Sebuah mobil fortuner bergerak memasuki sebuah perumahan kelas menengah ke bawah yang ada di kawasan Jakarta Timur. Mobil hitam itu bergerak perlahan dan berhenti di depan sebuah rumah yang sudah nampak sepi karena cahaya lampu dari dalam rumah tersebut terlihat sudah padam. Mesin mobil itu pun mati dan kaca jendela terbuka hingga memperlihatkan wajah seorang pria tampan yang tengah menatap ke rumah tersebut.
“Lampunya sudah mati. Apa dia sudah tidur, ya, makanya tak balas dan angkat panggilanku?” ucap pria itu dengan mata terus menatap ke arah rumah bersama raut wajah yang menduga-duga.
Dia kembali meraih handphone yang diletakkan di atas dashboard dan menyalakannya. Tak berapa lama dia coba melakukan panggilan kembali ke sebuah nomor dan menunggu dengan sabar serta berharap panggilannya kali ini akan dijawab. Namun, lagi-lagi tak ada respon dari orang yang dia hubungi. Dia pun kembali menatap rumah itu dan menarik nafas panjang.
“Sepertinya dia sudah tidur. Ya sudahlah, lebih baik aku pergi dan menemui Adriana!” serunya menyimpulkan.
Mesin mobil pun kembali menyala dan perlahan bergerak meninggalkan rumah serta area perumahan yang memang senyap karena sudah larut malam. Hanya beberapa kendaraan yang lewat saja. Owen Vales, pria berusia 30 tahun dan merupakan tunangan Bella sejak 6 bulan yang lalu. Hubungan keduanya memang belum lama terjalin dan baru sekitar satu tahun mengenal. Namun, Owen memutuskan meminang Bella karena terpesona saat pertama kali melihatnya dan tak sengaja bertabrakan di sekolah. Sejak saat itu, Owen menjalin hubungan dengan Bella dan berencana akan menikahinya akhir tahun. Apalagi ibunda Owen rupanya mengenal Bella karena anak dari kakak Owen adalah murid Bella di sekolah.
Menempuh perjalanan setengah jam, Owen akhirnya tiba di sebuah apartemen yang masih terlihat ramai. Dia memarkirkan mobilnya di tempat biasa di mana posisinya selalu di pojok. Senyumnya terukir ketika mendapati sebuah mobil yang dia kenal sudah terparkir manis dan tanpa ragu dia menepi. Owen bergegas meninggalkan parkiran dan berpapasan oleh beberapa penghuni apartemen lain yang nampak baru pulang dari kesibukan mereka dan hanya melempar senyum sekilas karena kenal wajah saja. Setibanya lift yang dia gunakan menuju lantai 10, Owen langsung masuk ke kamar yang biasa dia datangi.
“Kukira kau tak akan datang malam ini!” seru seorang wanita yang tengah duduk santai menonton acara bola di TV sambil menikmati kacang almond dari sebuah toples yang dia pegang.
“Mana mungkin aku meninggalkan jadwalku untuk bersenang-senang denganmu malam ini, Sayang?” jawab Owen yang berjalan menghampiri wanita itu dan nampak tersenyum manis.
Tanpa ragu, Owen langsung duduk di sebelah wanita itu dan mendaratkan ciuman ke pipinya. Ciuman di pipi itu perlahan bergerak ke arah bibir dan dibalas oleh sang wanita. Perlahan-lahan ciuman itu pun berubah menjadi lumatan hingga menimbulkan suara yang membuat keduanya terbakar gairah.
“Kenapa kau semangat sekali?” gumam wanita itu setelah Owen melepaskan tautan bibir mereka karena nafas yang sudah habis.
“Karena kau memang selalu membuatku on dan aku tak tahu kenapa begitu. Kau benar-benar selalu merusak otakku, Riana!” jawab Owen dengan suara berat serta mata yang sudah diselimuti nafsu setan dan siap memangsa. Terdengar suara cekikikan dari mulut Riana dan hal itu membuat Owen menarik alis tebalnya ke atas karena bingung
“Kenapa kautertawa? Tak percaya, huh?” ujar Owen menebak.
Riana mengurai tawa dan kedua tangannya mengelus rahang Owen yang sudah mulai ditumbuhi bulu dan terasa tajam jika menyentuh kulit. Owen memejamkan kedua mata menikmati setiap sentuhan Riana yang selalu membuat dia lupa daratan ketika bersamanya.
"Tentu saja aku percaya karena aku juga sangat suka saat bersamamu dan menghabiskan malam tanpa tidur. Kau yang terbaik, Wen!” puji Riana dan seketika membuat mata Owen terbuka.
Dengan cepat, Owen menarik tengkuk Riana dan menyatukan bibir mereka. Keduanya saling membalas ciuman dan unjuk kebolehan satu sama lain. Tak segan Owen menarik piyama Riana hingga membuat kedua gunung kembarnya terlihat dan rupanya sengaja tak mengenakan bra. Toples kacang yang ada di pangkuan Riana pun jatuh ke lantai dan berserakan akibat ulah cepat mereka.
‘Hmmmmpt’
Terdengar decak mulut mereka yang bertukar saliva. Sesekali ciuman mereka terlepas guna menarik nafas dan berlanjut. Perlahan dan pasti, ciuman kasar Owen bergerak turun menuju leher Riana dan berhenti cukup lama di kedua gunung kembar Riana yang selalu menyedot perhatiannya. Riana mendesah ketika mulut Owen mulai bekerja di tempat yang seharusnya dan melakukan gerakan berulang-ulang antara sisi kiri dan kanan. Setelah puas bermain-main di sana, Owen bergerak turun ke daerah perut sebentar dan kedua tangannya tanpa dicegah Riana langsung menarik celana segitiga berwarna hitam serta berenda. Owen tersenyum melihat apa yang ada di hadapannya. Bongkahan tubuh yang selalu membuatnya lupa daratan dan ingin berlama–lama main di sana dan tak kunjung bosan. Terdengar kekehan Owen dan membuat kening Riana berkerut karena bingung.
“Ada apa, Wen? Kenapa tertawa? Apa ada yang aneh dengan bentuknya?” tanya Riana polos dan justru membuat Owen terbahak.
“Hahahaha ….” Tawa kencang Owen membuat Riana cemberut dan menjambak rambut Owen hingga kepalanya mendongak kini dan bertemu pandang.
“Jangan khawatir, Sayang. Bentuknya masih sama dan tetap menjadi makanan kesukaanku!” seru Owen jelas dan membuat senyum Riana terukir, lalu perlahan melepas cengkeraman tangannya pada rambut Owen yang sedikit gondrong.
“Kukira ada yang aneh dan membutamu tak suka! Reaksimu begitu menyebalkan saat melihatnya. Padahal aku sudah susah payah merawatnya!” rajuk Riana yang membuat Owen kembali cekikian.
“Hahaha … maaf sudah membuatmu tersinggung. Aku hanya terpesona saja dan ini selalu membutku menggila!” terang Owen sambil mengelus area pangkal paha Riana yang sontak membuatnya melenguh pelan.
“Sudahlah, Wen. Lakukan sekarang atau aku yang akan main di atasmu!” gertak Riana yang sudah tak sabar dan ingin ambil alih.
Owen yang sudah siap pun akhirnya kembali melancarkan aksinya ke Riana. Mendadak ruang santai itu dipenuhi suara lenguhan Riana yang terdengar menggelitik telinga Owen dan nampak sibuk bersama tubuh Riana yang tak bisa diam menikmati setiap sentuhan Owen yang sudah mahir. Puas dengan itu, Owen membuka semua pakaiannya hingga sama seperti Riana. Dia menarik kedua kaki jenjang Riana dan meletakkan ke bahu kokohnya di mana area sensitif keduanya bertemu dan langsung menyatu bersama lenguhan panjang Riana serta senyum senangnya. Suara TV beradu kuat dengan suara mereka yang ikut kian bergema merasakan penyatuan haram yang sudah sering dilakukan. Owen terus bergerak kasar dan cepat mencari kenikmatan dunia yang sedang dia daki. Riana terus mendesah di bawah kendali Owen yang perkasa di mana tubuhnya bergerak mengikuti setiap gerakan Owen yang semakin cepat serta membuatnya tak bisa menahan suara yang keluar dari mulutnya. Tak berapa lama kemudian, lenguhan panjang keduanya terdengar bersama suara sorakan di TV yang tengah menayangkan acara bola.
“Gol juga!”