siang itu hujan lebat turun,menguyur ibu kota,di sebuah ruamh mewah,terdengar jerit dan tangis para pembantu,melihat sag majikan yang di seret dnegan paksa,oleh orang-oramg berbaju hitam,mereka hanya bia diam,tanpa bisa menolong ,hanya bersembunyi dnegan tubuh bergetar,mengikuti pesan terakhir dari kedua manjikan mereka,untuk menjaga putri mereka,agar tetap hidup,sementara di ruang tengah sepasang suami istri menatap datar kearah lelaki paruh baya,yang kini berdiri dnegan angkuh,mengunakan jas mahalnya,
"apa yang kau inginkan kak??jika hanya perusahan dan kekayaan kau ta perlu berbuat seperti ini,aku pasi akan menyerahkannya "ucap aryo tenang meski keadaanya terikat kuat,serta tubuh yang babak belur
"aku bukan hanya ingin perusahaan dan juga kekayaan mu,tapi juga nyawamu,agar aku bisa tenang,dan bisa menunujukan pada tua bangka itu,bahwa dia sudah salah menilaimu"ucap adinata datar,menatap penuh benci kearah sang adik,yang kini bersemipuh di depannya
"kau tidak akan pernah tau sakitnya menjadi aku,yang terus di beda-bedakana oleh lelaki tua banngka itu,serta bagiamana kehilangan satu-satunya cahaya yang di milikinya"sambung adinata penuh emosi
"apa maksudmu kak??aku merebut cahayamu??"taya aryo tetap tenang ,baginya asalakan putrinya tetap hidup dan baik-baik saja,tak apa jika ia harus mati saat ini juga
"kau merebut orang yang paling aku cintai,kau merebutnya draiku,satu-satunya lentera hidupku"teriak adinata penuh emosi dnegan tangan yang mengepal erat
"say tidak mengerti maksud mu kak,aku tidak merebut widya darimu"sahut aryo tennag
"widya???kau merebit dewi dariku sialan!!!!!!"ucap adinata tajam penuh kebencian
aryo menatap sang kakak,dengan tatapan yang rumit,ia tak pernah tau selaama ini sang kakak mencintai istrinya,dewi juga tercenganng di samping sang suami,tak menyangka kalau,selama ini kakak ipar yang begitu ia hormati itu menaruh rasa lebih padanya,
"kau selalu mendapatkan apa yang kau mau,sementara aku harus bersusah payah,dan bekerja keras lebih dulu,untuk mendapatkan apa yang ku mau,apa itu adil??"tanya adinata dnegan mata yang memerah karena marah
blasssss
kepala aryo jatuh ketanah,terpisah dnegan tubuhnya,begitu pedang adinata terangkat,dewi menatap tak percaya kearah lelaki itu ,air matanya menetes tak henti,menyakisakan lelaki yang ia cintai mati di depan matanya,dengan cara yang mengenaskan,isak tangisnya terdengar pilu di ruang besar itu,
namun tak ada satupun yang berani menolongnya,adianta menatap penuh rasa sakit kearah wanita,yang amsih tetap cantik,mesikpun sudah melahirkan soarang putri,ia melangkah mendekati wnaita yang begitu ia cintai,dan selalu ada di hatinya ,meski dia sudah menikah dna memiliki seoarang anak,namun perasaanya pada wanita itu tak pernah pudar,
"dewi akku tidak akan membunuhmu,jadilah istriku,kita rawat putrimu bersama"ucap adinata lembut ,tatapannya di penuhi dnegan kelembutan dan cintayang mendalam
"kau gila adianta,aku ini adik iparmu"sahut dewi serak
"aku sudah menyingkirkan dia yang menghalagi jalan untuk kita bersama,sekarang kita bisa bersama seperti dulu"ucap adianta tak perduli dnegan penolakan dari wanita didepannya
"adinata apa kau tau??dulu ayah mertua datang ke rumah orang tuaku,menawarkan dua pernikahan dnegan kedua putranya,dia meminta aku sendiri yang memilihnya"ucap dewi tenang
"lalu aku memilih untuk menikah dnegan aryo,bukan karena tekanan dari ayah mertua,tapi karena sejak dulu,hatiku sudah memilih aryo sebagai pemiliknya,"sambung dewi tegas menatap lelaki yang kini berdiri dnegan linglung di depannya
"kenapa??"tanya adinata pedih ,jantungnya seperti diremas oleh tangan tak terlihat,jadi selama ini ia hanya mencintai sendirian?
"dari awal aku hanya menganggapmu sebagai kakak,menghoramtimu seperti saudara kandung sendiri,akrena aku anak tunggal,tidak ada yang merebut ku darimu,aku yang memilih aryo menjadi suamiku ,ayah dari anak-anakku"sahut dewi tenang
"hahahhahahahha hahahhahahhah hahahhahahha hahahhahhah "suara tawa mengema di ruangan sunyi itu,adianta tertawa terbahak bahak,namun air mata mengalir dari sudut matanya,bibirnya menyerigai lebar,tatapannya menjadi dingin layaknya menatap orang mati,ia menyeret pedang yang berlumuran darah menuju kearah wanita yang sangat berarti dalam hidupnya,
"dewi harusnya kau memilihku,bukanya adikku yang pecundang itu"ucap adianta datar,ia lalu mengayunkan pedanganya menebas leher waita itu hingga putus,
"bereskan semuanya pastikan tidak meninggalkan jejak"ucap adianta datar meningalkan rumah mewah itu
sementara di luar rumah,di balik pintu seoaramg gadis remaja menangis terisak,melihat apa yang terjadi dnegan kedua orang tuanya,ia bersembunyi dan menahan naafasnya saat pembunuh itu melewati tempatnya bersembunyi,ia jtuh terduduk ke atanh,setelah melihat semua orang sudah pergi,kakinya lemas,tak bertulang,ai matanya tak lagi bisa di bendung,ia menangis dnegan pilu,membuat siapapun yang mendegarnya ikut mersakan kesedihiannya,
"non ranti sebaiknya kiat segera pergi,sebelum paman non kembali lagi"ucap sauara tua dengan lembut
"ni inah,ayah bunda bi,mereka"ucap ranti dnengan air mata yang berlinang
"kita harus segera pergi non,pak ucup sudah menunggu di pintu belakang ayo"ucap bi inah memeluk tubuh rapu gadis muda itu
kedua wanita beda usia itu pun,pergi meninggalkan rumah mewah itu,menuju belakang rumah,disana sudah teraprikir sebuah mobil hitam tua,agar tak mencolok dan menarik perhatian,
"mulai sekarang non akan tinggal bersama bibi,di kampung halaman bibi,sesuai dengn pesan terakhir nyonya dan tuan,non ranti akan menjadi putri kami,bibi harap non yang tabah ya,"ucap bi inah lembut memeluk tubuh mungil nan rapuh itu
"non sebenarnya tuan sudah meikirkan kemungkinan ini terjadi,sehingga beliau sudah menyiapkan semuanya agar non,tetap isa hidup dnegan baik,meskipun mereka sudah tidak ada lagi"ucap pak ucup yang tengah menyetir
"maksud pak ucup ??"tanya ranti pensaran
"ayah non sudah membeli rumah di desa tempat kami tinggal,beliau juga membeli ladang dan sawah,serta beberapa tabungan yang isa non guakan untuk hidup,ayah anda sudah menduga kalau paman aanda memiliki rencana jahat"ucap pak ucup menjelasakan
"terimakasih bi pak ucup,sudah mau menyelamatakn nyawa aku"ucap ranti serak
"perjalanan amsih jauh,sebaiknya non tidur dulu"bujuk bi inah lembut
membuat remaja putri itu memejamkan matanya di pelukan bi inah,
"kasihan sekali nasib mu nak,harus kehilangan orang tua dnegan cara yang targis"ucap bi inah lirih mrnatap kearah gadis yang tengah tertidur itu
"tuan aryo memang sudah memiliki inforamsi itu,tapi bukannya kabur,tuan justru hanya menyiapkan segelanya untuk non ranti,itu artinya semua ini sudah menjadi keputusan tuan aryo bu"sahut pak ucup dari depan
"ya pak,karena tuan aryo tau jika dia tidak menyerahkan diri,maka kemungkinan besar non ranti yang akan di bunuh,tidaka da orang tua yang ingin anaknya menderita pak"sahut bi inah sendu
"sudah bu yang penting sekarag kita bantu tuan dan nyonya menjaga non ranti dnegan baik,"ucap pak ucup tenang ia sudah lama mengikuti sang tuan,walaupun ua hanya lulusan sd,tapi sang tuan mengajarakan banyak hal,sehingga sedikit banyaknya ia tahu tentang intrik di kalangan konglomerat,seperti janjinya pada sang tuan malam itu,ia akan melindungi putri satu-satunya dengan nyawanya ,
"ya pak,apalagi non ranti sudah seperti anak ibu sendiri ,ibu yang membesarkannya pak,kita harus melindunginya sebaik mungkin"sahut bi inah sendu ,tanganya memeluk erat tubuh munggil yang kini tertidur pulas itu,,,,,,,,,,,,............