Hari Minggu adalah surganya bagi para karyawan, begitu juga dengan yang dirasakan Vanessa dan Anne. Hari ini mereka berdua sudah mengatur jadwal mereka untuk bersenang-senang selama seharian penuh, dari bersih-bersih apartemen, hingga jalan-jalan ke mall.
"Kegiatan inilah yang paling aku rindukan ketika aku sedang berada di Indonesia," ujar Vanessa seraya mengucek baju miliknya. Sedangkan Anne lebih memilih mencuci bajunya menggunakan mesin cuci. Iya, saat ini mereka sedang mencuci baju bersama.
"Iya, karena hanya di sinilah kamu bisa mencuci bajumu sendiri, dan juga di dunia ini hanya kamu saja orang yang aneh. Orang lain akan sangat senang diperlakukan seperti Putri, sedangkan kamu malah memilih sebagai Upik Abu."
"Hah ... kamu tidak tahu saja bosannya menjadi aku. Orang tuaku tidak pernah mengizinkan aku pergi keluar rumah, bahkan ketika aku bisa pergi, akan ada pengawal yang mengikutiku. Tidak ada yang bisa diajak bercerita, semua selalu bersikap formal kepadaku. Padahal aku hidup di zaman modern, bukan zaman kerajaan," keluh Vanessa.
"Ya, aku mengerti, oleh sebab itu kamu kembali lagi ke sini."
Setelah mencuci baju, mereka bersama-sama membersihkan apartemen, setelah itu baru memasak dan sarapan pagi bersama.
Tepat pukul sepuluh pagi, Vanessa dan Anne sudah berada di dalam mall, mereka berdua tengah asyik berbelanja, hingga suara dering ponsel Vanessa merusak suasana mengasyikkan tersebut.
"Tuan Morgan. Apa yang dia inginkan, hingga menelponmu di hari Minggu ini?" tanya Anne heran.
Vanessa hanya mengangkat bahunya, dengan malas ia menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Halo, Tuan-" Belum selesai Vanessa menyapa Morgan. Namun, bosnya memotongnya terlebih dahulu.
"Cepat siapkan surat kontrak untuk perusahaan DnM group, aku ingin kamu mengantarnya sekarang juga."
"Saya sudah menyiapkannya kemarin, Tuan. Dan sudah saya serahkan kepada sopir Anda."
"Oh, berarti sekarang masih ada di dalam mobil." Diam sejenak. "Kalau begitu buatkan proposal kerja sama untuk HNJ."
"Saya juga sudah mengerjakannya, besok saya akan serahkan berkasnya di kantor," sahut Vanessa lugas. Vanessa memang sudah menyelesaikan semua tugasnya, sebagai antisipasi karena dia memiliki bos semacam Morgan.
"Kalau begitu cepat antar berkas itu sekarang juga-"
"Halo, maaf, Tuan. Bisa diulangi lagi, di sini terlalu bising. Saya tidak bisa mendengar suara Anda," sahut Vanessa beralasan. Yang benar saja ia harus mengantar berkas tersebut ke apartemen Morgan sekarang juga, padahal berkas itu sangat bisa diserahkan esok hari.
Mendengar suara musik yang cukup keras, dengan sabar Morgan mengulangi kata-katanya kembali.
"Cepat antar berkas itu sekarang juga, aku tunggu-"
"Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak bisa mendengar suara Anda."
"Ka-"
"Halo, Tuan. Halo-"
Tut ... Tut ... Tut....
Tiba-tiba saja panggilan terputus, karena Vanessa langsung mematikan sambungan telepon tersebut.
"Enak saja mengganggu hari liburku," sinis Vanessa.
Belum sampai Vanessa memasukkan ponsel ke dalam tasnya. Morgan kembali menelepon lagi. Namun, bukannya mengangkat panggilan tersebut, akan tetapi Vanessa malah mengatur ponselnya menjadi mode 'senyap'. Ini adalah hari Minggu, yaitu hari yang haram untuk bekerja, begitulah pikiran Vanessa yang tidak mempunyai rasa takut sama sekali.
"Sial! Dia tidak mengangkat panggilan teleponku," gumam Morgan di dalam apartemennya.
Sudah beberapa kali Morgan mencoba menelpon Vanessa kembali. Namun, hasilnya tetap sama, yaitu tidak diangkat.
Hingga akhirnya Morgan harus menanyakannya kepada mata-mata yang diutus Reymond untuk mengawasi Vanessa, guna mengetahui di mana keberadaan gadis tersebut.
Setelah satu jam kemudian, Morgan berhasil menemukan Vanessa. Di depan sana, Vanessa sedang asyik memilih baju bersama Anne. Mereka berdua terlihat menikmati kegiatan mereka seraya mengobrol.
"Oh, jadi ini yang membuatmu lebih memilih menomor duakan pekerjaanmu?" tukas Morgan yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Vanessa.
Vanessa dan Anne yang terkejut, sontak menoleh ke arah belakang.
"Tu- Tuan," sahut Vanessa dan Anne dengan suara tercekat.
"Apakah kamu benar-benar sudah bosan bekerja denganku?" Nada bicara Morgan terdengar tenang. Namun, entah mengapa terasa menusuk di telinga dua gadis tersebut.
"Bu- bukan begitu-"
"Lalu kenapa kamu tidak mengangkat teleponku?"
"Maaf, saya tidak mendengarnya. Di sini terlalu berisik," ujar Vanessa setengah berbisik, ia malu terlihat dimarahi di depan umum.
"Jangan menyalahkan situasi, kamu saja yang bodoh karena tidak bisa menggunakan telinga dan otakmu sebaik mungkin," balas Morgan acuh tak acuh.
"Maaf," sahut Vanessa terlihat menyesal, padahal dalam hati ia sedang mengumpati bosnya tersebut.
"Ada pekerjaan yang harus kita bahas sekarang. Karena kamu sudah membuang waktuku, maka ada harga yang harus kamu bayar untuk waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk mencarimu."
"Baik, saya mengerti. Tolong maafkan kesalahan saya." Dan pada akhirnya Vanessa memetik hasil dari apa yang ia perbuat.
Anne yang melihat sikap Morgan yang sangat berbeda ketika ia masih menjadi sekretaris Morgan, mengernyitkan dahi heran. Namun, saat ini ia hanya bisa menahan rasa penasarannya dengan sikap Morgan.
"Cepat cari tempat yang nyaman untuk membahas pekerjaan ini. Waktumu tidak lebih dari lima belas menit, jika terlambat maka ucapkan selamat tinggal pada gajimu bulan ini."
Vanessa yang tercengang, tentu langsung pergi dari tempat itu, bahkan ia lupa berpamitan dengan Anne yang sedang membuka mulutnya lebar-lebar. Anne tak percaya dengan apa yang ia dengar, dan ternyata Morgan memang bos yang sangat menyebalkan, sama seperti apa yang dikatakan sahabatnya.
Beruntung Vanessa bisa cepat menemukan tempat yang cocok dan sesuai dengan selera Morgan, yaitu salah satu stan food court yang menyediakan makanan kesukaan Morgan, dengan pengunjung yang tidak terlalu ramai, Vanessa yakin bahwa ini sesuai dengan keinginan Morgan.
Tanpa diperintah, Vanessa langsung memesan semua makanan pedas dengan level tinggi, tidak lupa dengan secangkir kopi yang sayangnya Vanessa lupa tidak mengatakan berapa takaran gulanya kepada sang pelayan.
Morgan yang baru tiba terlihat puas melihat menu makanan yang dipesan Vanessa. Tanpa ada kalimat pujian dan kata 'permisi', Morgan langsung makan makanan tersebut tanpa sungkan.
"Ini semua sudah cukup untuk menebus waktuku yang sudah terbuang tadi, jadi aku tidak perlu memotong gajimu lagi," ujar Morgan dengan senyuman menyebalkan.
"Syukurlah, saya ucapkan terima kasih atas kemurahan hati, Tuan," sahut Vanessa tidak tulus. Tentu Vanessa merasa sedikit kesal karena tagihan makanan tersebut tidaklah sedikit.
Setelah itu mereka mulai sibuk membahas pekerjaan. Selama pembahasan tersebut, situasi terbilang cukup tenang. Berarti memang benar kata orang jika perut sudah terisi, suasana hati juga ikut stabil.
Namun, itu semua tidak bisa bertahan lama, karena pada saat Morgan menyeruput kopinya, tiba-tiba saja Morgan menyemburkan kopi yang diminumnya ke wajah Vanessa.
Byur ....
Rasa hangat yang memercik ke wajahnya, seketika membuat Vanessa memejamkan matanya. Dengan amarah tertahan, Vanessa mengelap wajahnya menggunakan tisu, saat ini ingin rasanya ia mencekik Morgan hingga mati.
Namun, bukannya mendengar kata maaf untuk meredam emosinya, justru Vanessa mendapatkan semburan lava kemarahan Morgan.
"Kamu sengaja ingin membuatku terkena penyakit diabetes?" Morgan meraung tanpa mempedulikan sekitarnya.