jadwal jaga dengan cepat. Bergantian dua jam sekali agar sama-sama mendapatkan jatah tidur cukup lama.
Aku sendiri nggak dapat bagian jaga karena perempuan memang nggak boleh ikut jaga. Perempuan dan anak-anak yang paling dilindungi. Makanya waktu ada serangan anak-anak dan ibu-ibu langsung sembunyi.
“Kenapa perempuan nggak boleh jaga? Kita bisa memakai perempuan dewasa untuk membantu pria berjaga. Nanti kalau ada apa-apa, tinggal membangunkan semuanya,” ucapku membuat para wanita matanya melebar kecuali istri Cak Tarjo.
“Saya setuju. Saya bisa ikut membantu jaga, Pak Kades,” ujarnya dengan penuh percaya diri.
“Nggak bisa. Sejak turun temurun, perempuan dan anak-anak ditakdirkan untuk dijaga. Biarkan kami yang jaga dan melawan mereka. Kalian bersembunyi saja dengan baik,” ujar Pak Parman membuatku heran.
Hari gini masih ada patriarki? Ini jaman internetlah, jaman emansipasi. Seharusnya Pak Parman nggak beda-bedain warga berdasarkan gender.
Aku mau protes tapi Peter meremas tanganku yang membuatku nggak jadi protes. Padahal untuk sekarang siapapun bisa ikut membantu, kecuali anak-anak tentu saja.
“Mbak Bunga orang sakti, padahal perempuan,” ucap istri Cak Tarjo bikin aku heran apa maksud ucapannya.
Tapi lagi-lagi Peter meremas tanganku untuk menghentikanku bicara. Seakan dia tahu kalau akum au bersuara. Duh, kayaknya tempat ini sendeso-ndesonya tempat yang pernah kukunjungi.
“Kamu istirahat dulu. Badanmu kelelahan. Aku nggak mau kamu sakit,” ucap Peter membuat Pak Parman menatapku dengan senyum yang lembut.
Peter memang benar. Kalau aku tetap memaksakan diri untuk ikut berjaga, aku sendiri yang akan rugi.
Aku masuk ke kamar yang berada di seberangku. Tiduran di ranjang yang dingin dan keras bikin aku ingat rumahku yang dulu.
Memandang langit-langit kamar yang gelap, pikiranku jadi kemana-mana. Aku jadi semakin susah tidur meski badanku sudah berbaring. Aku mengganti posisi tidur beberapa kali hingga akhirnya pagi datang.
Aku tidur seperti orang mati. Nggak ada mimpi nggak ada apapun selain kegelapan. Waktu bangun aku merasa baru tidur sekilas tapi rupanya aku sudah tidur sejak jam 10 sampai jam 6 pagi.
Berjalan keluar rumah, aku melihat pintu yang dibuka lebar. Orang-orang sedang memiliki kesibukan masing-masing. Para ibu-ibu ada di dapur untuk memasak. Para pria sedang mempersiapkan senjata yang entah mereka ambil darimana.
Anak-anak duduk sambil bercerita seru dan aku hanya duduk di samping pilar sambil memperhatikan ibu-ibu memasak dan bapak-bapak menyiapkan senjata tajam yang akan digunakan untuk melawan zombie.
***
Aku sangat bersyukur karena masih bisa makan meskipun dengan menu sederhana. Semua orang berada di ruang tamu. Pintu dibiarkan terbuka karena mereka yakin semua terasa aman kalau pagi hari.
Aku menikmati makan nasi dan telur dadar yang mereka dapat dari peternakan yang ada di belakang rumah mereka.
Anak-anak pun menikmati makanan dengan tenang. Nggak seperti anak-anak yang kutahu, kalau sudah berkumpul pasar emak-emak saja kalah.
Saat aku menikmati makanan, tiba-tiba seseorang berada di depan pintu yang membuat semua orang menjadi panik.