Kuda betina berbulu kelabu yang ditunggangi Aurelia mendengus rendah, napasnya membentuk uap putih di udara malam yang membekukan. Tapak-tapak kakinya mengetuk tanah berbatu dengan ritme yang terburu-buru, membelah jalan setapak yang semakin lama semakin menyempit. Ibu kota Eldoria dengan kelap-kelip lenteranya yang munafik kini telah tertinggal jauh di belakang, digantikan oleh hamparan padang rumput liar yang perlahan ditelan oleh kegelapan absolut.
Di bawah kerudung jubah berburunya, tatapan Aurelia lurus ke depan. Angin malam yang kencang menghantam wajahnya, menyengat pipinya yang masih terasa kaku akibat air mata yang mengering. Namun, rasa dingin di luar tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekosongan yang membatu di dalam dadanya. Setiap kali keraguan mencoba merayap ke dalam pikirannya, bayangan Cassian yang menggandeng Vivienne di atas altar langsung berputar otomatis, memicu kembali api amarah yang membakar habis rasa takutnya.
“Aku tidak akan menjadi bahan tertawaan seumur hidupku,” bisik Aurelia pada diri sendiri, jemarinya mencengkeram tali kekang kuda lebih erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Jalanan yang landai kini mulai menanjak, memimpinnya menuju perbatasan wilayah utara yang legendaris. Bau tanah basah berlumut dan aroma pinus busuk yang menyengat mulai memenuhi indra penciumannya. Di depannya, berdiri sebuah tembok raksasa yang tidak dibangun oleh tangan manusia: siluet pepohonan purba yang tinggi menjulang, dengan cabang-cabang yang saling melilit rapat seperti jemari raksasa yang mencoba mencengkeram langit. Hutan Terlarang.
Bahkan dari jarak seratus langkah, atmosfer tempat itu sudah terasa berbeda. Kabut putih yang tebal dan pekat menggantung rendah di atas tanah, bergulung-gulung seolah-olah memiliki nyawa sendiri. Binatang malam yang biasanya bersahutan di padang rumput mendadak bungkam begitu mendekati batas vegetasi ini. Hanya ada keheningan yang menekan, jenis keheningan yang memberi tahu penyusup bahwa mereka sedang memasuki wilayah kekuasaan yang tidak menginginkan kehadiran manusia.
Kuda Aurelia mendadak memperlambat langkahnya. Hewan itu mulai gelisah, telinganya tegak berdiri, dan kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Ia meringkik cemas, menolak untuk maju ketika jarak mereka hanya tinggal beberapa meter dari pohon pertama.
"Ssst... ayolah," bisik Aurelia, menepuk-nepuk leher kudanya yang mulai berkeringat dingin. "Hanya sedikit lagi. Kita harus masuk."
Namun, insting binatang jauh lebih kuat daripada perintah seorang lady. Kuda itu justru berjalan mundur, kakinya menggaruk-garuk tanah dengan gusar. Suara kepakan sayap yang berat terdengar dari atas benalu pohon ek tua di depan mereka. Seekor burung gagak berukuran luar biasa besar hinggap di dahan rendah, sepasang matanya yang merah legam menatap langsung ke arah Aurelia melalui kegelapan.
Melihat makhluk itu, kuda Aurelia panik sepenuhnya. Hewan itu berdiri dengan dua kaki belakangnya, meringkik keras melemparkan keseimbangannya. Aurelia yang tidak siap langsung terlempar dari pelana. Tubuhnya menghantam semak-semak berduri di tepi jalan dengan keras. Rasa sakit yang tajam langsung menjalar di punggung dan lengannya saat duri-duri itu merobek kain jubah hitamnya. Sebelum dia sempat bangkit, suara derap langkah kaki kudanya yang melarikan diri kembali ke arah kota terdengar menjauh, meninggalkannya sendirian di ambang pintu masuk neraka hijau tersebut.
"s****n!" umpat Aurelia, sebuah kata yang tidak pernah diizinkan keluar dari mulut seorang lady terhormat.
Dia berusaha duduk, meringis saat merasakan anyir darah menetes dari goresan di telapak tangannya. Pakaian berburunya kini dipenuhi daun kering dan tanah. Cincin stempel keluarga Valerius yang tersisa di jarinya terasa dingin. Dia menoleh ke belakang, menatap jalan pulang yang gelap namun aman. Dia bisa saja berjalan kaki kembali ke kastil, mengetuk pintu belakang, dan kembali menjadi Aurelia yang malang, putri dari seorang lord yang hancur.
Lalu, dia menatap ke depan. Ke dalam kegelapan Hutan Terlarang yang menunggunya.
Aurelia menegakkan tubuhnya, berdiri dengan lutut yang agak gemetar namun tatapan yang menolak tunduk. Dia membersihkan sisa tanah di celananya, lalu memeriksa sebilah belati berhulu perak di pinggangnya—satu-satunya senjatanya malam ini. Burung gagak bermata merah di atas dahan kembali mengeluarkan suara serak yang memekakkan telinga, seolah-olah sedang menertawakan keberanian bodoh wanita manusia di bawahnya.
"Tertawalah sesukamu, Makhluk Buruk Rupa," desis Aurelia tajam.
Dengan satu langkah kaki yang mantap, Aurelia menembus lapisan kabut pertama. Dingin yang luar biasa langsung menusuk tulang-tulangnya begitu dia melewati batas pohon pertama. Cahaya bulan yang tadinya samar-samar menerangi jalan kini tertutup sepenuhnya oleh kanopi daun yang teramat rapat di atas kepala. Di dalam sini, dunia luar seolah lenyap. Langkah pertama menuju kegelapan telah diambil, dan Aurelia tahu, tidak akan ada jalan kembali untuk jiwa yang telah memilih untuk membalas dendam.
Semakin dalam Aurelia melangkah, semakin tebal kabut yang merayap di sekitar pergelangan kakinya. Rasanya seperti berjalan di dalam air es yang tak kasatmata. Pepohonan di sekelilingnya bukan lagi sekadar tumbuhan; mereka memiliki batang-batang yang meliuk aneh, dengan kulit kayu yang berkerut menyerupai wajah-wajah manusia yang sedang berteriak kesakitan.
Hutan ini tidak memiliki jalan setapak. Setiap langkah harus dipaksakan melewati jalinan akar yang mencuat dari tanah berlumpur. Beberapa kali sepatunya terbenam ke dalam tanah basah yang mengeluarkan bau busuk seperti belerang dan daun-daun mati yang membusuk berabad-abad.
Suara-suara aneh mulai terdengar. Bukan suara angin, melainkan bisikan-bisikan rendah yang tumpang tindih. Aurelia mempertajam pendengarannya. Suara itu terdengar seperti namanya sendiri, dipanggil oleh suara-suara yang sangat dia kenal.
“Aurelia... kembalilah...” itu suara ayahnya, terdengar begitu lelah dan patah hati.
Dia menggelengkan kepala kuat-kuat. "Itu hanya ilusi," gumamnya, mempercepat langkah.
“Aurelia, lihat aku. Kau tahu aku hanya mencintaimu...”
Langkah kaki Aurelia terhenti mendadak. Suara itu. Itu suara Cassian. Kedengarannya begitu dekat, begitu lembut, persis seperti cara pria itu berbicara padanya ketika mereka berdansa di taman mawar setahun lalu. Jantung Aurelia berdegup kencang. Untuk sesaat, kewarasannya goyah. Dia menoleh ke arah kanan, ke dalam kegelapan di antara dua pohon ek besar.
Di sana, sebuah siluet pria berbaju zirah perak tampak berdiri samar di balik kabut. Siluet itu mengulurkan tangan padanya, seolah memanggilnya untuk mendekat.
"Cassian?" bisik Aurelia, melangkah satu kali ke arah siluet itu tanpa sadar.
Namun, tepat sebelum kakinya menginjak tanah di depan siluet tersebut, cahaya bulan yang tipis menembus celah daun dan menerangi apa yang ada di bawahnya. Itu bukan tanah padat. Itu adalah rawa dalam yang dipenuhi oleh tanaman berduri beracun dengan cairan hitam yang menggenang. Jika dia melangkah satu kali lagi, dia akan tenggelam dan membusuk di sana.
Siluet Cassian tiba-tiba berubah bentuk, meliuk menjadi asap hitam dan mengeluarkan suara tawa melengking yang mengerikan sebelum menghilang ke atas pohon. Burung gagak yang tadi mengikutinya hinggap di atas ranting terdekat, kembali bersuara serak seolah mengejeknya.
Aurelia menarik napas pendek dengan gemetar. Keringat dingin mengucur di balik jubah tebalnya. Hutan ini mencoba membunuhnya bahkan sebelum dia menemukan apa yang dicarinya. Rasa sakit di hatinya mendadak berubah menjadi kemarahan yang membakar. Dia mencabut belati peraknya, memegangnya erat-erat di depan d**a.
"Cukup permainan bodoh ini!" teriak Aurelia ke arah kegelapan hutan. "Aku tidak datang ke sini untuk mati oleh trik murahan! Tunjukkan jalan menuju Malakor, atau biarkan aku membakar tempat ini!"
Hening kembali turun. Namun kali ini, kabut di depannya perlahan-lahan membelah, membentuk sebuah lorong alami di antara pepohonan yang menuju lebih dalam ke jantung hutan. Angin dingin berembus dari arah lorong itu, membawa aroma kayu manis yang terbakar dan anyir darah yang samar.
Aurelia berjalan menyusuri lorong kabut itu selama hampir dua jam. Kakinya sudah mati rasa, dan seluruh tubuhnya gemetar karena kelelahan dan dingin yang ekstrem. Namun, tekadnya tidak luntur sedikit pun. Setiap langkah kaki yang dia ambil adalah bayaran yang dia relakan demi melihat kehancuran orang-orang yang telah menghinanya.
Akhirnya, vegetasi hutan yang rapat mulai sedikit terbuka. Di sebuah lembah kecil yang dikelilingi oleh tebing batu hitam yang curam, berdiri sebuah pondok kayu yang aneh. Pondok itu tampak tua, dengan atap yang ditutupi oleh lumut tebal dan jalinan akar pohon berduri yang seolah sengaja memeluk bangunan tersebut agar tidak runtuh.
Tidak ada cahaya lampu dari jendela pondok, namun dari cerobong asap batu di atasnya, mengalir asap tipis berwarna keunguan yang berbau mistis. Di sekeliling pondok, puluhan burung gagak hitam bertengger dengan tenang di atas dahan-dahan mati, mata mereka semua tertuju pada Aurelia yang baru saja tiba.
Aurelia melangkah mendekati pintu pondok yang terbuat dari kayu hitam legam tanpa pegangan pintu. Di tengah pintu itu, terukir sebuah simbol kuno berbentuk lingkaran dengan mata satu di tengahnya—simbol yang dalam kitab-kitab tua Eldoria melambangkan Sihir Terlarang.
Dia menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Dia tidak boleh terlihat lemah. Penyihir hitam memakan ketakutan manusia seperti makanan lezat, dan dia tidak akan membiarkan dirinya menjadi santapan.
Aurelia mengangkat tangannya yang terbalut sarung tangan kulit, lalu mengetuk pintu kayu keras itu tiga kali. Suara ketukannya menggema aneh di lembah yang sunyi tersebut.
"Aku tahu kau di dalam, Malakor!" seru Aurelia, suaranya terdengar lantang menembus keheningan malam. "Aku datang untuk melakukan transaksi!"
Tidak ada jawaban dari dalam. Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti tempat itu. Namun, beberapa detik kemudian, terdengar suara klik yang tajam dari dalam pintu. Pintu kayu hitam besar itu perlahan-lahan berayun terbuka dengan sendirinya, menyingkapkan kegelapan yang lebih pekat di dalam pondok.
Dari dalam ruangan yang gelap itu, sebuah hawa dingin yang luar biasa berembus keluar, menerpa wajah Aurelia dan memaksa kerudung jubahnya terhempas ke belakang, menyingkapkan rambut pirang madunya yang berantakan dan matanya yang penuh dengan kobaran dendam.
Aurelia tidak ragu lagi. Dia melangkah melewati ambang pintu, memasuki sarang sang dukun penyihir. Pintu di belakangnya langsung tertutup rapat dengan dentuman keras, mengunci dirinya bersama kegelapan yang sesungguhnya.