Dan untuk menutupi rasa canggungku, aku hanya bisa menampilkan senyum termanis yang kumiliki. Meski tentu saja, semua orang pasti tahu bahwa senyum itu dipaksakan.
“Mbak dan Mas ini … pengantin baru, ya?” Bapak Mamat melebarkan senyumnya. Kelihatan sekali, kalau beliau ini mau menggoda kami, karena kalimat yang keluar selanjutnya adalah.
“Soalnya masih anget-anget kaya … itunya kucing, hehehe.” Ish, kok disamain sama itunya kucing sih, aku berusaha untuk tetap tersenyum meskipun kaget sama persamaan t*i kucing. Duh, dasar bapak-bapak.
Bapak Sarjimin tertawa mendengarnya. Pasti karena merasa lucu, maklumlah Namanya juga satu generasi, jadi leluconnya sama saja. Ternyata Bapak Sarjimin punya kelemahan juga.
Sementara Steve tersenyum dan membalas. “Ah, bapak ini. Tau aja.”
Memang semua