Gavin Albizera. Cowok urakan, nyeleneh, gak ngikutin aturan, suka bikin gara-gara dan sialnya meskipun begitu banyak orang yang menaruh perhatian padanya. Hanya karena satu hal, tampang tampannya itu.
Belakangan ini Gavin sedang dilanda kegalauan yang membuatnya hanya meletakkan kepalanya dimeja kantin sambil memandang orang-orang yang mengantri untuk membeli serta memakan makanannya. Cika, mantannya yang baru putus dengannya 1 minggu yang lalu ternyata sudah menjalin hubungan gelap dibelakangnya yang membuatnya lebih kesal lagi adalah mantan pacarnya itu berselingkuh dengan teman dekatnya.
Batinnya bertanya-tanya kenapa harus teman dekatnya? Ya, meski begitu ia tidak terlalu memusingkan tentang Cika. Karena ia juga tidak terlalu peduli pada cewek j*****m itu. Ia hanya kesal karena teman yang sudah ia anggap sahabat menusuknya dari belakang, jika Ardhan—nama teman dekat Gavin— memintanya dengan baik-baik mungkin ia akan memberikan dan melepaskan Cika secara cuma-cuma.
Sudah ia bilang, ia tidak terlalu berminat pada mantan pacarnya itu. Sifat yang menjengkelkan dan genitnya itu membuat ia ilfeel. Meski begitu,Cika gadis yang bisa membuatnya puas untuk membuang kecebong-kecebong berharganya. Dengan kata lain gadis itu mau diajak untuk berhubungan ranjang.
Awalnya Gavin hanya iseng mengajak yang tidak ia duga gadis itu menerima dengan gampangnya, terlebihnya lagi yang membuat ia tidak terkejut adalah gadis itu sudah tidak perawan diusia 16 tahunnya. Dugaannya selama ini benar, Cika bukan gadis baik-baik. Meskipun ia lebih b******k hanya memanfaatkan lubang mantan pacarnya untuk kepentingan pribadi.
Namun akhir-akhir ini pun selama ia hanya meletakkan kepalanya diatas meja kantin seperti orang dungu . Gavin menemukan sesuatu yang membuatnya tertarik,bahkan selama 5 hari ini ia selalu mengawasi objek yang sama. Tidak,lebih tepatnya remaja cowok imut yang selalu Gavin lihat mengantri di stand es kelapa setiap harinya. Dan ia juga akan membeli roti kering rasa kelapa. Bahkan case ponselnya bisa Gavin lihat juga bergambar buah kelapa.
Wtf, ada gitu seseorang yang terlalu maniak kelapa? Biasanya jika seseorang akan lebih maniak strawberry atau coklat.
"Apa dia gak kerawitan pantatnya?" gumamnya lalu beralih pada bongkahan padat p****t cowok imut itu. Menjilat lidahnya dengan sensual lalu menyeringai puas memikirkan sebuah rencana yang tersusun di otak kecilnya itu.

Ding Ding Ding
Seorang remaja pria berperawakan imut itu tersenyum lebar begitu mendengar bel istirahat berbunyi. Ia buru-buru beranjak keluar kelas tanpa merapikan buku yang ada dimeja kecuali mengamankan tempat pensilnya ke dalam tas agar tidak ducuri. Kasus pulpen yang hilang di kelasnya ini hampir setiap hari terjadi jadi ia harus mengamankan pulpen serta alat tulis yang lainnya. Tangannya dengan iseng mengambil sebuah benda panjang bercorak warna hijau putih dan kemudian ia kantongi. Tersenyum puas karena ia telah berhasil , salah siapa ia juga sering hilang pulpennya untuk membalas dendam ia akan membuat yang lainnya menderita seperti dirinya.
Namun kesenangan itu hanya berlaku sementara sebelum suara teriakan menyebalkan.
"Woy Rey Alzetta balikin pulpen gua! Ternyata lo ya selama ini malingnya!"
Remaja manis yang dipanggil Rey itu menoleh, menatap teman sebangkunya dengan tatapan seperti anak kucing yang tak bersalah,berusaha menjalankan kemampuan aktingnya yang berbakat untuk membuat orang didepannya luluh.
"Gak gak! Mata melas lo gak guna, balikin cepet pulpen gua," Raka—orang yang tadi berteriak sekaligus teman sebangku Rey—menyodorkan tangannya di hadapan remaja berperawakan imut itu. Berusaha tidak peduli akan tatapan memelas itu, hanya karena tatapan itu ia sampai menghabiskan 1 pack pulpen cadangannya dalam 2 minggu. Sialan memang!
Dengan terpaksa Rey mengambil pulpen yang telah ia curi—tidak sebenarnya ia hanya balas dendam—pada Raka. Raka dengan cepat mengambilnya namun terasa keras seolah belum dilepaskan. Yang nyatanya memang benar, Rey belum melepaskan pulpennya "lepas Rey, beli napa beli nyuri mulu lo,"katanya dengan bersungut-sungut.
"Gak mau, soalnya yang Rey beli gak ada gambar kelapa nya."
"Anjiran kelapa mulu lo, online makanya biar gampang nyari. Dan stop ngomong sok imut Rey" usul Raka.
"Gue emang imut—eh gak deng maksudnya gue ganteng! Lagian kalo online lama sampe, males nunghi"sergahnya dengan cepat.
"Cih ngakunya, lagian namanya juga online pasti nunggu. Kalo lo mau cepet pake jet Doraemon!"
"Raka bacot! Udah ayo kantin, keburu es kelapanya abis."
"Itu es gak bakal abis sampe pulang sekolah, udah tau semua orang gak tiap hari beli itu. Orang bakal ada bosennya, gak kayak lo!"
"Diem deh dugong!" ujar Rey lalu menarik tangan Raka untuk mengikutinya.
"Heh! sekate-kate lo" Rey tidak memperdulikan atau menjawab ucapan Rey karena jika dilanjutkan itu tidak akan ada habisnya dan berimbas pada es kelapa tersayangnya lenyap meskipun ia tidak yakin. Namun Rey harus siap jaga-jaga akan hal itu.
Setibanya di kantin, Rey dengan cepat melepaskan Rakan dan berlari menuju stand Es kelapa. Dahinya mengernyit melihat bagaimana ibu penjualnya terlihat membereskan peralatan jualannya. Masa iya habis sih,batinnya berkata tak percaya apa yang ia lihat.
"Bu, es kelapanya abis?"
Bu arum, sang penjual yang sedang mencuci gelas-gelas itupun menoleh menatap Rey , "Oh udah abis dek, alhamdulillah. Tadi diborong sama anak cowok dari kelas 12."
"Kelas 12? Traktiran ultah bu maksudnya?"
"Kurang tau dek, tapi kayaknya enggak. Tiba-tiba mas Gavin borong es kelapa ini, padahal setahu ibu dia ngeborong banyak biasanya bulan Februari. Tapi ini kan bulan Mei. Tapi gak papa ibu dapet duit banyak hehe."
"Kok gitu sih bu?"
"Loh kenapa? Ibu seneng dong duitnya banyak nih, tumbenan kan abis jadi ibu gak usah jual di rumah nanti" ujarnya sambil menepuk-nepuk tas-nya yang menimbulkan bunyi kerincing-kerincing , mungkin itu berasal dari uang recehan yang logam.
"Tapi Rey mau Es-nya" ucapnya memelas, "gak ada satu gelas lagi?"
"Gak ada dek, coba minta mas Gavin sana"
"Enak aja, lagian gak kenal siapa itu Gavin. Kenalnya Gajah Kavvin" tiba-tiba nada suara Rey berubah menjadi singa yang tidak terima jika jatah makanya hilang.
"Ehh jangan salahin ibu, ibu kan gak tau."
"Hm yaudah deh," Rey kemudian beranjak menjauhi stand es kelapa but arum dan tidak memperdulikan teriakan bu arum bahwa ia besok berjanji akan menyisakan satu porsi es untuk Rey.
Tapi Rey udah males, lemas karena tidak ada asupan kelapa hari ini. Kemudian matanya berbubah menyalang kembali.
"Gajah Kavvin itu emang ngajak ribut! Awas aja , kelas berapa dia?!" Teriaknya yang mengundang siswa-siswi yang sedang makan menoleh dan mendelik kepadanya karena menganggu makan siangnya. Bahkan ada yang sampai kesedak akibat teriakan mendadak Rey.
Rey tidak memperdulikan itu, bahkan Raka yang berusaha menenangkannya pun tidak di hiraukan. Kakinya ia hentakkan dan kemudian menangis.
"Es kelapaku yang berharga~" ucapnya mendramatrisir.
Gavin, yang menatap dari kejauhan tersenyum lebar melihat cowok imut itu bersungut marah. Wajahnya bertambah manis dan menggemaskan. Apalagi saat melihatnya menghentakkan kaki dan menangis kemudian jatuh terduduk dilantai kantin membuatnya ingin mengangkat tubuh itu kemudian ia kurung didalam kamarnya dan tak diperbolehkan keluar.
Tbc
Halo, aku bikin cerita baru. Tapi ini dengan ofc character. Tapi tenang , ff cb ttp aku lanjut kok ^^
Ada yang masih mau lanjut? Aku sebenernya pengen bikin cerita kayak gini dari lama hehe :)