Gue mau ngomong sama Nazwa,
tapi gue nggak tega, Al. Gue takut buat ngerusak kebahagian dia lagi,” ujar Dimas pelan ketika bertemu Alina di sebuah kafe dekat sekolah mereka.
“Nggak tega gimana?”
“Gue nyesel, Al. Gue nggak mau menyakiti dia lagi. Gue takut dia kehilangan senyumnya lagi ketika gue nyamperin dia.”
“Lo jangan ngomong yang aneh-aneh sama Nazwa, cukup minta maaf aja.”
“Gue emang mau minta maaf aja. Kira-kira kapan ya, Al?”
“Sore ini!”
“Gue nggak bisa, Al! Gue ragu Nazwa bakal mau dengerin gue.”
“Lo gimana, sih? Ini waktu yang tepat, Dim. Nazwa udah bahagia sama Kelvin.”
“Gue nggak bisa!” tegas Dimas seperti ada nada marah. Matanya pun memerah dan tangannya terkepal. Ketika itu, untuk pertama kalinya Alina melihat Dimas marah dihadapannya.
“Dim, sorry! Gue bilang gitu biar lo nggak ragu lagi buat ngomong sama Nazwa. Nanti gue ngomong dulu ke Kelvin.”
“Ngapain ngomong ke Kelvin? Dulu waktu gue pacaran sama Nazwa juga gak perlu ada acara izin ke pacar juga.”
“Sekarang beda, Dimas! Orang tua Nazwa udah nitipin Nazwa ke Kelvin. Kelvin berhasil menghangatkan sikap Nazwa. Kelvin berhasil membuat Nazwa bangkit lagi, Dim!”
Dimas dan Alina seketika terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Sekelebat kenangan masa lalu masuk dalam pikiran Alina. Ketika Nazwa ditinggalkan Dimas karena lebih memilih sahabat Nazwa sendiri, ketika kedua orang tua Nazwa membawa Veno ke luar negeri, ketika Nazwa hampir depresi, dan ketika Nazwa pernah ceria bersama Alina, Helen, dan seseorang yang merusak hubungannya dengan Dimas.
Lamunan Alina terhenti ketika Dimas mengguncang bahunya.
“Al! Itu ….” Dimas kemudian menunjuk ke luar, ke seberang jalan.
Kedua mata Alina sontak melebar, tak berkedip beberapa detik. Telapak tangannya mendadak dingin dan perlahan mengepal. Alina mengucek kedua matanya, lalu menatap lagi ke arah depan. Ternyata bukan halusinasi.
“Pacar lo kan, Al?” tanya Dimas seraya menatap Alina yang tengah meneteskan air matanya.
Di seberang jalan itu, Riyan berjalan bersama seorang gadis, entah siapa. Mereka kemudian masuk ke mobil Riyan, lalu pergi menghilang dari tatapan Alina yang tengah menatap mereka dengan perasaan hancur.
“Al, lo nggak apa-apa?” tanya Dimas.
Alina mengusap air matanya kasar. “Nggak apa-apa, Dim,” jawabnya singkat sembari membuka ponsel untuk mengubungi Riyan.
“Halo!”
“Yan, kamu di mana?”
Diam. Tidak ada suara. Alina melihat ponselnya, masih tersambung.
“Yan!”
“Eh iya. Kenapa, Sayang?”
Alina menutup mulutnya. Suara Riyan terdengar cemas. Alina merasa Riyan menjadi berbeda.
“Yan, bisa jemput aku nggak?”
“Siapa k—”
Sambungan telpon terputus. Riyan mematikannya secara sepihak. Air mata Alina kembali mengalir ketika mendengar suara perempuan di dekat Riyan.
“Al, lo baik-baik aja?” tanya Dimas sembari menyentuh punggung tangan Alina yang ada di atas meja.
Alina mengangguk. “Gue baik.”
Ternyata begini sakitnya melihat pacar sendiri jalan dengan perempuan lain.
Alina berjanji. Siapa pun cewek yang akan merusak hubungannya akan Alina buat perhitungan.
***
Alina mengetuk pintu kamar Nazwa, tetapi sebelum Nazwa membukanya, Alina sudah masuk dengan wajah bercucuran air mata. Sontak Nazwa terkaget-kaget melihat Alina yang tidak ceria seperti biasanya. Alina pun langsung mendekat dan memeluk Nazwa erat.
Sebelum bertanya penyebab Alina menangis, Nazwa balas memeluknya sembari mengusap-usap punggungnya lembut. Terus seperti itu hingga tangis Alina agak mereda.
Alina memang pandai menutupi masalahnya melalui sifatnya yang cerewet dan supel, hingga seolah tidak ada beban dalam.hidupnya. Berbeda dengan Nazwa yang lebih memilih diam melalui sikap dinginnya, sehingga orang-orang tidak tahu apa yang terjadi dalam hidupnya, kecuali orang-orang terdekatnya yang sering mencari tahu.
“Al, cerita sama gue!”
Alina melepaskan pelukannya, kemudian menghapus air matanya. “Riyan, Naz,” lirihnya, membuat air matanya kembali menetes.
Ketika itu, Helen datang dengan setoples makanan dalam pelukannya. Wajahnya tampak khawatir ketika mendengar tangisan seseorang di kamar Nazwa. Melihat Alina yang ternyata menangis membuat Helen menatap Nazwa dengan wajah bertanya-tanya. “Alina?”
Nazwa mengangguk seraya kembali memeluk Alina. “Al, tenangkan diri! Ayo cerita sama gue,” pinta Nazwa.
“Al, lo kenapa sebenernya?” tanya Helen seraya mengelus tangan Alina.
“Riyan jahat!” Alina makin sesenggukan.
Nazwa menghela napasnya. Mengelus punggung Alina pelan agar tangisnya reda. “Riyan ngapain lo? Mukul? Bentak lo?” tanya
Nazwa. “Gue mohon cerita sama gue.”
Rasa empati dan peduli Nazwa seketika dirasakan kembali oleh Alina. Dalam pelukan sahabatnya yang biasanya super dingin, kali ini dia merasakan kehangatan yang luar biasa.
“Biar gue tonjok tuh cowok!” Helen menggulung lengan kaosnya, berancang-ancang seperti akan menonjok seseorang. “Dia ngapain lo, Al? Bilang!”
“Riyan jalan sama cewek lain,” lirih Alina, kemudian melepaskan pelukannya untuk menatap kedua sahabatnya.
“Cewek itu siapa?”
“Gue nggak tahu.”
“Kok bisa sih, Al?”
“Al, udah makan?”
Alina menggeleng, seraya menelungkupkan kepala di atas kakinya yang terlipat.
“Ya udah, sekarang lo tenangkan diri. Gue mau beli makanan dulu ke depan. Semoga aja lo bisa lebih tenang kalau makan banyak,” ujar Nazwa seraya terkekeh, membuat Alina memukul lengannya.
“Gue pesan cumi-cumi saos padang, martabak cokelat keju, dan s**u kotak rasa cokelat,” cerocos Helen.
“Uangnya? Sekalian traktir kita,” goda Nazwa.
“Yeh, tahu gitu gue beli sendiri aja,” timpal Helen sembari mengambil uang dari dompetnya, lalu memberikannya pada Nazwa.
***
Setelah membeli beberapa makanan, Nazwa segera pulang. Namun, ponselnya berbunyi ketika ia berjalan. Nazwa pun berhenti untuk memeriksa ponselnya. Ketika itu dia dihampiri oleh seorang laki-laki bertato.
“Hai, Neng Cantik! Sendirian aja?” ujar seseorang di depannya. Nazwa tak menoleh, alih-alih mengabaikan dia bermain ponselnya lagi.
“Dih, sombong banget!” ujarnya lagi.
Laki-laki itu mendengkus kesal karena tidak ada respon apaapa dari Nazwa. Dia mencolek pipi Nazwa, menggodanya, tetapi Nazwa langsung menepisnya kasar. Karena semakin kesal, akhirnya dia mencekal tangan Nazwa, lalu menariknya kasar.
“Lepas!” ujar Nazwa, matanya menyorot tajam seraya berusaha melepaskan cekalan di tangannya.
“Nggak bakal, Cantik!”
Nazwa merasa ketakutan, tetapi dia memberanikan diri untuk melepaskan cekalan di tangannya dengan kasar, lalu menampar lelaki itu hingga oleng ke belakang.
Karena amarahnya sudah tak terkendali, lelaki itu melayangkan tangannya, bersiap akan menampar pipi Nazwa. Namun, sedetik kemudian tangannya dicekal oleh seseorang.
Nazwa yang tadinya menunduk pun mendongak ketika tidak merasakan apa-apa pada pipinya.
“Berani nyakitin dia, lo harus berhadapan sama gue!” ujar Kelvin tajam.
“Siapa lo ngatur-ngatur?”
“Gue cowoknya. Kenapa? Keberatan? Tampang preman ternyata beraninya sama cewek doang!”
Laki-laki itu menatap Kelvin penuh kebencian. Dia melepaskan tangannya dari cekalan Kelvin, lalu melirik Nazwa sekilas, kemudian pergi.
“Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit ngggak?” tanya Kelvin.
Nazwa menggeleng pelan membuat Kelvin tersenyum lega.
“Ngapain di sini?”
“Beli makan.”
“Aku tadi nelepon kamu, mau ngajak kamu jalan.”
“Iya.”
“Mau?”
“Nggak bisa. Lagi temenin Alina.”
Kelvin terdiam seraya menatap Nazwa yang terus menghindari tatapannya. Tadinya, dia ingin meminta maaf dan menjelaskan hal yang terjadi kemarin. Namun, Nazwa masih bersikap dingin.
“Kalau ada apa-apa bilang sama aku, ya!”
Nazwa masih diam tidak merespon. Namun, kali ini dia berani menatap Kelvin.
“Aku sayang sama kamu, Naz. Aku nggak mau kamu digangguin cowok kayak tadi. Setelah kejadian ini, rasanya aku ingin selalu ada di samping kamu. Maaf.”
Nazwa hanya mengangguk, kemudian berjalan pergi. Masih ada rasa kecewa dalam hatinya, meski tinggal sedikit. Dia masih enggan untuk berbicara banyak hal pada Kelvin. Apalagi, Alina lebih membutuhkannya kali ini. Akhirnya, Nazwa mengucapkan terima kasih dalam hati.
***
“Al, sumpah dia bukan siapa-siapa aku.” Riyan menggeleng sembari menatap Alina lekat. Wajahnya tampak lesu melihat Alina yang tak kunjung percaya.
Alina menggeleng. “Bohong! Mana mungkin bukan siapasiapa. Aku lihat langsung, kok, kamu jalan sama cewek lain.” Alina meneteskan air matanya.
Nazwa berlari menghampiri mereka, mengingat kondisi emosi Alina yang belum membaik. Namun, hal itu ternyata malah membuat orang-orang di sekitar mereka menatap penasaran. Apalagi, Alina dan Riyan jarang sekali berdebat, bahkan selalu membuat pasangan yang lain iri.
“Alina!” panggil Nazwa seraya memeluk Alina. Alina pun memeluk Nazwa erat. Tangisnya meluruh deras.
Napasnya naik turun tidak beraturan. “Lo bener jalan sama cewek lain?” Kelvin menepuk bahu
Riyan.
Riyan menoleh. Tatapannya terlihat jelas meyakinkan, tidak berbohong sama sekali. “Iya, tapi sumpah dia bukan siapa-siapa gue.”
“Terus siapa?”
“Cuma temen.”
“Lo sama Alina juga awalnya temen kan?” Kelvin menaikan kedua alisnya.
Riyan menggeleng kuat. “b**o! Nggak gitu. Gue kasihan lihat dia di pinggir jalan sendirian, apalagi udah sore. Jadi gue anter dia pulang. Jalan ke rumahnya juga searah sama gue.”
“Terus tanggapan Alina?” Kelvin melirik sekilas Alina yang tengah ditenangkan oleh Nazwa.
“Dia nggak percaya,” lirih Riyan. “Gue sayang banget sama Alina. Mana mungkin selingkuh cari yang lain.”
“Kita bisa bicaraiin ini baik-baik, tapi nggak di sini. Malu dilihatin banyak orang,” ujar Kelvin seraya menatap sekelilingnya.
Nazwa berhasil merayu Alina untuk lekas pergi ke kelas, begitu pula Kelvin yang berhasil mengajak Riyan pergi ke kelas.
Kelvin menepuk bahu Riyan dua kali. “Nanti lo bicarain aja berdua sama Alina. Jangan pake emosi!”
“Lo juga jangan macem-macem sama Nazwa.” Riyan memutar bola matanya.
Kelvin terkekeh pelan, teringat masalahnya dengan Nazwa pun masih belum selesai. Namun, sebenarnya dia sudah memiliki rencana meluangkan waktu khusus untuk meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada kekasihnya.
***
Nazwa dan Helen menarik Alina keluar kelas untuk pergi ke kantin. Awalnya Alina menolak dengan alasan tidak mau bertemu Riyan. Padahal, mereka sering bertemu di kantin tanpa direncanakan.
Sifat egoisnya Alina kembali menyeruak. Meski Riyan berusaha memberikan penjelasan dan meminta maaf, Alina enggan menerimanya. Seolah menjadi penghambat kedamaian di antara Alina dan Riyan.
“Gimana pertengkarannya, Alina? Enak nggak?” Malika menghalangi jalan mereka sembari tersenyum tipis.
Ucapan Malika menarik perhatian murid-murid yang tengah berlalu lalang. Tentu saja pertengkaran Alina dan Riyan sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah karena sebelumnya Alina dan Riyan dikenal sebagai couple goals.
“Riyan jalan sama cewek lain? Itu hot news banget soalnya Riyan tipe cowok idaman banget. Ya, walaupun masih di bawah Kelvin, sih!” Ucapan Malika berhasil menyulut amarah Nazwa dan Helen. Bahkan Alina juga sudah malas mendengar ucapan Malika, tetapi dia sedang tidak ingin berdebat.
“Sehari aja lo nggak ngomporin orang bisa nggak, sih? Heran, ngurusin hidup orang mulu kayak hidup lo udah bener aja!” ujar Helen.
Merasa tertantang Malika tertawa renyah. “Lho, emang bener kan yang gue bilang? Pasangan sahabat lo itu jarang sekali kena
masalah di sekolah, bahkan hampir tidak pernah.” Malika melirik Dista. “Ini bisa buat lo deket sama Riyan, Dis.”
“Bisa aja sih.” Dista menjentikkan jarinya dengan senyum kemenangan.
“Emang kehadiran lo pernah diterima oleh Riyan?” tanya Nazwa datar, membuat Dista terdiam.
“Nggak heran, sih, cewek kayak lo berdua emang ngincernya cowok orang! Apalagi Riyan tampan dan kaya, “ ujar Helen sinis.
Dista tertawa. “Well, sahabat lo sendiri, Al, yang bilang Riyan tampan dan kaya. Emang penikung sejati itu sebenarnya temen kita sendiri.”
“Itu kenyataan yang tidak bisa dielak. Lebih b***t mana sama orang yang suka ngerusak hubungan orang lain? Terlebih dia cewek? Bukankah kodratnya cewek dikejar bukan mengejar? Yang kalian punya cuma obsesi, bukan cinta!” tegas Nazwa, kemudian mengajak Alina dan Helen untuk pergi.
Kata-kata Nazwa terus tergiang seperti kaset rusak di pikiran Malika dan Dista. Pertama kalinya mereka tidak melawan maupun membantah perkataan Nazwa yang seolah menampar perasaan mereka.
***
“Naz, gue belum siap ketemu Riyan,” ujar Alina tiba-tiba saat langkah mereka sudah tak jauh dari kantin.
Jantung Alina berdetak. Dia tidak siap bertatap muka dengan Riyan. Bagaimana pun Alina juga cewek yang bisa malu bertemu kekasihnya setelah perdebatan mereka.
“Udah, nggak apa-apa, Al!” ucap Nazwa meyakinkan.
“Naz, Hel,” panggil Alina lirih dan berhenti berjalan.
“Tenang Riyan nggak mung—” ucapan Helen terhenti seiring langkahnya juga terhenti ketika melihat Riyan tengah berbincang dengan seorang siswi yang berdiri di samping bangku sahabat-sahabatnya. Sialnya, Helen tidak melihat wajah gadis itu sebab dia berdiri membelakangi mereka.
“Riyan beneran se—” Alina tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Lantas dia berbalik, berlari menjauh seraya meluruhkan air matanya.
“Kejar, Hel! Biar gue yang nyamperin mereka,” pinta Nazwa yang langsung dibalas anggukan oleh Helen.
Nazwa segera menghampiri Riyan, Kelvin, Dio, dan Zafi, juga gadis yang sedang berbincang dengan Riyan. Namun, sebelum Nazwa sampai, gadis itu sudah lebih dulu pergi. s**l.
“Lho, kok nggak bilang mau ke sini, Naz? Sendirian?” tanya Kelvin.
“Harus banget bilang?” tanya Nazwa membuat Kelvin menggeleng.
“Tadi siapa?” tanya Nazwa pada Riyan, “gebetan baru lo?”
Seperti tercekik Riyan menahan napas sejenak. “Bukan!”
“Terus?”
“Cuma temen, adek kelas.”
Nazwa mengangguk seraya tersenyum tipis. “Cuma temen."
Oke, cuma temen.”
“Kenapa, Sayang?” tanya Kelvin.
Nazwa tak menjawab. Dia fokus pada lima gelas yang ada di atas meja. “Kok gelasnya ada lima? Bekas cewek tadi?”
“Oh, bukan, Naz. Itu punya gue, tadi sekalian beli dua, tapi kekenyangan.” Dio menyahut sembari tersenyum.
“Alina mana?” tanya Riyan.
“Lagi nenangin diri karena lihat cowoknya sama cewek lain.”
Mendengar itu, Riyan lantas beranjak tanpa pamit.
“Yan, mau ke mana?” teriak Dio.
“Cari Alina!”
“Naz, nanti malam kita jalan-jalan, mau?” ajak Kelvin seraya merangkul bahu Nazwa.
“Aku mau ke kelas,” jawab Nazwa singkat, kemudian bangkit dan tangannya ditahan oleh Kelvin.
“Biar aku temenin, tapi aku mau bayar minuman dulu.”
Sebelum Kelvin membayar, seorang gadis menghampiri Kelvin, lalu memberikan sesuatu dalam kotak berwarna silver. Setelah Kelvin menerimanya, mereka sempat berbincang diselingi kekehan.
Nazwa yang mengawasi Kelvin dari tempat duduknya merasa muak ketika melihat adegan itu. Saat itu juga Nazwa memutuskan untuk pergi ke kelasnya, sendirian.
***
Helen
Sorry, Yo. Gue nggak bisa pergi malam ini. Ada urusan.
Dio menghela napas. Rencana malam mingguan bersama gebetan ternyata gagal. Akhirnya dia mencoba mengajak Zafi.
Zafi
Gue nggak bisa Yo mau ke luar.
Dio berdecak membaca balasan Zafi. Dio juga terheran-heran karena tidak biasanya Zafi ada agenda ke luar. Biasanya setiap malam Minggu Zafi paling malas diajak ke mana pun karena
baginya jalan-jalan hanya menghabiskan bensin saja.
Zafi
Eh, maksudnya bukan buat jalan-jalan. Mau nganter Mama pergi, Yo. Sorry.
Dio hanya membaca pesannya tanpa membalas. Dia bersandar di kursi seraya menatap ponselnya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengajak Riyan. Kali ini, Dio beruntung. Riyan mau diajak nongkrong bersamanya.
***
“Lho, Naz! Lagi di sini juga?” tanya Kelvin ketika dia berpapasan dengan Nazwa di sebuah minimarket.
Nazwa hanya mengangguk sembari memilih camilan.
“Mau s**u nggak? Aku beliin,” tawar Kelvin.
“Aku udah beli, kok, Vin!”
“Mau gabung kumpul aku, Riyan, dan Dio nggak?”
Sebelum Nazwa menjawab, mereka mendengar suara yang sangat mereka kenali sedang beradu argumen. Mereka saling pandang, kemudian segera membayar belanjaan, lalu keluar.
“Oh jadi ini yang lo bilang keluar sama Nyokap? Lo nusuk gue dari belakang?” tanya Dio penuh amarah.
Nazwa dan Kelvin berhenti di samping dua orang yang tengah berhadapan dengan Dio.
Kelvin menggerakkan kepalanya menunjuk Dio. “Kenapa?” tanyanya tanpa suara yang dibalas Riyan dengan mengendikkan bahu seraya menunjuk dua orang di depannya.
“Sorry, maksud lo apa, sih? Gue aja nggak kenal sama lo.” Ucapan orang di sampingnya membuat Kelvin saling tatap dengan Nazwa lagi.
“Lo nikung gue. Belagak pikun lo?” tanya Dio sinis. “Pake ngajak Helen pergi lagi!”
Mendengar itu, Kelvin langsung menggandeng Nazwa untuk berdiri di samping Riyan. Sontak mereka terkejut melihat dua orang di hadapannya.
Helen hanya terdiam menyaksikan sembari sesekali melirik seseorang di sebelahnya yang tampak biasa saja berhadapan dengan Dio.
“Mendingan lo pergi aja deh,” bisik Helen pelan membuat seseorang di sebelahnya menaikkan satu alisnya, bingung.
“Ribet! Sana cepet!” pintanya tegas.
“Sorry, gue duluan! Dan lo ….” Dia menunjuk Dio. “Gue nggak kenal lo,” ujarnya, kemudian pergi.
“Emang temen b*****t! Pake nggak kenal gue segala lagi. s****n!” desis Dio tajam.
“Udah, Yo. Kita omongin nanti aja di sekolah,” ujar Riyan.
“Lo kira bakal sesimpel itu selesai? Enggak! Dia udah nikung gue, Yan!”
Dio menatap Helen penuh kecewa. Namun Dio tidak bisa membenci Helen. Rasa sayangnya mengalahkan rasa bencinya. Bagaimana pun, Helen tetap gadis pertama yang ditaksir Dio.
“Yo, udah!” ujar Kelvin lalu menarik Dio menjauh dengan Riyan di belakangnya.
Nazwa mendekati Helen. Mengusap punggung Helen lembut saat Helen masih bergeming menatap kepergian Dio.
“Lo sama Zafi?” tanya Nazwa pelan.
“Naz, gue nyesel,” ungkap Helen lesu. Dia tidak tega melihat Dio tersakiti walaupun pada nyatanya Helen sendiri yang menyakiti Dio.
Helen suka sama Dio. Helen mau membuka hatinya untuk Dio. Helen suka cara Dio memperlakukan dirinya, cara cowok itu memberi perhatian padanya. Helen suka. Helen hanya masih bimbang saja pada perasaannya sendiri.
“Kenapa lo pergi sama Zafi?”
“Gue ada urusan, Naz.”
“Harus banget sama Zafi?” pepet Nazwa. “Bukannya lo bilang mau jajan?”
“Naz, Dia bukan—”
“Naz, mau aku anterin pulang?” tanya Kelvin membuat ucapan Helen terpotong.
“Gue pulang sama Helen, Vin.”
Kelvin mengangguk tersenyum. “Hati-hati, ya, Sayang!”
Nazwa hanya mengangguk.
***
Sekitar pukul sepuluh malam, Zafi pergi ke rumah Dio. Ingin numpang makan jajanan yang dibelikan mamanya.
Dio berdiri sambil memandangnya datar membuat dahi Zafi menyerit bingung. Zafi meletakan makanan yang dia bawa di atas meja teras.
“Yo?”
Satu pukulan mendarat tepat di rahang Zafi membuat Zafi terhuyung sembari meringis.
“Lo apa-apaan?” tanya Zafi tidak terima.
“Lo yang apa-apaan? Maksud lo apa nikung gue dari belakang? Lo suka sama Helen?”
Dahi Zafi makin menyerit dalam. Tidak mengerti arah pembicaraan Dio. “Nikung gimana? Gue nggak suka sama Helen!” bantahnya.
“Kok ngegas? Gue cuma tanya!”
“Lah, lo marah-marah nggak jelas! Gue nggak ngerti.”
“Lo b***k? Maksud lo apa nikung gue, mau ngambil Helen dari gue? Maksud lo apa tadi pake sok-sokan nggak kenal gue segala?” emosi Dio meletup-letup. Kedua tangannya terkepal di sisi badan. Matanya menatap Zafi nyalang seakan Zafi musuh yang patut dimusnahkan.
Zafi meringis tak kala rasa sakit pukulan yang Dio berikan terasa lagi. “Nggak kenal lo gimana? Gue kenal lo, Dio!” tekan Zafi tak terima. “Dan satu lagi, gue nggak suka Helen. Kurang jelas?”
Zafi yang tidak siap menerima serangan dari Dio lantas jatuh tersungkur dan sudut bibirnya berdarah. Tidak terima, Zafi berdecih ke samping kemudian bangkit membalas pukulan Dio sampai cowok itu tersungkur ke belakang.
“Lo kalau ada masalah sama gue jelasin baik-baik! Nggak gini caranya!”
Meskipun Zafi membalas pukulan Dio, tetapi dia tetap mengulurkan tangannya untuk membantu Dio berdiri.
“Lo yang buat masalah duluan!” ujar Dio.
“Gue nggak tahu apa masalahnya!”
Melihat sudut bibir Zafi berdarah, Dio lantas masuk ke rumah mengambil kotak P3K. Semarah apa pun Dio, dia tidak bisa membenci Zafi. Apalagi Zafu selalu ada ketika Dio butuh bantuan. Zafi juga yang paling sering Dio repotkan. Makanya, semarah apa pun, Dio tidak bisa membenci Zafi.
“Pulang, Zaf!” ujar Dio setelah mengobati luka Zafi.
“Yo, gue mau ma—”
“Pulang! Sebelum gue kembali mukul lo lagi!” Dengan berat hati, Zafi berdiri, mengangguk, lalu pergi.
***
Genggam erat tanganku.
Tolong jangan berubah karena ada orang baru.