Minggu pagi, Nazwa kecil yang berusia sembilan tahun berlari-lari di sepanjang taman. Gadis kecil itu tersenyum ceria, melihat bunga-bunga indah bermekaran. Sesekali, dia pun menyentuhnya sembari menciprat-cipratkan embun dari dedaunan.
Laveno Ardino, yang kerap dipanggil Veno—kakak Nazwa—membawa permen kapas, lalu memanggil Nazwa seraya duduk di sebuah kursi taman. Nazwa yang melihat permen kapas di tangan kakaknya segera berlari.
"Emmm manis," ujar gadis itu mencicipi sedikit permen kapasnya.
"Kayak kamu." Veno terkekeh pelan sambil mengusap pelan puncak kepala gadis itu. "Enak banget ya Naz?"
"Banget!" jawab Nazwa antusias. "Kak Veno mau?" tawarnya.
Veno menggeleng pelan sembari tersenyum tipis. "Nggak."
"Oke." Nazwa mengangguk-angguk, lalu kembali sibuk dengan permennya sendiri. Sesekali tersenyum geli saat permen kapas itu memasuki mulut kecilnya.
Veno memandang adiknya tanpa kedip. Sudut bibirnya terangkat membentuk seulas senyuman. Dia begitu bahagia melihat adiknya yang tampak ceria menikmati jalan-jalan pagi, walaupun hanya berdua.
Kedua orang tuanya selalu sibuk dengan pekerjaan. Tidak pernah di rumah sehari saja. Kadang-kadang mereka pulang tiga bulan sekali, tapi hanya sehari saja karena malamnya berangkat lagi.
Veno merasa miris pada kondisi keluarganya. Ingin rasanya dia marah kepada orang tuanya, menuntut banyak hal, tetapi sulit dilakukan karena Veno tidak terbiasa melakukan hal itu. Terkadang ia juga ingin menyerah, tetapi Veno ingat kalau dia mempunyai satu adik perempuan yang harus dia jaga. Bagaimanapun, dia akan selalu berusaha agar Nazwa tidak merasa terpuruk.
Lamunan Veno buyar ketika bahunya ditepuk beberapa kali, lalu dipaksa berdiri begitu saja oleh ibunya. Veno bergerak menjauh, tetapi tangannya dicekal oleh ibunya.
"Mah! Apa-apaan sih?" Veno berusaha melepaskan cekalan di tangannya.
"Veno, kamu harus pindah ke rumah nenek sekarang. Biar Nazwa yang di sini sama kami. Kamu harus fokus mempersiapkan masa depan kamu."
Veno menggeleng pelan. "Nggak mau! Veno mau di sini aja sama Nazwa."
"Nggak bisa, Sayang. Kamu harus fokus belajar biar jadi orang sukses."
"Papa udah urus surat pindah kamu, Veno."
Veno menatap orang tuanya, tidak percaya. Mimik wajahnya terlihat sangat tertekan. "Cukup! Veno mau sekolah di sini aja. Veno masih SD! Veno mau menikmati kebersamaan Veno dengan Nazwa. Veno nggak mau pindah!"
"Kak Veno," ucap Nazwa di tengah isak tangisnya.
Veno menujuk Nazwa, lalu menatap orang tuanya tanpa takut. "Lihat, Ma, Nazwa nangis! Mama sama Papa nggak pernah ngertiin kami! Tiap malem Nazwa nangis ingin ketemu Mama sama Papa. Ingin jalan-jalan bersama Mama dan Papa. Tapi kalian malah terus kerja, kerja, dan kerja!"
"Veno!" tegas Ayahnya. "Kita kerja juga buat kalian. Jangan kurang ajar Veno!"
"Veno nggak mau tahu! Veno mau di sini aja!"
"Nggak Veno! Kamu harus pindah, biar Nazwa sama Mama dan Papa di sini!" ujar Ayahnya tanpa bantahan.
"Bukannya Nazwa selalu bersama Bi Yuni dari kecil?"
"Tapi Papa yang bayar Bi Yuni, Veno. Itu udah kewajiban dia buat ngurus kalian."
"Ayo kita berangkat, takutnya ketinggalan pesawat," ajak ibunya sambil merangkul Veno, lalu mengajaknya berjalan.
Veno tidak bisa apa-apa. Dia memilih patuh untuk pergi bersama orang tuanya dan melepaskan rangkulannya di pundak Nazwa. Hatinya sangat sakit, melihat Nazwa menangis meraung sambil berusaha meraih bajunya yang semakin menjauh.
Hari itu, Nazwa hanya bisa menangis. Sehari semalam. Melamun. Tak b*******h. Dia kesepian. Tanpa Veno. Tanpa orang tua. Hanya bersama Bi Yuni.
Nazwa tersentak, lalu membuka matanya. Gadis itu beringsut duduk bersandar. Napasnya tersengal-sengal dengan keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.
Tak lama, air matanya luruh menganak sungai di pipinya. Dia berusaha untuk menyingkirkan bayangan-bayangan sekuat tenaga, hingga tubuhnya merasa lemas. Nazwa pun berusaha untuk mengambil air minum di atas nakas. Namun, karena begitu lemas, dia malah menjatuhkan gelas berisi air minum itu hingga pecah berserakan.
"Ya Allah, Non, kenapa?" seru Bi Yuni kaget yang menerobos masuk kamar Nazwa, lalu memeluknya.
Isak tangis Nazwa mulai terdengar pilu. Dia memeluk Bi Yuni dengan erat seolah tidak mau ditinggal pergi. "Kak Veno," lirihnya.
"Iya, Non, bentar lagi sampai," ujar Bi Yuni sambil mengusap-usap punggung Nazwa.
"Assalamualaikum, Naz—" Sapaan Veno terpotong ketika dia melihat Nazwa menangis dalam pelukan Bi Yuni.
Nazwa berganti memeluk Veno erat. Tangisnya semakin terdengar keras. Air matanya bahkan menembus kemeja merah Veno.
"Long time no see, sayang," ucap Veno seraya mencium puncak kepala Nazwa.
Nazwa mendongak. Tangannya bergerak menulusuri wajah Veno, dari mulai kening, turun pelipis, mata, hidung, dan berhenti di pipinya. "Ini Kakak? Kak Veno? Nazwa nggak halusinasi ‘kan?" ujarnya dengan suara bergetar. Air matanya luruh begitu saja.
Veno menggeleng pelan, tangannya memegang tangan Nazwa yang masih membingkai wajahnya. "Nggak, kamu nggak halusinasi. Ini Kakak,” katanya meyakinkan.
Dan pertahanan Nazwa runtuh begitu saja. Dia langsung memeluk Veno begitu erat. Menumpahkan segala tangisnya di dalam pelukan kakaknya. Mimpi yang baru saja dia alami seolah begitu nyata. Seolah Nazwa kembali ke masa lalunya yang begitu kelam, ketika kehadirannya selalu diabaikan dan ditinggalkan.
Sekelebat bayangan masa lalunya satu persatu mulai mengambang membuat Nazwa mudah mengingatnya. Nazwa memejamkan matanya, sementara tangannya meremas ujung kemeja Veno dengan erat.
Saat dadanya semakin terasa sakit, Nazwa dengan cepat menyembunyikan wajahnya lebih dalam ke d**a bidang Veno. Tenggorokannya seakan tercekat, tak bisa berkata apapun. Nazwa tidak bisa menahan bayangan masa lalunya. Hingga Nazwa merasa tubuhnya lemas dan penglihatannya meredup, lalu dia tak sadarkan diri.
Veno menoleh dengan raut wajah panik melihat Nazwa yang terkulai di bahunya. "Nazwa, jangan bercanda sama Kakak! Nazwa ini nggak lucu, Naz!" ujar Veno panik. "Nazwa!" ujarnya sekali lagi. Namun, Nazwa tetap tidak membuka mata.
***
Paginya, Veno mengantarkan Nazwa ke sekolah. Kali ini, dia berusaha memanfaatkan waktu untuk selalu ada di dekat Nazwa. Bahkan, Veno merayu Nazwa untuk mengantarkannya hingga ke depan kelas.
Nazwa dan Veno berjalan santai memasuki gedung sekolah. Nazwa fokus pada ponselnya, sedangkan Veno terus merangkul Nazwa seraya tersenyum pada gadis-gadis yang memerhatikan mereka membuat gadis-gadis itu terkagum-kagum ria, bahkan memekik tertahan ketika melihat senyum Veno.
“Cowok itu pacarnya Nazwa?”
“Ah, nggak mungkin! Ratu Primadona itu sangat dingin. Mana ada cowok yang meluluhkan hatinya.”
Veno terkekeh pelan saat mendengar perbincangan dua orang siswi itu. Dia baru tahu kalau adiknya, mendapatkan gelar Ratu Primadona SMA starlight—SMA-nya dulu. Semua siswi berlomba-lomba meraih gelar itu, gelar yang paling disanjung seantero sekolah Starlight. Veno pun tak dapat memungkiri bahwa adiknya memang sangat cantik. Apalagi lesung pipinya yang indah ketika dia tersenyum.
Kelvin yang melihat mereka, menatap Nazwa dengan tatapan sulit diartikan. Seperti ada rasa sesak saat melihat Nazwa yang berada di dalam rangkulan laki-laki lain. Namun, Kelvin berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa dia hanya ingin tahu siapa laki-laki itu. Tidak lebih.
"Belajar yang bener, nanti gue jemput lagi," ujar Veno ketika mereka sampai di depan kelas. Veno mengacak rambut Nazwa, lalu mengecup keningnya.
"Ya," ujar Nazwa sambil mengangguk.
Veno tersenyum. Senyuman tulus yang mampu membuat hati Nazwa menghangat. "Jangan dingin-dingin. Pokoknya nanti tunggu gue jemput. Gue pulang dulu," ujar Veno, lalu mencolek hidung Nazwa gemas, kemudian melambaikan tangan dan pergi.
Nazwa hanya tersenyum singkat, kemudian berbalik. Dia agak terkejut saat teman sekelasnya sudah berada di ambang pintu sembari menatapnya. Ketika raut muka Nazwa kembali datar, barulah mereka tersadar dan segera kembali ke bangku masing-masing.
"Naz, itu Kak Veno?" tanya Alina yang dibalas anggukan singkat oleh Nazwa. Alina memang sudah mengenal Veno sejak mereka bersahabat, tetapi dua tahun ini Alina belum bertemu Veno lagi, semenjak Veno berangkat ke luar negeri.
"Dia udah punya pacar?" tanya Alina antusias.
"Belum," jawab Nazwa sambil melepaskan tasnya.
"Boleh jodohin sama gue nggak Naz?"
Nazwa sontak menoleh. Alina tersenyum lucu lalu mencolek bahu Nazwa genit. "Bercanda. Nanti Riyan sama siapa? Kasian ntar jadi jomlo akut."
"Bucin lo udah sampe jantung ya Al?" Nazwa menggeleng pelan sementara Alina masih tersenyum. Obrolan keduanya terputus saat bel masuk berbunyi.
***
Masa lalu. Dua kata yang mampu membuat kita jatuh tak berdaya.