Pagi itu Dean sudah berdiri di depan pintu ruangan Aliya bahkan sebelum Aliya sempat menaruh tas nya.
“Tumben.” Ucap Aliya.
“Kita perlu ngomong.”
“Gua belum absen, De.”
“Ya udah absen dulu, abis itu ngomong.” Jawab Dean, dan pria itu benar-benar menunggu di depan pintu selama sepuluh menit sampai Aliya selesai dengan urusan pagi nya.
Begitu pintu tertutup, Dean langsung duduk di kursi depan meja Aliya, tapi kali ini tidak membawa kopi, tidak memutar-mutar bolpoin, dan tidak bercanda.
“Kenapa lo gak bilang kalau yang di jodohin sama lo itu Gellar?” Tanya Dean.
Aliya menghela napas. Ia sudah menduga pertanyaan ini akan datang, ia cuma tidak menduga akan datang secepat ini.
“Karena gua sendiri baru tau pas dia berdiri di ruang tamu rumah gua.” Jawab Aliya. “Gua kira lo yang harusnya jelasin ke gua, De. Lo yang dari dulu ngelarang gua deket-deket sama dia.”
“Al-”
“Sekarang orang nya duduk di depan bokap gua, bilang setuju sama perjodohan nya, dan gua masih gak tau kenapa lo ngelarang gua.” Sambung Aliya, dan kali ini ia menutup laptop nya, memberikan seluruh perhatian nya kepada laki-laki di hadapan nya. “Jadi sekarang gua tanya baik-baik. Ada apa sama Gellar?”
Dean diam.
Aliya menunggu. Sepuluh detik. Dua puluh detik. Setengah menit.
“Gua gak bisa cerita.” Jawab Dean pada akhirnya.
“Kenapa?”
“Karena itu bukan cerita gua.” Ucap Dean.
“Ya tapi ini hidup gua.” Balas Aliya, suaranya naik satu tingkat. “De, gua mau nikah sama orang itu. Bukan mau nonton bioskop bareng dia. Kalau ada sesuatu yang harus gua tau, ya kasih tau, sekarang, mumpung belum ke mana-mana.”
Dean mengusap wajah nya, gerakan yang sudah Aliya hafal, gerakan yang selalu ia lakukan kalau sedang terjepit antara dua hal yang sama-sama tidak enak.
“Al, gua cuma minta lo hati-hati.” Ucap Dean. “Dia bukan orang jahat, gua gak pernah bilang dia jahat. Tapi ada hal yang belum selesai, dan gua gak tau apakah dia udah nyelesain nya atau belum. Kalau gua ngomong sekarang terus ternyata udah selesai, gua yang jadi orang paling sialan di dunia ini.”
Aliya menatap sahabatnya itu lama sekali.
“Gua benci banget sama jawaban kayak gitu.” Ucap Aliya.
“Gua tau.”
“Lo tau tapi lo tetep ngasih jawaban itu.”
“Iya.” Jawab Dean.
Aliya menghela napas panjang, lalu membuka kembali laptop nya, kode paling sopan yang bisa ia berikan untuk mengusir orang.
“Ya udah. Kalau gitu jangan larang-larang gua lagi ya, De. Sekali lagi lo ngelarang tanpa alasan, gua anggap lo bercanda.” Ucap Aliya tanpa menoleh.
Dean berdiri, berjalan ke pintu, lalu berhenti sebentar dengan tangan di gagang pintu.
“Al.”
“Hm?”
“Dia inget lo, kok.” Ucap Dean.
Aliya langsung mendongak, tapi pintu sudah keburu tertutup.
*****
Kalimat itu mengganggu Aliya sepanjang hari.
Dia inget lo, kok.
Aliya mengulang nya berkali-kali di dalam kepala sembari mengetik laporan, sembari mendengarkan orang bicara di ruang rapat, sembari mengantri di kafetaria. Kalau Gellar memang ingat, kenapa laki-laki itu bilang saya gak kenal kamu dengan wajah sedatar itu? Dan kalau dia memang tidak ingat, kenapa Dean bisa se yakin itu?
Aliya bahkan sempat membuka room chat dengan kontak yang sampai sekarang masih ia simpan sebagai Calon menantu. Sekarang ia sudah tahu nama nya, tapi entah kenapa ia belum juga mengganti nya.
Mas, boleh nanya sesuatu gak?
Di lihat. Tidak di balas selama dua jam.
Lalu, menjelang sore, satu pesan masuk.
Iya, kenapa?
Aliya menatap dua kata itu lama sekali. Tidak ada halo, tidak ada tanda seru, tidak ada emot. Rasanya seperti membaca surat dari bagian personalia.
Aliya mengetik pertanyaan nya, lalu menghapus nya. Mengetik lagi, menghapus lagi. Pada akhirnya ia cuma mengirim,
Gak jadi. Maaf ganggu.
Dan seperti yang sudah bisa ia tebak, tidak ada balasan lagi setelah itu.
“Dingin banget sih.” Desis Aliya sembari menaruh ponsel nya menghadap ke bawah.
Nana yang kebetulan masuk membawa berkas langsung berhenti di ambang pintu.
“Mbak Al kenapa? Muka nya serem.”
“Gak apa-apa.”
“Beneran gak apa-apa?”
“Na, kalau lo di chat orang cuma di bales iya, kenapa, terus abis itu di read doang, lo bakal ngerasa gimana?” Tanya Aliya.
Nana berpikir sebentar. “Ya berarti orang nya sibuk mbak.”
“Atau dia emang gitu orang nya.”
“Ya bisa jadi. Tapi mbak, orang yang sibuk tuh biasanya gak bales sama sekali, bukan bales dua kata.” Ucap Nana sembari menaruh berkas nya di meja. “Kalau dia bales, artinya dia sempet. Kalau dia sempet tapi cuma dua kata, artinya dia lagi mikir mau nulis apa.”
Aliya menatap gadis itu dengan tatapan takjub. “Na.”
“Iya mbak?”
“Lo kok pinter banget sih.”
“Ya kan aku sekretaris nya mas Dean mbak, tiap hari liat orang bingung mau bales chat.” Jawab Nana sembari nyengir, lalu keluar sebelum Aliya sempat melempar apa pun ke arah nya.
*****
Sore itu Aliya pulang lebih awal karena mama nya menelepon tiga kali berturut-turut, dan kalau mama nya sudah menelepon tiga kali, artinya bukan basa-basi.
“Mbak, hari sabtu kosong ya jadwal nya.” Ucap mama nya begitu Aliya masuk rumah.
“Kenapa?”
“Mama sama papa mau ke rumah dokter Herman. Kenalan resmi, sekalian ngomongin rencana.”
Aliya berhenti di tengah ruang tamu dengan sepatu yang baru copot sebelah. “Rencana apa ma?”
“Ya rencana kalian lah, masa rencana pembangunan jalan tol.” Jawab mama nya sembari lalu, membawa piring ke dapur seperti tidak ada yang aneh dengan kalimat barusan.
“Ma, kita baru ketemu sekali.”
“Ya makanya, biar ketemu lagi.” Balas wanita paruh baya itu dari arah dapur.
Aliya menghela napas panjang, lalu berjalan ke sofa dan menjatuhkan diri di sebelah Aletta yang seperti biasa sedang menonton sesuatu di ponsel nya dengan volume kekencangan.
“Selamat ya mbak, hidup lo udah ada jadwal nya.” Ucap Aletta tanpa menoleh.
“Diem lo.”
“Gua serius. Lo tuh dari dulu suka bilang mau ngatur hidup sendiri, tapi tiap kali ada yang ngatur, lo nurut.” Ucap Aletta, kali ini menoleh, menatap kakak nya dengan tatapan yang tidak seperti biasanya.
Aliya membuka mulut untuk membalas, tapi tidak ada satu pun kalimat yang cukup bagus untuk keluar. Karena adiknya benar. Karena selama ini memang begitu. Ia menurut kepada Dean selama delapan tahun, dan sekarang ia menurut kepada orang tua nya dalam hitungan minggu.
“Gua tidur duluan.” Ucap Aliya sembari berdiri.
“Baru jam delapan.”
“Ya makanya.”
*****
Malam itu Aliya berbaring di kamar nya dengan lampu yang sudah di matikan, tapi mata nya tidak mau ikut tutup.
Ia memikirkan banyak hal sekaligus, dan itu selalu jadi cara paling cepat untuk tidak tidur sama sekali. Ia memikirkan Dean yang menyimpan sesuatu. Ia memikirkan Gellar yang membalas pesan seperti mesin. Ia memikirkan mama nya yang sudah bicara soal rencana padahal Aliya sendiri belum yakin akan berangkat ke mana.
Dan di antara semua itu, yang paling sering muncul justru satu hal yang paling tidak penting: laki-laki di pantai Kuta, yang menyuruh nya menyebut satu nama sambil menatap bintang, yang bilang bahwa tanda seseorang sudah selesai bukan ketika ia bisa tertawa lagi, tapi ketika ia sudah tidak menunggu.
Orang itu dan orang yang duduk di ruang tamu rumah nya minggu lalu adalah orang yang sama. Aliya yakin seratus persen. Ia cuma belum tahu kenapa laki-laki itu memilih untuk berpura-pura tidak tahu.
Aliya membalik badan, menarik selimut sampai ke bahu, dan memutuskan bahwa besok ia akan berhenti memikirkan nya.
Besok pagi, kalau saja Aliya tahu apa yang akan terjadi, mungkin ia akan bangun lebih pagi dan setidaknya mencuci muka lebih dulu.