Aliya tidak langsung naik ke kamarnya. Ia berdiri sebentar di lobby hotel, menatap punggung Gellar yang semakin lama semakin kecil, lalu tertawa sendiri seperti orang bodoh. Baru semalam ia bertemu dengan orang itu, dan sekarang ia sudah punya janji jam lima sore.
Sesampainya di kamar, Aliya menjatuhkan tubuhnya di atas kasur tanpa mengganti baju. Ponsel nya masih dalam keadaan mati sejak semalam, dan Aliya belum berniat menyalakan nya lagi. Kalau di nyalakan, isinya pasti cuma dua hal, pesan dari kantor atau pesan dari Dean, dan dua-duanya sama-sama tidak ingin ia baca hari itu.
Aliya tidur sampai jam dua siang, bangun dengan kepala yang berat, lalu mandi dengan air yang sengaja ia buat sedingin mungkin. Setelah nya ia duduk di balkon kamar hotel, menatap kolam renang di bawah, dan tanpa sadar mengecek jam berkali-kali.
Jam tiga.
Jam empat.
Jam setengah lima.
“Anjir Al, lo lagi ngapain sih.” Desis Aliya kepada dirinya sendiri sembari beranjak ke depan cermin, memasang lipbalm yang sudah tiga hari tidak ia sentuh.
*****
Gellar sudah berdiri di lobby jam lima kurang sepuluh, bersandar di tiang sembari memainkan kunci mobil sewaan nya. Kali ini Aliya bisa melihat wajah pria itu dengan jelas, tidak seperti semalam yang cuma di terangi lampu jalan dan bulan. Dan ya, Aliya harus mengakui, Gellar memang enak di lihat.
“Lo telat tujuh menit.” Ucap Gellar.
“Lo hitung?”
“Iya. Gua orangnya gitu.” Jawab nya santai, lalu berjalan lebih dulu ke arah parkiran.
Sore itu mereka tidak punya rencana apa-apa. Gellar cuma menyetir ke arah utara mengikuti garis pantai, membuka jendela, dan membiarkan angin masuk sampai rambut Aliya berantakan tidak karuan. Mereka berhenti di sebuah warung kecil di pinggir jalan yang menjual jagung bakar dan kelapa muda, duduk di kursi kayu yang salah satu kakinya sudah di ganjal batu bata.
“Lo sering ke sini?” Tanya Aliya.
“Setahun sekali. Kalau lagi pengen ilang.” Jawab Gellar.
“Ilang dari apa?”
“Dari orang-orang yang nanya gua kapan nikah.” Jawab nya, dan Aliya tertawa sampai kelapa muda nya hampir tumpah.
“Lah, gua juga. Bedanya yang nanya gua tuh nanyanya sambil ngasih undangan.” Ucap Aliya.
Gellar ikut tertawa, tapi tidak lama. Ia menyandarkan punggung nya ke kursi, menatap laut yang mulai berubah warna. “Gua tau rasanya. Gua tiga tahun sama orang, terus tau-tau dia ngasih tau gua kalau dia mau nikah sama orang lain. Bukan minta izin ya, ngasih tau. Kayak ngasih tau kalau besok dia mau potong rambut.”
Aliya diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ada rasa aneh yang menyelinap, semacam lega yang salah tempat, karena ternyata ada orang lain di dunia ini yang sedang di remukkan dengan cara yang berbeda tapi rasa sakit nya sama.
“Terus lo gimana?” Tanya Aliya pada akhirnya.
“Ya gitu. Kerja, olahraga, tidur, bangun, kerja lagi. Sampai satu hari gua sadar kalau gua udah gak nunggu chat dari dia lagi. Itu doang sih tanda nya. Bukan pas lo bisa ketawa, tapi pas lo udah gak nungguin.” Jawab Gellar.
Aliya menyimpan kalimat itu di suatu tempat di dalam kepalanya, di rak yang biasanya ia pakai untuk menaruh hal-hal yang ingin ia ingat lama.
“Terus kalau gua belum sampai ke tanda itu gimana?” Tanya Aliya.
“Ya berarti belum. Gak apa-apa.” Jawab Gellar sembari mengupas kulit jagung nya yang gosong. “Orang tuh suka maksa diri sendiri buat cepet sembuh, terus pas gak sembuh-sembuh, dia marah sama diri nya sendiri. Padahal yang bikin lama tuh bukan luka nya, tapi marah nya.”
“Lo psikolog ya?”
“Bukan. Gua cuma pernah jadi orang yang marah sama diri sendiri selama setahun penuh.” Ucap Gellar.
Aliya menoleh. Untuk pertama kali nya sejak semalam, ia benar-benar memperhatikan wajah laki-laki itu, bukan cuma melirik. Dan di sana, di antara sinar matahari sore yang mulai turun, Aliya melihat sesuatu yang ia kenal betul karena setiap pagi ia melihat nya sendiri di cermin.
“Lo udah sembuh belum?” Tanya Aliya.
“Hampir.” Jawab Gellar.
“Hampir tuh berapa persen?”
“Delapan puluh.”
“Sisa nya?”
“Sisa nya buat jaga-jaga.” Ucap Gellar sembari tersenyum tipis, dan Aliya tertawa karena jawaban itu terdengar terlalu jujur untuk sebuah lelucon.
*****
Malam nya mereka makan di sebuah tempat sederhana yang penuh turis, memesan ikan bakar yang porsi nya jauh lebih besar dari yang mereka butuhkan. Gellar makan banyak, Aliya cuma memindah-mindahkan nasi di piring nya.
“Lo tuh dari semalam gak makan bener.” Tegur Gellar.
“Gua lagi gak nafsu.”
“Patah hati bukan alasan buat maag lo kambuh.” Ucap Gellar sembari menaruh sepotong ikan ke piring Aliya, dan Aliya seketika mendongak.
“Kok lo tau gua maag?”
“Gak tau. Nebak. Semua anak kantoran maag.” Jawab Gellar, dan Aliya menghela napas panjang, kesal karena tebakan orang itu terlalu sering benar.
Mereka mengobrol lama, jauh lebih lama dari yang Aliya kira. Tentang pekerjaan, tentang atasan yang menyebalkan, tentang kenapa orang tua selalu punya jadwal sendiri untuk hidup anaknya. Gellar bercerita bahwa orang tua nya sudah mulai menyodorkan nama-nama, dan Aliya bercerita bahwa mama nya juga sudah mulai bertanya-tanya dengan nada yang mencurigakan setiap kali menelepon.
“Ya udah, kita berdua sama-sama korban lah ya.” Ucap Aliya.
“Kalau di jodohin, lo bakal nolak?” Tanya Gellar.
Aliya berpikir sebentar. “Gak tau. Dulu sih pasti nolak. Sekarang, ya gak tau. Orang yang gua tungguin aja udah tunangan sama orang lain. Buat apa gua nunggu lagi.”
Gellar mengangguk pelan, tidak berkomentar apa-apa, dan Aliya diam-diam berterimakasih untuk itu. Orang-orang di sekitar nya selalu punya nasihat, selalu punya kalimat harusnya kamu begini . Gellar tidak. Gellar cuma mendengarkan, lalu diam, lalu menawarkan es kelapa lagi.
*****
Mereka kembali ke pantai menjelang tengah malam, ke tempat yang sama seperti semalam. Kali ini Aliya tidak menangis. Ia cuma duduk memeluk lutut nya sendiri, memandang laut yang gelap, sementara Gellar duduk beberapa jengkal di sebelah nya.
“Lo udah nyoba yang gua bilang semalam belum? Yang bintang itu.” Tanya Gellar.
“Nyoba apaan, mendung dari tadi.”
“Ya berarti salam rindu lo pending. Nanti di kirim kalau cerah.” Jawab Gellar, dan Aliya tertawa, tawa yang pertama kali terasa benar-benar keluar dari dirinya sendiri sejak Dean mengucapkan kata she said yes di restaurant Gokana malam itu.
“Lo tuh aneh ya orangnya.” Ucap Aliya.
“Kata orang yang ke pantai jam dua pagi sendirian.”
“Fair.”
Mereka duduk di sana cukup lama, kadang bicara, kadang tidak. Sampai Aliya menguap tiga kali berturut-turut dan Gellar akhirnya berdiri, menepuk celana nya yang penuh pasir.
“Udah, gua anter balik. Besok lo masih di sini kan?” Tanya nya.
“Masih. Tiket gua lusa.”
“Oke. Besok gua jemput lagi, jam lima. Gua bawa lo ke tempat yang lebih bagus dari ini.” Ucap Gellar.
“Emang ada yang lebih bagus?”
“Ada. Tapi kalau gua kasih tau sekarang, nanti lo gak penasaran.” Jawab nya.
Aliya cuma mengangguk sembari tersenyum kecil.
*****
Sesampainya di hotel, Gellar mengantar Aliya sampai ke depan lift, lalu melambaikan tangan seperti tadi pagi dan pergi begitu saja. Aliya naik sendirian, berdiri di depan cermin lift, dan menyadari satu hal: wajah nya hari itu tidak sepucat kemarin.
Aliya berjalan menyusuri koridor menuju kamar nya, tangan nya merogoh saku mencari kartu kamar, sementara pikiran nya masih di pantai tadi. Baru dua hari, tapi rasanya sudah lebih ringan. Mungkin memang begitu cara nya, kadang manusia cuma butuh satu orang asing yang tidak tahu apa-apa tentang masa lalu nya untuk bisa bernapas lagi.
Aliya baru saja hendak menempelkan kartu ke pintu ketika ponsel nya, yang sore tadi ia nyalakan kembali, bergetar keras di dalam tas. Layar nya menyala, menampilkan satu nama yang sejak tiga hari lalu sengaja ia hindari.
Dean.
Aliya menatap layar itu beberapa detik. Ia sempat berpikir untuk membiarkan nya berdering sampai mati sendiri seperti panggilan-panggilan sebelumnya. Tapi entah kenapa, jam segini, di hari kedua, dengan getaran yang tidak berhenti-berhenti, ada sesuatu yang membuat Aliya merasa tidak enak.
Akhirnya jari nya bergerak juga, menggeser tombol hijau di layar.