Suara berisik yang sayup-sayup kudengar, justru menjadi suara yang berhasil membangunkanku dari mimpi buruk yang enggan kulihat lagi. Kubuka mataku dengan perlahan, karena jujur saja, rasanya kepalaku ini masih terasa pusing.
Namun ketika kedua mataku terbuka sempurna, pemandangan langit-langit yang didominasi oleh cat berwarna putih justru membuat keningku berkerut. Seingatku, plafon di rumah Pak Juli menggunakan warna cat yang lebih kekuningan dibandingkan putih. Akupun mengedarkan pandanganku ke sekeliling.
Beberapa alat medis yang tampak memenuhi ruangan, membuatku menyadari bahwa kini aku nggak berada di rumah klien kami, melainkan di rumah sakit.
“Udah bangun, Hon?”
Suara Steve memecah keheningan yang sempat menyelimuti ruangan ini. Aku yang sebelumnya masih memandangi sekeli