Busyet dah mimpi apa semalam sampai ketemu hantu noni-noni Belanda tapi mukanya adududuh, serem banget dah.
Aku tuh paling gelay sama yang namanya kulit bersisik. Biar kata kulitku item, dekil tapi mulus, halus dan terawat. Jauh lebih baik daripada kulit bersisik hantu yang tiba-tiba berubah jadi cantik.
Ya ampun, apa jangan-jangan dia menyedot kesegaran tubuh perempuan yang sudah ambruk itu ya? Aku jadi menunduk untuk melihat perempuan cantik yang sempat memberiku senyum menawan tadi.
Benar saja, perempuan yang tergeletak nggak jauh dari kakiku sudah kaku dengan kulit berkeriput dan mengelupas bahkan rambutnya berubah putih seperti nenek-nenek.
“Siapa kamu?” tanyaku kaget padahal awalnya aku ingin cuek saja, tapi melihat dia bisa melukai manusia tentu saja aku nggak bisa tinggal diam saja.
Perempuan yang kini sudah berubah cantik itu tersenyum lebar. Kalau tadi menyeramkan dalam bentuk hantu, sekarang senyumnya tetap menyeramkan seperti tokoh antagonis sebuah sinetron.
“Kulitmu bagus juga,” ujarnya bikin mataku membulat. Spontan aku memeriksa tangan hanya untuk memastikan ucapannya benar.
Dan perempuan itu memang benar. Aku memang memiliki kulit sehat khas orang Indonesia.
“Trus ngapain kalau kulitku bagus? Mau punya kulit item dekil kayak aku?” tanyaku sambil memamerkan lengan.
Perempuan itu terkikik, sepertinya ia pun malas punya kulit sepertiku tapi tiba-tiba cekikikannya berubah jadi senyum malu-malu saat melihat seseorang di belakangku.
Aku menoleh ke belakang, ternyata Steve berdiri dengan hanya memakai bathrobe. Pantes saja bikin hantu itu kegenitan. Aku buru-buru mendorong Steve untuk masuk kamar sebelum tuh hantu pengen sesuatu darinya.
***
“What’s wrong, Honey?” tanya Steve dengan muka polos padahal aku resah gelisah sampai duduk di kursi sambil memelintir rambut saking stresnya.
“Hei, are you OK?” tanyanya sambil berlutut di depanku.
“Kamu nggak lihat di depan tadi?” tanyaku heran kenap Steve masih santai padahal ada kengerian seperti itu.
“Apa?” tanyanya masih saja nggak tahu apa-apa.
“Ada hantu di depan,” ujarku membuat satu alisnya terangkat.
Steve berdiri lalu menyugar rambutnya sambil tertawa, sepertinya ia merasa kalau itu sesuatu yang biasa saja.
“Kita pemburu hantu. Apa yang kamu takutkan, Hon?” Steve menarik kepalaku ke pelukannya.
“Bukan masalah hantunya. Masalahnya, kamu nggak lihat ada perempuan yang tergeletak di depanku? Nggak tahu apa dia masih hidup atau sudah mati,” tanyaku sambil mendongak.
“Perempuan? Aku nggak lihat,” ujar Steve membuatku merasa keheranan.
Aku segera keluar lagi, siapa tahu hantu tadi menghilangkan jejak perempuan yang tak sadarkan diri. Bisa saja ia menyihir perempuan itu jadi debu atau mencair seperti air.
“AAA!” Teriakan perempuan yang melengking membuatku terkejut.
Aku langsung berdiri lalu berlari keluar kamar. Orang-orang mulai berkerumun untuk melihat apa yang sedang terjadi. Berkasak-kusuk memperkirakan sesuatu yang bahkan nggak mereka mengerti.
“Sepertinya kena serangan jantung!”
“Menurutku kena serangan stroke!”
Dua kemungkinan itu yang paling banyak kudengar. Mereka hanya mengangguk sambil berbisik-bisik hingga akhirnya dua security datang dan menghalau mereka.
“Ayo minggir-minggir. Jangan bergerombol. Polisi akan datang kesini,” ujar salah satu security.
Perempuan yang nggak lain hantu yang kini berubah jadi manusia tampak panik –sok panik— masih menangis tersedu-sedu seakan tuh perempuan adalah saudaranya.
“Lebay banget,” gumamku, padahal pelan banget tapi dia langsung menatapku dan seringai itu muncul lagi.
Seringai khas orang jahat di film-film serta sorot mata mengerikan bikin badanku merinding disko.
Aku dan Steve kembali masuk kamar karena kami nggak ada urusan dengan kehidupan manusia. Biarkan masalah itu diurus sama polisi.
Hanya saja, untuk pergi begitu saja itu susah. Ada beban mental yang bikin aku ingin bertahan dan melumpuhkan hantu yang bisa membunuh manusia.
Iseng, aku mengeluarkan kompas penunjuk jin botol. Siapa tahu aja ternyata dialah hantu terakhir yang harus kutangkap. Tapi rupanya kompas itu nggak nunjukin pergerakan apapun, jadi sudah jelas hantu itu bukan bagian dari jin botol.
Steve sudah tampil cakep dengan T shirt hitam dan celana kargo coklat. Dengan kulit putih khas bule, bikin penampilannya sangat keren sekali.
“Ayo kita sarapan!” ajak Steve setelah selesai menyisir rambutnya.
Aku pun memakai make up tipis-tipis. Pakai sun screen, bedak dan lip tint. Rambut kusisir rapi dan nggak lupa pakai parfum yang wangi. Memakai T shirt biru muda dan celana kargo coklat, aku sudah siap untuk keluar kamar.
Polisi sedang melalukan penyidikan kasus perempuan yang ternyata masuk kantong mayat. Perempuan yang sebenarnya hantu itu sedang memberikan keterangan kepada petugas.
“Saya melihat mbak itu sama Nenek ini tadi!” ujarnya sambil menunjukku.
Aku yang nggak ngerti apa-apa jadi bingung sendiri, kenapa aku dilibatkan dalam hal ini. Padahal kalau dia diam saja, ya tetep bakal kutangkap juga sih.
“Saya minta waktu anda sebentar,” pinta petugas yang memakai polo shirt hitam.
“Ya,” ujarku sambil memandang Steve.
Polisi itu pun meminta keteranganku sebagai saksi. Itu artinya aku nggak bisa pulang sebelum kasus ini selesai.
Ada beberapa pertanyaan yang harus kujawab. Aku pun menjawab sesuai apa yang kuketahui kecuali soal ada hantu yang menyedot jiwa perempuan sampai kering kayak nenek-nenek.
“Apakah anda kenal dengan nenek Sophia?” tanya petugas itu yang bikin aku baru tahu namanya.
“Nggak, Pak. Kami baru bertemu ya tadi pagi,” jawabku.
“Tapi kata perempuan ini, kalian berdua sedang berbincang-bincang,” kata petugas.
“Dia menyapa saya pakai Bahasa Belanda. Saya mana tahu, eh ternyata bisa bahasa inggris. Tapi nggak lama kemudian, dia datang,” ujarku sesuai apa adanya.
“Anda bisa Bahasa Inggris?” tanya petugas bikin aku heran dengan pertanyaan itu.
“Anda ini ngetes saya apa bagaimana? Suami saya tuh bule, Pak. Dikit-dikit saya bisa lah,” jawabku yang bikin petugas tersenyum.
Steve keluar kamar lalu berdiri di sampingku, mata perempuan jadi-jadian itu tertuju pada suami super gantengku.
Sudah dua kali sikapnya begitu bikin aku nggak suka. Aku menyipitkan mata dan menunjukkan wajah kesal, tapi dia malah tersenyum seakan suka kalau aku merasa terganggu olehnya.
“Jadi anda berdua berbincang-bincang lalu tahu-tahu beliau tak sadarkan diri?” tanya petugas itu yang kujawab dengan anggukan.
“Nggak mungkin, Pak. Mana ada orang tiba-tiba meninggal begitu saja,” kata hantu berwujud manusia itu.
“Dia ada di belakang nenek itu waktu beliau tiba-tiba nggak sadarkan diri,” ujarku.
“Kalau nggak percaya, tinggal cari aja bukti lewat CCTV,” ujarku sambil menunjuk ke CCTV yang dipasang di pojokan.
“Baiklah, itu saja yang ingin saya tanyakan. Tapi tolong tinggalkan nomer HP anda, apabila ada sesuatu saya akan menghubungi anda,” kata polisi itu.
“Jadi, nenek ini meninggal karena apa, Pak?” tanyaku penasaran dengan pemikiran manusia biasa.
Meskipun aku sendiri juga manusia biasa.
Perempuan jadi-jadian itu nggak bisa dibiarin. Aku harus melakukan sesuatu sebelum hal-hal buruk terjadi.