Jam makan siang tiba. Karena Norbert sudah berencana makan siang dengan Farah Hasmi, dia pun pergi untuk menemui wanita itu. Norbert melangkahkan kakinya keluar dari lobi. Beberapa pegawai terlihat menundukkan wajahnya sejenak sebagai tanda hormat. Norbert menanggapinya sambil lalu. Dia melirik jam tangan. Masih cukup lama untuk pergi ke tempatnya makan siang hari ini.
Jim sengaja mengatur pertemuan Norbert dengan Farah Hasmi di sebuah restoran. Restoran itu bernama TomTom, milik seorang koki terkenal yang sering wora-wiri di televisi. Kalau tidak salah nama koki itu adalah Chef Norah, salah satu koki selebriti yang punya banyak fans di sosial media. Norbert tak memiliki sosial media–menurutnya dia tak memerlukannya, apalagi dia tak suka membagi kehidupannya dengan orang asing. Hanya saja Chef Norah cukup populer sampai-sampai ada baliho besar atas namanya terpampang di mana-mana.
Dari penuturan Jim, TomTom memiliki banyak cabang di kota. Restoran itu cukup sering diperbincangkan dan masuk rekomendasi wisata kuliner. Terlebih restoran itu memiliki ruangan-ruangan privat yang ditujukan bagi pengunjung yang menjunjung privasi. Jim memilih restoran itu, karena sesuai dengan keinginan Norbert yang ingin tempat privat untuk bertemu dengan Farah.
Cukup lama Norbert berkendara. Akhirnya, dia sampai juga di TomTom. Setelah memarkir mobil, dia pun mendatangi pelayan dan berkata sudah melakukan reservasi. Pelayan pun memandu Norbert untuk masuk ke dalam ruangan privat yang sudah dipesan Jim sebelumya.
Begitu masuk ke dalam ruangan yang dimaksud, Norbert duduk seraya melihat pemandangan di luar jendela. Di luar sana langit tampak mendung dengan awan gelap yang menggelayut. Norbert sedikit melamun. Dia menghembuskan napas pendek, lalu memperhatikan sekeliling. Ruangan ini begitu sesuai dengan seleranya. Dengan interior khas Jepang, membuatnya terlihat berkelas. Norbert sadar Chef Norah memang punya selera yang bagus.
Makin lama, langit di luar sana makin terlihat mendung. Ketika diperhatikan benar-benar, Norbert sadar gerimis sudah turun. Pantas saja. Udara sedikit dingin ketika Norbert berkendara sendirian menuju restoran ini. Dari dulu, Norbert tak terlalu suka sopir pribadi. Dia lebih suka ke mana-mana sendiri. Kecuali kalau dia sedang capek dan tak punya tenaga untuk menyetir sendiri, barulah dia minta sopir untuk menemaninya.
Tak perlu menunggu lama, sosok yang dinanti Norbert pun datang juga. Saat pintu digeser ke samping, tampaklah sosok Farah. Norbert masih ingat sosoknya dengan jelas. Wanita itu cantik khas orang Indonesia, berkulit kecokelatan sehat, berambut hitam legam, dan selalu mengenakan beberapa gelang aneka warna di lengan kanannya. Norbert pernah bertanya kenapa Farah suka memakai gelang itu, dan jawabannya begitu disukai Norbert.
“Aku mudah dilupakan, Norbert. Tapi, hal-hal kecil seperti gemerincing gelang aneka warna di tanganku ini, bisa saja menjadi satu-satunya hal menarik yang bisa diingat orang sibuk sepertimu. Aku jamin ketika kau melihat gelang-gelang ini, kau pasti langsung teringat denganku. Bagaimana? Aku benar, bukan?”
Ucapan Farah saat itu ada benarnya juga. Waktu Farah masuk ke dalam ruangan, mata Norbert seketika tertuju pada gelang Farah, dan dia langsung mengingat pertemuan mereka di Prancis. Tatapan Norbert dan Farah akhirnya bertemu. Farah tersenyum manis. Norbert tahu Farah masih sosok yang sama seperti dulu. Wanita itu begitu energik dan bersemangat, sama seperti ketika mereka pertama berkenalan.
“Kupikir kau akan membatalkan undangan makan siangku. Aku tahu kau orang yang sangat sibuk, Norbert,” ucap Farah seraya mengulurkan tangan kanannya. Gemerincing gelang mewarnai sikapnya yang sopan dan berkelas.
Norbert tersenyum. Dijabatnya tangan Farah dengan mantap. “Aku tak setega itu. Apalagi kau baru saja pulang. Sudah tidak suka Prancis? Atau kau akan kembali ke sana lagi? Dibanding di sini, Prancis lebih nyaman dihuni.”
“Yah, Prancis menyenangkan. Aku suka suasananya. Tapi, lama-lama di sana sedikit membosankan. Aku butuh suasana baru. Ehm, mungkin aku cuma sedikit rindu dengan kampung halamanku.”
“Benarkah? Kupikir kau kembali ke sini untuk memulai bisnis baru.” Norbert menyelidik. “Aku bahkan tak mendengar kabarmu sejak terakhir kita bertemu. Ehm, kira-kira sudah setahun lamanya kita tak bertemu. Kenapa tiba-tiba menghubungiku? Tentunya untuk membicarakan bisnis, kukira?”
“Oh, Norbert. Jangan bersikap konyol. Hidupku tak hanya berputar pada bisnis semata. Aku hanya ingin berhubungan baik denganmu. Yah, aku butuh teman. Aku tak punya teman di sini. Kau tahu sendiri pertemanan antar perempuan kadang penuh drama. Aku tak menginginkan hal semacam itu.”
Tawa seketika menyembur keluar dari bibir Norbert. “Teman? Apa aku tidak salah dengar?”
“Tentu saja tidak. Aku menikmati obrolan santai kita di Prancis. Kau teman yang menyenangkan. Kita tinggal di negara yang sama sekarang. Kupikir kita bisa berteman? Atau kau terlalu menutup diri, sehingga tak ingin dekat dengan siapa pun?”
Norbert tercenung. Dia suka berteman. Dia berteman dengan siapa saja. Atau lebih tepatnya dia berelasi dengan siapa saja. Norbert tak pernah tahu masa depan seperti apa yang menantinya. Lebih mudah berhubungan baik dengan semua orang. Siapa tahu suatu saat nanti mereka bisa dimanfaatkan.
Akhirnya, Norbert tersenyum. “Aku bukan tipe yang menutup diri. Kalau kau ingin menawarkan pertemanan, dengan senang hati aku akan menerimanya. Hanya saja, tak pernah ada yang terang-terangan mengatakannya padaku sepertimu. Ini pengalaman pertama bagiku, karena itu aku sedikit mengantisipasi tawaranmu tadi.”
Farah tertawa. “Kau lucu sekali, Norbert. Aku melakukan ini bukannya tanpa alasan. Bagaimanapun pertemanan selalu menguntungkan.” Farah mendadαk berbisik. “Omong-omong, ketika kau memutuskan menemuiku, apa istrimu tahu hal ini? Istrimu tidak akan marah, kan?”
“Kau tahu aku sudah menikah?” tanya Norbert.
“Tentu saja. Aku bertanya pada beberapa orang tentangmu. Aku tidak mau istrimu salah paham andai melihat kita bersama. Yah, aku belum menemuinya secara resmi. Ehm, apa aku harus memperkenalan diri pada istrimu juga? Aku cuma tidak ingin istrimu tiba-tiba melabrakku dan marah-marah.”
“Tenang saja, dia tidak akan marah. Dia bukan orang seperti itu,” sanggah Norbert.
“Bagaimana kau bisa begitu yakin? Semua istri selalu bersikap posesif. Apalagi kalau suaminya laki-laki sepertimu.” Farah mencondongkan tubuhnya mendekat. “Tak akan ada yang menolak pesona laki-laki sepertimu, Norbert. Apa tidak ada yang bilang kau ini idaman banyak wanita?” Farah terlihat sekali sengaja menggoda Norbert.
Norbert cuma tersenyum kecil mendengar kalimat terakhir Farah yang serupa pujian itu. “Tenang saja. Istriku bukan orang seperti itu. Aku yakin.” Norbert langsung teringat pengkhianatan istrinya dengan Simon. Kalau dia sampai melihat kecemburuan di mata Inggrid gara-gara Norbert dekat dengan wanita lain, menurutnya itu sesuatu hal yang tak masuk akal sama sekali.
“Baiklah.” Farah akhirnya menyudahi basa-basinya. Dia membuka buku menu untuk memesan makanan. “Jadi, makanan apa yang enak di restoran ini? Apa kau masih suka spageti, Norbert? Kau ingat spageti yang kita santap di restoran, yang kita kunjungi di dekat dermaga?”
“Ah, tentu saja. Spageti di sana enak. Baiklah, aku akan memesan makanan favorit kita berdua,” sahut Norbert, teringat akan makanan favoritnya dan Farah yang kebetulan sama—spageti. Tak lama, pelayan pun datang menghampiri Norbert dan Farah untuk mencatat makanan yang hendak mereka pesan.
-to be continue-