“Udah dengar kabar dari tante belum?” Tanya Gellar.
Aliya mengaduk Americano nya, membiarkan es nya berbunyi di dinding gelas. “Kabar yang mana? Mama aku kabar nya banyak.”
“Soal tanggal.” Ucap Gellar.
Aliya berhenti mengaduk.
“Tanggal apa?”
“Akad.” Jawab Gellar, sesantai orang menyebut jadwal rapat. “Orang tua saya sama orang tua kamu udah ngobrol kemarin malam. Mereka mau bulan depan. Kalau gak bisa bulan depan, paling lambat dua bulan lagi.”
Ada beberapa detik di mana Aliya benar-benar tidak mendengar apa-apa. Suara sendok, suara orang di meja sebelah, suara mesin kopi, semuanya seperti hilang sebentar lalu kembali lagi sekaligus.
“Bulan depan?” Ulang Aliya.
“Iya.”
“Mas, kita ketemu baru berapa kali?”
“Empat.” Jawab Gellar, cepat sekali, seperti orang yang memang menghitung.
“Nah. Empat kali.” Ucap Aliya. “Dan sekarang mereka udah ngomongin akad?”
Gellar mengangkat bahu nya. “Menurut mereka, empat kali itu udah kebanyakan.”
Aliya menyandarkan punggung nya ke kursi, menarik napas panjang, lalu mengeluarkan nya lewat mulut. Ini bukan hal yang tidak ia duga. Ia sudah tahu ke mana arah nya sejak papa nya menyebut kata rencana . Tapi mengetahui sesuatu akan datang dan benar-benar melihat nya berdiri di depan mata itu dua hal yang berbeda.
“Aku belum siap.” Ucap Aliya pada akhirnya.
Gellar tidak menjawab. Ia cuma menatap Aliya, menunggu, tidak memotong, tidak juga menghakimi. Dan justru itu yang membuat Aliya jadi bicara lebih banyak dari yang ia rencanakan.
“Bukan belum siap sama mas nya.” Sambung Aliya. “Maksud aku, mas nya baik, orang tua mas juga baik banget malah. Cuma... aku baru aja beresin sesuatu di kepala aku sendiri, dan itu belum kelar. Kalau aku nikah sekarang, aku takut aku bawa yang belum kelar itu ke rumah orang.”
“Yang belum kelar itu, orang?” Tanya Gellar.
Aliya menoleh cepat.
Gellar menatap nya dengan wajah datar seperti biasa, tapi kali ini ada sesuatu di mata nya yang tidak Aliya kenali.
“Kok mas nanya gitu?” Tanya Aliya.
“Karena biasanya iya.” Jawab Gellar. “Orang bilang belum siap itu jarang karena tanggal nya. Biasanya karena masih ada yang belum di taruh.”
Aliya menunduk, mengaduk kopi nya lagi walaupun sudah tidak ada gunanya.
“Kalau iya, gimana?” Tanya Aliya pelan.
“Ya gak gimana-gimana.” Jawab Gellar.
“Mas gak marah?”
“Buat apa saya marah sama sesuatu yang udah ada duluan sebelum saya.” Ucap nya, dan Aliya mengangkat wajah nya, menatap laki-laki itu dengan tatapan yang benar-benar bingung.
“Mas ini aneh ya.”
“Kata orang yang nangis di pantai jam dua pagi.” Ucap Gellar.
Aliya membeku.
Gellar meraih gelas nya, minum, lalu menaruh nya kembali dengan tenang, seolah-olah ia tidak baru saja menjatuhkan satu kalimat yang bisa merobohkan seluruh isi kepala orang di hadapan nya.
“Mas.” Ucap Aliya.
“Hm?”
“Barusan mas bilang apa?”
“Saya bilang, mau pesan makan gak? Saya lapar.” Jawab Gellar sembari mengangkat tangan nya, memanggil pelayan.
“MAS.” Ucap Aliya, kali ini agak keras sampai dua orang di meja sebelah menoleh.
“Kecilin suara nya.” Ucap Gellar tanpa menoleh.
*****
Mereka makan tanpa membahas hal itu lagi, karena setiap kali Aliya mencoba kembali ke sana, Gellar selalu punya cara untuk membelokkan pembicaraan ke arah yang paling membosankan yang bisa ia temukan. Harga tanah. Pajak kendaraan. Kualitas kopi di kedai sebelah.
Sampai akhirnya, ketika mereka sudah berdiri di parkiran dan Aliya sudah hampir masuk ke mobil nya sendiri, Gellar berbicara lagi.
“Aliya.”
“Apa.”
“Soal tanggal itu.” Ucap Gellar. “Saya gak akan bilang iya sebelum kamu bilang iya. Kalau kamu mau mundur, saya yang ngomong ke orang tua saya. Kalau kamu mau berhenti sama sekali, saya juga yang ngomong.”
Aliya menoleh, memegang pintu mobil nya. “Kenapa mas mau repot-repot gitu?”
“Karena kalau nanti gagal, saya gak mau kamu yang jadi orang jahat nya.” Jawab Gellar.
Lalu laki-laki itu masuk ke mobil nya, menyalakan mesin, dan pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Aliya yang masih berdiri di parkiran dengan kunci mobil di tangan dan kepala yang penuh sekali.
*****
Malam nya Aliya tidak tidur sampai jam dua.
Ia duduk di lantai kamar, bersandar ke sisi kasur, dengan buku catatan kecil yang biasanya ia pakai untuk mencatat target kerja. Di halaman kosong, ia menulis dua kolom.
Alasan buat lanjut.
Alasan buat berhenti.
Kolom pertama terisi cepat sekali. Orang tua nya senang. Keluarga Gellar baik. Laki-laki itu tidak pernah memaksa, tidak pernah bicara kasar, dan yang paling penting, tidak pernah membuat Aliya merasa harus jadi orang lain.
Kolom kedua cuma terisi satu baris, dan Aliya menatap baris itu lama sekali sebelum akhirnya menutup buku nya tanpa menghapus apa-apa.
Gua belum selesai sama Dean.
Ia menatap baris itu lagi. Satu baris, di kolom yang seharusnya berisi alasan untuk berhenti. Dan semakin lama ia menatap nya, semakin jelas satu hal yang selama ini ia hindari: baris itu bukan alasan untuk berhenti dari Gellar. Baris itu alasan untuk berhenti dari dirinya sendiri yang dulu.
Aliya membuka buku nya lagi, mengambil pulpen, dan mencoret baris itu sekali. Lalu ia menulis ulang di bawah nya.
Gua belum selesai sama diri gua yang nunggu delapan tahun.
Setelah itu ia menutup buku nya, mematikan lampu, dan berbaring dengan mata terbuka sampai adzan subuh terdengar dari mushola di ujung gang.
*****
Besok nya di kantor, Lily muncul di ruangan Aliya menjelang jam tiga sore dengan wajah yang sudah tidak bisa menyembunyikan apa-apa.
“Al, sore ini lo ada acara gak?” Tanya Lily.
“Kenapa?”
“Felisa syukuran. Yang temen sekelas kita dulu itu loh, yang rambut nya keriting, yang dulu suka bawa bekel dua.” Ucap Lily.
“Oh, Felisa. Syukuran apa?”
“Nanti aja dia cerita sendiri, kalau gua yang cerita jadi gak seru. Pokoknya lo ikut. Gua gak mau dateng sendirian, ntar gua di tanyain kapan nikah sama emak-emak di sana.” Ucap Lily.
“Lah, gua juga bakal di tanyain.”
“Ya makanya, biar kita berdua sama-sama menderita.” Jawab Lily sembari menarik tas Aliya dari kursi tanpa permisi.
Aliya sempat menolak dua kali, tapi Lily adalah tipe manusia yang penolakan nya justru ia anggap sebagai tawar-menawar. Jadi jam empat sore, setelah menitipkan sisa pekerjaan ke Nana dan berpamitan kepada Bu Widya, Aliya sudah duduk di kursi penumpang mobil nya sendiri sementara Lily yang menyetir, karena menurut Lily, orang yang lagi banyak pikiran tidak boleh pegang setir.
Mereka baru keluar dari portal kantor ketika Lily melirik Aliya dari sudut mata nya.
“Eh Al, gua baru inget. Bener ya lo di jodohin sama pak Gellar?” Tanya Lily.
Aliya menutup mata nya sebentar. Ia sudah tahu topik ini akan datang, dan ia juga sudah tahu bahwa satu jam perjalanan bersama Lily adalah waktu yang jauh lebih dari cukup untuk membahasnya sampai ke akar-akar nya.
“Dari mana lo tau?”
“Ya dari mulut ke mulut lah, emangnya kantor kita ini apaan kalau bukan pabrik gosip.” Jawab Lily sembari membelokkan mobil ke jalan besar. “Anjir, gila sih lo. Lo tau gak dia tuh kayak gimana orang nya di kantor?”
“Gak tau.”
“Nah, dengerin gua deh.” Ucap Lily, dan Aliya sudah bisa melihat dari cara perempuan itu memegang setir bahwa ceritanya tidak akan selesai dalam lima menit.
Aliya menyandarkan kepala nya ke jendela, membiarkan Lily bicara sendiri sementara pikiran nya masih tertinggal di dua tempat sekaligus. Di parkiran restaurant kemarin sore, dan di halaman buku catatan yang semalam ia coret.
Di luar jendela, jalanan sudah mulai padat, dan langit Jakarta berubah warna menjadi oranye kotor seperti biasa. Satu jam. Aliya punya satu jam untuk memutuskan apakah ia akan mengangkat telepon dari mama nya nanti malam dengan jawaban iya, atau dengan jawaban yang akan membuat seluruh rumah nya berisik selama seminggu penuh.
“Al, lo dengerin gua gak sih?” Tanya Lily.
“Dengerin kok.”
“Gua bilang apa barusan?”
“Lo bilang dia galak.”
“Nah, itu dari lima menit yang lalu.” Ucap Lily sembari mendecak. “Ya udah deh, gua ulang dari awal.”
“Jangan-”
“Jadi gini.” Ucap Lily, dan Aliya cuma bisa menutup mata nya, pasrah.