Situasi nggak terkendali. Teriakan minta tolong dan suara serak zombie yang siap menyantap orang yang masih hidup ada dimana-mana.
Seorang wanita menggedor-gedor pintu minta tolong agar diperbolehkan masuk. Tapi nggak lama kemudian teriakan minta tolong itu berubah jadi jerit kesakitan. Tubuhnya lunglai, jatuh dengan keras kemudian kejang-kejang hingga akhirnya nggak sadarkan diri.
Anak muda yang tampak gagah, sedang berlari dengan tangannya yang berdarah-darah, nggak lama kemudian ambruk di atas tanah, kejang-kejang lalu nggak sadarkan diri.
Setelah nggak sadarkan diri beberapa lama, orang-orang yang tergigit zombie akan bangun dengan mata putih semua. Badannya jadi kaku tapi gerakannya stabil dan tujuannyahanya satu yaitu menggigit orang-orang yang belum menjadi zombie.
“Tolong … tolong!” Seorang gadis memanjat pohon untuk menghindari kepungan zombie yang ada di bawahnya.
Zombie-zombie itu menggapai-gapai tapi untungnya nggak bisa memanjat. Sesuatu hal yang baru aku ketahui membuatku memutar badan dan teryata ada dua zombie perempuan yang mulai menyadari keberadaanku.
Dua zombie itu memamerkan gigi-giginya yang merah bekas darah lalu berjalan cepat mendekatiku. Nggak pake lama aku mengeluarkan ajian untuk membuat mereka berdua terbakar.
Nggak ada pilihan lain kalau ingin menyelamatkan sisa orang-orang yang masih bisa diselamatkan. Jadi aku mulai menyerang zombie-zombie dengan bola api kuning yang membuat badan mereka terbakar.
Karena ulahku, banyak tempat akhirnya terbakar hebat. Tapi itu lebih baik daripada korban semakin banyak.
“Serang d**a mereka!” ujar Peter tiba-tiba membuatku sangat senang karena dia selamat.
“Bagaimana kalau mereka mati dan nggak bisa disembuhin?” tanyaku, ragu-ragu kalau harus membunuh zombie yang mungkin ada harapan.
“Sampai kapan aku harus bilang. Mereka sudah mati. Sudah nggak bisa diselametin,” kata Peter.
Peter menggunakan kekuatannya dengan membentuk tali merah lalu menusukkannya tepat di d**a zombie. Zombie yang terkena tusukan langsung ambruk dan nggak bangun lagi.
Aku pun nggak bisa tinggal diam. Akhirnya menuruti permintaan Peter daripada harus menghabiskan semua nyawa di tempat ini.
Aku terlalu fokus pada zombie di depanku sampai akhirnya ada zombie yang menangkapku dari belakang. Aku langsung membungkuk dan menjatuhkannya ke tanah lalu menusuk dadanya dengan tenaga dalam.
Sejujurnya aku nggak tega, bahkan meskipun muka mereka seburuk itu tapi tetap saja aku melihatnya sebagai manusia. Aku membunuh mereka setelah mereka terbunuh oleh zombie yang menggigitnya demi menyelamatkan warga yang masih bersembunyi dengan perasaan ketakutan.
Semakin lama, zombie yang ada pun semakin berkurang aku berdiri dengan napas terengah-engah. Lelah karena sudah mengeluarkan banyak tenaga untuk menghabisi zombie yang jumlahnya sekan nggak habis-habis.
Dari arah kiri, aku melihat seseorang berdiri di belakang rumah warga. Pria itu melihatku dan kemudian berlari kencang. Bikin aku jadi penasaran kenapa dia lari dariku bukannya lari dari zombie?
Aku mengikutinya tapi dia sudah menghilang. Aku nggak mau berhenti mencari karena bisa jadi dari dia aku mendapatkan jawabannya.
Aku masuk ke sebuah jalan setapak yang berbatu. Jalan yang menanjak dan bebatuan yang nggak rata membuatku kesulitan untuk mendakinya.
Napasku pendek-pendek dan semakin lama jalanan semakin curam. Tiba-tiba ada zombie turun mendekatiku dengan wajah yang sangat mengerikan. Nggak hanya matanya yang putih, tapi mukanya menghitam dan sebagian lagi merah mengelupas karena terkena luka bakar hebat.
Mengalahkan zombie bukan hal yang sulit karena aku punya banyak kekuatan, tapi mencari orang itu bukan perkara yang mudah.
Di ujung jalan yang curam ternyata hanya ada jurang yang dalam. Hari mulai agak gelap dan itu membuat pandanganku semakin nggak jelas.
Aku harus kembali karena kalau nggak ingin kena bahaya. Tapi waktu aku memutar badan tiba-tiba seseorang memukul kepalaku.
***
Suara berisik sekali perlahan mengisi kepalaku. Suara itu semakin lama semakin jelas. Aku membuka mata dan perlahan kesadaranku muncul. Aku duduk di sebuah kursi dengan kedua tangan diikat di belakang.
Aku mengamati seluruh tempat ini. Meskipun sangat terbatas tapi aku tahu kalau aku ada di dalam sebuah gua.
Berada di dalam sebuah kotak yang menggantung dimana banyak sekali zombie di bawahku yang terus bersuara dan menggapai-gapai ke arahku.
Aku jadi seperti burung yang dipenjara dalam sangkar. Sialnya, kalau aku keluar dari sangkar ini pasti nggak akan selamat.
Mengalahkan satu dua zombie itu perkara mudah, tapi kalau jumlahnya ratusan bahkan mungkin ribuan itu perkara lain.
Aku memperhatikan zombie-zombie yang berusaha menggapaiku. Tapi ada satu orang yang menarik perhatianku karena hanya dia yang diam nggak ngapa-ngapain. Anehnya, nggak ada zombie yang ingin memakannya.
Duh andai aku bawa kompas pasti aku tahu apakah dia hantu terakhir atau bukan.
“Woy, kamu!” seruku kepada orang yang terdiam itu.
Orang itu langsung mendongak, kulit wajahnya putih dan di atas bibirnya ada kumis beruban tapi kulitnya masih kencang. Jadi kupikir umurnya belum lima puluh tahunan.
Orang itu menunjukku lalu menggerakkan badannya hingga beberapa zombie menumpuk jadi zombie-zombie yang lain bisa memanjat mereka dan itu membahayakan diriku.
“Aduh gimana ini….” Sementara kedua tangan dan kakiku diikat. Tempatku digantung di dalam kotak bergerak kesana kesini karena dijadikan rebutan zombie-zombie yang kelaparan.
Dalam kondisi terbatas, aku harus berusaha untuk menyelamatkan diri dengan bergerak cepat menghindari jari-jari zombie yang bisa menelusup masuk melalui cela-cela sangkar yang terbuat dari besi.
Kayaknya ini akan jadi akhir hidupku. Aku sedih harus meninggalkan orang-orang yang kucintai dan kusayangi. Aku nggak akan bisa melanjutkan misi mengumpulkan semua jin yang kulepas kembal ke botol.
Kotak sangkar yang mengurungku terus terombang-ambingl. Para zombie berebutan ingin menggigitku dan menghisap darahku bahkan mungkin memakan dagingku.
Airmataku meleleh dan aku mulai menangis sesenggukan. Duh membayangkan gimana sakitnya dimakan zombie aja aku sudah merasa ngeri.
Kotak sangkar itu melayang-layang dan terbolak-balik di atas tangan-tangan zombie yang menginginkanku. Jari jemarinya menyentuh kulitku. Beruntung ukuran teralis sangat rapat jadi nggak sampe bisa melukaiku.
“BUNGA, HONEY!” Tiba-tiba suara Peter membuat suara ramai zombie menghilang begitu saja.
Zombie-zombie itu sontak memandang ke sumber suara. Membuatku ikut melihat ke Peter yang datang bersama Ki Mengkis.
Dengan menggunakan ilmu kanuragan, Ki Mengkis mengeluarkan jurus yang membuat zombie-zombie itu mematung.
Peter datang dan langsung membakar besi dengan tangannya yang menyala hingga akhirnya besi pun terbuka.
Peter membebaskanku dari tali yang mengikat tangan dan kakiku. Setelah itu kami pun berlari melewati zombie-zombie yang masih membeku.
“CEPAT KELUAR DARI TEMPAT INI!” teriak Ki Mengkis.
Tepat waktu aku dan Peter sampai di bibir gua, zombie-zombie itu kembali bergerak. Awalnya mereka tampak kebingungan tapi nggak lama kemudian mereka melihat ke arah kami.
Aku, Peter dan Ki Mengkis pun akhirnya keluar dan ternyata warga desa sudah bersiap melakukan sesuatu untuk menolongku.
Pak Parman dan beberapa warga melemparkan banyak sekali bom molotov. Aku pun nggak tinggal diam, aku langsung melemparkan bola api kuning, Peter membuat api bola merah dan Ki Mengkis membuat ajian yang kuat sampai tembok-tembok gua runtuh dan akhirnya gua benar-benar tertutup oleh longsoran tanah.
Para warga bersorak sorai, merasa senang karena bisa mengalahkan puluhan dan bahkan mungkin ratusan zombie.
“TANGKAP ORANG ITU!” teriakku saat melihat pria yang tadi bisa mengendalikan zombie ikut-ikutan bersorak kegirangan.
Dikira aku lupa sama wajahnya kali. Dasar nggak punya malu. Sudah membuat huru-hara sebesar ini, nggak bisa dibiarkan.
Para warga desa langsung gerak cepat. Menangkap orang itu dengan sangat mudah dan menahannya.
“Siapa kamu? Kenapa kamu bisa mengendalikan mereka?” tanyaku tanpa tedeng aling-aling alias tanpa basa-basi.
Laki-laki itu tertawa terbahak-bahak membuatku memandang dua orang yang sedang menahan lengannya.
“Maafkan aku, Mbah. Aku gagal,” ujarnya.
Tiba-tiba sesuatu yang ajaib tapi menyeramkan terjadi. Tubuhnya tiba-tiba membiru dan urat-urat di lehernya mencuat dan berwarna biru juga. Dua orang yang menahan tubuhnya pun sontak melepaskannya begitu saja.
Pria itu menggelepar di atas tanah. Nggak lama kemudian ia nggak sadarkan diri. Nggak sampai disini, tiba-tiba matanya terbuka. Warna iris yang normal pun berubah putih semua. Sekali lagi ia menggelepar hebat hingga perlahan terbangun dengan badan sekaku mayat.