Malam itu Aruna pulang dengan langkah yang lebih berat dari biasanya. Meski hanya berjarak lima blok, jalan pulang terasa jauh lebih panjang. Udara malam pinggiran kota terasa lembab setelah hujan siang tadi, tapi yang membuat dadanya sesak bukanlah cuaca. Sentuhan jari Rangga di wastafel tadi masih terasa. Hanya sebentar, tapi cukup untuk membuat kulitnya panas dan pikirannya berputar-putar.
“Gila. Lo kenapa sih, Run?” gumamnya pada diri sendiri sambil membuka pintu kontrakan.
Rumah kecil satu lantai itu terasa semakin sepi. Lampu ruang tamu menyala redup, sofa reyot masih berantakan seperti pagi tadi.
Dika belum pulang. Lagi-lagi. Auna meletakkan tas di sofa, lalu duduk di tepi tempat tidur. Ponselnya bergetar. Pesan dari Nadia.
Nadia: Thank you ya udah dateng hari ini! Seneng banget ketemu kamu. Besok aku ada les privat sore, tapi kalau mau main lagi, bilang aja ya. Rangga juga bilang seneng ada temen ngobrol. Katanya obrolan kalian enak
Aruna menatap layar ponsel lama.
“Seneng ada temen ngobrol,” ulangnya pelan. Kata-kata biasa, tapi entah kenapa terasa berbeda setelah apa yang terjadi tadi.
Apakah Rangga benar-benar bilang begitu? Atau hanya basa-basi Nadia? Ia membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang sudah menguning di beberapa sudut.
Bayangan Rangga muncul lagi—tubuh tegapnya yang basah keringat saat masuk dari belakang rumah, suara rendahnya yang tenang, tatapan yang seolah bisa membaca isi hatinya yang paling tersembunyi.
Aruna menggelengkan kepala kuat-kuat, menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
“Dia suaminya Nadia. Suaminya sahabat lo,” bisiknya tegas, seolah mengingatkan diri sendiri.
Tapi malam itu tidurnya gelisah. Ia bermimpi tentang tangan besar Rangga yang menyentuh lengannya sekilas, lalu suaranya yang pelan bertanya,
“Kamu baik-baik aja?” Saat bangun subuh, tubuhnya terasa panas dan gelisah. Ia bangkit, mencuci muka dengan air dingin, berusaha mengusir bayangan yang tak seharusnya ada.
Dua hari kemudian, Aruna mendapat panggilan dari Nadia.
“Run, tolong banget! Aku lupa beli bumbu dapur. Kamu lagi di rumah nggak? Bisa mampir ke warung dekat rumahku? Aku lagi di sekolah, nggak bisa ke luar. Rangga juga lagi ke proyek pagi ini.”
Aruna sebenarnya sedang libur dari pekerjaan kantornya sebagai staf keuangan, tapi ia setuju.
“Oke, aku antar ke rumahmu ya. Santai aja.”
Setengah jam kemudian, Aruna tiba di depan rumah Nadia dengan plastik belanjaan berisi bumbu, telur, dan beberapa sayuran segar.
Pintu depan tidak terkunci, seperti biasa. Ia masuk sambil memanggil,
“Nad? Aku bawain—” Ucapannya terhenti di tengah jalan.
Rangga sedang berdiri di ruang tamu tanpa kaos, hanya memakai celana pendek olahraga hitam. Tubuhnya yang berotot jelas terlihat—d**a bidang, lengan kuat, dan perut yang rata karena kerja lapangan setiap hari.
Ia baru saja selesai push-up, handuk kecil tergantung di lehernya, keringat mengalir pelan di kulit kecokelatannya.
Cahaya matahari siang yang masuk dari jendela membuat semuanya terlihat terlalu nyata.
“Aruna?” Rangga menoleh, sedikit terkejut tapi cepat mengambil kaos yang tergantung di kursi.
“Nadia bilang kamu bakal dateng. Maaf, aku lagi olahraga pagi. Biasanya selesai sebelum siang.”
Aruna berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap biasa, meski pipinya terasa panas seperti tersengat matahari.
“Nggak apa-apa, Mas. Ini belanjaannya. Aku taruh di dapur ya.”
Ia berjalan cepat ke dapur, berusaha mengatur napas yang tiba-tiba tersengal. Bodoh. Kenapa ia harus gugup sepeti ini? Sudah puluhan kali melihat Rangga tanpa kaos saat ia membantu pekerjaan renovasi di sekitar rumah.
Tapi kali ini terasa berbeda. Mungkin karena mereka hanya berdua.
Mungkin karena ingatan sentuhan jari di wastafel akhir pekan lalu masih menghantui.
Rangga mengikuti ke dapur, sudah memakai kaos longgar abu-abu. Rambutnya masih acak-acakan.
“Makasih ya udah bantuin Nadia. Dia lagi sibuk banget akhir-akhir ini dengan kerjaan sekolah dan les privat. Kadang aku khawatir dia kecapekan.”
“Sama-sama. Kita kan sahabatan dari dulu,” jawab Aruna sambil menyusun bumbu di rak dapur yang rapi. Ia merapikan plastik belanjaan dengan gerakan yang terlalu teliti, berusaha mengalihkan perhatian.
Rangga bersandar di pintu dapur, memperhatikannya dengan santai.
“Kamu sendiri? Kerjaan di kantor gimana? Masih banyak laporan akhir bulan?”
“Biasa. Laporan keuangan, tagihan supplier, rekonsiliasi bank, gitu-gitu aja,” Aruna mencoba tertawa ringan.
“Nggak sehebat Mas Rangga yang punya kontraktor sendiri. Tiap hari ngawasin proyek, ketemu klien, benerin rumah orang.”
Rangga tersenyum tipis, ada kerutan halus di sudut matanya.
“Hebat apa. Cuma kerja kotor tiap hari, pulang capek, badan pegal. Kamu kelihatan lebih capek dari terakhir ketemu. Mata kamu agak bengkak. Kurang tidur?”
Aruna membeku sebentar. Ia menoleh. Rangga sedang menatapnya dengan serius, bukan sekadar basa-basi. Perhatian itu terasa hangat, tapi juga menakutkan karena Dika hampir tak pernah memperhatikan hal sekecil itu.
“Mas… nggak usah khawatir. Aku baik-baik aja,” katanya pelan, suaranya hampir hilang.
“Benarkah?” Rangga melangkah mendekat satu langkah. Dapur yang sempit terasa semakin sempit.
“Dika masih sering pulang malam? Atau… ada yang lain?”
Pertanyaan itu seperti menusuk pelan. Aruna menggigit bibir bawah tanpa sadar.
“Iya. Kerjaannya memang begitu. Kadang meeting klien sampai malam. Aku sudah biasa.”
Ruangan terasa hening. Hanya suara tetesan air dari keran yang bocor sedikit dan detak jantung Aruna yang terdengar keras di telinganya. Rangga berdiri hanya satu meter di depannya. Aroma sabun mandi dan keringat pria yang segar lagi-lagi menyeruak, membuat Aruna sulit berkonsentrasi.
“Kalau butuh temen ngobrol… pintu rumah ini selalu terbuka,” kata Rangga pelan. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan yang penuh perhatian.
“Nadia pasti seneng kalau kamu sering main. Aku juga. Kadang rumah ini terlalu sepi kalau kami berdua sibuk sendiri.”
Aruna mengangguk, tapi matanya tak bisa lepas dari mata Rangga. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang gelap, hangat, dan berbahaya. Seperti pengertian yang tak perlu diucapkan. Pengertian tentang kesepian yang sama.
“Terima kasih, Mas.” Untuk sesaat, tak ada yang bergerak. Rangga mengulurkan tangan, seolah mau menyentuh lengan Aruna untuk memberi ketenangan, tapi akhirnya hanya mengambil gelas di belakangnya di rak.
Saat tubuh mereka hampir bersenggolan, Aruna mundur selangkah. Ia merasa panas dingin.
“Aku pulang dulu ya, Mas. Ada kerjaan di kontrakan yang nunggu.”
Rangga mengangguk pelan.
“Hati-hati di jalan. Kalau hujan lagi, jangan jalan kaki.”
Aruna berjalan cepat keluar rumah. Begitu pintu tertutup di belakagnya, ia bersandar di tembok luar sebentar, menarik napas dalam-dalam. Angin siang menyapu wajahnya, tapi tak mampu mendinginkan pipinya yang masih panas.
“Apa yang sedang terjadi dengan lo?” bisiknya frustrasi pada diri sendiri. Ia pulang dengan pikiran kacau.
Sepanjang sore itu, ia tak bisa fokus mengerjakan laporan keuangan di laptop. Setiap kali memejamkan mata, bayangan Rangga tanpa kaos dan tatapannya yang intens muncul kembali.
Ia mencoba menelepon Dika, tapi hanya tersambung ke voicemail.
“Kamu di mana? Pulanglah cepat ya,” pesannya pendek.
Malam harinya, Dika pulang jam sepuluh lebih. Bau alkohol samar-samar bercampur rokok.
“Kamu dari mana?” tanya Aruna sambil menyajikan makan malam yang sudah dingin.
“Meeting sama klien. Deal proyek besar,” jawab Dika datar sambil melepas sepatu. Ia langsung naik ke tempat tidur tanpa mandi.
“Capek banget, Run. Besok pagi meeting lagi. Jangan ganggu ya.”
Tak ada pelukan. Tak ada tanya kabar. Tak ada
“maaf pulang telat”. Aruna hanya bisa menatap punggung suaminya dengan hati yang semakin kosong. Ia duduk di sofa ruang tamu lama, memeluk bantal, menahan air mata yang tak mau jatuh.
Jam dua dini hari, Aruna terbangun karena haus. Ia berjalan ke dapur kontrakan untuk minum air. Saat melewati jendela depan, ia melihat lampu di rumah Rangga masih menyala.
Kamar utama. Tanpa sadar, ia berdiri lama di depan jendela, memandang ke arah rumah itu. Bayangan siluet Rangga terlihat samar-samar di balik tirai tipis—ia sepertinya sedang duduk di tepi ranjang, mungkin membaca atau memikirkan sesuatu.
Aruna menggelengkan kepala dan kembali ke kamar. Tapi sebelum tidur, ia membuka galeri ponsel dan tanpa sadar mencari foto lama saat mereka bertiga liburan ke pantai dua tahun lalu.
Di salah satu foto, Rangga sedang tertawa lebar sambil memeluk pinggang Nadia. Aruna berdiri di sebelah mereka, tesenyum lebar. Sekarang, senyum itu terasa pahit dan dipaksakan.
“Lo nggak boleh kayak gini, Run,” katanya pada diri sendiri sambil mematikan lampu.
“Ini salah. Sangat salah. Nadia sahabat lo. Rangga suaminya. Dika suami lo.”
Tapi saat ia memejamkan mata, yang terbayang justru bukan wajah Dika yang lelah. Bukan pula wajah Nadia yang ceria. Melainkan tatapan Rangga di dapur tadi siang. Tatapan yang seolah berkata: Aku tahu kamu sedang kesepian. Aku mengerti.
Dan yang lebih berbahaya lagi… Aruna mulai menyadari bahwa ia pun ingin tahu, seberapa dalam kesepian Rangga sebenarnya.
Apakah pria itu juga merasakan retak yang sama dalam pernikahannya? Apakah tatapannya yang lama itu hanya keprihatinan, atau ada sesuatu yang lebih? Ia menarik selimut hingga ke d**a, berusaha tidur.
Tapi getaran yang tak diinginkan itu sudah mulai menyebar, pelan tapi pasti, seperti retakan kecil di dinding rumah tua yang suatu saat bisa runtuh jika tak segera diperbaiki.
Dan Aruna tak tahu lagi, apakah ia ingin memperbaikinya atau justru ingin melihat apa yang ada di balik retakan itu.