"Sayang, kamu udah bangun?"
Sebelum sempat aku mendapati langit-langit kamarku yang berwarna putih, suara Steve sudah lebih dahulu menyeruak ke telinga. Aku membuka mataku, lalu mengerjap beberapa kali, sebelum kemudian menoleh dengan perlahan ke arah Steve. Pria itu kini merendah, berjongkok sembari menatapku dengan perasaan lega.
"Steve."
"Iya, Hon. Kamu udah mendingan?"
Kini, kesadaranku telah sepenuhnya pulih. Aku mengangguk dan berusaha bangun dari tempat tidur.
"Eh, eh, mau kemana?" Steve panik dan ikut-ikutan berdiri. Tangannya yang kokoh itu membantuku menyiapkan bantal, agar aku bisa bersandar di dinding.
"Kamu emangnya udah baikan? Lebih baik di sini dulu." Aku bisa merasakan kekhawatirannya yang sudah sangat tinggi. Aku jadi sedih karena sudah bikin dia khawatir padaku.