Gelapnya malam disertai kesunyian membuat wanita bernama Lia begidik ngeri, Lia merasa malam itu berbeda dari malam biasanya dan dirinya tidak tau apa yang menyebabkan suasana menjadi seperti itu.
Dari sudut gang di depan Lia samar-samar dirinya melihat bayangan seseorang, bayangan yang tidak terlalu jelas membuat Lia penasaran apa yang dilakukan seseorang di dalam gang pukul 23:30.
Dug dug dug.
Setiap Lia melangkah detak jantungnya berdegup sangat cepat dan keras, sambil melangkah Lia berulang kali menarik nafas dan membuangnya secara perlahan.
Tepat di depan gang Lia menghentikan langkahnya, Lia menutup mulutnya mencoba tidak berteriak setelah apa yang dilihatnya.
Berlari Lia, ayo berlari," dalam hati Lia mencoba menyemangati dirinya yang hanya terdiam, kakinya terasa kaku dan sangat sulit digerakan.
Dalam diamnya Lia terus menatap kengerian yang tidak jauh darinya itu, darah yang terus menetes dari pisau yang dipegang seorang pria hanya bisa membuat Lia menelan ludah.
"Oh Sayang, aku seperti merasakan hadirnya orang ketiga diantara kita," ucap pria itu sambil terus menyayat wanita yang sudah tidak bernyawa di depannya itu.
Lia baru mengingat siapa pria psikopat di depannya. Pria itu bernama Virza Ceo perusahaannya saat ini bekerja, keramahan dan ketampanannya membuat para gadis tergila-gila padanya, tentu saja tidak ada dari mereka yang tau bagaimana sifat aslinya seperti yang dilihat Lia saat ini.
Setelah berdiam cukup lama Lia merasakan kakinya bisa digerakan kembali, dengan sangat perlahan Lia berjalan mundur sambil sebisa mungkin tidak bersuara, Lia tau sedikit saja suara yang terdengar darinya bisa melayang nyawanya saat itu juga.
Kreeeeteeeek.
Braaaaaaaak.
Braaaaaaaak.
Lia yang berjalan mundur tidak menyadari banyak kayu di belakangnya, suara kayu yang berjatuhan membuat suara khas yang sama sekali tidak diinginkannya.
"Tidak, kumohon semoga dia tidak mendengarnya," ucap Lia dengan suara pelan.
"Heeeeeh, tapi aku mendengarnya, aku tidak tuli," sahut Virza yang sudah berdiri di samping Lia.
"Maaf, maaf aku tidak bermaksud mengintip aku hanya kebetulan lewat saja," ucap Lia tubuhnya gemetar ketakutan.
"HEHEHEHE, HAHAHAHAHA.
aku tidak peduli kamu hanya lewat atau sengaja mengintipku, karena kamu sudah melihatku kamu harus mati," sahut Virza menyeringai sambil menjilati pisaunya.
"Arrrrrrrrkkkkkhhhhh, tidak kumohon jangan, ampuni aku," teriak Lia, tangannya memegangi kepalanya.
"Hoi, siapa di sana," teriak seseorang yang langsung berlari ke arah Lia.
"Hari ini kamu selamat, aku sudah menandai wajahmu bersiaplah untuk mati," ucap Virza yang tiba-tiba menghilang.
"Mati, mati, aku tidak mau mati. Jangan bunuh aku," Lia terus berbicara sendiri, tangannya berganti memegangi wajahnya.
"Apa yang terjadi padamu, sadarlah. Hei sadarlah," ucap bapak penjaga malam menggoyangkan bahu Lia.
"Pem pembunuhan, aku tidak mau mati," ucap Lia terus bergumam.
Bruuuuuuuuuk.
Lia yang sudah tidak kuat langsung jatuh pingsan, yang dilihatnya tadi dan ancaman itu benar-benar membuatnya ketakutan.
***
"Aku tidak mau mati," teriak Lia yang tiba-tiba terduduk, nafasnya masih terasa berat sama seperti sebelum jatuh pingsan tadi.
Mata Lia menatap 3 bapak-bapak penjaga malam, Lia yang melihat dirinya sudah tidak lagi berada di depan gang merasa cukup tenang.
"Terima kasih sudah menolongku," ucap Lia menundukkan kepalanya.
"Memangnya apa yang terjadi padamu Nak?" tanya salah satu Bapak-bapak penuh selidik.
"Tidak ada apa-apa, sepertinya penyakit halusinasiku kambuh lagi," sahut Lia yang langsung berdiri.
"Sekali lagi terima kasih, ini sudah sangat malam aku harus segera pulang," sambung Lia sambil menundukkan kepalanya dan berjalan pergi.
Tidak, aku tidak mau mati, siapa yang tau kalau mereka mungkin saja teman psikopat itu," dalam hati Lia mempercepat langkahnya.
"Hehehehe, wanita menarik, aku tidak akan melepaskan mu," ucap Virza yang mengintai dari kejauhan.
Lia mempercepat langkahnya agar segera sampai di rumah, melihat rumahnya yang sudah berada di depan mata Lia bergegas membuka pintu dan kembali menguncinya.
Di dalam kamar Lia menutupi tubuhnya dengan selimut, Lia ingin segera tertidur berharap yang dialaminya hanyalah sebuah mimpi.
Kriiiiiiiing kriiiiiiiing kriiiiiiiing.
Alarm di atas meja terus berbunyi, Lia yang mendengar suara alarm bergegas membuka mata dan mematikan alarmnya.
"Tuhkan benar semalam hanya mimpi," ucap Lia sembari mengucek matanya.
Lia bangun dari tempat tidurnya dan segera bersiap pergi kerja, Lia merasa lega ternyata yang dialaminya hanya mimpi belaka.
"Selamat pagi dun..." Lia tidak melanjutkan perkataannya.
Lia menutup mulutnya tepat setelah membuka pintu. Lia langsung berlari ke kamar mandi memuntahkan sarapannya setelah melihat hal yang menjijikan di depan rumahnya.
Lia kembali berjalan ke luar, ditatapnya bangkai tikus yang berserakan sambil memegangi perutnya.
"Tidak mungkin semalam bukan mimpi, ini pasti perbuatannya," ucap Lia.
"Sial aku harus berangkat sekarang, nanti aku suruh orang saja membersihkannya," sambung Lia sambil berjalan pelan menghindari bangkai tikus dengan penuh jijik.
Sepanjang jalan Lia merasa tidak tenang, Lia merasa seseorang sedang mengikutinya, berulang kali Lia menengok ke belakang tidak ditemukannya siapapun di belakangnya.
Teng teng teng, teng teng teng.
Lia yang mendengar ponselnya terus berdering menghentikan langkahnya, Lia mengambil ponselnya dan mengangkat telepon tanpa nama di ponselnya.
[Bagaimana keadaanmu? Apa kamu mimpi indah? Hey, apa kamu menyukai hadiah dariku.]
Suara dari sebrang telepon membuat bulu kuduk Lia merinding, suara yang didengarnya tidak salah lagi suara pria semalam. Lia merasa tubuhnya lemas seketika, Lia juga tidak tau harus berbicara apa.
[Kenapa diam saja, apa kamu terkejut bagaimana bisa aku mengetahui nomormu atau kamu terkejut karena aku tau rumahmu. Hahahaha.]
[Pria psikopat jangan ganggu aku, anggap saja kita tidak pernah bertemu, aku juga tidak akan mengatakan apapun pada orang lain,] Lia memberanikan diri mengucapkan apa yang memang ada di dalam hatinya saat ini.
[Psikopat, ternyata kamu sudah menyiapkan nama panggilan untukku aku sangat terharu, bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu begitu saja.]
Lia dengan gemetar langsung mematikan ponselnya, Lia mempercepat langkahnya berharap Virza atau siapapun yang mengikutinya berhenti sampai di situ.
Teng teng teng, teng teng teng.
Mendengar ponselnya kembali berbunyi Lia kembali menghentikan langkahnya, Lia mengambil ponselnya dan mengangkat telepon bersiap meneriaki orang yang menelponnya.
[Temui aku malam ini di gedung kosong depan kantor,] ucap suara dari sebrang telepon sebelum Lia berteriak.
[Aku tidak mau bertemu denganmu, jangan lagi menggangguku,] teriak Lia yang langsung mematikan ponselnya.
Buuuuuuuuug.
Lia yang terus berjalan ditabrak seorang anak kecil, setelah menabrak Lia hingga membuatnya hampir jatuh anak itu berlari begitu saja meninggalkan selembar surat di depan Lia.
Lia mengambil kertas di depannya dengan penuh keraguan, anak tadi dan kertas yang saat ini dipegangannya pasti bukanlah kebetulan.
VANIA
Sebuah nama yang tertulis di kertas membuat Lia melotot kaget, Vania adalah adiknya apa maksud Virza menulis nama adiknya mungkinkah Virza saat ini sedang mengancamnya.
"Aku tau kamu pasti ada di sekitar sini, aku setuju untuk bertemu denganmu nanti malam, tolong jangan ganggu adikku dan keluargaku," teriak Lia.
Ting.
Nada dering pesan yang terdengar dengan cepat membuat Lia melihat ke ponselnya, pesan singkat yang dikirim nomor tanpa nama membuat Lia hanya bisa memegangi dadanya.
[Pilihan yang bagus, aku suka karena kamu memilih yang tepat,] bunyi pesan yang dibaca Lia.
Haaaaaah.
Lia menghela nafas sambil kembali melanjutkan perjalanannya, kalau memang dirinya harus mati di tangan Virza dirinya rela asal jangan keluarganya yang berada dalam bahaya menggantikannya.