Daisy menghela napas lega setelah tenaganya terisi kembali dengan segelas air dingin dari kulkas.
"Ah..aku harus buat pelayanan kamar sekarang, tapi harga satu set sarapan paginya setara dengan satu tas
bermerek, dasar hotel sialan!"
Daisy mendumal sendiri sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk king size, dia tidak senang dengan biaya hidupnya di hotel bintang lima itu,walaupun sebenarnya dia tidak mengeluarkan sepeser uang pun dari kantongnya.
bzzt...bzzzt...
Daisy kembali berdecak kesal saat handphonenya bergetar, padahal dia sudah mengubah pengaturannya menjadi mode senyap setelah berdebat dengan bule LA itu, agar Daisy tidak lagi di usik dengan telepon dari siapapun.
"HALO?!!"
Daisy berteriak kencang saat mengangkat teleponnya, dan orang yang berada di seberang sana menjadi sangat terkejut.
"Navy, santai saja sih, kenapa harus berteriak kencang padaku, apa kau sedang kesal?"
"oh, Nirran. Ada apa kau menelpon ku?" Daisy langsung melupakan kekesalannya saat tau jika orang yang meneleponnya adalah seorang laki-laki yang dia panggil dengan nama Nirran.
"aku hanya ingin memberitahu padamu tentang misi pribadimu tempo hari. target sudah menunjukkan pergerakan, dan kau bisa mulai menjalankan rencana berikutnya", suara khas bariton dari pria itu membuat Daisy menjadi sangat senang.
Akhirnya momen yang dia tunggu sejak lama akan segera datang, dia tidak sabar untuk melakukan rencananya.
"Benarkah? itu adalah berita bagus, Niel", Naomi begitu senang hingga dia menggerak-gerakkan kakinya yang menggantung di ujung ranjang.
"Navy, apa berita itu benar-benar membuatmu bahagia,nada bicaramu langsung berubah setelah mendengarnya", pria di seberang sana terkekeh geli membayangkan Daisy yang sedang dalam mood yang baik.
"tentu saja, aku sudah menunggu momen ini sepanjang hidupku, dan aku tidak percaya bahwa itu akan terjadi segera", Daisy bahkan tersenyum sumringah menatap atap hotel yang sangat monoton itu.
AAKH....
Tiba-tiba saja, ada suara jeritan yang terdengar dari telpon Daisy, tapi wanita itu yakin bahwa jeritan itu bukanlah milik Nirran.
"SYUUT!HEI DIAMLAH! kau, kau yang disana, sumpal mulutnya dan buat dia diam, atau robek saja mulutnya!!"
Nirran berteriak di dalam telponnya, dan sudah pasti dia tidak sedang berbicara dengan Daisy, pria itu terdengar sangat marah. Daisy yang sudah terbiasa mendengar suara-suara itu hanya terdiam, pasti Nirran akan menjelaskan hal itu padanya.
"Maafkan aku Navy, hewan ternak itu terus-menerus berteriak, kami terpaksa untuk mengemasnya sekarang, untuk dikirim ke tuan Baron, karena dia terus-terusan mogok makan dan menuntut agar di bebaskan. Aku juga sekarang sedang sibuk dengan organ-organ dan alat vitalnya untuk di lelang di pertemuan virtual nanti".
Nirran mejelaskan alasan dari teriakan itu, dan penjelasan detailnya tentu tidak biasa dan terkesan sangat gelap dan menyeramkan, hewan ternak? kenapa hewan bisa menuntut?
"baguslah kalau begitu, jual organnya dengan harga tinggi, itu akan menahan finansial kita dalam waktu dekat. Ah, aku jadi teringat, aku ingin meminta tolong pada anggota yang sedang bebas tugas, untuk mencari data pribadi dari pria barat bernama James Baker, dan awasi pergerakannya".
Permintaan Daisy membuat Nirran menjadi bingung, apakah ada sesuatu yang terjadi antara Daisy dan pria itu?
"siapa James Baker itu, Navy. Apa dia akan menjadi hewan ternak yang kau incar sekarang?" Kata Nirran dengan nada bercanda, tapi dia tidak tahu bahwa Daisy akan menanggapi pertanyaannya dengan serius.
"Ya, b******n itu adalah ayah dari anak yang sedang ku kandung, dia tidak mau bertanggung jawab dan malah menyarankan untuk aborsi, dasar b******k!"
Daisy kembali merasa kesal, dia meremas alas kasurnya dengan kuat, hingga Nirran yang berada di seberang sana menjadi ketar-ketir, dia tahu persis bagaimana menyeramkan Daisy saat marah.
"Be-Benarkah, kau sedang hamil sekarang, tapi bagaimana dengan rencananya, apa kau akan melakukan aborsi?" Nirran mencoba mengalihkan topik agar Daisy tidak lagi merasa kesal.
"ah, benar juga. jika aku hamil, rencananya mungkin akan menjadi lebih sulit,tapi tunggu dulu, tidak! mungkin kehamilan ini malah lebih menguntungkan untuk rencananya", Daisy langsung bangun dari posisi tidurnya,auranya kembali cerah setelah mendapatkan ide yang tiba-tiba muncul.
"hehe.. aku punya ide bagus untuk rencana ini, Niel. Aku akan hubungi kau lagi nanti, dan akan kuberikan kabar bagus padamu".
"O-oke, aku akan menunggu, berhati-hatilah Navy".
Setelah Daisy menutup telponnya, Saufan menjadi khawatir dengan Daisy, wanita itu apalagi yang akan dia lakukan, apa dia akan membahayakan dirinya lagi? Nirran sudah terbiasa dengan Daisy pemimpin Organisasi BLACKSTONE yang impulsif dan terkadang agak ceroboh, meskipun Daisy adalah pemimpin yang sangat cerdas dan memiliki pemikiran yang sangat brilian, tapi sebenarnya wanita dengan julukan Navyeera Rosie itu, kadang bisa sangat gila dengan pemikiran anehnya, yang diluar jangkauan manusia biasa.
***
Kebesokan harinya, Daisy pulang ke Indonesia dan sampai di bandara Soekarno-Hatta pada siang hari. Perempuan cantik itu terlalu santai dengan penampilannya dan tidak terlalu memikirkan tentang fashion, saat orang lain akan berpenampilan rapi saat datang ke bandara, tapi Daisy hanya datang dengan setelan kasualnya.
Wanita berusia dua puluh empat tahun itu bahkan tidak sempat untuk sekedar mandi di hotel, dan pulang dengan masih sangat berantakan, dia hanya memakai jeans belel selutut dan jaket baseball berwarna Navy dengan huruf NV di dadanya, dia bahkan tidak menata rambut panjangnya dan hanya di kuncir asal.
"Sial, kemana orang-orang itu sebenarnya, kenapa tidak ada yang mau menjemputku setelah lima bulan lamanya, apa aku sudah di buang sekarang?"
Daisy berdiri di tempat penjemputan dengan koper di tangan kirinya, dan handphone di tangan lainnya.
Sosoknya sepertinya menarik perhatian walau dia tidak pernah bermaksud untuk terlihat mencolok, karena dari tadi, ada saja orang lain yang meliriknya atau menatapnya kagum dari kejauhan, padahal Daisy belum berdandan atau memakai pakaian yang pantas, dan dia tidak peduli tentang penampilannya, tapi pesona alami yang dia miliki ternyata cukup besar untuk membuat banyak mata melihat padanya.
Daisy masih berusaha untuk menghubungi nomor Ryan, adiknya. Untuk menjemputnya di bandara karena dia tidak punya uang lagi untuk memesan taksi, dan bagaimana nasibnya jika adiknya yang mengesalkan itu tidak menjawab panggilannya?
"Pe-permisi, Nona Daisy, apa kau ingat dengan diriku, namaku askara...."
Seorang pria dengan setelan jas hitam yang sangat tampan, mengajak bicara Daisy, tapi sepertinya Daisy tidak menyadari kehadirannya dan masih fokus pada handphone miliknya.
"Ah, ehem. Permisi, Nona Daisy", pria itu merasa di abaikan dan dia mencoba untuk membuat Daisy melihat padanya.
"Permisi..."
Baru setelah pria itu menepuk pundaknya pelan, Daisy menoleh ke arahnya dan menatap pria itu dengan tatapan yang datar.
"ehm.. Perkenalkan, namaku Askara, tuan Estelle meminta tolong padaku untuk menjemput anda, karena dia dan anggota keluarga yang lain sedang sibuk, mereka sedang menghadiri pertemuan dengan...."
Saat Askara sedang sibuk menjelaskan, Daisy malah salah fokus dan memperhatikan sosok pria itu dengan seksama.
kulit putihnya yang cerah, wajahnya yang simetris, dan mata bulatnya yang hitam berkilat seperti batu obsidian, membuat Daisy menjadi termangu dan mengerutkan keningnya, sepertinya dia pernah melihat pria itu sebelumnya.
Bersambung..