Empat hari setelah Bisma pulang, Zui berdiri di depan lemari dengan seragam di tangan.
Selama hari-hari itu, Nana dan Duwi bergantian datang membawa catatan. Mereka tidak selalu belajar. Kadang Zui hanya mendengarkan, kadang meminta keduanya tinggal tanpa membicarakan apa pun.
Rihana juga telah berbicara dengan Bu Vita.
Mereka menyepakati Zui boleh mencoba kembali mengikuti sebagian pelajaran, lalu melihat apakah ia sanggup bertahan sampai waktu pulang.
Gadis itu sendiri yang meminta mencoba.
Namun, ketika seragam sudah dikenakan, perutnya justru terasa tidak nyaman.
“Zui sudah siap?” panggil Rihana dari bawah.
Gadis itu menatap pantulan wajahnya.
Tidak ada yang berubah pada seragam tersebut.
Orang yang memakainya terasa berbeda.
Di meja makan, Rihana sudah menyiapkan sarapan dan bekal. Zui duduk tanpa mengatakan bahwa dahulu ayahnya biasa berada di seberang.
Ia berusaha makan.
Rihana menunggu sampai putrinya selesai, kemudian mengambil kunci mobil.
“Bunda antar.”
Zui mengangguk.
Perjalanan menuju sekolah membawa terlalu banyak ingatan. Toko yang biasa dilewati, persimpangan, dan tempat Mahendra pernah menepikan kendaraan.
Ketika tiba di depan gerbang, Zui tidak langsung membuka pintu.
Rihana menoleh.
“Mau menunggu sebentar?”
Gadis itu menggenggam tali tas.
“Nggak apa-apa, Bun.”
“Kamu boleh mengabari Bunda kalau ingin pulang.”
“Iya.”
Zui mencium tangan ibunya, lalu turun perlahan.
Pak Salim melihatnya dari dekat gerbang.
Lelaki itu tersenyum lembut dan memberi jalan tanpa menanyakan banyak hal.
“Selamat pagi, Non.”
“Pagi, Pak.”
Zui masuk.
Beberapa langkah kemudian, Nana dan Duwi sudah mendekat. Keduanya tidak berteriak memanggil dari ujung lorong seperti biasanya.
Nana langsung berjalan di sampingnya.
“Kita ke kelas?”
Zui mengangguk.
Sepanjang jalan, beberapa murid menatap. Ada yang menyampaikan belasungkawa, ada pula yang hanya menggeser tubuh agar mereka bisa lewat.
Zui menjawab seperlunya.
Ia tidak sanggup menceritakan ulang kejadian yang sama.
Ketika memasuki kelas, pandangannya langsung tertuju pada bangku di belakang tempatnya duduk.
Kosong.
“Bisma belum masuk?” tanyanya pelan.
“Masih pemulihan,” jawab Duwi.
Zui meletakkan tas.
Seorang teman di barisan depan menoleh hendak menyapa, lalu berhenti seperti tidak tahu harus mengatakan apa.
Zui mengangguk lebih dahulu.
“Pagi.”
“Pagi, Zui.”
Percakapan singkat itu membuat beberapa orang kembali pada kegiatan masing-masing. Ada yang mencari penghapus, ada yang mengeluhkan tugas, dan ada yang terburu-buru membuka buku.
Zui mendengarkan suara-suara tersebut.
Dulu ia menjadi bagian dari keramaian itu tanpa perlu berusaha. Sekarang duduk di bangku sendiri saja membuatnya merasa sedang berada di tempat yang terlalu jauh.
Nana menarik kursinya sedikit agar tidak menghalangi jalan.
“Kalau mau titip barang, taruh sini.”
Zui menggeleng.
“Nggak usah. Makasih.”
Duwi membantu mengambil buku yang hampir terjatuh ketika Zui membuka tas. Ia meletakkannya di meja tanpa mengatakan bahwa tangan sahabatnya terlihat gemetar.
Di atas mejanya ada beberapa lembar catatan yang sudah disusun. Nana mengatakan Bu Vita meminta bahan tersebut disiapkan agar Zui tidak perlu meminjam dari banyak orang.
Gadis itu menyentuh ujung kertas.
“Terima kasih.”
Duwi duduk di dekatnya sampai bel berbunyi.
Bu Vita masuk lebih dahulu dan menyapa kelas seperti biasa. Ia tidak meminta Zui berdiri atau menceritakan keadaan keluarganya di depan teman-teman.
Pelajaran dimulai.
Zui membuka buku.
Pada menit-menit awal, ia masih bisa mengikuti. Ia menyalin beberapa bagian, kemudian berhenti ketika suara kendaraan besar terdengar dari jalan di luar.
Dadanya mendadak menegang.
Ingatan tentang sirene datang begitu saja.
Zui menekan pena terlalu kuat hingga ujungnya meninggalkan noda di kertas.
Nana melirik.
“Zui?”
Gadis itu menggeleng kecil.
Ia mencoba menatap papan tulis lagi, tetapi kalimat yang sedang dijelaskan Bu Vita tidak masuk ke kepala.
Tangannya mulai dingin.
Bu Vita menyadari perubahan itu dan mendekat tanpa membuat seluruh kelas berhenti.
“Mau keluar sebentar?”
Zui ragu, lalu mengangguk.
Duwi menemaninya ke tempat yang lebih tenang. Gadis itu duduk, menunduk, dan berusaha mengatur napas yang terasa pendek karena menahan tangis.
“Gue kira bisa,” bisiknya.
“Lo sudah datang,” jawab Duwi.
“Tapi gue nggak bisa dengerin apa-apa.”
“Kita duduk dulu.”
Duwi tidak membuka buku atau menanyakan bagian mana yang tertinggal.
Ia hanya tetap berada di sana.
Beberapa waktu kemudian, Zui merasa cukup tenang untuk kembali. Bu Vita menyambut tanpa komentar yang membuatnya malu.
Gadis itu berhasil mengikuti sisa pelajaran sampai waktu istirahat.
Di lorong, suara dua siswi terdengar ketika mereka berjalan menuju kantin.
“Katanya yang lihat anak Pak Walikota itu.”
“Terus kenapa ayahnya sempat hilang?”
Langkah Zui melambat.
Nana langsung menoleh dengan wajah mengeras.
“Kalau nggak tahu, jangan ngomong seenaknya.”
Kedua siswi itu terkejut.
“Kita cuma dengar—”
“Ya, sudah. Dengar bukan berarti tahu.”
Duwi memegang lengan Nana sebelum suaranya semakin tinggi.
Zui memandang kedua siswi tersebut.
“Apa yang kalian dengar?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Salah satunya menggeleng dan mengatakan hanya membaca percakapan orang lain. Ia tidak punya informasi yang bisa dijelaskan.
Zui menunduk.
Duwi mengajaknya melanjutkan langkah.
Di kantin, Bu Ruhi menanyakan makanan yang diinginkan dengan suara lebih lembut. Zui memilih sesuatu yang bisa dimakannya perlahan, lalu duduk di meja bersama kedua sahabatnya.
Namun, pembicaraan di lorong masih tertinggal dalam pikirannya.
Bisma menyaksikan kejadian itu.
Ayah Bisma sempat tidak diketahui keberadaannya.
Apakah kedua hal tersebut berhubungan?
Zui tidak mempunyai jawaban.
Ia juga tidak ingin menjadikan omongan dua siswi sebagai sesuatu yang pasti.
Menjelang siang, kelelahan membuatnya sulit kembali berkonsentrasi. Setelah berbicara dengan Bu Vita, ia menghubungi Rihana untuk dijemput sesuai rencana.
Nana mengantarnya sampai ruang guru.
“Besok coba lagi?” tanyanya hati-hati.
Zui mengangkat bahu.
“Gue lihat nanti.”
“Baik.”
Tidak ada kekecewaan pada wajah sahabatnya.
Saat menunggu ibunya, Duwi menyampaikan bahwa Bisma pernah meminta izin untuk memperoleh nomor Zui.
“Dia bilang supaya kalau ada sesuatu yang perlu disampaikan, nggak terus lewat Arga. Tapi gue belum kasih.”
Zui memandang teleponnya.
“Kapan?”
“Kemarin. Dia bilang tanya lo dulu.”
Gadis itu berpikir sebentar.
“Boleh.”
Duwi mengangguk dan tidak menggoda.
Sore harinya, sebuah pesan dari nomor yang belum disimpan masuk.
Ini Bisma. Nomor lo dikasih Duwi setelah katanya lo mengizinkan.
Zui membaca, lalu menyimpan nama itu.
Tidak lama kemudian, pesan berikutnya datang.
Gua sudah di rumah. Kalau soal keterangan polisi ada yang perlu ditanya, bilang aja.
Gadis itu mengetik, menghapus, lalu mengetik kembali.
Jangan kasih kabar yang belum pasti.
Balasan Bisma singkat.
Iya.
Zui meletakkan telepon di samping buku. Ia membuka catatan yang tadi dibawa pulang dan mencoba menyelesaikan satu soal.
Jawaban pertama salah.
Ia menghapusnya perlahan.
Lalu mencoba sekali lagi.