“Ini silakan diminum dulu,” kata Bapak Sarjimin.
Dia bahkan repot-repot membuatkan kami segelas teh hangat meski sedang merasa kebingungan. Padahal cuaca di luar juga nggak terlalu dingin walaupun hari sudah sore. Tapi kami tetap menerima pemberian minuman dengan senang hati. Karena sudah beberapa menit berlalu dan tenggorokan kami mulai terasa kering.
“Terima kasih, Pak,” balas Steve mendahuluiku.
Bapak Sarjimin kembali duduk ke tempatnya dan tersenyum. Kayaknya, Bapak Sarjimin ini orangnya hangat sekali. Sudah murah senyum, baik hati dan nggak pelit pula. Benar-benar calon mertua idaman semua menantu perempuan kalau begini caranya. Sayangnya, aku nggak masuk ke dalam kriteria. Kecuali jika aku harus memecat Steve sebagai suamiku dan menikahi Ramli sebagai gantinya.
Ah, tapi nggak mun