Setelah malam itu, pertemuanku dengan Dito menguap begitu saja. Hanya menyisakan kontrak kerja tiga hari kemudian di kota Bandung.Tepatnya di salah satu vila milik Dito yang letaknya di daerah Lembang.
Lo perlu apa nih, Sar. Air mineral, buah potong, brokoli kukus buat ngemil and than ...." Wulan memeriksa sebuah tas jinjing yang berisikan keperluanku selama pemotretan.
"Gue pengen makan karedok sambil minum bajigur, sampai kenyang."Wulan mengernyit dan menyentuh keningku. Sudah kuduga, wanita kejam ini pasti akan melarangku menyantap apapun selain brokoli, wortel dan sayuran lain yang dikukus.
Baginya kenaikan berat badanku adalah musibah. Bisa merusak kontrak kerja dan mengecewakan client. Memang sebagai seorang model, selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kesempurnaan penampilan.
"Kita berangkat!" Wulan menginstruksikan kepada supir agar segera berangkat ke Bandung. Sepanjang perjalanan, sepertinya aku tertidur karena hari-hari sebelum itu hingga malam, hidupku penuh dengan jadwal pemotretan.
Waktu istirahatku hanya beberapa jam saja, kemudian olah raga, melakukan perawatan dan asal tahu saja bahwa semua itu benar-benar menyiksa.Tiba-tiba saja aku merasa tubuhku terbang, seperti diangkat oleh kedua tangan yang kekar mencengkeram. Susah payah mata ini kubuka untuk sekedar mengintip, bertepatan dengannya yang meletakkan perlahan tubuhku di atas sofa panjang
"Perjalanannya memang jauh, biarkan dulu dia istirahat." Suara Dito begitu tenang menenteramkan. Meminta agar jangan ada yang mengganggu istirahatku, padahal dia adalah client yang memberi kami kontrak dengan nilai fantastis.Satu milyar untuk tiga bulan masa promosi.
"Tapi Pak Dito, semua sudah di setting. Wardrobe, MUA dan fotografer sudah delapan puluh persen siap." Wulan terdengar memaksa.Aku paham maksud Wulan dan memang ini sudah menjadi resiko pekerjaanku.
Tak ada waktu untuk sekedar tidur-tiduran dalam gendongan client sepenting Pak Dito.Segera aku membuka mata dan pura-pura merengganggkan tubuh, mirip orang bangun tidur sungguhan.
"Hoam ... ada apa? Kita sudah sampai? Duh, maaf Pak Dito. Kayaknya saya ...."
"Kamu terlalu lelah bekerja, Sarah. Istirahat saja dulu. Semua ini masih bisa ditunda beberapa jam ke depan."
"Tapi, Pak?"
"Kita batalkan saja berfoto di area kolam renang jika kamu takut mengulur waktu. Saya cuma nggak mau kamu sakit. Hm!" Aku dan Wulan saling berpandangan, sedangkan Dito langsung pergi meninggalkan kami semua.
Pria tampan itu begitu berkharisma dan juga bijaksana, cara bicaranya benar-benar menunjukkan strata sosial sebagai seorang pengusaha muda bertalenta.Tenang dan meyakinkan.
"Semalam Arjuna puluhan kali telpon gue, Sar." Wulan melipat tangan saat menamati wajahku yang sedang di make up.
"Gue suruh lo blokir, kan?"
"Gue nggak tega, dia kirim email ke gue kalau kepikiran lo."
"Omong kosong!" Aku membatin dalam hati.Dua hari setelah aku tiba di Jakarta, salah satu temanku mengirimkan foto Arjuna sedang makan malam di dalam mobilnya bersama wanita cantik, entah itu sales obat kuat, bertemu di jalan atau kenalan lewat sosial media dan saat kutanya apa jawabnya? "Aku nggak ke mana-mana, Baby. Di rumah aja. Aku sayang kamu. Balikpapan kayak kota mati sejak kamu pergi. I love you, kecup basah tumpah-tumpah."
Aku menggigit bibir saat mengingat betapa posesifnya dia memperlakukanku, selalu video call setiap waktu, hanya membahas yang itu- itu saja. Terkadang memang membosankan, hanya saja aku mencintai Arjuna dan papaku sudah terlanjur memberikan jabatan strategis kepadanya.
Papaku pemilik perusahaan tempat Arjuna bekerja dan mereka sering menghabiskan waktu bermain golf di akhir pekan bersama-sama. Aku pernah mengeluh tentang sikap Arjuna yang gemar bermain-main dengan banyak wanita, namun Papa menyebutnya lumrah.
Arjuna masih muda, tampan, kaya dan mapan, semua itu akan berubah seiring waktu apalagi kelak jika kami sudah menikah dan memiliki anak. Hanya saja terkadang aku tak tahan dengan sikapnya.Salah satu dari tim pengarah gaya sudah mulai memberiku aba-aba agar aku segera berada di posisi untuk pengambilan gambar.
Sekilas kulihat Dito sedang berbincang dengan beberapa orang dan melambaikan tangan sekilas kepadaku."Sarah, jangan dipaksa. Kalau capek, istirahat ya. Kamu pakai saja kamar yang mana terserah, oke!"
Dito mengulas senyum yang cukup membuat jantungku kembang kempis.Bisa-bisanya dia ... ah sudahlah, mungkin Dito cuma kasihan. Tidak lebih. Lagi pula laki-laki setampan itu tidak mungkin masih sendiri.Aku hanya mengangguk dan menangkupkan kedua tangan di depan d**a. Penting bagiku untuk menyelesaikan segala tanggung jawab ini agar bisa segera pulang tepat waktu.
"Sarah ... pose!" Hanya itu yang kudengar setiap hari sampai ratusan kali termasuk hari ini.Semua akhirnya selesai tepat waktu termasuk sesi berfoto di dalam kolam renang mengenakan bikini dengan latar belakang matahari terbenam, menyisakan semburat cahaya jingga yang begitu indah.
"Oke, perfect!" Fotografer mengacungkan jempol tanda sesi terakhir pemotretan benar-benar usai.Tubuhku menggigil kedinginan meskipun piyama tebal sudah membungkus tubuh ini, namun tetap saja angin malam terasa menusuk tulang-tulangku hingga rasanya aku butuh sesuatu yang hangat lainnya.
"Minum ini, Sarah." Wulan menyodorkan secangkir minuman hangat untukku.Sejujurnya aku butuh lebih dari ini karena rasanya tubuhku memerlukan asupan yang lebih berat, seperti beberapa potong cake atau bahkan sepiring nasi goreng lezat dengan potongan telur setengah masak di atasnya.
“Gue ganti baju dulu, Lan. Dingin banget.”Aku meninggalkan Wulan untuk menuju ke salah satu kamar tempat kami meninggalkan barang-barang untuk mengganti pakaian dan membersihkan diri. Kebetulan letak kamar itu lumayan jauh dari kolam renang dan posisinya juga paling ujung.Setengah berlari langkah ini ingin segera tiba di sana sampai aku tak menyadari bahwa Dito sedang mengikuti dari belakang, menyentuh lenganku perlahan saat aku sibuk mencari kartu akses masuk ke dalam kamar.
“Mencari ini?” Dito menyodorkan kartu akses berwarna biru itu sambil mengulas senyum manis sekali. Wajahnya yang manis serta penampilan yang sederhana membuatku cukup terkesan malam itu.
“Ah, iya. Maaf tadi saya buru-buru, sampai nggak sadar kalau kartunya jatuh.”Dito langsung berbalik seusai menyerahkan kartu milikku namun entah mengapa mendadak aku ingin berbicara lebih lama lagi dengannya. Sikap Dito yang tenang dan berkharisma cukup membuatku penasaran dengan sifat aslinya. Bisa saja, kan, itu cuma caranya dia berinteraksi dengan relasi kerja padahal aslinya mungkin Dito juga liar tak karuan.
“Pak Dito!”
“Iya?”
“Hm … bisa bicara sebentar nggak? Maaf maksud saya ….” Wajahku sudah melirik ke arah kamar, seharusnya dia paham maksudku agar kami mengobrol di dalam saja.
“Bisa, kita ketemu di restoran ya. Saya akan minta koki menyiapkan hidangan yang lezat untuk kamu.”Restoran? Kenapa dia justru mengajakku bertemu di restoran yang mungkin akan dilihat oleh banyak orang. Bukankah bicara berdua di kamar akan lebih nyaman dan lebih menjaga privasi tentunya.
“Tapi, kamar ini juga kosong. Kita bisa bicara di sini saja sambil memesan makanan, kan. Saya justru tidak akan bisa makan apapun jika di restoran.” Mendadak aku mengiba karena berharap bisa makan sepuasnya sebelum Wulan datang dan melarangku untuk makan.
Dito tertawa kecil, “Kita akan jalan-jalan. Mau?”
Aku mengangguk cepat sambil mengulum senyum.“Ini rahasia kita berdua, Sarah. Kita akan makan fast food sampai kamu bosan.”
“Dan pizza?”
“Semua yang ingin kamu makan, nanti saya traktir. Tapi ingat, ini ….” Dito mengangkat kelingkingnya dari jauh dan aku melakukan hal yang sama.
“Rahasia!”Dito berbalik pergi dan menghilang di balik dinding menuju ke lobi, sedangkan aku masih mematung di depan pintu. Ini apa? Kenapa hati ini jadi berbunga-bunga?
Jangan, Sarah! Kau sudah memiliki kekasih.