Fathan menatap gadis yang tengah membelakanginya itu. Ada kerinduan yang begitu membuncah dalam hatinya. Bagaimana tidak, mereka baru menikah, namun langsung dipisahkan oleh jarak dan waktu. Fathan harus terbang ke luar kota selama 2 bulan. Padahal sebelumnya mereka sudah berencana agar berkuliah di kota yang sama, agar bisa selalu bersama.
Pemuda itu, perlahan memeluk pinggang Maya yang masih saja fokus entah sedang apa, gadis itu sepertinya tengah menghindarinya.
Grogi mungkin ya?
"Lagi ngapain?" tanya pemuda itu, semakin menelusup ke dalam ceruk rambut istrinya.
Maya berdehem. "Lagi bikinin kamu minum." Kali ini, Ia mengambil gelas kosong dan meletakkan teh celup di dalamnya.
"Nanti aja, Sayang." Fathan mengatakan ini sembari membalik tubuh Maya agar menghadap ke arahnya. Dirinya menjumput beberapa helai rambut Maya yang menutupi matanya, menyelipkan nya di balik telinga.
"Kenapa gitu?"
Serius, Maya sangat deg-degan saat ini. Meskipun mereka saling mencintai. Dan meskipun mereka menikah dengan sadar, karena sama-sama mau, bukan karena perjodohan atau kawin kontrak atau apapun itu. Namun berada sedekat ini bersama Fathan benar-benar untuk pertama kalinya bagi Maya. Kalau sebelumnya mah boro-boro.
"Karena aku kangen."
Waduh, meskipun begitu, pemuda yang dinginnya setengah mati ini ternyata bisa merayu wanita juga ya. Lihatlah Ia yang dengan lihai menyelipkan tangannya memeluk gadis itu, membuat jantung Maya berdetak sangat kencang, seperti akan meledak.
Jangan bilang Fathan mau langsung minta ehem-ehem nih?
Tenang, Mata bukannya nggak mau, tapi dia groginya setengah mati berhadapan dengan pemuda yang kini menjadi suaminya ini.
Meskipun dia bukan gadis yang suci banget. Kalau sama mantan mah pernah peluk-peluk. Pernah sekali juga ciuman. Eh tapi yang ini jangan sampai Fathan tau ya karena nanti dia bisa marah-marah nggak jelas, perkara masa lalu.
Tapi kalau sama Fathan kan masih suci banget Maya. Jangankan cium, peluk aja nggak pernah. Pacaran aja nggak pernah juga.
Kata Fathan dulu, "aku sayang banget sama kamu, tapi tunggu ya, lulus sekolah langsung kulamar, aku nggak mau pacaran."
Seperti itulah mereka akhirnya menikah. Sangat w*****d-able bukan?
Bukan, bukannya Maya terpaksa juga. Maya beneran sayang kok dengan Fathan, tapi…
"Sayang." Fathan tengah mendekatkan wajahnya pada Maya. Membuat hidung keduanya bersentuhan.
Maya menutup matanya. Gadis itu masih saja grogi setengah mati.
Tenang, Maya. Ini suamimu.
Ia merapal dalam hati hingga benda kenyal itu menempel di bibirnya. Perlahan Maya membuka mata dan mendapati Fathan tengah menciumnya.
Pemuda dingin dan sangat sopan itu, belajar caranya berciuman dari mana?
Ia begitu mahir memandu permainan bibir ini, hingga Maya sudah tak berpikir lagi. Gadis itu perlahan mengalungkan tangannya pada Fathan. Membiarkan Fathan mengambil alih jiwanya.
"Terima kasih, sudah bersedia menjadi istriku," katanya saat mereka saling menjauhkan bibir, berusaha mengambil jeda.
"Hmm." Maya hanya menggumam. Karena Fathan kembali menciumnya. Maya meremang setiap kali pemuda ini mengelus perutnya. Terasa begitu menggelitik. Tapi anehnya, bukannya ingin tertawa malah gadis itu merasakan sesuatu yang lain.
Pemuda dingin ini, kenapa bisa sekali membuat Maya tak karuan begini?
Fathan terus saja mencumbui bibir serta seluruh wajahnya. Benar-benar membuat Maya terlena. Lihat saja gadis itu semakin menengadah agar Fathan dapat dengan mudah mengakses leher nya, menjadi korban ciumannya yang brutal.
Pemuda itu mendudukkannya di meja dapur. Mengecap aroma serta rasa Maya yang begitu menggoda.
"Mas." Kini Maya berani menyebut suaminya. Hanya satu kata. Namun mampu membuat Fathan tak karuan. Ada rasa yang begitu ingin menyesak keluar.
Tahan, Fathan. Nikmati pengalaman cinta pertamamu. Biarkan cintamu mengalir seperti air.
"Uhh.."
Fathan tak kuasa. Pemuda ini sudah membuka kancing baju Maya, membuangnya entah kemana. Menatap buah d**a yang ranum, begitu menggoda untuk dipetik. Dirinya terpaku. Ini pertama kalinya Ia melihat hal seperti ini. Luar biasa sekali Maya menyembunyikannya dengan sangat rapi di dalam sana.
"Terima kasih, Sayang, sudah menjaganya untukku," katanya kini membuka penutup terakhir benda itu. Karena Fathan tau, istrinya tidak pernah macam-macam. Hanya mantannya saja yang sangat menyebalkan, menempeli istrinya seperti lintah, mengganggu saja. Gara-gara mantan dari istrinya ini, yang membuatnya ingin segera menikahi Maya, tidak mengizinkan siapapun mendekati gadis itu.
Sekarang Fathan senang, karena dia lah sang pemenang. Dengan kebanggaan itu Ia melahap salah satu buah yang ranum itu.
"Mas…" Maya mengerang. Astaga pemuda ini tak kira-kira. Bisa-bisanya Ia langsung ulti begitu. Harusnya kan pemanasan dulu, ya kan? Sentuh-sentuh dulu. Remas-remas dulu. Ini kenapa langsung dilahap kan Maya jadi kaget.
Maya sudah bergerak gelisah tatkala suaminya masih menyesap buahnya seperti seorang bayi. Dengan tangan kanan yang berpegang pada buah satunya, memijatnya perlahan.
"Mas…" Maya merintih. Menyiksa sekali rasanya. Tapi gadis itu bukannya mendorong Fathan menjauh, malah semakin menariknya mendekati dirinya. Mungkin ini yang dinamakan risih tapi enak. Malu tapi pengen.
Ya ampun, lagipula, belajar dimana suaminya bisa menggodanya begini? Kalau dulu kan boro-boro. Maya pegang tangannya saja Fathan sudah mengomel. Padahal kalau kepepet juga tetap Fathan yang tarik-tarik ndusel-ndusel.
Eh tapi tunggu. Seperti ada yang aneh. Apa ya?
Maya masih berusaha mengingat apa yang salah saat gadis ini tengah digendong dengan posisi berciuman. Kakinya melingkar pada tubuh suaminya. Begitu juga tangannya yang mengalung pada leher suaminya berpegangan erat. Suaminya berjalan sambil masih menciumi gadis itu.
Wah wah wah, seperti ini juga, siapa yang mengajari Fathan?
Tepat saat Fathan menidurkan nya di ranjang, menindih nya siap melahap istri yang sangat dicintainya ini, Maya akhirnya mengingat sesuatu. Dirinya meringis. Tiba-tiba hilang sudah gairah yang memuncak itu.
"Mas, tunggu." Ia kini berusaha menjauhkan diri.
"Ada apa? Aku bakal berusaha pelan, Sayang. Jangan takut." Suaminya masih merayu. Berusaha mencium Maya kembali.
"Bukan gitu." Maya menghalangi. "Aku mens," katanya sambil meringis.
Eh?
Hening sejenak.
Ekspresi Fathan berubah. Pemuda itu lalu beranjak. Kini duduk di ranjang.
Ia berdehem. "Kalau gitu bikinin aku minum aja," katanya terdengar dingin.
Maya yang mendengar ini jadi menarik alisnya. Dirinya ikut beranjak duduk di samping suaminya. "Mas marah, ya?" tanyanya sambil menoel pipi dengan rahang maskulin itu. Memandangi nya membuat Maya ingin menciumnya lagi.
Haduh Maya tolong sadar diri dong. Kok malah jadi dia yang m***m?
"Nggak marah."
"Kok jadi jutek gitu?" Maya menyentuh kedua pipi Fathan, menariknya agar pemuda itu menatapnya.
Fathan menoleh. Menatap dalam istrinya yang cantik serupa batu pualam. Kata Fathan gitu sih. Maklum kan lagi bucin. Ia berdehem sekilas. "Nggak marah, Sayang," katanya seraya mengelus pipi Maya dengan sayang. "Aku sedang menahan diri."
Hening sejenak. Tiba-tiba, Maya merasa jemari tangan kekar itu kembali menyusuri tubuhnya yang memang masih belum tertutupi kain apapun.
"Tapi kalau Maya mau dipuaskan, Mas bisa. Urusan Mas bisa kapan-kapan." Fathan berbisik mengatakan ini. Sembari jemari nakalnya yang masih saja bergerak kesana kemari membuat Maya kembali hilang akal.
Kalau sudah begini, bagaimana Maya menahannya?
Bagaimana Maya mengatasi tubuhnya yang memang menginginkan sentuhan suaminya?
Akhirnya di pertemuan pertama mereka menjadi suami istri, Maya mendapatkan kenikmatan pertamanya.
***