“Tunggu sebentar!” ujar Eun Woo tiba-tiba mengangkat kedua tangan sambil memutari arena yang berbentuk kotak sekitar dua meteran.
Aku langsung berdiri tegap demi mendengarkan apa yang hendak ia katakan. Meskipun begitu, aku tetap dalam mode siaga, siapa tahu mendadak dia menyerangku.
“Melawan perempuan itu nggak adil,” ujarnya bikin aku mau tertawa.
“Bilang aja takut,” ledekku.
Orang-orang Korea yang melihat percakapan ini saling memandang sebab nggak ngerti artinya. Karena aku nggak bisa menerjemahkannya dalam bahasa lain, jadi aku cuek saja. Yang penting urusanku dengan hantu yang merasuki Eun Woo selesai.
Eun Woo tertawa terbahak-bahak, antara dia membenarkan perkataanku atau malah dia menyepelekan aku karena aku cewek.
“Begini saja. Bagaimana kalau kita taruhan,” ajaknya yang la