Norbert melajukan mobilnya menembus lalu lintas yang padat merayap. Kerlip lampu menjalari sepanjang jalan yang dia lalui, Tak ada namanya lengang di kota besar, Bahkan hingga tengah malam, kendaraan masih saja berlalu lalang. Ya, kota besar memang selalu sibuk, tak peduli terang atau gelap. Bisa saja saat orang-orang tertidur, ada yang baru beraktivitas demi mencari uang. Apa saja bisa terjadi di sini. Beruntunglah orang-orang yang memiliki jadwal normal. Beberapa orang harus merelakan waktu istirahatnya demi mencari sesuap nasi.
Norbert termasuk yang beruntung. Dia memiliki jadwal normal. Hanya saja dia pernah mengalami masa-masa terpuruk di mana dia harus terjaga di malam hari hanya supaya dia bisa makan keesokan harinya. Jadi, dia tahu persis bagaimana rasanya memiliki ritme hidup yang berbeda dengan manusia normal. Untuk menebus hal itu, ketika hidupnya sudah mapan, Norbert berusaha hidup sehat. Dia tidur cukup, makan makanan sehat, olahraga teratur, dan berhenti merokok.
Rokok sempat menjadi momok bagi Norbert. Ketika paru-parunya bermasalah, dokter pun memberinya ultimatum supaya Norbert berhenti menyesap batang nikotin itu. Sungguh berat untuk dilakukan tentu saja. Tapi, dengan tekad penuh, Norbert akhirnya bisa berhenti merokok. Dia cuma menyesapnya sesekali ketika pikirannya sedang penat.
Dan, yang membuat Norbert merokok lagi adalah ketika dia memikirkan perselingkuhan Inggrid.
Norbert mengerem mobilnya saat dilihatnya lampu lintas berubah merah. Dia menunggu beberapa saat. Selama menunggu, Norbert jadi sedikit melamun. Dia segera teringat sikap dingin Inggrid tadi waktu dia tahu Norbert berganti pakaian dan mengambil kunci mobilnya untuk keluar rumah.
“Urusan apa yang begitu mendesak sampai kau harus keluar jam segini? Kau seharusnya tidur sekarang. Kau harus menjaga kesehatanmu, Norbert.” Inggrid berkacak pinggang saat mengatakannya.
“Tapi, kolegaku membutuhkanku sekarang. Dia sedang kesulitan. Tenang saja, aku akan langsung pulang begitu urusannya selesai,” jawab Norbert tanpa memandang wajah Inggrid.
“Apa ini sesuatu yang amat penting? Apa ini urusan bisnis? Aku ingat kau pernah bilang ingin membuka lini bisnis baru lagi.” Mata Inggrid memicing. Dari wajahnya dia tampak curiga atas apa yang akan dilakukan Norbert.
“Sepertinya begitu. Dia tak mengatakannya dengan jelas. Tapi, kalau ini menyangkut bisnis, aku harus buru-buru datang. Bagaimanapun aku harus memiliki relasi baik dengan banyak orang. Termasuk yah… dilibatkan dalam hal-hal semacam ini.” Norbert mengambil kunci mobil, sadar dia baru saja berbohong. “Tenang saja. Ini tidak akan lama. Aku akan segera kembali. Kau tidur duluan saja.”
Begitulah. Norbert tak tahu kenapa dia harus berbohong pada Inggrid seperti itu. Mungkin karena itu alasan yang praktis. Lagipula Norbert enggan bercerita mengenai Farah, atau bagaimana awal dia bertemu wanita itu. Sedikit merepotkan saja kalau dia harus melakukannya.
Akhirnya, lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau. Norbert menyalip beberapa kendaraan di depannya dengan kecepatan penuh. Dia takut terlambat. Tadi dia sempat menelepon Farah, tapi wanita itu mengacuhkan panggilan teleponnya. Norbert jadi khawatir. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Farah? Atau malah wanita itu pingsan di diskotek? Bukannya apa-apa. Banyak sekali laki-laki hidung belang yang mencari kesempatan saat melihat wanita tak berdaya. Norbert tak mau Farah sampai mengalami kejadian yang tak mengenakkan.
Beberapa menit kemudian, Norbert sampai juga di diskotek. Dari luar, tempat itu tampak biasa saja. Tapi, Norbert yakin di dalamnya ramai oleh banyak orang, dengan musik disetel sekencang mungkin. Setelah memarkir mobil, Norbert menembus barisan beberapa orang yang sedang menari mengikuti irama lagu yang menghentak. Sejenak telinga Norbert seperti tuli begitu masuk ke dalam diskotek.
“Di mana dia?” Mata Norbert berkeliling. Pasti susah menemukan Farah di tengah lautan orang ini. Bodohnya, dia tak bertanya pada Farah tadi di mana tepatnya dia berada.
Akhirnya, Norbert memutuskan menepi, mencari ruangan yang sedikit sepi untuk menelepon Farah lagi. Dia pun masuk ke dalam toilet laki-laki. Setelah menutup pintu, suara dentuman musik tak terlalu terdengar keras. Di toilet, Norbert tak henti-hentinya menelepon Farah. Sayangnya, Farah belum juga mau mengangkat teleponnya.
“Halo, Farah?” Akhirnya, teleponnya tersambung juga setelah percobaan beberapa kali. “Di mana kau? Aku susah menemukanmu. Banyak orang di sini. Aku sedang di toilet sekarang. Kau dimana?”
“Oh, kau sudah di sini? Aku sembunyi di toilet perempuan. Cari saja.” Farah langsung menutup sambungan telepon.
Norbert mendengus. Ternyata Farah berada di toilet di sampingnya. Norbert segera keluar dari toilet laki-laki dan masuk ke toilet perempuan. Beberapa wanita di sana yang baru keluar dari bilik sedikit terkejut melihat Norbert. Norbert tak peduli. Dia segera mencari keberadaan Farah. Ketika dilihatnya sosok Farah yang meringkuk di sudut toilet yang penerangannya temaram, segera saja Norbert menghampirinya. Kepala Farah tampak terkulai di atas pahanya yang ditekuk ke arah dadα.
“Keadaanmu parah sekali.” Norbert jongkok di depan Farah dan menepuk bahu wanita itu.
Farah mendongak begitu disadarinya Norbert sudah datang. Wajahnya tampak kuyu dan pucat. Malam ini dia memakai baju kasual—celana jins belel dan kaos kedodoran. Sungguh penampilan yang ala kadarnya. Bahkan tak ada sapuan make up di wajah wanita itu sama sekali.
“Akhirnya, kau datang. Penyelamatku datang juga. Aku sudah menunggumu dari tadi. Orang-orang sampai melihatku dengan pandangan aneh. Tapi, aku tidak peduli. Hahaha…” Farah bicara melantur. Dia bangkit begitu Norbert mengajaknya berdiri. Farah sedikit sempoyongan. Dia langsung bersandar pada Norbert agar tak terjatuh.
“Jadi, kita pulang sekarang? Mobilmu bagaimana? Apa mau ditinggal di sini? Kalau aku harus mengantarmu, kau harus memastikan mobilmu aman sampai besok,” ucap Norbert.
“Mobil? Apa maksudmu?” tanya Farah sedikit linglung. Badannya kembali oleng. Norbert dengan sigap menopang badan Farah agar tak terhempas ke lantai.
Norbert langsung mengerutkan kening bingung. “Tadi kau bilang tak bisa menyetir sendiri? Itu artinya kau bawa mobil kan?”
“Oh?” Farah langsung terkikik. “Aku cuma bercanda, Norbert. Tentu saja aku tak bawa mobil waktu ke sini. Aku pergi naik taksi. Maaf, Norbert, aku sudah membohongimu. Aku cuma mau kau datang menjemputku. Kalau aku tak mengatakannya, kau tak mau datang, bukan?” Farah cekikikan lagi.
Norbert berdecak. Dia agak sebal juga Farah membohonginya masalah mobil. “Sudahlah. Aku akan sedikit berbaik hati sekarang. Aku akan mengantarmu pulang.” Norbert merangkul bahu Farah dan keluar dari toilet. Mereka melewati gerombolan orang yang terus menari dan minum-minum. Suara musik yang berdentum-dentum tak juga berhenti. Malah suaranya semakin menggila, seakan membentur dinding diskotek.
Akhirnya, Norbert dan Farah sampai juga di mobil Norbert. Norbert segera membuka pintu mobil dan membimbing Farah duduk. Kepala Farah lunglai. Matanya terpejam, seakan dia baru saja menenggak obat tidur berdosis tinggi.
“Jadi, di mana rumahmu?” tanya Norbert sambil menghidupkan mesin mobil.
Pertanyaan itu terdengar sia-sia saja. Norbert sontak menoleh. Farah sama sekali tak terbangun dari tidurnya. Tidurnya malah semakin pulas.
“Sial. Apa aku ke hotel saja?” pikir Norbert seraya mengingat hotel terdekat yang bisa dia temukan. Akhirnya, dia keluar dari area parkir. Mobilnya pun melaju, menembus jalanan malam yang ramai, dengan Farah yang terlelap di sampingnya.
-to be continue-