Zean menghampiri Ken dan duduk di kursi yang ada di sana. Tumben-tumbenan sobatnya ini ada di mode kalem. Bahkan, sampai tak menyadari apa yang ia dan Serena perbuat.
“Ada masalah?” tanya Zean.
Ken membuka kedua matanya yang tadinya terpejam. Tak tidur, hanya sedang berpikir keras. Kemudian mengarahkan pandagannya pada Zean yang sedang menunggu jawaban darinya. Tapi sebelum itu ia lebih dulu memastikan kalau Serena tak sedang fokus pada dirinya.
“Ternyata patah hati itu rasanya menyakitkan,” ungkapnya mulai crhat.
Tentu saja dahi Zean berkerut mendegar perkataan Ken. “Jangan bilang kalau Kalina nolak lo?”
Ken menggeleng. “Bukan, bukan menolak. Apa, ya ini namnaya. Dia nggak nerima gue dan juga nggak menolak.”
“Zean malah terkekeh geli mendegar pernyataan Ken yang seperti bocah SMP s