“Dimana mereka?”Suara seorang pria yang cukup keras membuatku sadar kalau mereka sangat dekat.
Aku dan Peter menempel di dinding tanah sambil berharap nggak ketahuan. Karena kalau sampai ketahuan maka misi kami pun pasti gagal. Menahan diri dari bau busuk yang sangat menyengat. Ini jauh lebih buruk dari yang pernah aku cium sebelumnya.
Tempat ini sangat gelap bahkan sinar bulan nggak menembusnya.
Sesuatu bergerak di atas kakiku. Nggak hanya satu tapi banyak sekali yang bergerak pelan yang bikin aku sangat panik. Aku menyibaknya dengan tangan tapi sesuatu itu terus naik ke kakiku bahkan masuk lewat celanaku.
Sebuah cahaya senter masuk ke lubang dimana kami bersembunyi. Dari cahaya senter itulah aku melihat sesosok mayat menyeramkan yang sudah rusak dan dipenuhi belatung. Sontak perutku diaduk-aduk hingga akhirnya aku muntah-muntah.
Suara orang-orang itu telah menghilang. Peter berdiri lalu memanjat lubang yang tingginya sekitar dua meteran. Sementara aku masih terus mengeluarkan isi perutku.
“Honey, ayo cepat naik!” ujar Peter sambil mengulurkan kedua tangannya.
Dengan bantuan Peter, aku segera naik ke atas dan langsung melepas celanaku untuk membuang sesuatu yang bergerak hingga ke kakiku.
“Ayo kita cari sungai!” ajak Peter.
Aku mengikutinya mencari keberadaan sungai yang suaranya perlahan mulai terdengar. Bau busuk dari bangkai itu membuat perutku kembali bergejolak. Hanya saja isi perutku sudah habis dan nggak ada yang bisa dikeluarkan lagi.
Begitu melihat sungai, aku langsung menceburkan diri lengkap sama baju-bajuku. Membersihkan badan dengan air mengalir membuatku merasa jauh lebih baik.
“Perempuan yang kamu lihat tadi, itu aku!” ucap seseorang di belakangku secara tiba-tiba.
Busyet dah, sontak aku memutar badan dan untung saja masih gelap jadi aku nggak melihat wajahnya dengan jelas kecuali ada bayangan seperti mata yang mau lepas.
“Tolong aku. Aku sudah disana seminggu yang lalu. Keluargaku mencariku. Aku ingin kembali ke mereka,” ujarnya lagi membuatku tahu alasan kenapa banyak sekali hantu sekitaran rumah itu.
Sebelum banyak bertanya, aku segera keluar dari sungai setelah bau busuk itu menghilang dari badanku, meskipun sebagai gantinya bau amis sungai tapi itu lebih baik daripada bau yang tadi.
“Ceritakan tempat apa ini?” tanya Peter.
Aku, Peter dan perempuan itu duduk di tepi sungai.
“Namaku Daniar,” ujar perempuan itu sebelum akhirnya bercerita.
Daniar adalah salah satu korban dari sekian banyak korban kejahatan sistematis dari seorang hacker yang bekerja sama dengan dukun yang menguasai daerah ini.
Hacker itu mencuri data nasabah dari bank dan dukun itu melakukan operandi kejahatan dengan mendatangi korban dan melakukan gendam atau semacam hipnotis sehingga para korban mengambil uang dan menyerahkannya kepada hacker dan dukun itu.
Jika efek hipnotis itu bekerja lama, para korban bisa segera pulang ke rumahnya dengan selamat, tapi kalau efeknya hilang sebelum operasi selesai maka orang itu akan diculik dan dibunuh sepertinya.
“Tempat ini sangat jauh dari pemukiman dan jarang dilewati orang,” ujar Daniar.
Dengan medan sesulit itu pastilah nggak banyak orang yang mau lewat. Jalannya berkelok-kelok dan rusak parah. Waktu lewat tadi ada satu mobil yang putar balik setelah melewati jalan rusak beberapa meter.
“Mereka tuyul milenial,” gumam Peter membuatku heran.
“Mereka bukan tuyul. Mereka manusia,” ucapku keberatan kalau manusia disebut tuyul.
“Tapi yang mereka lakukan sama seperti memelihara tuyul,” bantah Peter membuatku diam, terserah deh mau bilang apa.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku kepada Peter.
“Kita harus kembali. Kita nggak bisa mengurus ini sendiri. Kita minta bantuan polisi untuk menindak ini semua,” ucap Peter membuatku mengangguk setuju.
“Disini kalian rupanya!” ujar seseorang yang membuatku dan Peter sontak berdiri.
Seorang perempuan berambut panjang dan memakai baju gelap. Aku membuat ajian bola api kuning hanya sebagai penerangan. Penasaran siapa perempuan itu yang tiba-tiba muncul dengan sangat mengejutkan.
“Mbak kunti merah,” gumamku saat melihat bajunya yang berwarna semerah darah.
Kuntilanak itu menyeringai lalu tertawa terbahak-bahak membuat Daniar menghilang karena ketakutan.
Kuntilanak itu mengibaskan lengannya memberi efek angin yang kuat hingga membuat kami berdua terpental.
Dia hantu bukan sembarang hantu. Energinya sanga besar makanya sampai bisa membuatku dan Peter terpental dengan kekuatannya.
“Dia … KUMER. Kuntilanak merah,” ujar Peter setelah kami berdua terjerembab di tanah yang empuk dan basah.
“Yee, kalau itu aku juga tahu,” cibirku.
“Dia bukan kuntilanak merah biasa. Dia siluman kuntilanak merah. Karena itu kita harus hati-hati sama dia,” ujar Peter membuatku siaga.
Aku dan Peter baru saja berdiri tapi badan kami kembali terhempas dan kali ini lumayan jauh. Badanku menubruk pohon pisang dimana ada pocong yang berdiri di samping pohon pisang yang besar itu.
“Kasihan,” ledeknya membuatku menendang kakinya. Pocong itu jatuh berguling-guling hingga akhirnya nggak bisa berdiri karena kedua tangan dan kakinya kan dipocong.
“Kapokmu kapan!” seruku sambil berdiri.
“Lontong eh tolong. Ampun-ampun, aku nggak akan meledekmu lagi,” ujarnya sambil bergerak seperti ulat karena berusaha untuk berdiri.
Salah sendiri kenapa sok-sokan meledek segala. Kalau nggak tahu siapa musuh atau teman, sebaiknya diam saja.
Tuh pocong bakal butuh waktu lama biar bisa berdiri nggak tahu gimana caranya karena ada hal yang lebih penting untuk diurus ketimbang dia.
Aku membuat bola api kuning lalu menyerang Kumer dengan serangan bertubi-tubi, sambil terus membaca ajian hingga akhirnya ia tumbang dan menghilang.
“Kita harus cepat pergi dari tempat ini!” ujar Peter sambil mencekal tanganku dan mengajakku berlari menjauhi tempat ini.
“Kita harus ngecek rumah itu, apakah ada korban seperti Daniar yang mungkin butuh bantuan kita,” ujarku sambil menarik tanganku darinya.
“Kita belum tahu apa yang sedang kita hadapi, Hon. Jangan melakukan hal bodoh meskipun demi menolong orang lain,” ujarnya membuatku mendecak.
“Nggak usah menghina orang juga kali. Aku bukannya bodoh, hanya kasihan saja kalau ada korban yang mungkin harusnya bisa kita selamatkan,” ujarku sambil melangkah melewatinya.
“TOLONG!” teriakan itu sontak membuat langkahku berhenti.
Menoleh ke arah rumah yang aku yakini disitulah sumber suaranya, aku nggak bisa mendiamkan ini semua. Tapi waktu aku hendak melangkah mendekati tempat itu, Peter menahan tanganku.
“Kita harus menolongnya,” ujarku karena aku bukan orang yang bisa diam waktu ada orang yang butuh bantuan.
“Kita harus kembali, Hon,” ujarnya sambil mencekal tanganku lagi.
“Tapi kan….”
“Ada dua orang yang mungkin punya banyak anak buah. Dari manusia, hantu bahkan ibliz sekalipun. Kita harus menyelidiki lebih lanjut sebelum melakukan sesuatu,” ujarnya.
“TOLONG!” Teriakan yang kedua suaranya membuatku nggak bisa berdiam saja.
“HON!” teriak Peter sekali lagi.