Vanessa dan Anne kebingungannya saat mereka berdua diberi kabar jika mereka telah dipindahkan. Anne yang harus pindah ke kantor pusat sebagai sekretarisnya Reymond, dan Vanessa yang kini juga harus beralih profesi menjadi sekretarisnya Morgan.
Selama di perjalanan menuju kantor, Vanessa sibuk berpikir dengan perubahan yang sangat mendadak ini, apalagi ia tidak menguasai bidang ini, ia lebih senang berkutat dengan angka dibanding harus sering terlibat dengan seorang atasan, apalagi CEO.
"Nona, kita sudah sampai," ujar sopir taksi yang ditumpangi Vanessa.
"Oh, terima kasih," balas Vanessa seraya menyodorkan dua lembar uang kertas kepada sopir taksi tersebut.
Tepat di saat Vanessa turun dari taksi, di sisi lain Morgan juga baru turun dari mobilnya, seraya menenteng tas kerjanya, Morgan terlihat gagah seperti biasanya. Vanessa sempat terpana dengan ketampanan Morgan. Namun, semuanya lenyap ketika Morgan memanggilnya dengan satu jarinya.
"Bawa tasku," ujar Morgan setelah Vanessa datang mendekat.
Sejenak Vanessa tampak bingung. Namun, segera sadar ketika sopir Morgan menyodorkan tas hitam tersebut. Vanessa buru-buru menerimanya dengan sopan seraya tersenyum.
Sedangkan Morgan sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan Vanessa.
Melihat atasannya hampir hilang ditelan pintu lift, Vanessa bergegas berlari menyusul langkah panjang Morgan, setelah berhasil masuk, dengan napas terengah-engah, Vanessa memencet tombol angka lantai yang akan mereka tuju.
"Mulai sekarang kamu harus berjalan lebih cepat, karena waktu adalah uang. Terlambat sedikit saja, kamu bukan hanya kehilangan waktu itu, tapi juga uangnya." Yang artinya, jika Vanessa terlambat sedikit saja, maka ia harus potong gaji.
"Baik, saya mengerti." Menghela napas panjang. "Dasar, Bos Perhitungan," batin Vanessa.
Setelah sampai di koridor ruangan CEO. Vanessa kebingungan melihat meja Anne yang biasanya di depan ruangan CEO, kini tidak ada di tempatnya.
Morgan yang mengerti dengan kebingungan Vanessa, ia mengatakan, " Mejamu ada di dalam, karena sebelumnya kamu tidak pernah bekerja menjadi sekretaris, maka akan lebih mudah bagiku untuk mengajarimu jika kita berada di ruangan yang sama."
Vanessa hanya bisa mengangguk mengerti, ia tidak tahu jika semua ini sudah diatur oleh Reymond. Di dalam ruangan Morgan, terdapat CCTV tersembunyi untuk mengawasi gerak-geriknya, ini semua Reymond lakukan untuk dendamnya.
"Buatkan aku kopi." Baru saja Vanessa meletakkan tas miliknya sendiri di meja kerjanya, Reymond sudah menyuruhnya untuk membuatkan kopi, padahal itu adalah tugas OB.
"Baik," sahut Vanessa patuh, selain hanya bisa menurut, Vanessa tidak akan mungkin berani menolak karena ia adalah seorang karyawan baru.
[Apakah mantan bosmu itu tukang perintah?] Tulisan pesan Vanessa yang ditujukan untuk Anne di sela ia sedang mengaduk kopi.
[Tidak juga, dia hanya dingin dan pelit.] Balas Anne.
[Kalau begitu, apakah membuat kopi juga tugasmu dulu ketika menjadi sekretarisnya?]
[Tidak! OB yang membuatnya. Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apakah dia sedang mempersulitmu?]
Vanessa hendak membalas pesan Anne dan menceritakan kejadian ini kepada sahabatnya tersebut. Namun, suara bariton mengejutkannya hingga membuat ponselnya terjatuh.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Suaranya begitu dingin dan menusuk, seolah-olah ia baru saja memergoki Vanessa yang sedang mencuri.
"Aku menyuruhmu membuat kopi saja, bukan untuk bermain HP!" lanjut Morgan ketus.
"Maaf, Tuan," sahut Vanessa tergagap.
"Kamu tidak paham dengan peraturanku? Dilarang bermain HP saat bekerja!"
"Baik, saya mengerti. Saya akan mengingatnya, sekali lagi, tolong maafkan saya."
"Cepat antar kopi itu ke atas, dan aku tidak mau melihat kesalahanmu lagi." Setelah mengatakan itu, Morgan langsung berbalik meninggalkan Vanessa.
"Mengejutkan saja seperti hantu," gumam Vanessa seraya menghembuskan napas lega.
Sesampainya di ruangan, Morgan sudah duduk di kursi kebesarannya, dengan memangku beberapa dokumen. Setelah Vanessa meletakkan cangkir kopi Morgan, tanpa aba-aba Morgan langsung melemparkan dokumen-dokumen itu ke atas meja tepat di hadapan Vanessa.
"Baca dan pelajari semua itu, kuharap otakmu mampu mengingat semua peraturan saat bekerja menjadi sekretarisku."
"Sebanyak ini?" batin Vanessa saat melirik banyaknya poin yang tertera di atas kertas tersebut, dan di bawahnya juga masih ada beberapa dokumen lain.
"Baik, saya berjanji akan belajar sebaik mungkin dan berusaha untuk tidak mengecewakan Anda," sahut Vanessa lugas.
Morgan menanggapinya dengan mengibaskan tangannya agar Vanessa kembali ke mejanya, ia tidak perlu sebuah janji, akan tetapi bukti.
Di tengah kesibukan mereka berdua, diam-diam Morgan mencuri pandang ke arah Vanessa. Ia merasa bimbang dengan apa yang akan dilakukannya. Melihat mata polos Vanessa, ia merasa ragu jika gadis di hadapannya ini adalah orang yang sama, yaitu orang yang menyakiti sahabatnya.
Namun, jika mengingat cerita dari sahabatnya, bagaimana liciknya mantan kekasih sahabatnya tersebut, Morgan harus waspada dan jangan sampai terperdaya dengan tipu muslihatnya.
"Tapi, apakah mungkin dia Ceysa? Meski aku tidak mengenal mereka berdua, tapi aku merasa mereka adalah orang yang berbeda, dan jika sampai gadis ini benar-benar orang yang berbeda, aku tidak akan mungkin bisa memaafkan diriku sendiri karena telah menyakiti orang yang tidak bersalah," batin Morgan.
Di tengah rasa bimbangnya, Morgan mendapatkan sebuah pesan dari Reymond. Pesan yang bertuliskan agar Morgan tidak menunda-nunda pekerjaannya untuk mendekati Vanessa, karena sahabatnya itu sudah tidak sabar untuk membalas rasa sakit hatinya.
"Tuan." Vanessa memanggil Morgan dengan pelan.
"Tuan," ulang Vanessa kedua kalinya. Namun, Morgan tak kunjung mendongakkan kepalanya.
"Tuan." Suara Vanessa yang ketiga kalinya baru membuat Morgan sedikit terkejut, padahal Vanessa memanggilnya dengan nada yang masih normal.
"Kamu! Tidak bisakah memanggilku dengan nada pelan? Aku tidak tuli!"
"Maaf jika suara saya mengejutkan Anda, habisnya Anda tidak mendengar panggilan saya tadi," cicit Vanessa. "Padahal aku memanggilnya tidak terlalu keras, tapi sudah salah lagi. Bos memang harus selalu benar," lanjut Vanessa dalam hati.
"Ada apa?" tanya Morgan tanpa rasa bersalah.
"Maaf, ini bisa tolong jelaskan poin yang ini. 'Saya harus siap jika Anda memanggil saya kapanpun itu, termasuk di tengah malam.' Maksudnya apakah-"
"Iya, kamu harus selalu siap dua puluh empat jam ketika saya butuh kamu kapanpun itu. Meskipun di tengah malam saya ingin kamu datang ke rumah saya, maka kamu harus datang. Jika tidak, kamu harus membayar kompensasi yang sesuai," ujar Morgan seraya tersenyum menyebalkan.
"Apa? Bagaimana bisa? Bukankah pekerjaan saya hanya sekretaris? Bukan asisten pribadi, dan semua yang tertera di sini pekerjaannya terlihat lebih berat dari isi kontrak kemarin."
"Ini penjabarannya, lagi pula isi dalam kontrak kemarin 'pihak kedua harus setuju jika sewaktu-waktu adanya perubahan dalam pekerjaan' jadi termasuk menjadi asisten pribadi, dan kamu juga sudah menandatanganinya, itu artinya kamu setuju."
Vanessa melongo mendengar penjelasan Morgan. "Kalau begitu, maaf lebih baik saya mundur dari pekerjaan ini, jika diperlukan saya juga akan mengundurkan diri dari kantor ini," sahut Vanessa yang merasa keberatan dengan semua ini.
"Baiklah, kamu bisa membatalkan kontrak dengan membayar denda yang tertera di surat kontrak." Dengan santai Morgan menyodorkan surat kontrak yang di tanda tangani oleh Vanessa kemarin. jari Morgan yang panjang mengetuk deretan angka yang membuat Vanessa tercengang. Sebuah denda yang sepuluh kali lipat lebih besar dari gajinya, dan gaji Vanessa terbilang cukup besar. Jadi, meskipun bekerja beberapa tahun sekalipun, Vanessa tetap kesulitan mengumpulkan uang sebanyak itu.